elena pradipta gadis cantik dan pintar, mahasiswa semester 6 di universitas ternama di Indonesia hari-harinya sangat monoton kuliah pulang dan belajar.
namun kejadian naas menimpa elena,saat menyebrang jalan truk muatan menghantam elena hingga dia terpental jauh dan darah terus mengalir dari kepalanya.
"bunda maafin elena,elena harus pergi"lirih elena dalam hati setelah semua gelap
haiiiii ini cerita perdana di platform ini yaaa!!
aku mohon saran yang mebangun dari kaliann, plisss jangan jahat-jahat komennya okeee!!
dan cerita tipe konflik yang sedang, jadi gak ada konflik yang berat. makasihhhhh
#ceo
#fantasi
#tranmigrasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pilooon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
setelah dari pertengkaran tadi elena langsung membersihkan dirinya dengan air dingin,rasanya bertengkar dengan kendrick itu sangat mendidihkan otak.
"bagaimana dia tau aku makan malam dengan steven,apa mungkin dia mengikuti ku?"
Elena berpikir keras darimana kendrik tau tentang yang dilakukannya.
"kalau kendrick tau semua tentangku berarti dia menyuruh orang mengawasi ku"
"dan artinya juga dia sudah mulai khawatir tentangku,bukankah artinya itu bagus"
Elena tiba-tiba merasa senang jika pemikiran nya ini tepat,berarti kendrick sudah menyadari kesalahannya telaah menyia-nyiakan istri sahnya sendiri.
"kau tenang saja elena,meskipun jiwa ini bukan dirimu,tapi aku juga bisa merasakan kesedihanmu juga"
"kau akan mendapatkan apa yang seharusnya sedari dulu kau dapatkan"
sepertinya rencana elena sebentar lagi akan terpenuhi,dilihat dari gelagat kendrick yang sudah mulai memperhatikannya.
Sedangkan didalam kamar kendrick dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri,dia sedang menyangkal kalau dia perduli pada elena.
"elena sudah mulai berani padaku,dan apa dia tadi dia sudah membantahku"
Kendrick mendesis kesal,dia sangat kesal akibat elena tadi malam,tapi ini baru pertama kalinya dia seperti ini,dari dulu saat elena akan melakukan apapun dia tak pernah perduli,atau jangan-jangan...
"apa yang kau pikirkan Ken,tidak mungkin kau sudah mulai menyukai elena"
"kau hanya takut elena membuat Citra mu buruk didepan publik,kau hanya takut kalau mommy mau tau dan pasti kau yang akan disalahkan.
"ya kau hanya takut itu semua terjadi"
Dan itu terus berlanjut kendrick yang sedang terus berperang dengan pikirannya dan elena yang sangat santai berendam dalam bathtub sambil memikirkan bahwa rencananya sedikit-sedikit akan berhasil.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Sedangkan di negara lain ada sepasang orang tua yang sedang makan malam berdua di sebuah restoran,mereka maka dengan tenang tanpa ada pembicaraan diantara mereka,sampai mereka mengabiskan makanan dari mereka sang suami lantas memulai pembicaraan.
"anak itu tidak pernah menelpon mu?"
"tidak,tapi aku pernah menelponnya sekali"
"apa dia memintamu pulang"
"tidak juga,elena berubah,saat aku menelponnya responnya sudah tak seperti dulu"
Ya,mereka adalah orang tua elena,yang selama ini hanya menjadi orang yang workaholic tanpa memikirkan bagaimana elena tumbuh,elena kecil sudah tumbuh bersama bibi dan saat besar dia juga harus menikah sesuai yang ditentukan orang tuanya.
"apa berita dia amnesia itu benar"
"hahh sepertinya iy,mungkin dia mengangkat teleponku hanya karena nama nomer di hpnya,jadi mungkin dia mengenalku"
"kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?kau ingin pulang?"
"pekerjaan ku masih banyak"
"aldo apa kita tidak keterlaluan pada elena?"
"apanya yang keterlaluan?"
Aldo menatap pada istrinya Andin,yang seperti nya ingin mengungkapkan sebuah kata.
"Aldo apa kau pernah merasa,bahwa kita telaah kehilangan semua masa elena"
Aldo hanya menanggapi nya dengan diam,namun tidak memungkiri bahwa itu benar adanya.
"kita sudah melatihnya sedari kecil,karena dia terlahir sebagai anak tunggal perempuan di keluarga kita,sedari kecil dia juga sudah mandiri sedari kecil tinggal bersama bibi dan juga tidak pernah pergi liburan keluarga,apaa kau tidak pernah merasa kehilangan semua itu Aldo"
Andin menatap pada Aldo yang sedari tadi hanya diam menanggapi ceritanya.
"dia tidak pernah mengeluh"
"memang tidak pernah bukan tidak mungkin,dia sudah terbiasa dengan rasa sakit yang kita torehkan sejak kecil"
Aldo lagi-lagi hanya diam,dia tidak bisa menjawab pernyataan dari istrinya.
"sudahlah,kita bahas nanti"
"setelah ini kita pulang,jangan ditunda lagi Aldo,aku ingin bertemu dengan elana"
"hm"
Andin pergi terlebih dulu dari Aldo,sedangkan Aldo masih terdiam memikirkan perkataan istrinya.
"hah"
Aldo membayar tagihan restoran dan langsung keluar menyusul istrinya yang keluar terlebih dulu.