NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Bel ujian terakhir hari itu baru saja berbunyi panjang dan lega, seolah memberi tanda bahwa beban pikiran yang berat seharian perlahan terangkat. Begitu keluar dari ruang kelas, wajah‑wajah murid tampak lebih santai, meski sebagian masih tampak sedikit lelah. Di gerbang sekolah, seperti biasa, Elio sudah menunggu—berdiri tenang di samping kendaraannya, namun senyumnya kali ini lebih lebar dan riang seolah ikut melepaskan ketegangan yang dirasakan Alena.

“Bagaimana rasanya? Sudah selesai satu tahap besar,” sapanya begitu Alena mendekat, lalu segera mengambil buku‑buku dari tangan gadis itu agar tidak perlu dibawa lagi.

Alena menghela napas panjang lalu tersenyum lebar. “Lebih baik dari yang kuduga. Terima kasih semangatmu tadi—dan juga gangguan kecil yang justru membuat pikiran lebih segar.”

Elio tertawa renyah sambil membukakan pintu mobil. “Kalau begitu, hadiah kecil sudah disiapkan. Kamu sendiri yang harus memilih jalannya.”

Saat sudah duduk nyaman dan kendaraan mulai bergerak perlahan keluar dari lingkungan sekolah, Alena berbicara dengan nada penuh harapan namun lembut: “Bolehkah kita mampir sebentar ke kafe kecil di pinggir jalan utama dulu? Ada minuman segar yang ingin kucoba… lalu—kalau tidak keberatan—kita bisa ke danau yang disarankan Bima kemarin. Katanya tempat itu sangat tenang dan indah.”

“Permintaan diterima dan disetujui sepenuhnya,” jawab Elio tanpa ragu sedikit pun, lalu sedikit membelokkan arah kendaraan menuju jalan yang dituju.

 

Di kafe yang sederhana namun nyaman itu, mereka menghabiskan waktu sekitar setengah jam—cukup untuk menikmati minuman dingin dan camilan ringan, mengobrol santai tentang soal‑soal ujian yang lucu atau sedikit membingungkan, serta tertawa kecil mengingat bagaimana Elio berusaha memberi kode halus—namun gagal—saat jam istirahat tadi. Suasana santai ini benar‑benar melepaskan sisa ketegangan belajar berhari‑hari.

Setelah cukup beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi yang disarankan Bima—dan benar saja, saat kendaraan perlahan berhenti di tepi jalan tanah yang bersih, pemandangan yang terbentang di depan mata membuat napas Alena tertahan sejenak.

Danau itu luas dan tenang, permukaannya berkilau halus seperti kaca kebiruan yang dihias cahaya matahari sore yang mulai miring perlahan. Di sekelilingnya tumbuh pohon‑pohon tinggi yang rimbun, dedaunan hijau segar menyaring sinar sehingga bayangan‑bayangan lembut bergerak‑gerak di atas rumput dan air. Angin sejuk yang berhembus pelan namun terus‑menerus membawa aroma tanah lembap dan tanaman segar, menembus hingga ke tulang‑tulang dan membuat seluruh tubuh terasa santai seketika.

Alena melangkah perlahan mendekati tepian, membiarkan angin menyapu wajahnya dan mengibaskan rambut panjangnya hingga terbang indah ke samping, kadang menyentuh pipi dan telinganya. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati kedamaian yang jarang dirasakan di tengah kesibukan sekolah maupun persiapan acara.

“Benar‑benar tempat yang sempurna…” bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri namun terdengar jelas oleh Elio yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

Elio mengamati pemandangan itu—namun matanya lebih sering tertuju pada sosok di sampingnya: bagaimana rambutnya melambai indah mengikuti hembusan angin, bagaimana cahaya sore menyinari garis wajahnya yang lembut dan tenang, bagaimana bahunya perlahan turun‑naik dengan napas yang semakin santai. Bagi Elio, pemandangan terindah hari ini bukanlah danau itu sendiri, melainkan Alena yang berdiri di sana seolah menyatu dengan keindahan alamnya.

“Kamu benar‑benar bersinar saat merasa tenang begini,” ujarnya pelan saat berjalan mendekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

Alena membuka mata perlahan lalu menoleh sambil tersenyum malu namun bahagia. “Kamu selalu saja bisa membuatku tersipu meski tempatnya begitu luas dan terbuka.”

 

Namun alam punya cara sendiri untuk memberi kejutan—tiba‑tiba saja angin berubah menjadi lebih kencang, awan putih yang tadinya lembut dan cerah perlahan menebal menjadi kelabu, lalu dalam hitungan detik, tetesan‑tetesan besar mulai jatuh satu‑satu sebelum akhirnya berubah menjadi rintik deras yang turun serentak.

“Ah… hujan!” seru Alena sedikit terkejut namun tak sempat lari lebih dulu.

Keduanya saling berpandangan sejenak—lalu tanpa kata sepakat, serentak tertawa lepas sambil berlari kecil menuju kendaraan yang tidak terlalu jauh. Langkah kaki mereka menghentak di atas tanah basah, suara tawa bercampur dengan suara hujan yang semakin nyaring turun dari langit. Meski sedikit terburu‑buru dan basah sebelum sampai di tempat aman, momen itu justru terasa sangat menyenangkan—seperti permainan kecil yang disediakan alam khusus bagi mereka berdua.

Begitu masuk dan menutup pintu rapat‑rapat, keduanya duduk sambil menghela napas dan masih tersisa tawa kecil di bibir. Baju dan rambut mereka sudah cukup basah, meneteskan tetesan air halus ke lantai dan jok. Namun baru beberapa saat kemudian, suasana di dalam kabin yang tertutup dan hangat perlahan berubah—dan Elio mulai menyadari sesuatu yang membuat pandangannya terasa sedikit berat dan sulit dialihkan.

