NovelToon NovelToon
JADIAN YUK!!

JADIAN YUK!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.

Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.

Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3.Bukan Kebetulan, Tapi Apes

Malam itu suasana rumah sudah mulai hening. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul sembilan, namun Arjuna tahu betul Ayah dan Bundanya pasti sudah di dalam kamar. Perlahan, ia membuka pintu kamarnya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun, lalu melangkah berjinjit menuju pintu belakang rumah. Ia harus berhati-hati agar tidak membangunkan siapa pun.

Berhasil keluar dari pekarangan, Arjuna langsung berjalan mendekati motor sport kesayangannya yang terparkir rapi di garasi samping. Ia berniat mendorongnya menjauh dulu baru menyalakan mesinnya, supaya suaranya tidak sampai terdengar masuk ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah ia mendorong kendaraan itu, sebuah suara memanggil dari belakang yang membuat seluruh tubuhnya mematung di tempat.

“Abang mau ke mana? Ikut...”

Arjuna menoleh cepat dengan ekspresi kaget. Di sana berdiri sosok mungil berkacamata dengan rambut sedikit acak-acakan...Haikal, adik bungsunya yang baru duduk di kelas satu SD.

Arjuna langsung menahan geramnya, lalu berusaha memasang senyum paling lembut yang ia bisa. “Jangan ikut, De. Abang cuma keluar sebentar aja. Lo masih kecil, nggak boleh pergi malam-malam begini.”

Mendengar jawaban itu, bibir Haikal langsung mengerucut, tangannya bersedekap dada dengan wajah mulai berkaca-kaca seolah sebentar lagi akan menangis keras.

“Nggak mau! Pokoknya Ade mau ikut juga! Kalau nggak diajak, Ade teriak aja panggil Bunda!” ancamnya tegas.

Arjuna menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. “Aelah, nih tuyul segala liat gue,” gerutunya pelan. Ia tahu Haikal memang jago merecoki kemanapun ia pergi. “Ya udah, ya udah! Gue ajak lo ke Alfamart saja, habis itu lo langsung pulang, nggak boleh ikut-ikut main abang lagi, paham?!”

Haikal langsung mengangguk semangat, air matanya tadi seketika menghilang begitu saja. “Siap! Asal dibelanjain, Abang paling baik sedunia!”

Tak lama kemudian,Arjuna mengangkat badan Haikal ke atas motornya, adiknya sudah duduk manis di bagian depan motor posisi yang paling aman menurutnya agar bisa melihat jalan. Sesampainya di minimarket terdekat, ia langsung turun dan berlari cepat masuk seolah baru masuk surga. Matanya berbinar terang melihat deretan makanan ringan, minuman, dan permen. Ia mengambil apa saja yang menarik perhatiannya tanpa ragu.

Arjuna hanya mengikuti dari belakang dengan gaya santai dan tampak dingin, seolah tidak peduli meski beberapa gadis yang sedang belanja meliriknya sambil berbisik-bisik. Bagi Arjuna, ini sudah hal biasa.

Setelah belanja selesai dan Haikal membawa kantong plastik penuh isinya, mereka kembali melaju pulang. Sesampainya di depan gerbang rumah, Arjuna segera memberi peringatan serius.

“Ingat janji ya, De! terus Jangan bilang apa-apa ke Bunda atau Ayah kalau gue keluar malam ini. Kalau bocor,! gue ngga bakal ngasih jajan lagi.”

Haikal langsung mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. “Aman! Mulut Ade dijamin terkunci rapat!”

Begitu Haikal masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup, raut wajah Arjuna berubah seketika. Ia langsung memutar arah motor dan menginjak gas dalam-dalam. Bruuum! Suara mesin menderu kencang membelah keheningan malam ia hampir terlambat, dan itu bukan hal baik bagi ketua geng.

Sesampainya di sirkuit balap liar yang terletak di pinggir kota dan sepi dari warga, ia sudah melihat tiga inti geng petir dan beberapa anggota lain dari Geng Petir menunggu dengan tidak sabar. Arjuna langsung memarkirkan motor sportnya di tempat tersembunyi, lalu beralih menaiki motor balap khusus yang sudah disiapkan. ia sengaja tidak membawa motor kesayangannya, takut ada goresan atau lecet yang nanti jadi bukti keberadaannya saat balap.

