NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Kecanggungan Yang Menyenangkan

​Arlan berbalik dengan sorot mata mematikan. "Bisa tidak, kalau masuk ketuk pintu dulu!"

​Egar tersenyum canggung sambil mengangkat kedua tangannya. "Maaf, Bos. Kalau begitu, saya permisi."

​Secepat kilat Egar meninggalkan ruangan. Namun di balik pintu, ia tersenyum geli membayangkan kepanikan sepasang suami istri di dalam sana.

​Setelah kepergian Egar, Safa yang mulai merasa sesak langsung mencubit perut Arlan. Arlan tersentak lalu menunduk. Tatapan mereka sempat bertautan sesaat sebelum Safa mempererat cubitannya.

​"Auuu ... Safa! Kenapa mencubit Mas?" rintih Arlan, pura-pura kesakitan.

​Safa segera memundurkan tubuhnya. "Jangan cari kesempatan, deh. Kak Egar kan sudah pergi."

​Merasa canggung, Safa berniat mundur lebih jauh. Namun karena kurang hati-hati, kakinya menabrak meja hingga tubuhnya limbung ke belakang.

​Bugh!

​Safa terjatuh cukup keras ke lantai. Arlan refleks mengulurkan tangan untuk menolong, tetapi terlambat.

​"Akkkhhh!" rintih Safa sambil memegangi pinggangnya, karena tulang ekornya membentur lantai dengan keras.

​"Safa!" pekik Arlan panik lalu berlari mendekat.

​Arlan meraih kedua tangan Safa untuk membantunya duduk.

​"Mas kok tidak membantuku, sih!" protes Safa. Sembari meringis kesakitan, ia terus mengusap punggungnya dengan wajah kesal.

​Sementara itu, Arlan yang merasa bersalah langsung berjongkok di depan Safa untuk memastikan istrinya baik-baik saja.

​"Ya maaf. Mas tadi sudah mau menolong, tapi kejadiannya cepat sekali. Mas tidak sempat menangkapmu," ujar Arlan berusaha menjelaskan.

Sembari menahan senyum, ia menambahkan, "Ini bukan adegan drama, Safa, yang waktu gadisnya mau jatuh, si pria langsung bisa menangkapnya tepat waktu. Maaf, ya?"

​Dengan bibir cemberut, Safa melirik Arlan. Namun, melihat raut wajah suaminya yang begitu tulus, Safa tidak tega untuk tidak memaafkannya.

​"Hemm ..." gumamnya pelan.

​"Ya sudah, sekarang kamu ke kamar mandi. Cepat bersihkan badanmu, sebentar lagi Siska pasti datang," ucap Arlan sambil berdiri dan mengulurkan tangan.

​Safa menatap uluran tangan Arlan lalu menyambutnya. Ia berdiri perlahan, kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan Arlan.

​Beberapa saat kemudian, Siska datang membawa baju ganti lengkap dengan jilbab. Setelah pintu kamar mandi diketuk, Siska menyerahkan pakaian tersebut dan Safa segera menggantinya.

​Tak lama, Safa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang kembali segar. Begitu melihat sang suami tampak sibuk di depan komputer, ia melangkah mendekat.

​"Mas, terima kasih. Aku mau kembali ke ruanganku lagi," gumamnya lirih.

​Arlan menoleh, tetapi tatapannya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Apa kamu mau Mas memecat kakakmu itu?"

​Mata Safa membelalak. Ternyata suaminya sudah tahu kalau Riana adalah kakaknya.

"Mas sudah tahu? Sejak kapan?"

​Arlan mengusap dagunya seolah sedang berpikir. "Belum lama. Kebetulan Mas memang sedang membutuhkan informasi tentangnya. Jadi, akhirnya tahu."

​Safa terdiam, menyiratkan kesedihan di matanya. "Jangan, Mas. Biarkan saja. Aku tidak mau nanti dia menuduhku sebagai penyebab dia dipecat."

​"Biarkan saja selama tidak merugikan perusahaan. Dia hanya membenciku, itu saja," timpal Safa lagi.

