Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Setelah Pertarungan Usai
Dipagi harinya semua warga yang berhasil mengumpulkan semua sisa bahan makanan yang masih dapat di olah untuk mereka makan memulai untuk memasak. Ayah Usang dan Kambang yang merupakan pemimpin di desa itu mulai memerintahkan semua warga untuk mempersiapkan makan besar dengan bahan makanan yang masih ada di tempat itu.
Semua warga desa pun mulai sibuk menyiapkan acara makan besar di hari itu. Hanya kambang dan ibunya yang tidak dapat membantu menyiapkan pesta itu karna mereka berdua masih menjaga Usang dan Ipul yang masih belum bangun dari tidurnya.
Tak lama kemudian Ipul pun membuka matanya dan melihat di samping kirinya ada Ishah yang duduk membelakanginya dan di samping kanannya gadis muda yang iya liat waktu itu, yang saat ini sedang tersenyum kepadanya dan berkata.
“Bagaimana keadaanmu sekarang tuan apakah kamu sudah merasa baikan.?” Tanya Kambang ke pada Ipul yang sudah bangun dari tidurnya.
Ipul pun menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu ia pun mencoba untuk duduk namun tubuhnya masih terlalu lemah. Dengan di bantu oleh Kambang akhirnya Ipul dapat duduk sembari bersandar di dinding gubuk tempat iya terbaring. Iya melihat di sekitarnya masih terbaring dua orang lelaki kuat yaitu Usang dan Bangkui.
Walau pun Kambang tidak dapat melihat sosok Bangkui, namun Kambang bisa melihat sosok Ishah yang sedang duduk menunggu sesuatu di depannya.
Melihat tuannya sudah bangun, Ishah pun mulai bertanya.
“Apakah tuan baik-baik saja.?" Tanya Ishah sedikit cemas.
“Iya nie, aku baik-baik saja kok.” Jawab Ipul.
“Dan Itu pun berkat Bangkui yang selalu menjaga Aku.!” Lanjutnya yang mencoba menenangkan kecemasan Ishah.
“Syukurlah kalau tuan baik-baik saja.!” Ujar Ishah sembari tersenyum lega.
Dan Ipul pun lanjut berkata.
“Maaf ya karna aku, Bangkui jadi seperti ini.!” Sembari melihat ke arah Bangkui dengan raut muka merasa bersalah.
“Dengan melihat tuan baik-baik saja, itu akan membuat suamiku sangat senang saat ia bangun nanti.” Jawab Ishah mencoba menenangkan tuannya.
“Lagi pula suamiku hanya kelelahan saja kok setelah pertarungan tadi malam, karna selalu berpindah-pindah jasad.”
“makanya energi rohnya terkuras habis. Dan ia harus beristirahat sedikit lama, paling sebentar lagi ia sudah bangun kok.” Ujar Ishah menjelaskan agar tuannya bisa kembali tenang.
Mendengar penjelasan dari Ishah, Ipul pun kembali lega karna Bangkui saat ini baik-baik saja.
Lalu mereka semua yang ada di situ pun berbincang satu sama lain sembari menunggu kedua lelaki itu bangun.
Tak lama kemudian mereka berdua pun bangun dari tidurnya, mereka pun mulai ikut berbincang bersama yang ada di tempat itu.
Karena melihat mereka bertiga sudah bangun, ayah Kambang dan Usang pun meminta beberapa orang warganya pergi membawakan makanan untuk mereka.
Sambil menunggu di mulainya pesta makan besar, mereka pun memakan makanan yang telah di antarkan kepada mereka sambil menceritakan kejadian malam itu dari awal hingga akhir.
Cerita pun mulai dari Kambang terlebih dahulu.
Malam itu ia mendengar suara nyanyian yang indah dan syahdu, karna alunan lagu itu ia pun tertidur dan saat ia terbangun, tubuh nya sudah terikat oleh tali.
Ia hanya mendengar suara dua orang wanita sedang berbicara merencanakan sesuatu, namun ia tak dapat melihat wujud dan bentuknya.
Lalu setelah mendengar mereka selesai berbicara, Kambang pun tidak sadarkan diri dan baru sadar setelah melihat tubuh Usang yang tergeletak di tanah tadi malam.
Lalu cerita pun dilanjutkan oleh ayahnya Kambang dan Usang
Pagi itu seisi desa heboh karna hilangnya anak perempuan kami, semua warga desa mencari ke seluruh penjuru desa namun Kambang tetap tidak juga di temukan.
Seluruh tim pemburu yang ada di sini berkumpul untuk mencarinya di hutan, namun sampai menjelang gelap pun Kambang tidak juga ditemukan.
Sedikit jejak atau petunjuk pun tidak ada darinya.
