"Om tidak melarang kalian menikah. Kalian boleh tetap pada keyakinan masing - masing. Tapi Om tanya pada kamu, kalau kalian punya anak. Anak kamu akan membawa nama keluarga siapa?" Tanya Abraham Papanya Malik.
Aluna hanya diam menunduk.
"Tentu membawa nama besar keluarga Abraham. Apa kamu setuju dengan permintaan Om? Pikirkan baik - baik Aluna" Pinta Pak Abraham.
*****
"Aku tidak bisa ikut kamu Aluna. Aku satu - satunya anak laki - laki orang tuaku. Aku dan keturunanku kelak yang akan membawa nama keluarga. Tidak mungkin aku ikut keyakinan kamu" Ujar Malik
"Tapi aku juga tidak akan mungkin Malik. Aku anak sulung, Papaku sudah meninggal sedangkan Mamaku sakit - sakitan. Kalau aku ikut keyakinan kamu Mamaku pasti akan mati" Sahut Aluna.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Malik
Akankah cinta mereka bersatu dengan pertentangan dua keluarga? Apakah jodoh akan berpihak pada mereka?
Selamat membaca...
catatan : Novel ini saya ambil dari pengalaman pribadi beber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kangen Berat
"Sudah lama pacarannya?" selidik Alin.
"Sudah, jalan lima tahun sejak semester genap tingkat pertama kami kuliah" jawab Malik.
"Waaah lama banget. Apa keluarga Mas Malik setuju? Mas Malik kan PNS, apa boleh menikah beda agama?" tanya Alin.
"Kan belum menikah" balas Malik.
"Iya sih, tapi kan Mas Malik udah lama banget pacarannya. Wanita kan butuh kepastian Mas masak mau pacaran terus. Apalagi kalian sama - sama sudah kerja, apa lagi yang di tunggu" sambut Alin.
"Memang itu yang jadi masalah dalam hubungan kami. Aku dan Aluna tidak ingin saling memperngaruhi atau mengajak untuk ikut agama yang kami anut. Sejak awal hubungan kami, kami sudah berkomitmen untuk saling menghargai" ungkap Malik.
"Berat lho Mas hubungan sepet itu, apalagi hubungan jarak jauh" sahut Alin.
"Yah di jalani saja sampai mana akhirnya" sambut Malik.
Tak lama pelayanan datang membawakan makanan yang mereka pesan.
"Pacarnya Mas Malik kerja di kota mana?" tanya Alin ingin tau.
Sebenarnya sudah sejak lama Alin memperhatikan Malik dari jauh. Selain Malik tampan, yang membuat Alin semakin kagum karena melihat ketaatan Malik dalam beribadah.
Alin selalu memperhatikan gerak - gerik Malik dan memastikan kalau Malik memang sendiri. Makanya Alin terkejut dan kecewa saat tau Malik ternyata sudah punya pacar.
"Dia tinggal di Kota A" jawab Malik.
"Maaf ya Mas aku jadi banyak tanya soal Mas Malik dan pacarnya. Habis aku penasaran dan tidak menyangka Mas Malik mau menjalani hubungan seperti itu. Karena menurut aku Mas Malik termasuk pria yang taat beribadah" ungkap Alin.
"Tidak apa, kamu tidak salah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Aluna waktu ospek. Aku tidak tau kalau dia ternyata muslim karena dia tidak memakai jilbab. Setelah berkenalan dan berteman dengannya baru aku tau. Tapi hatiku sudah terlanjur menyukainya. Semakin mengenalnya aku semakin jatuh hati hingga aku tidak bisa mundur lagi. Empat tahun lebih kami pacaran tidak pernah sekalipun kami bertengkar hebat. Hingga dua bulan yang lalu keluarganya mengetahui kalau kami beda agama dan mereka menentang hubungan kami. Bertepatan dengan itu Aluna juga di tugaskan ke kampungnya dan kami menjalani hubungan jarak jauh" sambut Malik.
Sudah lama Malik ingin bercerita pada seseorang tentang hubungannya dengan Aluna. Tapi Malik bukanlah tipe pria yang banyak cerita. Entah mengapa bersama Alin dia bisa bercerita sepanjang ini.
Ada perasaan lega di dada Malik karena sudah berhasil mengeluarkan keluh kesahnya selama dua bulan ini. Apalagi rasa rindunya kepada Aluna setiap harinya semakin dalam.
Aaah aku semakin merindukan Aluna. Batin Malik.
"Aku bingung harus berkata apa Mas? Apakah aku harus mendukung atau mematahkan semangat kamu. Tapi bagi aku yang seorang perempuan. Hubungan seperti ini sangat merugikan kami kaum perempuan. Waktu terus berjalan, usia terus bertambah. Untuk apa menjalani hubungan yang tidak tau bagaimana kepastiannya. Aku pernah merasakan hidupku terancam saat mendengar aku menderita penyakit kanker bahkan sampai saat ini aku masih harus berjuang. Karena ada batas waktu hingga aku bisa divonis sembuh. Sejak saat itu aku merasa setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik begitu berharga. Aku berjanji ingin hidup bahagia Mas dan tidak akan menyia - nyiakan waktu yang aku punya. Aku hanya bisa berpesan pada kalian, aku tau kalian bahagia menjalani hubungan ini. Tapi menurut aku itu hanya kebahagiaan sementara Mas. Semua bagaikan bom waktu. Jika bomnya meledak bisa saja kalian sama - sama terluka. Pikirkan sejak saat ini Mas bagaimana kelanjutan hubungan kalian" pesan Alin.