​"Tapi dia akan terus menyakitimu, Safa! Apa kamu mau terus-terusan seperti itu?"

​Apa yang dikatakan Arlan memang benar. Sang kakak pasti tidak akan berhenti mengusiknya. Namun, Safa bertekad tidak akan mudah terprovokasi seperti dulu. Kali ini, ia akan mencoba melawan.

​"Mas tenang saja, aku sudah bukan Safa yang dulu, yang gampang menangis kalau ditindas. Sekarang aku kuat!"

timpal Safa sambil mengangkat kedua tangannya, memamerkan otot lengan yang bahkan tidak kelihatan.

​Melihat tingkah konyol sang istri, tawa Arlan pecah. Namun, hal itu justru membuat Safa kesal.

​"Mas gak percaya?" ucap Safa sambil melotot.

​Arlan segera membekap mulutnya sendiri lalu menggeleng. "Gak. Tentu saja Mas percaya."

​Dengan bibir mengerucut, Safa segera keluar dari ruangan Arlan. Sementara itu, Arlan menatap kepergian istrinya dengan pandangan lekat.

'​Aku yang akan melindungimu, Safa,' batin Arlan.

​Di ruang editing, suasana kembali sibuk. Sebagai perusahaan media, ada tender besar yang harus mereka kejar.

​Tiba-tiba, Pemimpin Redaksi datang dan meminta perhatian semua orang.

"Semuanya, tolong perhatikan. Kali ini kita memegang kasus yang sangat serius. Kita harus bisa mendahului media lain. Jadi, tugas ini harus dikerjakan dengan sangat teliti. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun."

​Pemimpin Redaksi menyerahkan sebuah berkas dalam bentuk flashdisk kepada kepala editor yang tepercaya.

"Edit ulang dan pastikan semua pilihan kata serta informasinya benar-benar valid. Serahkan pada mereka yang paling teliti untuk mengerjakan ini."

​"Baik, Pak!" jawab Kepala Editor. Setelah itu, Pemimpin Redaksi berlalu meninggalkan ruangan.

​Kepala Editor langsung memeriksa isi dokumen dan mulai membagi tugas. Safa mendapatkan bagian untuk memilah serta memperbaiki diksi yang kurang tepat.

​Setelah semua bagian awal selesai, seluruh fail diserahkan kepada Safa karena semua orang tahu kinerja Safa sangat baik dan jeli.

​Jam, menit, dan detik berlalu. Sebagian besar tugasnya telah rampung. Safa meregangkan tubuhnya yang kaku lalu mematikan komputer. Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam sore.

Sebagian besar karyawan sudah pulang, hanya tersisa beberapa orang saja.

​"Safa, waktunya pulang. Kamu tidak perlu lembur, ini bukan bagian tugasmu," ucap salah seorang senior.

​"Iya, Safa. Tinggalkan saja kalau belum selesai, masih ada besok. Tenggat waktunya juga masih lusa," timpal yang lain.

​Safa mengangguk seraya tersenyum. "Baik, Kak."

​Safa segera berbenah. Setelah mengemas barang-barangnya ke dalam tas, ia beranjak meninggalkan ruang editing. Langkahnya terasa berat karena lelah. Beberapa kali ia menghela napas panjang demi mengusir rasa jenuh akibat tumpukan pekerjaan.

​Sebenarnya, ia jauh lebih suka duduk di depan laptop sambil menulis cerita, menulis di tempat terbuka yang luas hingga inspirasi datang dari segala arah.

Namun, ia belum memiliki keberanian untuk melepaskan pekerjaannya demi hobi. Saat ini, ia harus fokus pada studinya terlebih dahulu. Setelah lulus, barulah ia akan memikirkan ke mana arah tujuannya.

​Safa menghentikan langkah di depan lift. Beberapa karyawan lain juga tampak sedang mengantre. Tak lama kemudian, pintu lift berdenting dan terbuka. Safa ikut masuk ke dalam. Karena kondisi lift yang penuh, ia yang bertubuh mungil terpaksa menyelipkan diri hingga tergeser ke posisi paling belakang.

