Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Sari Meminta Foto
Pagi-pagi sekali Kasih sudah berangkat bekerja seperti biasa dia lebih memilih menaiki bus,sekarang dia memakai seragam khusus tanda sebagai ia menjadi karyawan di restoran,pakaian itu sangat pas di pakai sebuah celana pensil hitam panjang terbuat dari tekstur karet serta baju kaos berwarna biru langit.
Sebenarnya cantik tapi karena gayanya yang udik tak mendukung penampilan.
Kasih tiba di restoran lebih cepat dari yang lain mungkin Pak Bos sudah datang ia berlari cepat usai membuka pintu,sebelum masuk ke dapur ia menyapa Coky dengan senyuman hari ini ia terlihat ceria.
Ternyata para Koki sudah datang lebih awal darinya saat melihat para Koki tengah berperang dengan asap api di kompor,suara tong-seng dari benda kuali dan sudip beriringan mengeluarkan kebisingan serta Sari juga sudah datang.
"Hay Sari." Kasih menyapa mendekati meja tempat Sari memotong sayur. "Hay juga." Sari menjawab dengan penuh senyuman.
Kasih duduk di kursi sebelah Sari sambil membantu memotong sayur dan pernak-pernik lainnya,berbicara sedikit mengenal masa-masa lalu Antara satu sama lain hingga cekikikan tak jelas seperti sudah berteman lama.
Sari juga tak begitu akrab dengan yang lainnya ia dikenal sebagai pelayan paling pendiam padahal sudah 2 tahun lebih ia bekerja disana,ini baru pertama kalinya dia akrab pada seseorang dan bisa menunjukkan tawa manisnya.
"Owhh ya Kasih,kamu sudah menikah atau masih Single.?" bertanya tapi tangan masih bekerja.
Sesaat Kasih terdiam menghentikan aktivitasnya memotong sayur ingin menjawab pertanyaan sahabat baru. "Sudah." Kasih membisik pelan tepat ketelinga gadis itu bola matanya memutari sekeliling memastikan tidak ada yang mendengar.
Sari ikut berhenti lalu menatap Kasih menutup mulut seperti gaya wanita Korea saat tertawa. "Wihhh,siapa pria itu.? kapan-kapan boleh dong dikenalin.?" Sari melirik nakal lanjut bertanya. "Apa pekerjaan Suamimu.?" pertanyaan semakin dalam.
Lagi-lagi Kasih menghentikan aktivitas nya sekaligus menghela nafas sedikit. "Kamu tak akan percaya jika aku katakan siapa suamiku."
"Kenapa,? apa suamimu jelek.?" Sari mulai jaim memberikan senyum ledek.
"Tidak sih,hanya saja suamiku bukan orang sembarangan." Kasih melanjutkan memotong sayur.
"Wek Wek Wek,bukan orang sembarangan,apa dia orang yang punya kekuatan sakti atau mahkluk semacam Spiderman.?" Sari terdiam sejenak memikirkan pria yang menjadi suami Kasih seperti orang b***h.
"Hmm." Kasih menutup pembicaraan dengan senyuman tanpa jawaban sulit untuk menjelaskan hal yang tak boleh ia ungkapkan soal siapa pria yang sudah menjadi suaminya,jika dikatakan juga bukan perkara mudah sesungguhnya nanti ia akan di cap wanita halu telah mengarang kisah seperti menikah dengan putra bangsawan.
********
Yura berjalan memasuki restoran tepat dimana Kasih bekerja Yura begitu anggun mengenakan dress merah bela rambutnya ikal bewarna merah dibiarkan terurai begitu saja,karena memang dia sangat cantik jadi terlihat pas memakai style modis apapun.
ia berjalan menuju meja yang sudah di tempati beberapa orang,dua pasang pasutri sudah menunggunya di sana dengan malas Yura tersenyum paksa.
"Hay semuanya." Yura menyapa empat orang itu saat sudah tiba di meja.
"Hay nak kemarilah." Wanita yang bernama Andien menjadi tokoh ibu Yura berdiri menyambutnya. "Yura perkenalkan ini Tante Mira dan suaminya Om Tama." Andien seperti host mengenal kan mereka.
"Hay Tante om,nice to meet you." Yura memberi salam cipika-cipiki pada pasutri itu satu persatu,tentu saja sapanya di balas ramah.
