NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Menu makan pagi

“Nasi uduk?”

Nadine menolehkan kepalanya ke samping kanan, tepat Andin berjalan di sebelahnya.

“Ada penjual nasi uduk di depan kita. Memang selalu ramai kalau pagi.”

“Boleh.” Nadine mengelus perutnya yang sudah membuncit. “Menu makan pagi kita hari ini nasi uduk, ya, Nak.”

Andin tertawa kecil melihat interaksi Nadine dan anaknya. “Semoga keponakan aku perempuan, ya. Biar kamu dan aku mendapat teman baru.”

“Semoga, ya. Tapi bagi aku, entah perempuan atau laki-laki, aku tetap menerimanya dengan hati bahagia. Bagaimanapun ini adalah hasil dari bentuk doaku kepada Tuhan untuk menghadirkan malaikat kecil yang memanggilku ‘Mama’, An.” Nadine mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.

Andin menganggukkan kepalanya. “Aku juga tidak sabar segera dipanggil ‘Aunty’ oleh keponakan pertamaku.”

“Kamu bisa membuatnya, An. Umurmu sudah matang untuk berumah tangga.”

Andin mendengus. “Kamu ini sama seperti bunda, ya. Ingin sekali untuk melihatku menikah.”

“Aku bahkan ingin menggandeng dirimu menuju pelaminan, An.”

Andin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku yang belum ingin.”

“Ayolah, An.” Nadine menggandeng tangan Andin. “Aku ingin mengantarmu.”

Andin menolehkan kepalanya untuk menatap Andin. “Kenapa tidak kamu saja yang aku antarkan ke pelaminan, Nad? Aku siap.”

Nadine terburu-buru melepaskan genggaman tangannya. “Aku teringat sesuatu.”

“Aku ingin melihat surat ceraiku dengan Adinata.” Nadine menatap Andin.

“Kenapa tiba-tiba?”

Nadine menatap lurus ke depan. “Aku hanya ingin membacanya lagi.”

“Aku akan menemanimu untuk membacanya. Aku juga merasa penasaran dengan suratnya, Nad. Boleh ‘kan?”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Boleh, An.”

Andin memegang tangan Nadine. “Kamu lebih baik tunggu aku di kursi sini saja, Nad. Biar aku yang antri di sana. Kamu lihat ‘kan kalau ramai banget.”

“Kamu tidak keberatan kalau harus antri sendiri?”

Andin menggelengkan kepalanya. “Lebih baik aku yang antri, Nad. Nanti kalau kamu ikut, kasihan kamu. Capek tubuh kamu. Biar aku saja, ya. Kamu bilang ke aku saja apa yang kamu inginkan.”

Andin mengajak Nadine untuk duduk di kursi yang ada di seberang jalan diantara penjual nasi uduk langganan sang bunda.

“Samakan saja denganmu, An. Aku tunggu di sini saja. Aku tetap bisa melihatmu dan kamu juga akan selalu melihatku.”

Andin menganggukkan kepalanya ketika Nadine sudah duduk dengan nyaman di kursi tersebut. “Aku tinggal sebentar, ya. Kalau nanti aku tidak mendapat pesanan, aku bisa membeli untuk kamu di tempat yang lain.”

“Hai, Nadine.”

Nadine sedikit menatap laki-laki yang memanggil namanya, sedangkan Andin membalikkan tubuhnya untuk menatap seseorang yang berdiri di belakangnya.

Nadine menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya. “Kamu mengenalku?”

Andin menggeser tubuhnya untuk berdiri di sebelah kursi—tempat Nadine duduk. Dia terkejut dan menggenggam tangan Nadine.

Laki-laki tersebut—Reyka tertawa. “Aku mengetahui namamu dan sepupumu dari bunda kalian. Nadine dan Andin, bukan?”

Andin menatap Nadine.

“Ohya, perkenalkan namaku Reyka.”

Nadine menatap lama tangan Reyka yang terangkat di depannya. Sebelum Nadine membalas jabatan tangan Reyka, dia menatap Reyka dengan tatapan bertanya.

“Nadine.”

“Senang berkenalan denganmu, Nadine.”

Andin melipat tangannya. “Kamu ini orang aneh. Datang tidak diundang dan mengajak berkenalan dengan tiba-tiba.”

Jabatan tangan Nadine dan Reyka sudah terlepas. Reyka berganti menatap Andin yang berdiri.

“Aku hanya berkenalan dengan kalian, Andin.” Reyka menganggukkan kepalanya dengan sopan. “Tempat tinggalku tidak jauh dari rumahmu.”

“Memang kamu tinggal dimana?” Nadine berdiri dari duduknya. Dia merasa tidak nyaman dengan kedatangan Reyka.

“Di dekat rumah kalian.”

Nadine menggenggam tangan Andin. “Ohya, salam kenal Reyka. Sudah selesai ‘kan perkenalanmu? Ayo kita pergi, An.”

“Tunggu sebentar.” Reyka menatap Nadine dengan panik.

Mereka akan meninggalkannya.

“Aku dengar kalian ingin membeli nasi uduk di seberang jalan ini.”

“Iya.” Andin yang memberi balasan ke Reyka.

“Penjualnya bilang kalau jualannya sudah habis terjual.”

Nadine dan Andin menatap ke seberang jalan. Pembeli yang sedang antri sudah membubarkan diri mereka dari depan penjual nasi uduk. Terlihat juga jika sang penjual nasi uduk mulai membuang sampah sisa jualan mereka.

Andin menatap Nadine. “Iya, Nad. Kita pulang saja.”

Belum sempat Nadine menjawab, Reyka mengangkat plastik berisikan 2 bungkus nasi uduk ke depan mereka.

“Ambilah.”

Nadine menatap Reyka. “Kamu yang membeli. Kenapa memberikannya kepadaku, Reyka?”

Reyka tertawa kecil. “Kamu sedang hamil. Mungkin saja anakmu benar-benar menginginkannya, Nad. Aku memberikan ini untukmu tanpa paksaan, ambil. Nad.”

Nadine semakin aneh. Perasaannya semakin tidak menentu ketika berhadapan dengan Reyka tanpa penghalang.

“Maaf, Reyka. Aku merasa aneh dengan kedatanganmu dan ajakan berkenalan darimu.” Nadine berterus terang di depan Reyka karena instingnya yang berkata jika kedatangan Reyka berhubungan dengan Adinata.

Reyka mengedipkan matanya berkali-kali sebelum tersenyum tipis. “Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Apa itu suatu kesalahan, Nadine?”

Nadine tertawa kecil. “Tidak. Aku hanya menyimpan kecurigaan kepadamu, Reyka.”

“Apa kamu mengenal Adinata? Atau kamu adalah suruhan dia untuk mengawasiku selama aku berada di sini? Jujur saja kepadaku.”

“Adinata? Apa dia Adinata Hardiyanto? Cucu Pak Hardiyanto? Aku tidak mengenalnya. Aku berkenalan denganmu karena aku hanya ingin berteman saja. Tidak ada maksud untuk mengawasimu atas suruhan Adinata. Aku tidak mengenalnya.”

Andin menatap Nadine ketika penjelasan Reyka terdengar jujur.

Nadine menghembuskan napasnya. “Apa yang menjadi jaminan kalau yang kamu katakan adalah kebenaran, Reyka?”

“Aku tidak memiliki maksud jahat.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!