Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
Pagi itu, pot kecil berisi sukulen pemberian Arga sudah berada di sudut meja kerja Nadira.
Tanamannya mungil, hijau segar, dan terlihat sederhana. Namun setiap kali matanya tertuju ke sana, ia selalu teringat ucapan Arga semalam.
> *"Aku nggak mau ngasih sesuatu yang gampang layu."*
Tanpa sadar, senyum kecil terukir di wajahnya.
"Sendiri senyum-senyum."
Suara Rina mengagetkannya.
Nadira buru-buru mengalihkan pandangan.
"Hah? Nggak."
Rina melirik pot tanaman itu.
"Yang itu dari Arga, kan?"
Nadira terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan.
"Iya."
"Wih..."
Rina menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Kamu mulai luluh?"
Nadira menghela napas.
"Aku juga nggak tahu."
"Yang aku tahu..."
"...akhir-akhir ini kalau dia nggak ada, suasana kantor terasa beda."
Rina tersenyum penuh arti.
"Itu namanya kangen."
"Bukan."
"Itu namanya menyangkal."
---
Di sisi lain ruangan, Arga sedang fokus menatap layar laptop.
Padahal sejak tadi, perhatiannya terus teralih ke meja Nadira.
Saat melihat pot sukulen itu diletakkan dengan rapi, sudut bibirnya terangkat.
Setidaknya...
Hadiahnya tidak ditolak.
Itu saja sudah cukup membuat hatinya lebih tenang.
"Gar."
Farhan berdiri di samping mejanya sambil membawa dua gelas kopi.
"Boleh duduk?"
"Boleh."
Farhan menyerahkan salah satu gelas.
"Damai?"
Arga tertawa kecil.
"Damai."
"Kemarin aku lihat tanamanmu."
Arga tersenyum.
"Iya."
"Kreatif."
"Bukan kreatif."
"Lalu?"
"Aku cuma kasih sesuatu yang sesuai sama orangnya."
Farhan mengangguk pelan.
"Kalau aku jujur..."
"Apa?"
"Aku mulai merasa kalah."
Arga menatap Farhan.
"Maksudmu?"
Farhan tertawa kecil.
"Setiap aku ngobrol sama Nadira..."
"...dia memang ramah."
"Tapi setiap nama kamu disebut..."
"...raut wajahnya berubah."
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Farhan melanjutkan dengan santai.
"Dia belum sadar."
"Tapi aku sadar."
"Apa?"
"Dia sudah menaruh hati."
---
Siang harinya, seluruh tim diminta menghadiri rapat mendadak.
Pak Dimas masuk dengan wajah semringah.
"Kabar baik."
"Proposal kita diterima."
Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.
"Sebagai hadiah..."
Pak Dimas tersenyum.
"Minggu depan kita akan mengikuti gathering perusahaan selama dua hari."
"Asyik!"
Rina langsung bersorak paling keras.
"Ke mana, Pak?"
"Sebuah resort di Puncak."
"Wah!"
"Serius?"
"Iya."
"Semua wajib ikut."
Arga melirik Nadira.
"Naik bus."
Nadira langsung memahami maksudnya.
"Kamu mabuk perjalanan?"
"Bukan."
"Kalau naik bus rame-rame..."
"...Rina nggak bakal berhenti ngomong."
Nadira tertawa sampai menutup mulut.
"Itu memang lebih bahaya."
Rina yang mendengar langsung melempar tisu ke arah mereka.
"Kalian kompak banget, sih!"
---
Menjelang sore, hujan turun cukup deras.
Sebagian besar karyawan memilih menunggu hujan reda.
Nadira berdiri di dekat jendela sambil menikmati aroma tanah basah.
"Dir."
Ia menoleh.
Farhan menghampiri.
"Ada waktu sebentar?"
"Boleh."
Mereka berjalan ke balkon kantor.
Suasananya tenang.
Hanya suara hujan yang menemani.
Farhan tersenyum tipis.
"Aku mau bilang sesuatu."
Nadira mengangguk.
"Aku tahu..."
"...kemungkinan aku terlambat."
Nadira menatapnya bingung.
"Terlambat?"
"Iya."
Farhan menghela napas pelan.
"Aku suka sama kamu."
Nadira membeku.
"Tapi..."
Farhan tersenyum hangat.
"...aku juga tahu hati seseorang nggak bisa dipaksa."
Ia memandang hujan yang turun tanpa henti.
"Selama beberapa hari ini aku memperhatikan."
"Setiap kamu ngobrol sama Arga..."
"...cara kamu melihat dia berbeda."
Nadira langsung menunduk.
"Kalau aku boleh jujur..."
"...aku belum pernah memikirkan itu."
Farhan mengangguk.
"Aku percaya."
"Tapi hati sering lebih cepat sadar daripada pikiran."
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Farhan akhirnya tersenyum lebar.
"Jadi..."
"Aku nggak akan memaksamu."
"Kalau suatu hari nanti kamu memilih Arga..."
"...aku bakal jadi orang pertama yang ngucapin selamat."
Nadira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih."
"Kenapa?"
"Karena sudah menghargai perasaanku."
Farhan mengangguk pelan.
"Justru itu yang paling penting."
---
Tanpa mereka sadari, dari balik pintu balkon, Arga sempat melihat keduanya berbicara.
Ia tidak mendengar isi percakapan.
Namun kali ini...
Ia tidak lagi merasa takut.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat Farhan tersenyum sambil mengulurkan tangan kepada Nadira, lalu berpamitan dengan wajah yang tenang.
Farhan berjalan melewati Arga.
Mereka saling berpandangan.
Farhan berhenti sebentar.
"Lanjutkan perjuanganmu."
Arga mengernyit.
"Hm?"
Farhan tersenyum tipis.
"Kayaknya..."
"...sebentar lagi dia sadar."
Lalu Farhan melangkah pergi.
Arga berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya menoleh ke arah balkon.
Di sana, Nadira masih berdiri sendiri sambil memandangi hujan.
Perempuan yang dulu selalu membuat hari-harinya penuh perdebatan.
Kini menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya ingin pulang lebih cepat setiap hari.
Arga tersenyum pelan.
"Kalau memang tinggal selangkah lagi..."
"...aku yang akan melangkah lebih dulu."
Di balik langit yang masih mendung, kisah mereka perlahan mendekati titik ketika tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Namun gathering perusahaan di Puncak ternyata akan menjadi tempat yang mengubah hubungan mereka selamanya.
**Bersambung ke Episode 23...**