“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Imbalance
Di saat kaki Zeze hinggap di ambang pintu kelas barunya, Froura menunduk dan pamit, “Yang Mulia, saya mohon undur diri."
Zeze berbalik menghadapnya dan hanya memberinya anggukan. Entah sampai kapan nona bangsawan itu akan terus mengikutinya. Zeze tidak mencoba untuk mengonfrontasinya karena ia yakin Kion adalah dalang di balik semuanya. Motifnya terlalu jelas; seorang pengawal yang merangkap sebagai pengawas untuk memantau setiap gerak-geriknya. Semalam Kaló baru mengirimi Zeze email berisi data mengenai latar belakang gadis itu. Froura Shieldove, putri Marquess Shieldove yang sekarang duduk di kelas tahun ke-5.
Data yang dikirimkan Kaló tidak sampai dua halaman A4 perorangnya. Tampaknya mengulik orang-orang istana sesulit itu. Bahkan privasi pelayan-pelayannya pun dijaga ketat. Aku harus tahu bagaimana hubungan mereka terhadap satu sama lainnya, terutama terhadap pangeran mereka, supaya aku bisa—
Zeze menggeleng untuk menebas pemikirannya yang semakin mengakar. Ia sudah berdiri terlalu lama di ambang pintu hingga mengundang perhatian. Apa yang sepantasnya ia khawatirkan sekarang adalah apa yang nantinya bakal ia hadapi di dalam kelas. Ia sangat yakin dirinya tidak akan bisa menghindar lagi seperti saat di koridor.
Dengan satu tarikan napas, Zeze membalik badan dan menahan napas saat menyelam ke dalam ruang kelas barunya. Ketidakseimbangan itu langsung Zeze temukan—kelewat mencolok—kelas barunya lebih mengagumkan dari kelasnya yang lama, yang sejujurnya sudah cukup mengagumkan menurut selera modern. Berbeda dengan interior bertema kontemporer di kelasnya yang lama, kelas barunya lebih tradisional. Perabotannya kaya akan detail ornamen dan ukiran yang diromantisasi. Pemandangan sibuk Kota Clausador yang digelar di sepanjang lembah yang terjepit oleh dua bukit Mazí—bukit kembar dimana Kompleks Perumahan Negara berdiri—terbingkai kaca jendela besar yang terpasang di belakang kelas, menuju ke pelataran. Exousia adalah bangunan yang berdiri di ujung utara bukit Mazí. Pengalamaan melihat dari lantai dasarnya sama saja dengan melihat dari lantai atas bangunan biasa.
Sebuah tangan agak kecoklatan yang melambai-lambai di belakang kelas berhasil mengusir awan mendung di wajah Zeze.
Obi.
Ada saja halangan yang harus Zeze lalui untuk bisa sampai di meja sahabatnya. Terpaksa tersenyum untuk menjawab salam orang-orang adalah salah satunya. Terlebih ia harus memendam perasaan jengkel sewaktu melihat Obi tertawa di atas penderitaannya.
Penghuni kelas tidak menyangka bahwa Zeze akan mengambil duduk di samping Obi. Padahal beberapa dari mereka telah mempersiapkan bangku kosong untuknya. Itu terjadi karena jumlah penghuni kelas eksklusif lebih sedikit dari bangku yang tersedia. Namun sangat disayangkan target cari muka mereka malah memilih duduk dengan seorang siswa yang ternyata adalah putra ketiga Marquess Barier itu.
Tak hanya itu, mereka juga dikejutkan dengan salam kepalan tangan antara Zeze dan Obi. Belum lagi ketika Obi dengan santainya menenggerkan lengan kanannya di pundak kiri Zeze, satu hal sederhana yang telah cukup membuktikan kedekatan mereka. Rencana penghuni kelas untuk mengambil hati seorang Ankhatia telah digagalkan oleh Obi.
"Aku mendengar rumor tentangmu dalam perjalanan ke sini. Hampir semua orang membicarakanmu," bisik Zeze, menyeringai, "Cepat juga proses administrasinya."