Lantas di malam itu dengan terpaksa kami semua melakukan upacara ritual pemanggilan para roh untuk mengetahui keberadaan Kambang saat itu.
Dari hasil ritual itu kami mendapatkan bisikan dari roh penjaga hutan bahwa Kambang telah di bawa Nyaring ke tempatnya, dan tidak ada siapa pun yang bisa menyelamatkannya.
Esok paginya kami melakukan rapat untuk bagaimana selanjutnya mengenai kejadian Kambang, dan hasilnya tidak ada satu orang pun yang berani pergi untuk menyesatkan Kambang.
Karna takut, jika memaksa pergi yang ada semuanya akan mati karna ingin menyelamatkan satu orang saja.
Jadi hari itu kami sudah sepakat untuk merelakan Kambang pergi karna mungkin sudah jadi jalan takdirnya.
Tetapi saat malam datang, kami di hebohkan kembali, karna abangnya Kambang yaitu Usang juga ikut menghilang dari desa.
Kami hanya bisa mencari sampai batas hutan yang boleh di jelajahi untuk berburu setiap hari saja. Kami di larang memasuki hutan terlarang itu, karna mitosnya hutan tersebut sangat angker. Jika ada yang berani masuk, alhasil tidak akan pernah kembali hidup-hidup dari hutan tersebut.
Lalu tepat dihari Usang menghilang, kami bertemu dengan adiknya Kambang sedang berlari mencapai perbatasan hutan untuk keluar dari hutan larangan itu.
Dan saat ia bertemu kami, ia pun menangis sejadi-jadinya dan memberitahukan bahwa Usang telah mati di bunuh sosok gaib di atas gunung itu.
Sosok perempuan yang seluruh tubuhnya berwarna putih. Rambut nya panjang hampir menyentuh tanah berwarna merah dan memiliki kuku yang panjang serta dapat terbang.
Lalu kami pun percaya kalau Usang telah mati di bunuh mahkluk halus bernama Nyaring seperti yang di ceritakan adiknya.
Kami pun harus merelakan kepergian Usang, demi menyelamatkan adik kesayangannya itu ia rela harus mati di tangan Nyaring.
Dengan perasaan sedih bercampur bangga karna anak lelakinya tewas demi menyelamatkan adiknya, yang bahkan tidak ada satu pun dari kami di sini yang berani untuk pergi menyelamatkan Kambang.
Lalu kami pun pulang ke desa bersama kambang yang masih kelihatan trauma atas kejadian itu, dan menganggap bahwa Usang telah gugur demi menyelamatkan orang yang ia sayangi.
Setelah itu Usang pun melanjutkan cerita tentang bagaimana ia pergi menyelamatkan Kambang.
Dimulai pada hari itu, karna tidak ada satu pun yang berani untuk pergi menyelamatkan adiknya, ia pun membulatkan tekat untuk pergi sendirian menerobos hutan terlarang yang dikenal warga sekitar dengan nama Hutan Puruk Antas.
Ia pun mulai pergi saat hari sudah mulai gelap, tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di desa.
Dengan memberanikan diri iya terus menerobos hutan di malam itu. Karna malam itu bulan bersinar terang jadi kondisi jalan yang di laluinya itu tidak begitu gelap gulita.
Ia terus berlari menerobos hutan dengan cepat menuju puncak gunung Puruk Antas sembari berjaga agar tetap aman.
Sesampainya di atas puncak gunung itu, ia melihat ada sebuah gubuk kayu berukuran kecil. Ia pun mencoba mendekati gubuk tersebut sembari berhati-hati agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya itu.
Setelah memastikan gubuk itu tidak ada penghuninya, lalu iya mencoba masuk ke dalam gubuk itu dan melihat adiknya ada di situ dalam keadaan terikat. Dengan cepat ia mencoba membuka ikatan tali yang mengikat adiknya itu dengan pisau yang sudah ia bawa.
Dan begitu ingin kabur dari tempat itu, sang pemilik gubuk itu pun datang dan langsung menyerangnya.
Dengan sigap ia dapat menghindari serangannya dan berhasil membawa adiknya keluar dari gubuk tersebut. Begitu ingin berlari, tiba-tiba mereka berdua mendengar suara nyanyian dari Nyaring lalu Usang berpura-pura seperti terhipnotis akibat suara itu. Ia pun perlahan terus berjalan menuju Nyaring seolah-olah telah terperdaya oleh suara itu.
Begitu sudah berada di hadapan Nyaring, ia pun menusukan tombak yang dibawanya tepat di jantung Nyaring dan terus mendorong tombak itu hingga menancap ke dinding gubuk.
Dan setelah itu ia pun lekas menarik tangan adiknya untuk segera pergi menjauhi dari tempat itu. Ia menyuruh adiknya untuk berlari terus ke depan tanpa menoleh kebelakang.
