NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25. pilihan yang tak ragu

Hari-hari yang berat perlahan membawa mereka pada satu titik yang tak terelakkan. Setelah perdebatan panjang, janji setia yang menyakitkan, dan keheningan yang mendera, akhirnya Raka mulai menyadari satu hal memaksakan kehendak hanya akan membuat Zahra semakin menjauh, dan ia sendiri tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan di atas punggung orang lain yang tak mau berjalan bersamanya. Meski hatinya masih hancur lebur, ia memutuskan untuk berhenti menahan bukan karena tak cinta, tapi karena ia mulai paham bahwa cinta sejati kadang harus diikhlaskan.

Sore itu, di bawah pohon beringin tua yang menjadi saksi awal pertemuan mereka bertiga, Raka mengajak Zahra berbicara terakhir kali. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah hanya suara berat dan mata yang berkaca-kaca.

“Zahra... aku sudah memikirkannya berhari-hari. Aku tahu aku takkan pernah bisa memaksamu kembali,” kata Raka pelan, suaranya bergetar namun tegas. “Aku melepasmu. Kita resmi berakhir mulai saat ini. Terima kasih untuk semua waktu yang pernah kita lalui bersama. Dan maafkan aku karena sempat egois menahanmu.”

Zahra menahan tangis, hatinya terasa perih namun juga lega yang sedih. “Terima kasih, Ka... terima kasih sudah mengerti. Aku juga minta maaf sebesar-besarnya atas semua luka yang kubuat.”

Mereka berpisah dengan salam perpisahan yang menyayat hati. Raka berjalan pergi perlahan, membawa kenangan yang takkan mudah hilang, namun kini ia tak lagi menahan langkah Zahra untuk pergi ke mana hatinya dituju.

Setelah perpisahan itu, Zahra dan Rendra akhirnya berani saling memandang tanpa beban kebohongan. Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, Rendra justru menghela napas panjang dan mengajak Zahra duduk sebentar. Ada rahasia yang selama ini ia simpan rapat rahasia yang membuatnya kadang tampak ragu, dan yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun.

“Zahra... ada hal yang harus aku katakan sebelum kita memutuskan untuk bersama,” ujar Rendra dengan wajah serius. “Sebenarnya, sebelum kau datang ke sini, aku punya hubungan dengan seseorang. Hubungan itu sudah berjalan cukup lama, tapi belakangan ini kami sering bertengkar, jarang bertemu, dan tak pernah ada kepastian. Kami tak pernah resmi putus, tapi juga tak pernah merasa utuh kembali. Hubungan kami hanya menggantung tanpa arah.”

Zahra tertegun sejenak, namun tak merasa marah. Ia justru mengerti mengapa Rendra kadang tampak tertahan. “Kenapa kau tak pernah katakan?”

“Aku pikir itu urusan masa laluku yang kelar dengan sendirinya. Aku kira dia sudah melangkah pergi, dan aku pun mulai berhenti berharap. Tapi ternyata... belum benar-benar selesai secara jelas,” jawab Rendra jujur.

Malam itu juga, di bawah langit yang mulai bersih dari awan mendung, Rendra menatap Zahra lekat-lekat.

“Namun satu hal yang aku tahu pasti: sejak kau ada di sini, hatiku tak lagi berpikir ke mana-mana selain ke arahmu. Hubungan yang menggantung itu tak lagi punya tempat di hatiku. Aku ingin kita melangkah bersama dengan jujur,” kata Rendra lembut namun mantap.

Zahra tersenyum haru, matanya berbinar. “Aku juga, Mas. Aku siap melangkah bersamamu, apa pun yang terjadi nanti.”

Mereka pun resmi menjadi pasangan menyatukan hati yang sempat terhalang banyak rahasia, kesalahpahaman, dan rasa bersalah. Rasanya seperti menemukan rumah yang selama ini dicari, meski mereka tahu tantangan belum tentu berakhir di sini.

Benar saja, keesokan harinya hal tak terduga terjadi. Saat Rendra sedang membantu Zahra di halaman, telepon gawainya berdering. Nama pengirim pesan itu membuat Rendra terdiam sejenak itu adalah nama mantannya, Sari.

Isi pesannya cukup panjang.

“Ren, aku baru saja mendengar kabar kalau kau sudah dekat dengan wanita lain. Selama ini aku hanya butuh waktu sendiri, aku tak bermaksud memutuskan hubungan kita. Aku masih sayang padamu. Mari kita bicarakan lagi, sepertinya kita bisa memperbaiki semuanya seperti dulu.”

Tak lama kemudian, pesan suara masuk pula:

“Aku segera datang ke sana sore ini. Kita harus selesaikan hubungan kita dengan benar.”

Zahra yang melihat ekspresi berubah di wajah Rendra bertanya pelan. “Dia datang kembali, ya?”

Rendra mengangguk, lalu langsung menggenggam tangan Zahra erat. “Jangan khawatir. Aku sudah tahu harus menjawab apa.”

Sore itu, Sari benar-benar datang. Ia tampak cantik dan percaya diri, seolah yakin Rendra akan kembali padanya seperti dulu.

“Ren, aku rindu,” sapanya langsung, mencoba mendekat.

Namun Rendra mundur selangkah, lalu berdiri tegak di samping Zahra.

“Sari, terima kasih sudah datang. Tapi aku harus bicara jujur sekali saja,” ujar Rendra tenang namun tegas. “Hubungan kita memang tak pernah resmi putus, tapi sudah lama mati dan menggantung tanpa kepastian. Aku sudah berusaha bertahan, tapi hatiku tak lagi ada di sana. Dan sekarang... hatiku sudah memilih Zahra sepenuhnya.”

Sari terkejut, tak menyangka penolakan itu begitu lugas. “Ren, kau yakin? Kita sudah bertahun-tahun bersama, sedangkan dia baru sebentar...”

“Bukan soal lama atau sebentar,” potong Rendra lembut. “Denganmu aku sering merasa ragu, merasa kurang, dan tak pernah tenang. Tapi dengan Zahra... aku merasa damai, merasa diterima, dan merasa ada tujuan yang jelas. Itulah yang aku cari. Aku memilih Zahra, dan aku takkan berubah pikiran lagi.”

Mendengar itu, Sari akhirnya paham. Tak ada harapan lagi. Ia menunduk sedih, lalu mengangguk pelan. “Baiklah... aku mengerti. Semoga kau tak menyesal.”

Setelah Sari pergi, Rendra menoleh ke arah Zahra dan tersenyum lega. “Sudah selesai. Sekarang tak ada lagi yang menggantung, tak ada lagi rahasia. Hanya kita berdua.”

Zahra tersenyum bahagia, air mata haru menetes pelan. “Terima kasih... terima kasih sudah memilihku dengan sepenuh hati.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!