“Pria itu kaget bukan kepalang. Selang beberapa detik setelah aku menyatakan ingin tinggal dan bersekolah di sini, dia langsung menghubungi bawahannya untuk secepatnya mengurus berkas-berkas agar keesokan harinya aku bisa langsung menempati bangku ini,” Obi terkekeh, lalu meringis.
“Lihat? Dia menyayangimu,” Zeze menaik-turunkan alisnya sambil mengulum senyum.
Obi menghela napas dengan mata tertutup. Setelah emosinya netral, ia memasang tampang menggoda dan menguak seringai lebar di wajah, “Kopinya?”
Zeze memutar mata. Ugh. “Nanti malam.” Ia pun terkulai di meja. Sayup-sayup Zeze mendengar penjelasan panjang Mrs. Kardiá, yang justru terkesan seperti monolog.
"... Dýnami dapat muncul karena dua hal. Satu, bakat dari lahir. Dua, usaha dan kerja keras. Jika seseorang dianugerahi bakat terlahir dengan dýnami, tanpa perlu dirangsang, dýnami orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memilih dengan apa auranya akan terhubung. Biasanya orang-orang terpilih seperti ini menggunakan dýnami tanpa mereka sendiri sadari, seperti bernapas. Mereka adalah fenomena langka dan memiliki sebutan, yakni 'Nomathyst'.
"Bagi mereka yang terlahir tanpa dýnami, tentunya mereka harus melewati serangkaian proses untuk dapat membangkitkan dýnami itu sendiri. Diantaranya mulai dari proses pengaturan pernapasan, emosi, tenaga dalam, pikiran, meditasi dan sejumlah metode yang sudah pernah dibahas di Tahun Pertama. Proses yang lumayan panjang itu dilakukan sampai kalian dapat merasakan energi tersebut merambat ke setiap sel di dalam tubuh kalian. Setelah itu, yang harus kalian lakukan adalah mengambil kendali atas energi liar tersebut, menjinakkannya agar ia bisa kalian pindahkan sesuka hati dari bagian tubuh yang satu ke yang lain."
Mrs. Kardiá berdiri dari kursinya, mengedarkan pandangan ke arah siswa-siswi di hadapannya. Mata sayunya berhenti di salah satu meja. “Lantas, apa tahap selanjutnya yang harus dilakukan seseorang dalam membangkitkan dýnami, Mr. Tigris?”
Siswa tersebut gelagapan, menyesal lantaran terlalu asyik bermain catur di layar LED kaca mejanya. Tak kehabisan akal, ia mencari di boogle artikel terkait dýnami dan mendengarkan penjelasan dari HAI (High Artificial Intelligence) lewat sepasang perangkat nirkabel yang sejak awal kelas menyumbat telinganya dengan instrumen musik jazz. Suara robot perempuan langsung berdengung di dalam kepalanya.
Mr. Tigris berdeham sebelum menjawab, "Setelah kita berhasil mengontrol dýnami ke setiap ruang pada tubuh kita, maka akan terbuka peluang untuk melepaskan energi tersebut keluar tubuh."
Mrs. Kardiá mengangkat alis dengan tangan terlipat di dada, "Lalu?"
Dia meneruskan dengan percaya diri. "Melakukan latihan dasar seperti mengontrol seberapa besar jumlah dýnami yang dapat dikeluarkan dari tubuh tanpa membuat tubuh itu sendiri kekurangan energi. Hal tersebut diperlukan untuk mencapai tahap selanjutnya, yaitu memilih Simathyst dari dýnami kita. Lalu—"
"Dan apa itu Simathyst," potong Mrs. Kardiá beralih ke seseorang, "Mrs. Reiztain?"
"Simathyst adalah ‘pasangan’ dari dýnami—mengingat kita, sebagai penuntut ilmu spiritual, bebas menentukan objek atau materi yang akan dihubungkan dengan dýnami kita."