Walau dia ingin sekali memiliki Malik tapi Alin tidak berniat untuk merebut Malik dengan cara curang. Kalau memang jodoh Malik bukan pacarnya, Alin ingin mendapatkan hati Malik dengan cara yang terhormat.
Malik terdiam sesaat. Sudah beberapa orang memang berkata yang sama tentang hubungannya dengan Aluna. Tapi Malik benar - benar tidak tau jalan keluar apa yang harus dia ambil.
Ikut Aluna rasanya tidak mungkin, menarik Aluna masuk agamanya juga berat. Berpisah dengan Aluna juga sama beratnya. Bahkan sampai saat ini dia tidak sanggup memikirkannya. Dan merindukan Aluna sudah membuat kepalanya hampir pecah.
Setiap malam Malik semakin merindukan Aluna. Senyumannya, keceriaannya, perhatiannya, kasih sayangnya bahkan masakannya semua sangat Malik rindukan.
"Terimakasih atas nasehat kamu Al. Aku dan Aluna akan mencari jalan keluar terbaik untuk hubungan kami" tegas Malik.
Setelah selesai makan Malik mengantarkan Alin ke rumahnya. Entah mengapa sejak membicarakan tentang Aluna Malik semakin merindukan Aluna.
Entah bisikan dari mana Malik segera pulang ke kosnya lalu menyusun beberapa pakaiannya ke dalam tas ransel. Malik kemudian memesan ojek online dan segera berangkat menuju stasiun bus.
Sesampainya di stasiun Bus Malik langsung memesan tiket menuju kampung Aluna.
"Al aku datang membawa rasa rindu yang begitu besar hanya untuk kamu" ucap Malik dalam hati.
Malik sampai tengah malam di kampung halaman Aluna. Dia langsung mencari penginapan yang tak jauh dari stasiu. Malik tidak tau alamat rumah Aluna. Rencananya besok dia akan menemui Aluna di kantornya saja.
Malam ini Malik memaksa matanya untuk tidur. Sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin bertemu Aluna tapi dia harus bisa menahan perasaan ini.
Besok paginya Malik langsung bersiap untuk meninggalkan penginapan. Sebelumnya dia sudah sarapan. Malik bertanya kepada salah satu karyawan di penginapan alamat kantor Aluna.
Berdasarkan informasi yang dia dapat, Malik menggunakan angkutan becak motor menuju kantor Aluna. Malik diantar oleh tukang becak dengan selamat sampai di depan kantor Aluna.
Malik melirik jam tangannya. Jam delapan kurang lima belas menit.
Apakah Aluna sudah sampai di kantornya? Biarlah aku menunggunya sampai jam delapan. Kalau sampai jam segitu Aluna belum datang baru aku tanya bagian informasi dan minta dipertemukan dengan Aluna. Akh.. aku tidak sabar bagaimana nanti wajah Aluna? Pasti dia terkejut melihat kedatanganku. Batin Malik.
Malik menunggu Aluna di depan pagar kantor Aluna. Tak lama kemudian Malik melihat sosok Aluna dibonceng oleh seorang pria masuk ke dalam area kantor.
"Itu Aluna, dia pasti diantar adiknya? Aku harus segera memanggilnya" gumam Malik.
Malik berjalan masuk ke dalam area kantor Aluna. Tak lama Malik berpapasan dengan adik Aluna yang keluar dari area kantor.
"Al... Aluna" panggil Malik.
Aluna yang baru saja hendak masuk ke dalam kantornya tiba - tiba terkejut karena ada seseorang yang memanggil namanya. Dan Aluna sangat mengenal suara itu. Aluna menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat.
Malik? Ah tidak mungkin, pasti aku berhalusinasi karena terlalu merindukannya. Batin Aluna.
Aluna kembali hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor.
"Aluna Carlisa" panggil Malik dengan suara yang lebih keras.
Langkah Aluna kembali terhenti dan kepalanya mencari dari mana arah suara. Karena Aluna sangat yakin suara itu nyata bukan halusinasi.
Sesaat mata Aluna dan Malik saling tatap. Malik tersenyum penuh arti sedangkan Aluna hanya bisa bengong sangkin terkejutnya melihat Malik ada di hadapannya.
"Ma.. Malik" sahut Aluna.
Aluna sampai mengucek matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya aku datang. Aku sangat merindukan kamu" ungkap Malik.
"A.. Apa yang kamu lakukan di sini Lik?" tanya Aluna panik
Aluna melihat ke kanan dan ke kiri, takut Said adiknya masih berada di sekitarnya dan melihat Malik ada di sini.
"Aku kangen kamu Al, makanya aku datang ke sini" ungkap Malik dengan senyuman manisnya penuh kerinduan.
.
.
BERSAMBUNG
menerima lamaran orang lain karena ga enak m ortu, mengesampingkan perasaan sendiri hanya untuk berbakti PD ortu.
ortu tau anknya blm saling mencintai berharap bisa saling mencintai.
apalah daya sebagai anak menurut kemauan ortu,tapi ternyata pilihan ortunya tidak baik, diperlakukan buruk oleh suami sendiri.
mau ngadu sama siapa???
ini penggambaran novelnya.