NovelToon NovelToon
Mati Rasa

Mati Rasa

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Selingkuh / Anak Yatim Piatu / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:148.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serra R

Terlahir menjadi anak yang terbuang tak membuatnya berkecil hati. Semangat yang dimilikinya kembali berkobar kala melihat banyaknya orang yang menyayanginya.

Namun dunianya berubah kala dirinya memutuskan untuk menikah. Meski harus merasakan kepahitan akan cinta pertamanya. Denisa tetap bisa bertahan meski pada akhirnya dia memilih mematikan hatinya demi membuang rasa sakitnya.

~Kau tak pernah tahu perihnya luka yang tak nampak namun terasa sangat menyayat jiwa. Jika luka gores itu akan hilang dengan sendirinya namun tidak dengan luka hati, sampai kapanpun dia akan tetap kekal abadi.... Denisa

~ Kuakui aku bodoh. Seharusnya aku menggunakan akal dan hatiku bukan menggunakan emosiku... Raka.

Bagaimana kisah mereka mengarungi biduk rumah tangga dengan bayang bayang cinta lain yang masih melekat di hati Raka.
Mampukah Denisa kembali merasakan cinta dalam hatinya yang telah mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Tekad

Seorang gadis cantik dengan penampilan menarik turun dari mobil yang mengantarkannya. Dengan senyum mengembang dan rasa percaya dirinya dia melangkah pasti memasuki lobi perusahaan dimana seorang Raka Aditama menjabat sebagai CEO.

Namun langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak masuk lebih dalam. Di dekat meja resepsionis nampak dua orang lelaki tampan sedang berbicara dan tertawa. Gadis yang tak lain adalah Trica tertegun sesaat melihat tawa Raka yang baru sekali ini dilihatnya.

"Oh my good, ternyata dia benar-benar tampan." Ucapnya sumringah seraya mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah di mana Raka sedang berdiri.

"Maaf Nona, anda dilarang masuk." Seorang petugas keamanan menghadang langkah Trica membuat gadis itu menyipitkan matanya tajam.

"Berani sekali kau menghadangku, kau tak tahu siapa aku? minggir!!! aku tak ada waktu berurusan dengan orang sepertimu."

Security tadi tak bergeming dari tempatnya. Lelaki itu masih tetap berdiri dihadapan Trica tanpa bergeming sedikitpun.

Raka yang menyaksikan perdebatan tersebut menatap datar. Tak ada keinginan untuk melerai ataupun mendebat. Apa yang dilakukan security perusahaannya adalah atas perintahnya yang tak ingin lagi di usik oleh siapapun itu.

"Sayang, lihat bagaimana tidak sopannya dia padaku. Cepat pecat dia!!"

Trica berteriak menyuarakan pendapatnya sekaligus mengokohkan siapa dirinya dengan menyebutkan kata sayang dalam panggilannya ke pada Raka.

Raka menulikan telinganya, lelaki itu berjalan tegas diikuti oleh Frans yang hanya menggelengkan kepalanya.

"Sebaiknya kamu mengumumkan status mu agar kejadian seperti ini tak terus berlanjut." Frans mencetuskan idenya disaat keduanya sedang berjalan sejajar menuju lift.

"Aku akan melakukannya segera." Tegas Raka dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

Di lobi, masih terjadi perdebatan yang alot. Trica masih bersikukuh ingin tetap masuk ke dalam perusahaan Raka dan menemui lelaki itu seperti sebelum sebelumnya. Namun kali ini niatnya tak berjalan mulus, tak hanya seorang security yang menghalangi jalannya namun kini telah ada tiga orang yang berdiri disana.

Trica semakin kesal dengan keras dia mengumpat ke tiga orang itu. Namun semua sia sia karena tak ada seorangpun yang mempedulikannya. Bahkan semua karyawan nampak acuh dan hanya menatapnya sekilas dengan malas.

"Ada apa sebenarnya? kenapa mereka melarang aku masuk?" Trica jelas bertanya dalam hati.

Dirinya sudah berkali-kali datang ke kantor ini. Tapi baru kali ini dirinya mendapatkan perlakuan yang berbeda.

Dengan kesal Trica menghentakkan kakinya ketika melangkah keluar dari kantor Raka. Wajah cantiknya tak mampu menyembunyikan kesal yang membuncah di dadanya. Jika bukan karena sang ayah, dia tak akan mau melakukan hal yang memalukan.

"Dasar nggak tahu diri. Tuan Raka saja tak pernah menggubrisnya dia masih aja tebal muka dengan berani datang kemari." Seru salah seorang resepsionis menatap kepergian Trica.

Seluruh karyawan kantor bahkan sudah tahu dengan ultimatum yang Raka keluarkan kemarin melalui asisten pribadinya. Tak ada yang berani melanggar karena itu adalah keputusan mutlak. Raka yang terkenal kejam tak akan segan memecat siapa saja yang berani melawan aturannya.

Para karyawan tentu saja memilih aman. Mereka masih butuh pekerjaan dan gaji yang diberikan memang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Raka tak banyak menuntut, hanya meminta disiplin, tanggungjawab, jujur dan tentu saja mengikuti semua aturan yang telah dia buat sejak lama.

"Iya.Aku juga tak menyangkah jika dia masih bisa berbuat nekat seperti itu." Timpal temannya. Keduanya menggelengkan kepala sebelum kembali tenggelam dengan pekerjaan masing-masing.

.

.

.

Raka menatap proposal pembangunan hotel baru yang rencananya akan berlangsung di kota A. Dahinya mengernyit ketika nama lokasi tempat pembangunan sama persis dengan lokasi yang dikatakan oleh kedua adiknya saat memberitahu rencana Denisa selanjutnya yang akan membuka restoran di sebuah lokasi wisata.

