NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

Malam kian merangkak naik, di temani detak jarum jam yang terus berputar. Cahaya kota yang semula gemerlap kini hanya tampak sebagai bintik-bintik redup di balik kaca jendela ruang rawat. Lorong rumah sakit terasa lengang, hanya sesekali terdengar suara roda brankar yang melintas dan langkah perawat yang bergema pelan, memecah keheningan yang menyelimuti malam.

Amara masih duduk setia di sisi ranjang. Sejak dokter memastikan Abimanyu mengidap tifus tadi sore, dan harus menjalani rawat inap beberapa hari ke depan, gadis itu nyaris tak beranjak sedikit pun.

Wajahnya yang sejak sore dipenuhi kecemasan kini tampak semakin muram. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari sosok suaminya yang tengah terbaring lemah dengan infus yang menetes perlahan di punggung tangannya.

Sesekali Amara mengangkat telapak tangannya, menyentuh dahi Abimanyu dengan sangat hati-hati. Meski panas tubuh pria itu mulai berangsur turun berkat obat-obatan yang diberikan, kekhawatiran di hatinya tak juga ikut mereda.

Bayangan bagaimana Abimanyu saat Maghrib tadi menggigil hebat dan mengeluh sakit kepala parah terus menari di kepalanya, sehingga ia takut untuk memejamkan mata meski jarum pendek jam sudah menunjuk ke angka sepuluh malam.

Amara menghela napas berat, teringat hari kemarin saat Abimanyu melewatkan sarapan dan juga pengakuannya di depan dokter bahwa pria itu tak hanya melewatkan sarapan, tapi juga tidak makan siang. Padahal kondisi tubuhnya yang sudah lemah akibat kelelahan dan stress hingga akhirnya jatuh sakit terus berputar di kepalanya, menyisakan rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

"Kenapa Om selalu menyebalkan sih? Kesel ya kesel sama aku, lebih baik marah saja ke aku daripada nyiksa diri." Gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Suaranya tenggelam bersama dengung pendingin ruangan.

Sedangkan Abimanyu sedikitpun tak bergeming, pria itu terlelap karena pengaruh obat. Napasnya terdengar lebih teratur dibanding sebelumnya. Namun wajahnya masih tampak pucat, menyisakan garis-garis kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.

Pemandangan itu membuat dada Amara terasa sesak. Baru kali ini ia melihat sosok yang selama ini selalu tampak kuat dan kharismatik terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.

Tanpa disadari, Amara menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Dengan gerakan ragu, ia menyelipkan jemarinya di sela jemari Abimanyu yang terasa hangat. Genggaman itu begitu pelan, seolah takut mengganggu tidurnya, namun cukup untuk menyampaikan doa yang tak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata.

"Cepet sembuh om, aku janji enggak bakal pergi-pergi lagi tanpa izin om." Ucapnya pelan, ia menopangkan keningnya ke tepi ranjang berharap kantuk segera menghampirinya tanpa ia sadari. Namun belum sempat matanya terpejam, dari arah pintu terdengar suara ketukan. Amara mengerutkan kening, "siapa ya, visit kan masih satu jam lagi." Gumamnya seraya berdiri, sebelum beranjak ia mengusap lengan Abimanyu bak seorang ibu yang memastikan anaknya tetap tidur saat ditinggal.

"Yaa.." Ucapnya meraih gagang pintu dan membukanya, "lho pak Karyo, kok masih di sini? Kirain sudah pulang, atau memang sudah pulang kemudian balik lagi ke sini?" Amara menatap sopir kiriman mertuanya yang baru tiba saat Ashar tadi. Pria berusia hampir setengah baya itu berdiri di depan pintu mengangguk hormat padanya sembari menempelkan ponsel di telinga.

"Maaf neng ganggu."

"Enggak apa-apa pak, ayo masuk aja! di luar dingin." Amara membuka lebar pintu, meminta pak Karyo untuk masuk. Namun sebelum melangkah sopir itu menyodorkan ponselnya pada Amara, "neng ibu mau bicara."

"Oh..." Amara segera menerimanya. "Iya ma..."

[Mara, pak Karyo biarkan tidur di rumah sakit saja ya nak! Biar ada yang menemani kamu, soalnya mama kepikiran terus kalau kamu sendirian. Mama tadi mau telepon ke nomor kamu tapi takutnya sudah tidur, maafin mama ya enggak bisa nemenin. Insya Allah besok pagi mama berangkat ke sana]

"Em, enggak usah ma. Kasihan papa kalau mama kesini, om Abi juga udah dapat perawatan sekarang. Lagian kan sudah ada pak Karyo dan mbok Zah yang ngurus kami." Tolak Amara halus, berusaha menenangkan mertuanya. Ia menolak bukan karena tak ingin ditemani, justru di saat seperti ini dirinya butuh sosok bu Halimah. Namun sang papa mertua, seorang pengusaha yang memiliki segudang kesibukan tidak bisa ditinggal begitu saja oleh istrinya.

[Tapi beneran kan kalau Abi sudah baikan?] Tanya bu Halimah terdengar ragu. Wajar saja sebab siapapun yang tidak melihat langsung kondisi seseorang, biasanya memiliki kekhawatiran yang lebih besar sebab tidak bisa melihat kondisinya secara langsung.

"Iya ma, kata dokter begitu. Tapi enggak menutup kemungkinan setiap sore menjelang malam akan ada demam lagi tapi enggak separah tadi." Jawab Amara apa adanya sesuai yang disampaikan dokter tadi.