"Tepat sekali. Setelah dýnami yang membawa aura kita dihubungkan dengan aura dari suatu objek, kita akan memiliki kesempatan untuk mengendalikan objek tersebut selayaknya anggota tubuh kita sendiri. Dan objek tersebut dinamakan 'Simathyst'. Namun, ada batasan yang kebanyakan dari kalian pasti sudah tahu; seseorang tidak bisa memiliki lebih dari satu Simathyst. Selain itu, 'bebas' yang Mr. Reiztain katakan tidak sebebas memilih baju untuk berkencan. Simathyst yang dipilih harus memiliki kecocokan dengan dýnami kita. Semisalnya satu percobaan berujung penolakan, efek samping yang terjadi tidak sampai mengancam nyawa, sehingga kalian hanya perlu terus mencari sampai menemukan Simathyst yang cocok."
"Tapi, bagaimana jika ada orang yang memiliki lebih dari satu Simathyst?"
Sepasang netra biru Zeze langsung terungkap, tidak pernah ia sangka bahwa Obi akan berpastisipasi dalam kelas psikobiologi yang menurutnya pribadi sangatlah membosankan.
Ada jeda sebentar sebelum Mrs. Kardiá mengumandangkan jawabannya, "Orang itu... mungkin adalah orang paling berbakat yang pernah terlahir di muka bumi."
Obi terpaku. Dari awal ia sudah tahu jawabannya. Namun, pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Hanya untuk memastikan, apakah wanita itu serius dengan ucapannya yang menyatakan bahwa kondisi itu tidak mungkin terjadi, padahal Obi mengenal seseorang yang dapat membuatnya menjadi mungkin.
"Sangat jarang, tidak, bahkan nyaris mustahil. Mr. Barier, itu adalah bakat alami yang tidak semua orang punya." Mata sayu Mrs. Kardiá menjadi setajam rahangnya.
Obi tidak mempertanyakannya lebih lanjut, sementara Mrs. Kardiá telah kembali melanjutkan penjelasannya.
"Dýnami adalah suatu energi yang mampu mengontrol aura dalam diri manusia. Untuk mengaktifkannya, kalian harus melewati sejumlah tahapan yang telah saya, dan HAI tadi sebutkan."
Mr. Tigris tersentak. Wajahnya memucat. Ternyata wanita itu telah mengetahui kecurangannya sejak awal. Siswa-siswi lain yang tidak tahu-menahu hanya bertukar pandang.
"Kira-kira apa Simathyst yang dimilikinya, Ze?" Obi bertanya saat tahu Zeze telah bangun.
Mengerti siapa yang Obi maksud, Zeze menjawab, “Getaran, mungkin? Jika asumsiku benar, kurasa tak ada masalah baginya untuk mendengar percakapan kita.” Zeze melanjutkan kalimat berikutnya dengan bahasa isyarat, “Tapi dia lebih memilih berlagak bodoh. Sebaiknya kita mulai bersikap hati-hati jika ingin membahas topik sensitif di dekatnya, Bi.”
Obi manggut-manggut lantas mengikuti Zeze, menidurkan kepalanya di atas lipatan tangan, sementara Mrs. Kardiá yang telah kembali menjelaskan.
"Pada tahun 2057, tepat 78 tahun yang lalu, negara-negara di Bumi Belahan Utara dan Bumi Belahan Selatan—satu-satunya bagian bumi yang masih tegak berdiri pasca perang nuklir—telah resmi menggunakan teknologi Pilar Tesla sebagai penangkal nuklir. Dengan ini, maka dunia telah kebal terhadap efek yang ditimbulkan senjata pemusnah masal itu, sehingga potensi kembali terjadinya perang nuklir berhasil dicegah. Benda perusak itu hingga kini tak lebih dari sebuah senapan tanpa peluru. Pertahanan setiap negara di dunia hanya mengandalkan kemampuan berpedang dan menembak dari para prajuritnya. Secara mengejutkan, radiasi sinyal yang dipancarkan Pilar Tesla telah memutasi suatu komponen di otak homopraeditus—otak kita—spesies manusia modern. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2062, tim ilmuan peraih Penghargaan Nobel yang dipimpin oleh seorang dokter saraf bernama Cassandra Xie, berhasil menemukan potensi terpendam dan terbesar umat manusia, yang kemudian diberi nama 'dýnami'. Dalam jurnal penelitian yang diterbitkan ...."
Punggung Zeze menegak saat otaknya mendadak mengingat sesuatu. Merogoh kantung jaket denimnya, Zeze mengeluarkan kertas curian yang membuatnya susah tidur semalaman, lalu meletakkannya di atas meja Obi.
