Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 DESI
Hari demi hari Kiran dan Raj lalui dengan penuh kebahagiaan, menanti calon anak pertama mereka membuat mereka sangat bahagia.
"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita pasti dia akan menjadi anak yang sangat cantik seperti Mommynya," seru Raj dengan mengelus perut Kiran yang sudah sangat membuncit itu.
"Kamu sudah menyiapkan namanya, Mas?"
"Sudah dong."
Calon anak Kiran dan Raj diprediksi berjenis kelamin perempuan dan itu membuat Kiran sangat bahagia karena Kiran memang menginginkan seorang anak perempuan.
"Mas, kalau nanti anak kita ingin menjadi artis seperti aku dulu, boleh atau tidak?" tanya Kiran.
"No, aku tidak akan mengizinkan anak kita jadi seorang artis," sahut Raj.
"Loh, kenapa?"
"Sayang, kita sudah punya segalanya jadi buat apa dia kerja siang malam itu hanya akan membuat dia kelelahan saja dan aku gak mau seperti itu. Aku hanya ingin dia belajar setinggi mungkin dan menjadi anak yang hebat karena bagaimana pun dia harus menerima kalau dia adalah turunan dari keluarga yang bukan keluarga sembarangan jadi dia harus bisa jaga sikap karena sedikit saja dia melakukan kesalahan, akibatnya akan fatal karena nama baik kedua orang tuanya akan kena imbasnya."
"Tapi jangan dikekang juga Mas, kasihan dia nanti."
"Pokoknya, urusan pendidikan anak kita nanti biar aku yang urus dan kamu jangan ikut campur," sahut Raj.
Kiran terdiam, akhirnya sifat Raj yang otoriter sudah mulai keluar. Belum lahir saja, Raj sudah mempersiapkan untuk masa depan anaknya kelak.
Di saat Kiran dan Raj sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar pintu kamar mereka ada yang mengetuk.
"Nona, Tuan, cepat keluar Tuan besar jatuh di kamar mandi!" teriak Mimi.
"Astagfirullah, Papa, Mas," seru Kiran panik.
"Tenang kamu jangan panik, ingat saat ini kamu sedang mengandung."
Raj segera membuka pintu kamarnya, terlihat Mimi sangat panik dan wajahnya pun sangat pucat.
"Mimi, kamu papah Kiran jalannya jangan terburu-buru," seru Raj.
"Baik, Tuan."
Raj segera berlari menuju kamar pribadi Papa Rahul, di sana sudah banyak pengawal yang menjaga Papa Rahul.
"Ya Allah, cepat siapkan mobil kita bawa ke rumah sakit," seru Raj.
"Baik, Tuan."
Papa Rahul terlihat kritis, dari kepalanya keluar darah karena kepalanya terbentur ujung bath up dan itu membuat Kiran histeris.
"Papa, Papa bangun!" teriak Kiran dengan deraian airmatanya.
"Kamu tenang sayang jangan panik. Sekarang kita bawa Papa ke rumah sakit."
Mereka pun akhirnya membawa Papa Rahul ke rumah sakit, selama dalam perjalanan Kiran tidak henti-hentinya menangis dan itu membuat Raj semakin panik karena saat ini Kiran sedang hamil dan Raj takut terjadi kenapa-napa dengan kandungan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Papa Rahul langsung di tangani dan lagi-lagi Kiran tidak bisa menahan tangisannya.
"Tenang sayang, kita do'akan saja semoga Papa baik-baik saja," seru Raj dengan memeluk istrinya itu.
Butuh waktu yang lumayan lama, hingga akhirnya dokter pun keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana dok dengan keadaan Papa saya?" tanya Kiran dengan deraian airmatanya.
"Nona dan Tuan bisa ikut saya ke ruangan saya," seru Dokter.
Kiran dan Raj ikut dokter ke ruangannya, Kiran tampak sangat khawatir dengan keadaan Papanya.
"Sebenarnya ada dua kabar untuk Nona, jadi Nona mau mendengar kabar baik dulu atau kabar buruk dulu?" tanya Dokter.
Kiran menoleh ke arah Raj, hatinya benar-benar tidak merasa tenang.