[Begitu ya?]

"Iya ma, mudah-mudahan enggak terjadi lagi kan sekarang sudah dalam pengawasan dokter."

[Aamiin... Nak sudah setengah sebelas, kamu tidur ya! Jangan pikirkan apa-apa, kamu disitu cukup temani Abi. Harus istirahat cukup dan makan yang teratur, kalau kamarnya kurang nyaman bilang sama mama biar besok sama papa diganti lagi]

"Eng-enggak ma! Kamarnya sudah cukup, luas banget malah." Amara menggeleng kemudian menyapukan pandangan, menatap sekeliling kamar yang sekelas kamar hotel bintang lima dengan segala fasilitasnya.

[Syukurlah kalau begitu, tidur ya nak]

"Iya ma, assalamualaikum." Setelah mendengar sahutan salam dari mertuanya, Amara mengembalikan ponsel pada pak Karyo. "Pak hapenya, terimakasih." Ucapnya lalu kembali menghampiri ranjang Abimanyu bersamaan dengan ponsel yang ia letakkan di meja samping bed nya bergetar.

Pandangannya pun segera beralih menatap benda pintar milik suaminya yang terlihat berkedip. Entah ada dorongan dari mana, Amara bangkit hendak melihat notif apa yang masuk di ponsel suaminya itu padahal biasanya ia selalu bersikap cuek.

Bi, kamu tahu enggak? Aku kembali ke Jakarta itu, untuk kamu.

Kedua alis Amara saling bertautan, "ini siapa? Kok enggak ada namanya." Ia berulang kali membaca pesan dari nomor yang enggak ada namanya tersebut. Tanpa membuka aplikasi WhatsApp milik suminya, namun Amara bisa membaca dengan jelas di tampilan pop up nya.

Amara menghela napas sesaat kemudian menunduk hendak meletakkan kembali ponsel milik Abimanyu. Namun belum juga benda pipih itu menyentuh meja, sebuah pesan kembali masuk membuat ponsel yang masih dalam genggamannya kembali bergetar.

"Siapa sih? Ini laki-laki apa perempuan? Tapi, masa iya laki-laki datang ke Jakarta cuma buat om Abi." Amara menggerutu kesal. Selain mengganggu karena waktu sudah larut malam, ia juga penasaran dengan gambar yang tidak bisa dibukanya.

Perasaanku masih sama seperti dulu. Sekarang aku sadar, meski raga ini bersama suamiku tapi hati dan pikiranku hanya padamu.

"Astaghfirullah..." Amara menutup mulut. Seketika tubuhnya terasa panas dingin membaca pesan ketiga yang kembali masuk ke ponsel Abimanyu. "Perasaanku masih sama seperti dulu. Sekarang aku sadar, meski raga ini bersama suamiku tapi hati dan pikiranku hanya padamu." Amara berulang kali membacanya, dan sebanyak itu pula ia beristighfar.

"Berarti dia perempuan, dan sudah bersuami... Apa jangan-jangan, dia berseling-kuh sama om Abi. Ya Allah..."

1
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Ahhhhhh maaciiih tteh syang,, 💋
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi

ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣

banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaaa itu kan sebelum Abi menikah, kalau sekarang setelah menikah ngapain juga menggilai perempuan lain, lebih baik tergila-gila sama istri sendiri.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Sekarang udah punya guling hidup, yang bikin nyaman, hangat, membuat tidur makin nyenyak😅
Emily
modus x ni om Abi
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Kalau udah punya kegiatan favorit pasti lupa segalanya nihh mantan bujang lapuk😅
Iper: wkwkwk
total 1 replies
M⃟3💋AisyahRendra
gasabar update lagiiii euyy.. makin gemas sm duo A ini 🥰🥰🥰🥰❤️❤️
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
M⃟3💋AisyahRendra: kan up untuk besok lagi teh 🥰🤣🤣
skrg bobo dluuu
total 2 replies
M⃟3💋AisyahRendra
bergetar hati bergetaaarr.. 🤣❤️❤️
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
M⃟3💋AisyahRendra: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 2 replies
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
istri kecilmu udh sukses bikin kamu makin kesengsem kn Biii🤣😅🏃🏃
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
banyak surprise 😕
Iper: mau juga di surprise in?
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hahhhhhhhhh
siapaaaa ini dateng sekeluarga.

ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
Iper: udah up noh😭
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
pelan pelan ommmmm

nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hehhhh...
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Keyyeeeennnnn om tua,
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Eaaa
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
M⃟3💋AisyahRendra
Tya....
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
M⃟3💋AisyahRendra
loh loh lohhhh 🙄🙄🙄
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️
M⃟3💋AisyahRendra: assseeeeeeekkkkkk❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 8 replies
Mimi Yoh
kenapa langsung wus garam ma kecapnya, nggak dicicip dulu rasanya...lagian kemaren masak sop sama tumis brokoli, rasa kayak apa ya 😁😁
Iper: Kalau masak sop sama brokoli sudah terlatih dia sama mama mertuanya meskipun rasanya entah seperti apa🤣
total 1 replies
Mimi Yoh
itu kan dulu...sekarang mah ada mara yg bisa membuat abi senyam senyum 😄😄
Mimi Yoh
dengerin tuh...malu nggak...
Mimi Yoh
ini nih temen yg ngejerumusin temen..bukannya ngingetin malah jadi setannya..
Iper: Jinnn Dasim dia😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!