Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pria Istimewa
Rasanya Gloria jadi malas makan kalau begini ceritanya. Sedari tadi gadis cantik itu hanya mengacak-acak piring, membuat sarapannya terlihat berantakan.
"Makan yang benar! Atau Daddy akan menambah hukumanmu!" cetus Ken, hari ini emosinya benar-benar naik hingga ke puncak ubun-ubun.
Mendengar itu, semua orang yang ada di meja makan sontak mengalihkan pandangan kepada Gloria, termasuk Ziel. Dan pria itu adalah satu-satunya orang yang tahu apa yang membuat Ken berbicara ketus pada putrinya.
"Iya, Daddy," jawab Gloria lemah.
Ziel terus menatap wajah sang kekasih yang nampak kusut. Dia yakin Ken menjatuhkan hukuman yang tak main-main, hingga membuat Gloria merasa kesal.
Di samping Gloria, Amanda menyenggol lengan tantenya itu, lalu berbisik-bisik. "Tadi aku sudah mencari Aunty ke mana-mana. Tapi Aunty tidak ada di kamar, kemana Aunty pergi?"
"Aku di dapur," jawab Gloria asal.
"Kamu berbohong, Aunty. Aku sudah mengecek dapur, tapi Aunty tidak ada juga di sana."
"Haish, sudahlah habiskan saja sarapanmu. Yang ada aku kembali disembur oleh raja ular!" kata Gloria sambil melirik ke arah sang ayah yang menampakkan wajah serius meski sedang makan.
Tak ingin menambah masalah, Amanda pun patuh pada ucapan tantenya. Dia segera menghabiskan sarapan, dan bergegas untuk pergi kuliah.
"Hari ini kalian diantar oleh Bodyguard. Karena Gloria tidak akan memakai mobilnya untuk satu bulan ke depan," ujar Ken kepada dua gadis di depannya. Yakni Gloria dan Amanda.
Mendengar itu, Ziel yang kebetulan baru saja melewati pintu utama, segera memberi penawaran. "Grandpa, bagaimana kalau mereka berangkat denganku saja. Biar aku yang pastikan mereka tiba di kampus dan masuk ke dalam kelas."
Ken segera menoleh dan menatap ke arah Ziel. Pria paruh baya itu berpikir sejenak, dan sepertinya penawaran Ziel bukanlah ide yang buruk.
"Boleh, setiap pagi kalian akan diantar oleh Ziel. Dan pulangnya bodyguard Daddy yang akan menjemput. Ingat, kalau kalian bekerja sama untuk mengelabuhiku, siap-siap saja untuk menggantikan pekerjaan asisten rumah tangga!" putus Ken dengan tegas.
Gloria sedikit merasa lega, karena setidaknya dia masih bisa pergi bersama kekasihnya.
"Iya, Daddy."
"Iya, Grandpa."
Jawab Gloria dan Amanda secara berbarengan. Mereka menyalimi tangan Ken bergantian, lalu masuk ke dalam mobil Ziel.
"Kamu benar-benar membuat kesalahan fatal, Aunty," ujar Amanda saat mobil itu mulai melandas. Gloria mengangkat kepala dan tak sengaja pandangan matanya mengarah pada spion tengah.
Tepat pada saat itu, Ziel pun tengah menatap ke arahnya, membuat pipi Gloria jadi bersemu merah.
"Sudahlah jangan membahasnya. Grandpamu itu seperti tidak pernah muda saja," jawab Gloria seolah acuh tak acuh.
"Haish, Grandpa kan hanya ingin melindungimu. Dan aku juga sudah bilang padamu, memacari mereka itu tidak ada gunanya!"
"Kamu tidak tahu apa tujuanku!"
"Hah tujuan? Tujuan apa?"
"Aku hanya menyukai satu pria! Dan aku hanya ingin membuat dia cemburu," jawab Gloria sambil terus menatap Ziel. Membuat sudut bibir pria itu berkedut.
"Oh iya? Siapa? Apakah dia salah satu kekasihmu?" tanya Amanda penasaran.
"Bukan, dia adalah pria istimewa. Dia tampan, mapan, karismatik, dewasa, hebat, tubuhnya atletis dengan dada bidang dan perutnya yang kotak-kotak, dan yang terpenting dia juga menyukaiku," jawab Gloria, langsung mendeskripsikan Ziel.
Membuat senyum pria itu semakin lebar. Sebuah lengkungan yang tak sengaja dilihat oleh Amanda.
"Kak Ziel kenapa senyum-senyum seperti itu?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, senyum Ziel langsung memudar. Dia berubah gelagapan karena tertangkap basah. Bahkan dengan reflek dia mengusap tengkuknya. "Ah tidak, aku hanya merasa lucu saja mendengar jawaban Glor. Sepertinya dia sedang berkhayal."
Amanda langsung terkekeh keras.
"Haha benar juga. Kamu pasti sedang berkhayal mendapat pria seperti di dalam novel, iya 'kan?"
Gloria mencebikkan bibir dan mendengus kasar. "Enak saja, aku bicara apa adanya!"
"Iya tapi apakah Aunty sudah benar-benar melihat perutnya yang kotak-kotak itu? Di mana?"
"Haish, percuma aku memberitahumu. Tidak ada gunanya!"
Perdebatan itu terus terjadi, karena dua gadis ini tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya mereka tiba di depan kampus, Gloria langsung menyuruh Amanda keluar lebih dulu.
"Sana!" usir Gloria.
"Kenapa harus aku?"
"Aku ingin bicara dengan Ziel!"
"Bicara ya bicara saja."
"Amanda, aku ingin bicara berdua dengannya. Jadi kamu masuklah dulu!"
Akhirnya Amanda mengalah, dia keluar dari mobil Ziel, meninggalkan kakak dan tantenya.
Setelah itu, Gloria langsung pindah ke depan, lebih tepatnya duduk di pangkuan Ziel. "Daddy menghukumku, Ziel. Aku tidak memiliki alat komunikasi apapun saat ini, bahkan Daddy membatasi aku keluar."
"Semua ini salahmu sendiri, Glor. Jadi terima saja konsekuensinya."
Gloria langsung cemberut, karena Ziel seolah tak keberatan sedikit pun.
"Haish, lalu bagaimana dengan kita?"
"Bagaimana apanya? Kita tinggal satu atap, dan kita masih bisa bebas bertemu. Lalu apa yang kamu khawatirkan? Hem?"
Gloria terdiam, benar juga apa yang dikatakan Ziel, meskipun semua fasilitasnya dicabut, tapi kan mereka masih bisa berduaan.
Gloria melingkarkan tangannya di sepanjang leher Ziel. Bibirnya mulai melengkung, karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Ah, pacarku memang pintar. Kalau begitu aku akan sering-sering menyelinap ke kamarmu," ujar Gloria, lalu mencium bibir Ziel lebih dulu. Baru satu hari menjalani hukuman, dia sudah melanggar poin terakhir untuk tidak memiliki pacar setelah lulus kuliah.
Yah bagaimana tidak melanggar? Belum sempat memutuskan semua kekasihnya saja, dia sudah mendapat kekasih baru.