"Apa ini?" Obi menunjuk kertas itu dengan lirikan matanya.
"Untukmu, kurasa," jawab Zeze seraya menguap.
Duduk tegak, Obi membuka lipatan kertas. Apa yang menyambutnya adalah tulisan berbahasa Prancis ‘À plus tard’ yang tak terbantahkan indahnya meski terukir di robekan kertas yang lecek. Menangkap bayangan tulisan lain, Obi pun membalik kertas itu dan menemukan tulisan ‘Vieil Ami’ yang tak kalah artistik dari tulisan pertama.
Obi mengangkat alis, bukan karena ia tidak paham, bahasa Perancis adalah bahasa keduanya. "Siapa—" kata-katanya menghilang saat melihat Zeze menggeleng.
"Jangan bangunkan aku sampai istirahat," Zeze berpesan. Kepalanya kembali terkulai di atas lengannya yang terlipat.
"Kau paham bukan bahwa aku tidak bisa mendampingimu nanti malam?" Obi melipat kembali kertas berisi seni lettering itu dan menyelipkannya di dalam dompet. "Aku tidak tahu kalau ternyata Antoni akan pulang malam ini. Aku tidak mau menjelaskan apa pun padanya jika dia menemukanku tidak ada di rumah. Sulit membuat alasan dengannya dibanding dengan orang tua itu. Berhati-hatilah selama aku tidak ada."
"Aku tahu. Dan berhenti menganggap dirimu sebagai penjagaku, Obi. Kau sudah tidak terikat lagi dengan keluarga ayahku."
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hanya perasaan Glen saja atau gangguan itu memang sudah berhenti. Tak ada lagi cacian yang biasanya menyusup masuk ke gendang telinga. Akan tetapi, tatapan jijik dan sinis itu masih bertahan, bagai senapan yang tercipta hanya untuk membidik ke arahnya.
Seharusnya Glen merasa tenang walau hanya sedikit, tapi kegelisahan itu justru memuncak, mengusik suatu tempat di dadanya. Padahal selama bersekolah ia sudah terbiasa duduk bersebelahan dengan bangku kosong. Namun, mengapa baru sekarang ia merasa kosong? Padahal belum sampai sehari gadis itu pergi.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir di Exousia, Glen menyapukan pandangan, menikmati suasana kelas, menghirup kehidupannya yang nyaris selalu menyesakkan. Hampir setahun duduk di kelas Tahun Kedua, belum pernah sekalipun ia memperhatikannya begitu detail. Mungkin karena tidak ada yang menarik untuknya.
Matanya berhenti di meja kosong yang terletak di sebelah kirinya. Sama seperti mejanya, meja itu juga telah diwarnai dengan kumpulan tulisan yang tak layak untuk dibaca, walaupun tak separah mejanya. Sifat apatis yang dimiliki oleh mantan pemilik meja itu tanpa dia sadari telah menyelamatkan mentalnya dari semua hinaan yang dia terima.
Glen sedikit menggeser kursinya mendekati meja itu. Tangannya merogoh kolong meja, barangkali ia dapat menemukan satu benda saja yang tertinggal di sana, sebuah kenangan yang meyakinkannya bahwa gadis itu nyata dan pernah ada di sampingnya. Namun sayang yang ia jumpai tak lebih dari robekan kertas. Apa yang kuharapkan? pikir Glen, tersenyum pahit.
Dari sekian banyak kertas kosong yang terobek-robek di kolong itu, akhirnya ada satu yang tertuang coretan. Cukup mengejutkan Glen karena ternyata tulisannya... jelek. Istilah jelek mungkin terlalu berlebihan. Mungkin lebih tepatnya, tidak rapi. Tapi masih bisa ditoleransi karena Glen masih bisa membacanya.
Instead of having meaningless conversation with others, I'd rather be in awkward silence with you.
- Stay
Glen tidak tahu dari mana kalimat itu berasal, kemungkinan sebuah lirik lagu, tapi ia yakin itu adalah representasi yang pas untuk menggambarkan hubungan mereka berdua. Glen sendiri pun membenarkan bahwa yang selama ini ia lakukan hanyalah mengabaikannya di setiap kesempatan.
