NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Gulungan Kain dari Masa Lalu

Hawa dingin di koridor kastil tua Saint Petersburg seolah-olah lenyap, digantikan oleh rasa kebas yang membakar seluruh permukaan kulit Arunika.

Di dalam genggaman tangannya yang gemetar, bungkusan kain sutra putih itu terasa berat dan hangat—sebuah kehangatan yang mengerikan karena berasal dari cairan merah segar yang perlahan-lahan merembes, mengotori jemarinya yang kuyu.

"Tuan Arsen Valentino..." Bisikan pelayan tua bertubuh bungkuk itu kembali bergaung di dalam kepala Arunika, memicu ingatan-ingatan lama tentang aroma tanah basah desa di Jawa Tengah yang selama dua puluh dua tahun ini dia anggap sebagai rumah.

"Ada... ada kiriman paket darurat dari ruang isolasi bawah tanah Indonesia yang baru saja tiba lewat jalur kurir udara faksi Volkov semenit lalu," ratih pelayan tua itu dengan mata yang bergerak liar, ketakutan setengah mati jika pengawal faksi Rusia di ujung koridor menyadari pengkhianatannya. "Boris Volkov tidak menembak mati ibumu di Paris karena dendam, Nona... Dia menembaknya karena ibumu menyembunyikan fakta bahwa di dalam rahim Valeria yang asli saat ini... sedang mengandung anak dari darah daging Anda sendiri."

Arsen Valentino tidak membuang waktu untuk mencerna drama emosional. Dengan satu gerakan taktis yang lugas, dia merenggut bungkusan sutra putih itu dari tangan Arunika, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan kosong di balik pilar koridor—sebuah ruang simpanan wine tua yang sunyi dan luput dari pandangan para tetua mafia di lantai atas.

*Cklek.*

Arsen mengunci pintu kayu ek yang tebal dari dalam, lalu menyalakan pemantik zippo peraknya untuk mengusir kegelapan ruangan. Cahaya api yang menari-nari memantulkan bayangan tegas di dinding batu, menerangi bungkusan sutra yang kini diletakkan Arsen di atas sebuah tong kayu besar.

"Buka, Valeria," perintah Arsen, suaranya kembali kaku dan datar, mengubur dalam-dalam keterkejutan yang sempat melintas di sepasang mata elangnya. Pria itu berdiri kokoh dengan senapan serbu yang tersampir di tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak menyeka sisa darah di pelipisnya sendiri.

Arunika melangkah maju dengan jantung yang berpacu gila di dalam rongga dadanya. Dengan jemari yang masih ternoda cairan merah, dia perlahan membuka lipatan kain sutra putih tersebut. Di dalam sana, tidak ada potongan tubuh manusia atau bom waktu baru. Yang ada hanyalah sebuah gulungan kertas medis kuno milik faksi Eclipse yang telah dilaminasi, bersanding dengan sebotol kecil cairan kimia berwarna kuning pekat dan sebuah tes kehamilan digital yang layarnya masih menyala menampilkan tanda positif yang sangat jelas.

Arunika mengambil kertas medis tersebut, membacanya di bawah pendar cahaya pemantik Arsen. Dan di detik itulah, emosi gadis itu kembali dimainkan dalam sebuah lelucon takdir yang kian mengaburkan batasan antara kawan dan lawan.

Dokumen itu bukan berasal dari Boris Volkov, melainkan sebuah catatan rahasia yang ditulis oleh mendiang ibunya, Katarina Vane, sesaat sebelum dia melakukan penyusupan maut di Paris. Di dalam surat itu, Katarina menuliskan sebuah kebenaran biologis yang sengaja dia sembunyikan dari pengetahuan seluruh faksi mafia dunia bawah tanah:

*“Arunika, jika kau membaca surat ini, artinya aku telah gagal membunuh Boris Volkov dengan tanganku sendiri. Jangan percaya pada apa yang dikatakan pria itu tentang silsilah darah dinasti Valentino. Kau memang anak kandung Haryo Valentino, namun Valeria... Valeria bukan anak kandung Rusia. Dia adalah hasil rekayasa genetika laboratorium faksi Eclipse sepuluh tahun lalu, yang menggunakan sumsum tulang belakangmu sendiri sebagai bahan dasar pertumbuhannya agar dia memiliki kecocokan organ mutlak denganku. Janin yang ada di dalam rahimnya saat ini... adalah hasil klonasi sel telurmu yang dicuri Boris dari laboratorium Indonesia untuk memastikan bahwa pewaris takhta Volkov berikutnya... memiliki seratus persen kode genetik murni milik dinasti Valentino yang legendaris!”*

*Plot twist* yang begitu rumit namun disajikan dengan cara yang sangat taktis itu membuat Arunika menahan napasnya seketika. Sesuatu di dalam dirinya—sebuah rasa enjoy yang aneh dan dingin—mendadak muncul di permukaan kesadarannya. Jika dokumen ini benar, maka Valeria yang asli bukanlah kakak tirinya, melainkan sebuah bayangan biologis yang diciptakan dari bagian tubuhnya sendiri. Dan anak yang dikandung Valeria saat ini... secara hukum medis adalah anak kandungnya sendiri yang sedang ditawan di dalam rahim sang musuh.