Mata Raka berbinar cerah, satu langkah lagi untuknya bisa meraih sang istri. Dan gelagatnya dapat di baca oleh Frans yang memang memiliki jiwa Detektif itu. Lelaki itu terus saja menatap perubahan mimik wajah Raka.

"Lakukan ini."

"Kau menyetujuinya? secepat itu?" Frans kembali mengernyit dengan tingkah Raka. Tak biasanya sahabatnya tersebut langsung menyetujui sebuah proyek apalagi dengan budget yang sangat besar.

"Aku serius. Frans, kau tahu Aku bahagia dan ini tak menjadi beban sama sekali untukku, justru Aku sangat senang. Dengan demikian Aku akan punya alasan kuat untuk melihat bahkan bertemu dengan istriku nantinya."

"Istri? kau sudah menemukannya? lalu apa hubungannya dengan proyek pembangunan hotel?"

"Istriku akan membangun sebuah restoran disana. Dia yang akan bertanggungjawab dan juga sebagai pemimpin disana. Tentu saja Aku bahagia karena itu."

"Restoran? tunggu tunggu apa dia Nona Nisa Anisa?"

Raka menunjuk sebuah figura yang berada di sudut ruangannya. Disana nampak foto besar Denisa terpampang dengan indah.

"Dia, Denisa Anisa, istriku." Senyum Raka mengembang kala tatapan matanya berlabu pada foto sang istri yang nampak tersenyum manis.

"Jadi benar, Nona Nisa adalah istri yang selama ini kau cari?"

"Kau mengenalnya?" Bukannya menjawab, namun Raka balik bertanya dengan tatapan tajamnya ke arah Frans yang juga sedang menatapnya kini.

"Tentu. Bahkan dia akan menjadi salah satu investor di hotel kita. Baru kemarin aku dihubungi oleh pihak pengelola dan mereka meminta proposal kita untuk diberikan padanya. Tak menyangkah jika dia itu istrimu."

"Kau bertemu dengannya?"

"Ya, kami bahkan sempat berbicara sebentar. Dia sangat cerdas dan berwawasan luas. Kamu beruntung bisa mendapatkan istri yang super komplit seperti itu. Tapi...?"

"Tapi kenapa?"

"Kau harus cepat bertindak, jika terlambat sedikit saja bisa kupastikan kau akan menyesal. Aku dapat melihat sendiri bagaimana para lelaki itu menatap kagum pada istrimu. Meski dia tak pernah merespon, tapi lambat laun hatinya juga akan luluh mengingat istrimu sangat ramah pada siapapun itu. Aku saja yang baru 2 kali bertemu dengannya merasa kagum."

"2 kali?" Raka membeo. Tak menyangkah jika malah sahabatnya yang lebih beruntung bertemu lebih dulu dengan Denisa dibanding dirinya.

"Ya, pertama saat rapat saham dan pembagian letak. Kedua kemarin saat pembahasan kerja sama untuk pembangunan hotel kita."

"Aku turut senang kau dapat menemukannya kembali. Segeralah selesaikan urusan pribadi kalian. Jangan sampai semua berlarut terlalu lama, karena semua kemungkinan masih bisa terjadi ke depannya. Jangan lagi ragu, kejarlah kebahagiaanmu sekarang. Sudah cukup waktu 2 tahun ini untukmu merenung dan menyadari kata hatimu sendiri. Jadi, ikuti saranku agar tak lagi ada kata menyesal nantinya."

Frans tersenyum menatap sahabatnya. Raka memang telah berubah semenjak kepergian Denisa waktu itu. Sikap dingin dan wajah datar yang masih dipertahankannya hingga kini tak mampu menutup lukanya. Dan hanya orang-orang terdekatnya yang bisa merasakan itu semua. Termasuk Frans yang menjadi tempat Raka berkeluh kesah selama ini.

1
Ray Aza
rendah hati...
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
wah rena hamil ....
tpi rayyan udah sama jennie kan thor di kota B..
selamat ya ren
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
halah modus si raka,, minta mandi sekalian minta jatah ya 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
apa yg membuat mu ragu citra??? jangan pernah berfikir yg aneh", rico tulus mencintaimu, apa kau masih punya perasaan sama radit ???
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
bram menikah saja sama kakka iparnya
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
yaaaaahhhh end nya sedih
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
oalah ternyata arlan bukan anak kandung toh
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
itu air mata beneran atau air mata buaya ren
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
ternyata tuhan lebih menyayangi kakek nya radit
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
dasar wanita edannnn, gak merasa bersalah atas apa yg di lakukannya
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
nah rena, gimana tuh..
jangan menunda momongan lah.. biar kan berjalan sesuai kehendak yg kuasa.. kalian cukup ngadon aja 🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
gass lagi dit 🤭🤭🤭
mau liat live streaming ini 🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
astaga rico mau menguping ya 🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
keramas lah biar wangi ... kan mau unboxing 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
wkwkwk malam pertama cuy...
gass yok
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
walah buk , maaf ya raka udah sold out ..
ibu telat 🤭🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
terharuuuu.... akhirnya ada yg mengakui jennie sebagai keluarga walau tak ada ikatan darah
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
mau ada pembicaraan serius kah kok ngumpulnya di kamar ???
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
yeeee 👏👏👏
akhirnya rencana berjalan lancar.
selamat untuk rena dan radit
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤᴢᴀ_ 𝐙⃝🦜
ya ampun rena, awas kaget loh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!