Aku istrinya, tapi aku disembunyikan layaknya simpanan. Dinikahi secara siri, kemudian suamiku menikah lagi. Aku pikir itu adalah puncak neraka duniaku, aku salah. Berpisah dengan putriku yang baru lahir ke dunia, itu lebih sakit dari pada luka hatiku.
Akulah Padma, wanita yang kalian hina hanya karena starta sosial yang berbeda. Ini aku, ini kisahku, tentang istri siri yang bangkit dari lubang hina yang kalian gali untukku. Satu persatu, akan kubalas kalian! Ini janjiku, dari jiwa yang kalian benci selama ini.
Follow IG author Sept : Sept_September2020
Selamat datang di karyaku ke 22. Selamat membaca, semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH
Istri Rasa Simpanan Bab 25
Oleh Sept
Mata mereka saling menatap, bukan sebuah tatapan cinta, lebih kepada tatapan penuh amarah. Terutama mata si pria, manik matanya yang hitam itu menatap tajam ke arah Padma.
'Lihat ... bertahun-tahun kami tidak bertemu, tapi sekarang ... dia menatapku tanpa ampun. Kenapa kamu terlihat begitu sangat marah tuan Guntur?' batin Padma.
"Maaf, aku akan ganti rugi!" kata Padma karena suasana makin lama makin mencekam. Apalagi sorot mata Guntur, seperti tatapan yang ingin membunuhh, lama tidak ketemu bukannya menyambut dengan tatapan hangat serta mesra, Guntur malah melihatnya seperti seorang musuh.
"Aku tidak butuh uangmu!" jawab Guntur kasar. Sebenarnya ia pasti senang ketemu Padma, tapi entah mengapa, hatinya terasa begitu sakit. Apalagi ketika tahu itu dirinya, Padma malah berniat kabur. Menghindar darinya, terang saja Guntur semakin panas jiwa.
Melihat Guntur yang sedang naik darah, Padma tidak kendur. Ia masih mengangkat dagunya. Menyembunyikan sakit hatinya di masa lalu. Dia tetap menyalahkan Guntur, dia harus mengalami semua ini karena pria tersebut.
Dua orang yang saling mencintai, kini menatap dengan benci. Merasa pihak yang paling terluka, merasa sama-sama menjadi korban. Rasa egois, sudah melekat pada keduanya.
"Aku tidak sengaja! Aku ganti biaya perbaikan!" kata Padma lagi, ia akan kembali masuk ke dalam mobil, entah mengambil apa. Yang jelas Guntur langsung menarik tangannya. Hingga membuat Padma kaget.
"Lepaskan!"
Guntur melotot, matanya menatap marah pada sikap Padma yang seperti orang lain. Bukan Padma yang dulu, yang patuh pada dirinya.
"Aku bisa teriak kalau kamu gak lepasin!" ancam Padma sadis.
Guntur semakin marah, Padma bahkan berani memanggil dirinya dengan sebutan kamu.
"PADMA!" sentak Guntur.
Tidak mau dapat perlakuan kasar dari pria tersebut, Padma langsung mengibaskan lengannya hingga lepas.
'Dia sudah berubah!' rutuk Guntur dalam hati ketika Padma menatapnya marah.
Padma yang kesal karena Guntur tidak pernah berubah, ia lantas masuk ke dalam mobil, tidak peduli pada Guntur yang mengetuk pintu mobilnya kasar.
"Keluar!"
WUSHHH...
Padma nekat menekan pedal gas, tidak peduli kalau Guntur bisa celaka. Ditinggal begitu saja, Guntur langsung bergegas masuk mobilnya. Tidak peduli juga pada bagian belakang mobilnya yang penyok akibat ulah Padma.
Pria itu kini menambah kecepatan mengejar mobil yang dikendarai Padma.
Padma sejak tadi melirik spion, dilihatnya mobil di belakangnya yang begitu cepat mengikuti. Keduanya pun seperti balap liar, mengemudi dengan ugal-ugalan.