Arsen Valentino menyipitkan matanya menatap dokumen tersebut, lalu beralih menatap wajah Arunika yang kini tidak lagi memancarkan kehancuran emosional, melainkan sebuah ketenangan baru yang sangat mematikan. "Boris Volkov benar-benar ingin membangun sebuah imperium baru menggunakan darah kerajaanku, Valeria. Dia tidak sekadar merampas saham Eropa; dia ingin mengkloning seluruh dinasti kita untuk dijadikan boneka di bawah kendali militer Rusia."

Arunika melipat kembali kertas medis itu dengan gerakan yang sangat lambat dan anggun. Dia memasukkannya ke dalam saku jubah beludru hitamnya, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arsen dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan intrik politik dunia hitam.

"Permainan pamanmu ini kian menarik, Arsen.

Dia mengira rahasia kehamilan ini akan membuatku memohon ampunan padanya di atas panggung pertemuan tetua. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja memberikan alasan terbaik bagiku untuk mencabut rahim jalang putihnya itu dengan tanganku sendiri."

Arsen menyunggingkan sebuah seringai kejam penuh kepuasan melihat transformasi total dari pengantin penggantinya. Boneka tawanannya kini telah sepenuhnya melepaskan sisa-sisa kemanusiaannya dan menjelma menjadi belati paling beracun yang siap dia ayunkan di atas takhta faksi Volkov.

"Bagus," ucap Arsen datar, mematikan pemantik zippo-nya dan membuka kembali pintu ruangan wine tua tersebut. "Panggung pertemuan dewan tetua sudah menunggu di lantai dua. Mari kita tunjukkan pada pamanmu bagaimana cara sepasang Valentino merayakan sebuah... pesta keluarga."

Mereka bergerak keluar dari ruangan rahasia, menaiki anak tangga marmer yang luas menuju ke arah aula pertemuan utama kastil Volkov. Suara gemuruh obrolan para tetua mafia Rusia yang tadinya terdengar mendominasi seketika menyusut drastis saat pintu ganda aula dibuka lebar oleh dua orang pengawal elit aliansi barat yang setia pada Arsen.

Aula pertemuan itu sangat megah, didominasi oleh arsitektur kayu jati Rusia yang gelap dengan sebuah meja bundar raksasa di tengah ruangan tempat puluhan pria tua berjubah bulu mewah duduk menyilang kaki. Di ujung meja, berdiri Boris Volkov dengan setelan jas hitamnya yang elegan, berdampingan dengan Valeria Baskoro yang mengenakan gaun putih saljunya yang mewah.

Boris Volkov menoleh ke arah pintu masuk, dan sepasang mata keruhnya seketika menyipit tajam melihat kehadiran Arsen dan Arunika yang berjalan berdampingan dengan langkah yang begitu tegap dan penuh dominasi. Kehadiran mereka berdua yang tampak bersih tanpa ada tanda-tanda kelumpuhan mental akibat rahasia DNA di Indonesia membuktikan satu hal: umpan mereka telah gagal meremukkan pertahanan sang raja mafia baru.

"Arsen Valentino," suara Boris Volkov menggema membelah keheningan aula, dipenuhi oleh nada manipulatif yang sangat kental. Pria paruh baya itu menyunggingkan sebuah senyuman kejam di bibirnya yang kaku. "Kau memiliki keberanian yang luar biasa untuk melangkah masuk ke dalam sarangku setelah seluruh pasukannya di perbatasan utara Paris dihancurkan oleh faksi Rusia."

Arsen tidak menjawab ucapan tersebut. Dia menuntun Arunika berjalan mendekati meja bundar raksasa, mengabaikan tatapan sinis penuh selidik dari puluhan tetua mafia Rusia yang hadir. Arsen menarik sebuah kursi kayu besar di sisi meja, membiarkan Arunika duduk di sana dengan keanggunan seorang ratu dunia bawah tanah, sebelum dia sendiri berdiri kokoh di belakang punggung gadis itu dengan tangan bersedekap di depan dada.