Karena basah, kain seragam di tubuh Alena menempel lebih rapat pada kulit dan menjadi agak tembus pandang—terutama di bagian bahu dan dada—sehingga bentuk halus tubuhnya terlihat lebih jelas dari biasanya. Tanpa sengaja, mata Elio terhenti lebih lama di sana, napasnya sedikit melambat, dan pikiran yang tadinya tenang kini perlahan berubah menjadi lebih panas dan berdebar. Ia harus berusaha keras untuk tetap tenang dan sopan, namun sulit sekali mengalihkan pandangan sepenuhnya.

Melihat gerakan matanya yang berusaha namun gagal fokus, dan wajah yang sedikit menegang meski berusaha tersenyum, Alena baru menyadari kondisi pakaiannya dan langsung memeluk tubuhnya sedikit erat dengan pipi yang memerah seketika hingga ke telinga.

Melihat itu, Elio segera bergerak—bukan mendekat lebih jauh, melainkan berbalik cepat ke kursi belakang dan mengambil jaket tebal berwarna gelap yang biasa ia bawa. Ia menyerahkannya segera ke pangkuan gadis itu dengan suara yang sedikit parau namun tetap lembut dan sopan.

“Pakai ini… supaya tidak kedinginan dan… supaya lebih tertutup lagi,” ujarnya sambil berusaha menatap mata Alena saja, tidak ke bawah.

Sementara Alena segera membungkus tubuhnya dengan kain hangat itu, Elio sendiri—untuk mengatasi rasa panas sekaligus agar tidak membuat suasana makin canggung—perlahan membuka kancing baju seragamnya satu per satu, lalu melepasnya sepenuhnya hingga tergulung rapi di samping kursi. Sekarang ia bertelanjang dada, kulitnya yang sedikit basah namun berotot dan rata terkena cahaya remang‑remang dari luar jendela.

Alena melirik sekilas lalu segera memalingkan wajah ke arah kaca yang berembun—namun telinganya sudah merah padam.

Selama kira‑kira lima menit berikutnya, suasana di dalam mobil menjadi hening dan tenang. Hanya terdengar suara hujan yang berjatuhan deras di atas atap dan daun‑daun pohon di sekitar—suara yang berirama dan menenangkan sekaligus menutupi detak jantung masing‑masing yang kini berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.

Elio bersandar sedikit ke belakang, menoleh perlahan dan menatap Alena yang duduk agak menyamping, memeluk lutut sedikit dan memandang ke luar dengan wajah yang tenang namun pipinya masih menyimpan sisa rona merah. Di dalam remang‑remang cahaya sore yang menyelinap lewat kaca berembun, rambut basah yang diikat longgar dan wajah yang lembut terlihat semakin menarik baginya—seolah setiap garis wajah, setiap lekukan kecil, dan setiap gerakan halus bibirnya menjadi semakin jelas dan dekat.

Tanpa sadar, tubuh Elio perlahan bergerak maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga napasnya hangat terasa dekat sekali di wajah Alena. Saat gadis itu perlahan menoleh karena merasakan kedekatan itu, mata mereka saling bertemu dan terkunci—tak ada jalan mundur, tak ada keinginan untuk berpaling. Tatapan Elio lembut namun dalam, penuh rasa rindu dan kasih sayang yang tak sempat terucap semua dalam kata‑kata.

Perlahan, sangat perlahan, Elio mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Tangannya yang hangat namun sedikit kasar karena udara dingin bergerak halus, menyentuh rahang dan pipi Alena untuk menopangnya dengan sangat hati‑hati dan lembut—seolah menyentuh benda paling berharga di dunia.

Dan akhirnya—tanpa terburu‑buru namun penuh keyakinan—bibirnya menyentuh bibir Alena dengan ciuman yang halus, lembut, dan perlahan.

Ciuman itu tidak mendesak maupun kasar—hanya kelembutan murni, seperti jatuhnya tetesan embun di kelopak bunga. Ia menahannya sebentar saja, cukup untuk mengirimkan seluruh rasa aman dan kasih sayang yang tersimpan, lalu perlahan sedikit mengulanginya lagi—sedikit lebih lama namun tetap sangat lembut—seolah ingin membiarkan momen itu berjalan lambat selamanya.

Di luar hujan masih turun deras, namun di dalam ruang kecil itu, semuanya terasa hangat, tenang, dan tertutup rapat hanya untuk mereka berdua. Alena memejamkan mata sepenuhnya, merasakan kehangatan itu menyebar dari bibir hingga ke seluruh dada dan jari‑jemari yang kini perlahan menyentuh bahu Elio tanpa sadar.

Saat akhirnya Elio menarik diri sedikit saja, wajah mereka masih sangat dekat, napas mereka menyatu dan hangat. Matanya menatap lekat ke mata gadis itu yang kini berbinar lembut dan penuh pesona.

“Kamu begitu indah… bahkan saat basah kuyup dan tanpa persiapan apa pun,” bisiknya sangat pelan, hampir menyatu dengan suara hujan. “Dan aku tidak akan pernah bisa berhenti menginginkan kedekatan seperti ini selamanya.”

Alena tersenyum lembut sambil mengeratkan sedikit cengkeraman pada jaket yang dipakainya—dan juga pada bahu di hadapannya. “Aku juga… rasanya setiap detik bersamamu terasa lebih berharga dari sebelumnya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!