Pagi berlalu begitu cepat bagi Glen. Dengan sabar ia mendengarkan seluruh celotehan teman seperjalanannya menuju rumah. Sudah dua hari sejak gadis itu kembali bersekolah pasca luka parah yang ditanggung kakinya. Meski belum bisa dinyatakan sembuh total, dilihat dari caranya menyeret kakinya yang malang itu. Sehingga Glen harus bersabar mengikuti langkahnya agar dia tidak tertinggal di belakang.
"... padahal aku sangat ingin bergabung denganmu di misi berikutnya," dia menggerutu setelah mengoceh panjang.
Glen mendelik padanya, "Jika kau ingin kehilangan kakimu, silakan saja."
"Aku hanya merasa tidak enak hati pada kalian..." gadis itu tampak murung.
"Hera," Glen mendesah letih, lalu mengangkat tangan untuk membelai rambut cokelat Hera.
Pupil mata Hera membesar dan pipinya bersemu merah. Ia terjebak di tengah dilema; mengenyahkan tangan itu, atau membiarkannya terus beraksi. Ia takut pipinya bakal terbakar jika Glen tak kunjung menghentikan aksinya.
Bagi Glen, Hera adalah orang yang teramat spesial dalam hidupnya, lebih dari sekedar teman masa kecil. Hera adalah keluarganya, saudara perempuannya. Glen menempatkan dirinya sebagai orang pertama yang akan maju ke garis depan jika Hera berada dalam bahaya, sekalipun ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Itu sebabnya ia tidak bisa menahan murkanya waktu melihat gadis itu bersimpuh di tanah dengan kaki bersimbah darah. Terlebih sewaktu menemukan Artemis nyaris menebas tubuhnya.
Tidak bisa, dia tidak bisa mengambil siapa pun lagi darinya. Glen tidak akan mengizinkannya.
"K—kau akan pergi bersama Kak Antoni malam ini, bukan?" Hera mengganti topik, tergagap.
Glen mengangguk, lantas menjauhkan tangannya dari rambut Hera. “Ya, entah mengapa agendanya berubah secara mendadak. Ada pertemuan rahasia atau semacamnya, dan dia memintaku untuk menemaninya. Mungkin untuk melatih kemampuan diplomasiku. Kenapa?” Glen bertanya saat melihat Hera mendesah lega.
"Ah, t—tidak. Aku hanya lega kau bersama Kak Antoni. Walaupun aku tahu kau adalah ksatria Ipotis terbaik di angkatan kita, tapi tetap saja... bersama dengan Ipotis terhebat di Aplistia... sepertinya..."
Hera meneguk ludah, kehilangan arah pembicaraan saat topik lain melintas di kepala.
"Glen... kau tahu... kau adalah seorang putra dari keluarga marquess paling berpengaruh di negara ini. Tapi—"
"Hera, cukup, jangan membahasnya. Itu semua tidak ada artinya untukku."
"Tapi kenapa? Kenapa kau lebih memilih memakai nama keluarga itu? Hidupmu akan jauh lebih mudah jika kau membuangnya. Kenapa kau—"
“Keluarga yang kau maksud adalah keluarga ibuku. Aku tidak akan melarangmu untuk membenci mereka, tapi jangan memaksakan opinimu kepada orang lain. Jadi berhentilah mengoceh kecuali untuk hal penting.”
Bila diingat lagi, itu adalah kali pertama Glen meninggikan suaranya pada Hera. Hera mengaku itu terjadi karena kesalahannya sendiri, untuk itu ia lebih memilih berjalan dengan kepala tertunduk.
“Ada hal yang ingin kutanyakan. Bukan, bukan tentang itu lagi. Kenapa kau tiba-tiba ingin menginap di rumahku semalam?” Tanya Hera.
“Apa kau keberatan? Aku bisa memesan hotel untuk nanti malam—“
“Tidak, tidak, bukan seperti itu. Aku hanya penasaran. Soalnya itu begitu mendadak, dan wajahmu kelihatan panik sekali semalam.”