"Kabar baik dulu, dok."
"Kabar baiknya, Tuan Rahul saat ini Alhamdulillah baik-baik saja dan beruntung sekali kalian langsung membawa Tuan Rahul ke rumah sakit karena sedikit saja telat, mungkin nyawanya tidak akan tertolong lagi. Dan berita buruknya, Tuan Rahul saat ini mengalami stroke akibat darahnya yang terlalu tinggi dan juga ada pendarahan di otak akibat benturan tadi di kepala."
"Ya Allah, terus apa Papa saya bisa sembuh, dok?"
"Bisa, asalkan rajin terapi Insya Allah Tuan Rahul akan sehat kembali."
Setelah berbincang-bincang, Kiran dan Raj pun memasuki ruangan rawat Papa Rahul. Ternyata Papa Rahul sudah sadar, bedanya saat ini Papa Rahul tidak bisa menggerakkan kakinya dan untuk bicara pun terasa sangat sulit.
"Papa yang kuat ya, Kiran yakin Papa akan segera sembuh," seru Kiran dengan deraian airmatanya.
Papa Rahul tampak menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kepada Kiran, Papa Rahul tidak mau menunjukkan raut wajah yang sedih karena takut anaknya itu ikutan sedih dan akan berakibat fatal untuk kandungannya.
***
Satu bulan kemudian...
Saat ini Kiran sudah berada di ruangan operasi karena hari ini juga Kiran akan melahirkan buah cintanya bersama Raj.
Menjelang melahirkan, kondisi Kiran menurun secara drastis dan tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal jadi dokter menyarankan untuk melahirkan secara Caesar.
Kiran sering mengalami pendarahan dan itu sangat berbahaya bagi wanita hamil.
Kiran memegang erat tangan Raj. "Mas, jangan tinggalkan aku," lirih Kiran.
"Aku akan selalu ada di sini sayang, jangan khawatir."
Raj menciumi seluruh wajah Kiran, tidak lama kemudian suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring membuat Kiran dan Raj merasa sangat bahagia.
Bayi berjenis perempuan itu diberikan kepada Kiran, airmata Kiran dan Raj langsung pecah saat melihat kelahiran buah cinta mereka dengan sehat dan sempurna.
"Ya Allah sayang, anak kita cantik sekali mirip denganmu," seru Raj dengan deraian airmatanya.
Kiran hanya bisa menyunggingkan senyumannya, sebelum akhirnya Kiran memejamkan mata dan tak sadarkan diri.
Kenyataan pahit harus Raj terima, akibat pendarahan hebat yang dialami Kiran saat ini rahim Kiran harus diangkat dan kemungkinan Kiran tidak akan bisa hamil lagi.
"Ya Allah, cobaan apa lagi yang harus Engkau berikan untuk istri hamba? Hamba tidak tahu harus bilang apa kepada Kiran, pasti Kiran akan sangat terpukul banget," batin Raj.
Raj menciumi tangan Kiran dengan deraian airmatanya, Raj memutuskan untuk menyembunyikan semua ini dari Kiran karena Raj tidak mau Kiran sampai sedih.
1 jam kemudian, Kiran mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang."
"Mas, mana anak kita?" lirih Kiran.
"Ada sama suster, kamu jangan khawatir. Lebih baik sekarang kamu pulihkan dulu kesehatan kamu."
Kiran menyunggingkan senyumannya walaupun senyuman itu begitu samar. Lagi-lagi Raj meneteskan airmatanya, sungguh dia tidak kuat melihat keadaan istrinya itu.
"Kenapa kamu menangis, Mas?" tanya Kiran lemas.
"Tidak apa-apa, aku hanya sangat bahagia akhirnya kamu sadar juga."
"Siapa nama putri kita, Mas?"
"Namanya Princes Aryan Sharma, bagaimana kamu suka kan?"
"Iya Mas, nama yang sangat cantik."
Raj kembali menciumi punggung tangan Kiran, untuk saat ini Kiran dan putrinya adalah harta yang paling berharga untuknya jadi Raj akan melakukan apa pun demi kebahagiaan anak dan istrinya.