Namun belum jauh ia mereka berlari, Nyaring pun sudah ada tepat di belakang Usang. Lalu mereka pun bertarung dengan sengit, mereka saling melukai satu sama lain.
Pertarungan itu seperti tidak imbang karna Usang sudah mulai merasa kewalahan melawan Nyaring. Lalu Ia pun mengambil jarang dari Nyaring untuk mencoba melakukan serangan terakhir dengan menggunakan pisaunya, Jika serangan itu gagal maka ia akan mati di tangan Nyaring saat itu juga.
Dengan mengeluarkan semua tenaga yang tersisa ia pun bersiap untuk menahan serangan Nyaring lalu berniat menyerang balik dengan pisau yang ada di tangannya untuk mengakhiri pertarungan itu.
Nyaring pun segera terbang menyerang ke arah Usang yang telah bersiap juga untuk menyerang. Serangan Nyaring berhasil di hindari dan begitu mendapat cela, ia pun menusukkan pisau tepat jantung Nyaring dan terus menikam jantungnya hingga hancur.
Nyaring pun tergeletak di tanah tidak bergerak sedikit pun dengan pisau yang masih tertancap di tubuhnya.
Setelah pertarungan itu selesai dan melihat Nyaring sudah benar-benar tewas. Perlahan sinar matahari pagi mulai muncul dan jasad Nyaring pun telah hancur terkana sinar matahari pagi itu.
Usang menatap langit untuk merasakan hangatnya fajar, seraya bersyukur karna setelah pertarungan melawan Nyaring ia masih bisa hidup hari itu. Lalu tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertembus benda tajam berkali-kali dan terasa begitu sakit.
Lalu ia pun menoleh ke belakang dan melihat adiknya sedang tersenyum mirip senyuman Nyaring yang telah ia bunuh tadi. Ia pun sadar kalau adiknya sudah di rasuki roh Nyaring sebelum ia datang Untuk menyelamatkannya.
Sebelum Nyaring akan mendorong Usang ke dalam jurang, ia mengatakan kalau ia akan memakai tubuh ini untuk bisa masuk ke desa. Lalu nanti malam ia akan memakan semua warga yang ada di desa.
Lalu setelah itu tubuh Usang di dorong jatuh ke dalam jurang hutan Puruk Antas. Dan di dasar jurang itu lah Ipul bertemu nya dalam keadaan sedang sekarat lalu kemudian menyelamatkannya dan pergi ke desa untuk membantu melawan Nyaring.
Dan setelah mereka selesai bercerita hari pun mulai senja dan pesta pun telah siap di mulai. Mereka pun bersama-sama menuju tempat pesta untuk memulai pesta malam itu.
Pada saat pesta malam itu Ipul melihat Bangkui dan istrinya sedang asik berbincang dengan Kambang, ibu serta neneknya sedang membahas sesuatu. namun Ipul tidak begitu peduli dan melanjutkan untuk berpesta.
Ternyata mereka sedang membicarakan seorang pemuda yang di pilih oleh roh pemimpin desa untuk menggantikan memimpin desa yang telah tiada, namun tiba-tiba ia menghilang dan pemuda itu adalah dia.
Cerita itu diwariskan ke pada neneknya Usang dan Kambang karna dia masih termasuk keturunan dari gadis yang dulu pernah di berikan jimat agar bisa berkomunikasi dengan Bangkui dan Ishah serta pernah akan di jadikan tumbal dan di selamatkan karna kedatangan pemuda itu.
Cerita beserta jimat itu pun kini sampai ke Usang dan Kambang, karna itu lah mereka bisa melihat sosok Bangkui dan istrinya Yang berwujud roh.
Malam itu pun terus berlalu dengan pesta kecil, namun cukup menyenangkan bagi semua warga yang ada di desa tersebut.
Hari-hari pun terus berlalu, dimana Ipul sudah merasa menjadi bagian dari warga di desa itu. Ia juga ikut melakukan aktivitas seperti yang di lakukan oleh warga di sana.
Dan tidak terasa sudah sebulan lamanya ia di desa tersebut dan banyak pengalaman yang ia dapatkan saat berada di situ namun belum juga ada tanda-tanda dia bisa kembali lagi ke rumah.
Malam pun tiba seperti biasanya, sehabis beraktivitas ia pun segera tidur untuk bersiap melanjutkan kegiatannya esok pagi bersama warga desa seperti hari-hari biasanya.
Di tengah tidurnya ia kembali bermimpi melihat cahaya itu lagi dan saat terbangun iya sudah berada di sebut batu besar, Tak jauh dari batu tersebut ia melihat sebuah lubang goa yang sangat besar dan gelap. Ia pun memahami kalau ia sekarang sudah berpindah ketempat yang baru lagi.