Glen tak kunjung menjawab, sehingga Hera menoleh padanya untuk mengecek. Dia sedang mempelajari arak-arakan awan di langit yang sedikit mendung. Butiran salju mendarat di wajahnya, meleleh dan meluncur di pipi.
Jika seseorang yang tidak mengerti konteks melihatnya, orang tersebut pasti akan berasumsi bahwa lelaki berambut hitam itu sedang menangis.
"Apa kau kedinginan?" Alih-alih menjawab, Glen justru datang dengan pertanyaan remeh.
"Ah... i—iya, sedikit." Hera menunduk, melihat sweater berwarna krem yang ia kenakan, ketika sesuatu yang berat tahu-tahu telah tersampir di atas pundaknya; jaket kulit hitam Glen.
Tangan Glen menadah ke arah Hera, membuat gadis berambut cokelat itu kebingungan. "Tas," kata Glen.
Hera melepas tas selempang yang tersampir di pundaknya dan menaruhnya di tangan yang terulur itu. Kini lelaki itu membawa dua tas. Yang satu di punggung, dan yang lain digenggam dengan tangan kanan.
"Jawaban untuk pertanyaan itu..." tiba-tiba Glen berbicara.
Hera menoleh padanya dan terbelalak. Dia... tersenyum?
"... Aku hanya ingin mencoba menjadi saudara yang baik."
\=\=\=\=\=\=\=\=
Batang pohon tumbang yang diduduki Norofi sedikit oleng ke satu sisi waktu Zeze melompat ke sisi yang lain. Kaget, lelaki bertindik dan bertato itu melompat berdiri. Sementara Zeze tertawa geli melihat raut wajahnya tanpa merasa bersalah.
"Ck, itu tidak lucu!" Gerutu Norofi, kembali mendudukkan diri di tempat semula.
"Di sini sangat gelap. Tidak adakah dari kalian yang bersedia menyalakan api?" Tanya Zeze sambil melihat sekeliling, sedikit waswas dengan kemunculan hantu berbaju putih yang selalu dilihatnya di film-film.
"Takut?" Goda Norofi, menyeringai usil.
Zeze memutar bola matanya. Malas berdebat, ia pun mengorbankan dýnami-nya sendiri untuk membakar tumpukan kayu yang telah disiapkan Rhea. Saat cahaya kemuning memperjelas wajah mereka, tiga buah topeng berbeda bentuk segera menutupinya, menyisakan lubang pada area mata.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Yang lain masih dalam perjalanan. Bahkan Kai, leader kita kali ini, sama sekali belum berangkat," dengus Rhea yang bersandar pada sebuah pohon pinus di seberang Zeze dan Norofi.
"Salahkan seseorang yang sebelumnya meneror kita untuk berangkat lebih cepat," Zeze memutar bola matanya kepada Norofi, yang justru menyeringai lebar.
“Bagaimana kalau bernyanyi untuk mengisi kekosongan?” Norofi dengan antusias mengusulkan. “Ze, nyanyikan sebuah lagu akapela. Kau juga, Rhea. Aku tahu suaramu sebagus Zeze.”
Zeze mengangkat satu tangan, “Maaf, tidak bisa, suaraku hanya akan keluar jika seseorang memberiku Porsche keluaran abad 21.”
Norofi menanggapinya hanya dengan memutar mata.
Rhea menyeringai, "Aku baru tahu ada yang seperti itu."
"Tentu ada. Kau tidak tahu? Itu adalah gejala dari sebuah penyakit yang sangat langka," kata Zeze berlagak serius. Ia kembali duduk di sebelah kiri Norofi.
Kini giliran Rhea yang memutar mata. "Imajinasimu terlalu tinggi, kau tahu."
"Ngomong-ngomong, Ze, mengapa kau masih memakai topeng rusak itu?" Tanya Norofi.
Zeze mendongak ke langit malam, "Ini adalah kenang-kenangan untukku dari seseorang."
"Bagaimana itu bisa pecah sebelah?" Rhea menimpali.
"Sudah kubilang," Zeze menoleh pada Rhea. Ekspresinya rumit saat berkata, "Orang yang melakukan ini ingin memberiku sesuatu untuk dikenang."