Ditambah lagi ponsel Padma terus saja berdering, itu pasti ibunya. Padma mencoba meraih ponselnya, akan tetapi malah jatuh di bawah kakinya.
"Ish!" Ia mendesis kesal. Kemudian kembali fokus pada jalanan.
Tin! Tin! Tin!
Berkali-kali Guntur menekan klakson, tapi Padma tidak peduli. Dalam kepalanya malah kenangan masa lalu seperti diputar kembali, semua masa lalunya sepertinya ada di depan mata.
Padma tetaplah seorang wanita, sekuat apapun ia sekarang, ketika bertemu dengan pria di masa lalunya, pria yang pernah menetap lama dalam hatinya, tentu akan mempengaruhi emosinya.
Air matanya tumpah, bukan menangis yang meratap, tapi tangis penuh rasa marah dan kecewa dengan semuanya. Guntur yang menikah lagi, Guntur yang main hati dengan wanita lain, Guntur yang kasar dan jahat padanya, semua kejelekan Guntur tiba-tiba hadir kembali. Membuatnya emosional.
Padma mencoba tetap pada kewarasannya, tapi ia merasakan sesak yang menyerang tiba-tiba, ia berusaha memukuli daadanya sendiri, berharap sesaknya hilang. Namun, yang ada hanya rasa sakit yang tambah datang secara bertubi-tubi.
CHITTT...
Di tengah rasa kalut yang melanda, Padma mengerem mendadak, ia menekan pedal rem dengan cepat. Ia sangat kaget ketika mobil Guntur berhasil menyalip dan langsung berhenti memghadang mobilnya.
"KELUAR!" sentak Guntur.
Padma tidak bisa maju lagi, sebab mobil Guntur sudah mengalangi jalannya. Ia hanya bisa meletakkan kepalanya di atas kemudi. Ingin menghilang dari sana.
"AKU BILANG BUKA!" teriak Guntur.
Padma memejamkan mata, mengusap pipinya. Kemudian membuka pintu. Baru juga di buka sedikit, Guntur langsung merangsek masuk. Membuat Padma langsung pindah ke kursi di sebelahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Padma sok kuat, padahal hatinya hancur saat menatap Guntur.
Guntur langsung mencengkram pergelangan tangan Padma.
"Lepaskan!"
Padma meronta, tapi Guntur kali ini mencengkram pergelangan tangan tersebut sangat erat.
"Tolong lepaskan! Ini sakit!" ujar Padma lagi.
Padma mencoba menarik tangannya, berusaha melepaskan diri. Bukankah lepas, Guntur malah semakin menekan, memperkuat cengkraman.
"Jangan keterlaluan," protes Padma yang benar-benar merasakan tangannya sakit.
"Dengarkan aku baik-baik! Kamu yang keterlaluan!" balas Guntur kemudian melepaskan cengkraman tangannya.
Padma melirik sekilas, kemudian memegangi tangannya yang sakit.
"Di mana anakku sekarang?" tanya Guntur dengan nada yang masih tinggi.
"Aku tanya, di mana anakku?" sentak Guntur karena Padma diam.
"Bisa tidak jangan selalu teriak padamu?" balas Padma dengan suara yang tidak kalah tinggi, tapi matanya justru berkaca-kaca. Sungguh ia kecewa dengan sikap Guntur yang sekarang dan juga dulu.
Guntur sempat kaget, Padma berani teriak keras padanya. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar, memejamkan mata menahan amarah. Saat ini, ia juga sangat setres. Frustasi, bertemu dengan Padma tapi rasanya campur aduk. Benci tapi juga rindu. Hingga ia tidak tahan, ia melakukan dengan reflek.
"A-apa ...?"
Mata Padma terbelalak.
Bersambung
Pasangan marah-marah. Maklum, emosi belum stabil. Masih shock.
maaf ya,klo slh..jngn di bully/Pray/