Bram selaku tokoh ayah Yura menarikan kursi yang sebagian masuk kedalam kolong keluar untuk tempat duduk Yura. "Duduklah nak." Bram mempersilahkan Yura duduk di tengah ia dan Andien.
"Pelayan." Andien berteriak memanggil pelayan yang ada.
Kasih mendengar suara itu segera datang membawa satu book menu saat baru selesai melayani satu pengunjung,berjalan perlahan mendekati pengunjung selanjutnya.
"Selamat datang di restoran kami,, silahkan di pilih menu nya." dengan lembut Kasih berbicara seraya menyodorkan menu keatas meja.
"Ayo di pilih." Bram mengambil buku tersebut menunjukkan kepada temannya mereka pun memilih beberapa makanan terbaik yang ada di restoran,beberapa makanan sudah di request dengan sopan Kasih mengambil kembali buku itu.
"Mohon di tunggu ya." Kasih berbalik badan berjalan menuju dapur.
Yura terdiam memilih membisu para orang tua itupun berbincang mengenai pekerjaan dengan segala gimik-gimik,sambil menunggu makanan datang dan seseorang lagi.
Makanan sudah selesai dengan kesempurnaan ancang-ancang pariasi spesial,makanan sudah di susun rapi di trolly tinggal di hantar saja kepada pemesan.
"Kasih mari sini biar aku saja yang mengantarnya." Sari menyetop kitchen trolly yang sudah didorong oleh Kasih.
Kasih menarik trolly itu. "Tidak usah Sar,biar aku saja." Menahan diri.
"Please Kasih biar aku aja yang mengantarnya,aku mau minta tanda tangan dengan Yura Agnesia." bermohon menggunakan emot wajah berbentuk sedih.
"Memang nya Yura Agnesia siapa.?" benar saja kalau Kasih memang tidak terlalu kenal dengan para selebriti,pengusaha, Gubernur,serta Presiden Tanah air,sangking udik sampai ia menjadi manusia kuper cocok nya ia dinobatkan sebagai wanita terkuno se-dunia.
" Masa kamu gak tau sih,? Yura itu pelukis terkenal sejagat raya hingga mancanegara, semua orang mengenalnya termasuk aku sebagai fans berat nya." bahagia ria menceritakan soal wanita itu. "Oke,biar aku saja." Sari merebut trolly mendorong melenggang menuju meja,aaa bodo amat lah, Kasih masuk kembali kedalam dapur mengerjakan tugas lainnya.
Makanan datang..!
"Ini Tuan dan nyonya." satu persatu Sari menata makanan ke meja ia melirik Yura yang sibuk dengan ponsel. "Permisi nona Yura, bolehkah saya meminta tanda tangan dan foto.?" Meminta izin sekaligus menyodorkan ponsel matanya berbinar-binar melihat orang yang paling diminati olehnya.
"Baiklah." Yura dengan senang hati memberikan dua permintaan fansnya,jepret, dua kali gambar telah tercetak di kamera ponsel Sari,Yura memang selalu ramah pada penggemar bahkan semua orang.
Sari meminta tanda tangan di lukis ke baju seragamnya setelah mendapatkan apa yang diinginkan ia pun pergi dengan sejuta senyuman sebelum itu pamitan dulu dengan Yura serta orang tua dan dua orang lagi.
Makanan sudah terhidang di ciduk oleh mereka rasa lapar juga sudah berkobar di perut,mungkin saja mereka belum sarapan dari rumah dan janjian bertemu sembari sarapan bersama.
"Hay semua."tiba-tiba datang seorang pria muda ke meja mereka dengan gaya kekinian.
"Dilan kok lama banget sih.?" Antara protes atau bertanya di anjurkan oleh Mira.
"Iya sorry tadi jalanan macet banget." Dilan menarik kursi ingin duduk di sebelah papanya.
Mira sedikit kesal terhadap Dilan ia menatap putranya. "Owh ya,Yura ini Dilan kamu masih kenal kan,?dia sekarang bekerja sebagai sutradara internasional di berbagai kalangan televisi." Mira mengenal kan dua orang itu.
"Hay Yura." Dilan mengulurkan tangan. "Hay juga." Yura juga membalasnya.
Usai berjabatan tangan mereka kembali duduk rapi.
Mereka pun menikmati makanan dengan lahap sampai habis sebelum melanjutkan perbincangan lebih dalam.
BERSAMBUNG