Ketiga orang itu terus berbincang dalam gelapnya hutan, hanya berbekal cahaya bulan, taburan bintang, dan api unggun di pusat lingkaran. Hari semakin gelap. Binatang malam juga sudah mulai menunjukkan eksistensi mereka melalui suara.
Kejadian itu terjadi secepat kedipan. Norofi dan Zeze bangkit dan melompat sejauh mungkin dari titik awal mereka. Mereka melesat berlawanan arah; Zeze menuju ke kiri, Norofi ke kanan.
Di detik yang sama pula, pohon yang sebelumnya mereka duduki terbelah.
Tidak, lebih parah dari itu, hancur berkeping-keping.
Tak hanya itu, api unggun terlempar ke atas dan padam saat mendarat di tanah.
Sementara Rhea masih bergeming di tempatnya berdiri, masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Rhea, merunduk!" Rhea mendengar Norofi berteriak dari tempat yang tak terlihat. Kemudian suara tebasan datang dari atas kepalanya. Pohon yang menempel dengan punggungnya bergetar dan terbelah dua, nyaris menimpa tubuhnya apabila Zeze terlambat sedetik saja untuk menarik tangannya.
Dengan saraf terguncang, Rhea menatap horor badan pohon yang tumbang di samping tubuhnya.
"Fokus," titah Zeze dengan rahang mengeras.
Saat itulah Rhea ditampar realita bahwa mereka benar-benar sedang berada dalam bahaya.
Zeze bertukar pandang dengan Norofi yang berada jauh di hadapannya. Ia melihat Norofi menggeleng lambat-lambat dengan sorot mata, rahang, dan tinju yang telah mengeras.
Rhea langsung mengerti komunikasi mereka. Zeze dan Norofi sama-sama tidak mempunyai petunjuk dari mana datangnya malapetaka itu.
Zeze mengeluarkan aura dari dalam tubuhnya. Kepulan asap merah-menyala itu merayapi punggung hingga ke kakinya lalu merambat ke tanah, menangkap getaran demi getaran yang ditimbulkan makhluk hidup, dan kemudian ia mendengar suara langkah kaki seseorang.
Tapi bukan hanya dirinya, Norofi dan Rhea pun mendengar hal yang sama. Tak perlu menggunakan kekuatan spesial untuk tahu bahwa ada seseorang yang sedang mendekati mereka.
Menurut asal suaranya, Zeze yakin orang itu akan muncul dari arah kanannya. Ia segera berdiri di depan Rhea. Posturnya siaga. Meski umur mereka selisih dua tahun, tinggi Zeze sebanding dengan Rhea, bahkan lebih unggul beberapa senti.
Zeze mencabut dua rapier yang menggantung di kedua sisi pinggangnya. Meski gadis itu tidak mengacungkan kedua pedangnya, Rhea tetap dapat merasakan perlambatan gerak angin di sekitar mereka, bukti bahwa Zeze, sang Artemis, sedang berada dalam mode tarung yang memerlukan konsentrasi penuh.
Suara salju yang diinjak berulang-ulang itu mempercepat detak jantung Rhea. Ia menunggu kemunculan orang itu dengan kegelisahan di level maksimal. Zeze dan Norofi pun merasakan hal serupa. Mereka lebih nyaman jika orang asing itu langsung menyerang daripada bermain petak umpat.
Tak lama kemudian, dari balik gelapnya pepohonan, sebuah siluet tercipta; seorang lelaki berjubah hitam yang menggenggam sebuah pedang besar. Dia mengangkat kepalanya yang tersembunyi bayang-bayang, mengizinkan cahaya sang dewi malam memperjelas fitur wajahnya yang tajam.
Dan, persis di waktu itu, manik mata mereka bertiga membulat.
Tidak ada satu pun yang pernah menyangka bahwa malaikat maut itu sendiri yang akan menjemput mereka malam ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Wah... siapa nih kira-kira malaikat mautnya?
Ikuti terus setiap babnya dan jangan lupa kasih apresiasi dan dukungan untuk kedua jempolku ini. Terima kasih banyak! 😄
Lin banyak omong nih, yok lanjut baca, scroll 👇
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan