Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting baju pengantin
Bima dan Adis memasuki butik yang dimaksud oleh sang Mama. Disana sudah ada Mama Desi dan Ibu Sari. Kedua wanita paruh baya itu terlihat sedang berbincang ringan sambil menunggu kedatangan anak-anak mereka.
"Ma.." Panggil Bima begitu sudah di depan Mamanya. Mereka pun menoleh.
"Ah, kalian ini kenapa lama sekali." Protes Mama Desi lalu bangkit dari duduknya diikuti Bu Sari juga. Setengah jam lebih mereka menunggu kedatangan Bima dan Adis.
"Maaf ya Ma." Ucap Adis tidak enak hati pada calon mertuanya ini.
"Ya sudah, sekarang ayo kita lihat gaunnya." Ajak Mama Desi pada Adis.
Adis mengangguk.
"Lho.. jalan kamu kok pincang Nak?" Tanya Bu Sari memperhatikan cara berjalan anaknya.
"Iya Bu, tadi ada kecelakaan kecil." Jawab Adis berbohong sambil melirik Bima supaya pria di sampingnya ini tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Lain kali hati-hati ya sayang." Ucap Mama Desi mengelus kepala Adis.
"Iya Ma." Jawab Adis mengangguk. Bu Sari pun mengulas senyum anaknya begitu disayang oleh sahabat karibnya ini. Dengan begitu hidup putrinya tidak akan sengsara lagi. Meski ada rahasia yang belum bisa ia katakan.
"Dan kamu Bima harusnya kamu bisa jagain calon istrimu ini." Tambah Mama Desi melotot kepada putra tampannya.
Bima hanya menghela napasnya di udara tanpa menjawab ucapan Mamanya. Bagaimana bisa ia menjaga Adis, dirinya saja berada di ruangan sementara gadis pujaannya ini kerjanya berbeda dengan dirinya. Jadi bagaimana bisa untuk menjaga Adis, Mamanya ini?
Adis merasa bersalah pada Bima. Calon suaminya itu harus mendapat teguran padahal Bima tidak tahu apa-apa.
"Maaf." Pelan Adis mengucapkannya pada Bima dan Bima mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Lihat, gaunnya bagus-bagus kan kamu mau pilih yang mana sayang?" Tanya Mama Desi begitu antusias.
Kemudian Adis mengalihkan pandangannya pada koleksi gaun pengantin yang terpajang di hadapannya sangat cantik nan mewah. Ini pasti harganya sangat mahal hingga membuatnya bingung untuk menentukan yang mana. Mama Desi dan Ibu Sari juga membantu memilihkan. Berkali-kali kedua wanita paruh baya itu menunjukkan gaun yang mereka pilih namun selalu ditolak Bima. Padahal yang memakai kan Adis bukan Bima.
"Ini tuh bagus Bim." Sanggah Mama Desi.
"Adis kurang cocok makai itu Ma." Balas Bima tetap tidak suka.
"Kamu ini." Sewot Mama Desi. Menurutnya pilihannya itu sudah bagus.
Hingga akhirnya pandangan Adis tertuju pada sebuah gaun pengantin yang terpasang di sebuah patung.
"Kalau itu gimana?" Tunjuk Adis.
Ketiga pasang mata itupun menoleh pada apa yang Adis tuju. Gaun berwarna putih bersih berlengan panjang dengan dibalut hiasan di bagian dada menambah kesan elegan. Gaun berkonsep muslimah sesuai keinginan Adis.
"Wah.. bagus banget, Mama setuju kamu pakai itu." Ucap Mama Desi dan mereka mendekat pada patung itu.
"Iya, kainnya juga lembut." Sambung Ibu Sari.
Kemudian Mama Desi memanggil salah satu pegawai butik lalu menyuruh Adis untuk mencoba gaun itu di ruang ganti.
"Mari ikuti saya Nona." Ucapnya menggiring langkah Adis menuju ruang ganti serta membantu Adis juga.
Sembari menunggu Adis, Mama Desi juga meminta pada Bima untuk berganti setelan tuxedo warna putih yang sudah Bima pilih tadi.
"Oh, aku sudah tidak sabar Sar.. menanti hari itu akan tiba." Riang Mama Desi.
"Des.. apapun yang terjadi pada Adis, kamu dan anakmu akan tetap menyayanginya kan?" Tanya Bu Sari.
"Tentu saja Sar." Jawab Mama Desi tanpa menaruh curiga.
Tak begitu lama Adis sudah keluar dari ruang ganti disusul Bima di belakangnya. Bu Sari dan Mama Desi terpukau melihat Adis begitu anggun memakai gaun pengantin itu bahkan Bima saja sampai tak berkedip.
"Wah.. kamu cantik sekali Nak." Puji Mama Desi padahal Adis belum di make up. Bagaimana kalau sudah di make up nanti pasti Bima tidak akan berpaling dari wajah cantik Adis.
Adis hanya tersipu malu.
"Ma, tolong foto kami berdua." Pinta Bima sembari meraih pinggang Adis untuk menghadap ke arahnya lalu meletakkan kedua tangan Adis di pundaknya.
"Jangan gini." Protes Adis yang terlalu intim.
"Anggap saja ini foto prewed kita." Jawab Bima menatap dalam kedua bola mata Adis. "Kamu cantik." Sambung pria tampan itu berucap pelan.
"Lihat Sar, putraku romantis kan." Bisik Mama Desi tertawa cekikikan.
"Iya." Jawab Bu Sari seraya tersenyum.
"Yang mesra ya saling tatapnya, menjiwai satu sama lain. Oke, satu dua tiga." Intruksi Mama Desi menjadi fotografer dadakan itu.
"Good." Sambil mengacungkan jempolnya pada calon pengantin itu.
Adis segera melepaskan tangan Bima.
"Mau pose yang lain?" Tawar Bima.
"Nggak." Tolak Adis cepat. Dia sudah gerah memakai gaun itu padahal ruangannya berAC.
"Akan Mama kirim ke Papa biar dia tahu juga." Kikik geli Mama Desi melihat hasil jepretannya sangat bagus.
"Kirim juga ke ponsel Bima, Ma." Ucapnya sebelum melepas setelan tuxedonya.
"Beres.." Jawab sang Mama.
Adis pun melepaskan gaun itu dengan dibantu oleh pegawai tadi.
"Bagaimana hari-hariku nanti jika sudah menjadi seorang istri." Batin Adis melihat dirinya di pantulan cermin.
Jujur, tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan. Hanya keterpaksaan saja menerima semua ini. Terkadang ia juga bingung sendiri, kenapa juga manusia harus menikah? Hidup tanpa adanya pendamping saja dia sudah bahagia. Menikah adalah satu kata yang menurutnya aneh.
Tok.. tok.. tok..
"Nak, cepetan keluar." Panggil Bu Sari sembari mengetuk pintu. Adis pun tersadar dari lamunannya. Ternyata di ruang ganti itu hanya ada dirinya saja, lalu kemana pegawai perempuan yang membantunya tadi.
Saat Adis membuka pintu, Mama Desi, Bu Sari dan Bima menunggu dirinya tepat di depan pintu dengan wajah cemas.
"Kamu nggak papa kan Nak? Kenapa lama sekali di dalam?" Pertanyaan dari sang ibu.
Adis hanya tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya.
"Ayo kita pulang." Ajak Mama Desi.
"Kamu kenapa?" Bisik Bima berjalan di belakang bersama Adis.
"Tidak apa-apa." Jawab Adis datar.
Bima pun mencekal tangan Adis hingga langkahnya harus terhenti.
"Aku tidak bisa kamu bohongi." Ujar Bima dengan suara dinginnya. Bima menyadari ada tatapan kebencian dari mata Adis.
"Memangnya apa yang aku rahasiakan?" Adis balik bertanya. Entah kenapa dalam sekejap Adis berubah menjadi dingin.
"Dengar ya Dis, aku adalah calon suami kamu. Sedikit banyaknya aku sudah memahami diri kamu. Dan aku juga tahu kalau kamu masih benci denganku." Jawab Bima.
"Bagus kalau sudah tahu dan jangan harap aku akan membuka hatiku untukmu karena itu tidak akan pernah terjadi." Ungkap Adis tegas.
Bima tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti." Sahut Bima enteng.