"Dewan Tetua Volkov yang terhormat," suara bariton Arsen menggelegar penuh otoritas, langsung membungkus atmosfer aula pertemuan. "Aku datang ke sini bukan untuk bernegosiasi tentang wilayah kekuasaan atau jalur penyelundupan utara. Aku datang untuk membawa istri sahku... Valeria Baskoro... untuk menuntut kembali seluruh hak pengelolaan saham faksi Valentino di Eropa yang telah dicuri menggunakan dokumen pernikahan siri palsu oleh pria paruh baya yang berdiri di ujung meja itu!"

Kericuhan politik kecil seketika pecah di antara para tetua Rusia. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah Valeria yang berdiri di samping Boris dengan ekspresi wajah yang mulai menegang samar.

Valeria melangkah setapak ke depan, menatap adiknya—atau inang biologisnya—dengan tatapan mata yang memancarkan kebencian murni. "Kau mengira kau bisa membalikkan panggung ini hanya dengan modal gertakan, Aruni? Dokumen pernikahan dua belas tahun lalu yang kupegang ditandatangani langsung oleh stempel resmi dinasti Valentino, dan dewan tetua Rusia telah mengesahkannya satu jam lalu!"

Arunika tidak bangkit dari kursinya. Dia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, menopang dagunya dengan tangan kanan yang masih menyisakan noda darah kering yang samar. Sepasang mata porselennya yang hampa menatap lurus ke arah perut rata Valeria di balik gaun putih saljunya.

"Dokumen sah hanya berlaku untuk manusia yang memiliki darah murni, Kakak," ucap Arunika, suaranya terdengar begitu luwes, renyah, dan sarat akan ejekan dingin yang membuat seluruh tetua Rusia di aula tertegun kaget. "Tapi untuk sebuah produk rekayasa laboratorium yang tumbuh dari sumsum tulang belakangku sendiri... kau bahkan tidak memiliki hak untuk menyebut namaku di dalam ruangan ini."

Mendengar kalimat dari bibir Arunika, wajah cantik Valeria seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat, dan gelas sampanye di tangan kanannya bergetar hebat hingga cairannya tumpah mengotori gaun putihnya. Rahasia laboratorium Eclipse yang dia kira telah terkubur bersama kematian Katarina Vane di Paris, ternyata telah berada di dalam genggaman adiknya sendiri.

Boris Volkov yang menyadari situasi politiknya berada di ambang kehancuran total tidak lagi mempertahankan topeng ketenangannya. Pria tua itu menggerakkan tangan kanannya ke balik jas, bersiap mencabut senjata api berkaliber besarnya untuk menghabisi Arunika seketika itu juga.

Namun, tepat di saat Boris menarik pelatuk senjatanya di balik kegelapan jas, seluruh lampu gantung kristal di langit-langit aula pertemuan kastil Volkov mendadak meledak secara serentak akibat serangan sabotase sirkuit elektromagnetik sekunder yang dipasang oleh tim bayangan Marco dari luar bangunan.

*Prang! Duar!*

Aula pertemuan itu seketika dilemparkan ke dalam kegelapan total yang gulita, disusul oleh suara letusan senjata otomatis yang kembali memecah malam di antara para tetua Rusia yang berteriak panik mencoba menyelamatkan diri di bawah meja bundar raksasa.

Di dalam kegelapan yang mencekam itu, Arunika bisa mendengar suara langkah kaki taktis yang bergerak sangat cepat mendekati posisi kursinya, disusul oleh sebuah cengkeraman tangan yang sangat besar dan berbau bulu beruang yang merenggut bahu kirinya dengan kasar dari belakang—tepat di atas bekas tempat tertanamnya microchip militer Rusia sebelumnya.

Sebuah suara napas yang berat dan parau berbisik tepat di sela rungu Arunika, sebuah suara yang sama sekali bukan milik Arsen, bukan milik Boris, dan bukan pula milik Marco.

Melainkan suara dari sesosok pria raksasa yang seharusnya telah tewas hancur akibat ledakan bom termobarik di kompleks pemakaman Indonesia beberapa jam lalu.

*“Sandiwara para Valentino selesai malam ini, Valeria kecil... Sang Raja Rusia yang asli tidak pernah membiarkan asetnya dicuri oleh sepasang anak haram...”*

_____________________________

**Bersambung ke Bab 20...**

*Siapakah sebenarnya sosok pria raksasa yang menculik Arunika di tengah kegelapan aula pertemuan tersebut? Jika Alexei Volkov berhasil selamat dari ledakan maut di Indonesia, rencana balas dendam ekstrem seperti apa yang telah dia siapkan untuk menghancurkan aliansi Arsen Valentino bersama seluruh dewan tetua Rusia malam ini? Dan bagaimanakah nasib janin di dalam rahim Valeria yang kini menjadi rebutan tiga faksi besar dunia bawah tanah? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh letupan konflik luar biasa di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!