​Suasana terasa sesak dan pengap, membuatnya sedikit sulit bernapas.

Orang-orang di sekelilingnya bertubuh tinggi besar. Di saat ia hanya bisa menghela napas pasrah menerima nasib, tiba-tiba sebuah tangan menariknya lembut ke sudut yang lebih lengang di bagian belakang.

​Safa tersentak dengan mata membelalak. Ternyata itu Siska, sekretaris Arlan. Dan yang membuat jantung Safa berdegup lebih kencang, Arlan berdiri tepat di belakang Siska.

​Kini posisi Safa berada di antara Siska dan Arlan.

Karena ruang yang begitu sempit, tubuhnya benar-benar merapat pada sang suami. Safa mencoba berjinjit, berusaha membisikkan sesuatu ke telinga Arlan, tetapi tingginya tetap tidak sampai.

​Melihat sang istri kesusahan, Arlan menarik Safa agar lebih dekat. Ia melirik ke arah kakinya, memberi isyarat. Safa yang paham langsung menginjak ujung sepatu sang suami. Arlan kemudian sedikit mengangkat tumpuan kakinya sehingga posisi mereka kini sejajar.

​Safa mendekatkan bibirnya ke telinga Arlan. "Mas, kenapa bisa ada di sini? Ini kan lift khusus pegawai?"

​Arlan tersenyum jahil, lalu balas berbisik intim, "Aku sengaja. Ingin melihatmu."

​Mendengar jawaban itu, wajah Safa seketika memerah. Ia refleks memegangi kedua pipinya yang terasa panas bak terbakar.

Dengan canggung, ia segera turun dari pijakan kaki suaminya dan berdiri mematung.

Sementara itu, Arlan hanya terkekeh geli melihat tingkahnya.

​Pintu lift akhirnya terbuka di lantai dasar. Tak berniat menunggu suaminya karena takut memicu kecurigaan orang lain, Safa langsung berlari kecil keluar dari lift.

​Sepanjang koridor menuju lobi, Safa tidak bisa menyembunyikan senyum gemasnya.

Namun, tepat di depan pintu lobi, langkahnya mendadak melambat.

Seorang wanita berpakaian seksi bak model profesional berjalan anggun ke arahnya, lalu berhenti tepat di hadapannya.

​"Kamu Safa, kan?" tanya wanita itu dengan senyuman misterius yang sulit diartikan.

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
pasti pesan dari mama safa n kakak nya
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus safa
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
semoga ada cctv di rumah safa biar bs jd bukti
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
idihhh sekarang ngaku2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
biarin aja Safa, mereka pantas menerima nya
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
thor baru juga hidup bahagia safa dan ada aja cobaannya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟☕︎⃝❥: begitulah hidup aunty🤧
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus safa, ini baru wanita🫶🤣
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
😂😂😂 kasian riana, iri ya
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
mampussss.. mampuusss🤣🤣🤣
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
itu belum seberapa riana, apalagi klo sampe kamu tau klo safa istri arlan🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nahh kan udah aku duga kelana itu si Arlan🤭
neny
cerita nya bagus,,mengandung bawang,,top pokok nya,, sukses selalu kak othor
neny: sama2 kak 🙏
total 2 replies
Suren
benar dugaan sy klw Arlan pengagum rahasia Safa. syukurlah ternyata Arlan. luar biase🥰👍
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
iya.. buat dia hidup segan mati tak mau/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
aaaaaa thorr aku ikutan mewekkk😭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
memang semua krna Safa keras kepala, tapi yg namanya ajal pasti akan datang
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
astaghfirullah aku bacanya sambil nahan napas😬😬😬
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟☕︎⃝❥: Aku yg nulis aja gedeg banget buk🤧🤧🤧
total 1 replies
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
dan kenapa sih masih mau kembali ke rumah it
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
ishh bener bener, safa juga sih mau di temanin sama arlan malah g mau
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
aduhh bahaya.. Hendra datang dan Safa sendiri😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!