Gibran, wakil ketua, langsung menepuk pundaknya keras. “Kirain lo batal datang, Jun. Kita udah deg-degan ditunggu lawan.”

Arjuna hanya terkekeh santai sambil mengenakan helmnya. “Mana mungkin. Kalau gue nggak datang, nanti dikatai pengecut sama Geng Elang . Nggak lucu nama geng Petir jadi tercemar.”

Tak lama, pertandingan dimulai. Bendera diangkat lalu diturunkan delapan motor melesat bersamaan meninggalkan asap hitam. Suara mesin bergemuruh memekakkan telinga. Di tikungan pertama, Arjuna sengaja melambatkan lajunya, membiarkan dua pembalap lawan mendahului.

“Kok malah mundur, Jun?!” teriak salah satu temannya.

Arjuna hanya melirik sekilas sambil tersenyum menyeringai. “Biarin mereka senang dulu, baru jatuhnya makin sakit.”

Memasuki tikungan tajam ketiga, aksi kocak sekaligus lincah dimulai. Arjuna mengayunkan badannya ke kiri dan kanan, seolah hampir terjatuh sampai penonton berteriak kaget, padahal itu triknya untuk mengurangi hambatan angin. Saat satu lawan mencoba memotong jalannya, Arjuna sengaja sedikit mendekatkan motornya sampai hampir bersentuhan membuat lawannya panik dan mengerem mendadak, hingga akhirnya tergelincir keluar jalur tanpa cedera serius.

“hahahaha! Salah sendiri nggak sabar!” teriak Arjuna sambil mempercepat lajunya.

Di putaran terakhir, ia melesat meninggalkan pesaing terdekat sejauh puluhan meter. Saat melewati garis finis, sorakan teman-temannya meledak keras. Geng Petir kembali memegang gelar juara malam itu.

Arjuna melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat gagah. Ia menatap ketua Geng Elang dengan senyum meremehkan. “Sudah berkali-kali gue bilang, Geng Elang nggak akan pernah bisa mengalahkan Geng Petir. Kalau nggak kuat, jangan paksain balapan.”

Mereka hanya memandang tajam tanpa bisa membantah. Tak lama, teman-teman Arjuna menyerbu dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sebagai bentuk kemenangan yang sudah biasa mereka raih.

Setelah puas merayakan, Arjuna mengajak semuanya untuk beristirahat sekaligus makan malam. “Ayo kita ke kafe dekat sini, gue yang traktir!”

Seketika seluruh anggota geng bergerak menuju kafe dua lantai yang masih buka sampai tengah malam. Begitu masuk, ruangan yang tadinya tenang seketika ramai dan penuh kehadiran mereka. Para pelayan langsung sibuk membagikan meja dan mencatat pesanan, dan harus bekerja ekstra malam ini.

Di antara para pelayan yang sibuk melayani, ada Laila Arsyila. Ia sudah bekerja paruh waktu di kafe ini sejak kelas sepuluh untuk membantu biaya hidup dan tabungannya sendiri. Gerakannya lincah dan terampil, mencatat pesanan dengan tulisan rapi tanpa perlu bertanya ulang.

Arjuna duduk santai di meja pojok, matanya sibuk menunduk memainkan ponselnya, sama sekali tidak sadar siapa yang akan melayani mereka.

Saat Laila mendekati meja itu membawa buku pesanan dan pulpen, Rian yang duduk di sebelah Arjuna menyenggol lengannya cukup keras.

“Bos… lihat ke depan sebentar, Bos.”

Arjuna berdecak kesal tanpa mendongak. “Apaan sih, ganggu aja. udah lo pesen aja. ”

Namun begitu ia mengangkat wajahnya, tatapan keduanya langsung bertemu.

Arjuna membulatkan matanya lebar-lebar, lalu dengan gaya sangat dramatis ia sedikit melompat sambil berteriak kaget.

“LO....?! NGAPAIN LO ADA DI SINI?! Jangan-jangan lo sengaja nguntit gue kemana-mana, ya?!” tuduhnya lantang membuat beberapa pengunjung lain menoleh sebentar.

Laila hanya memutar bola matanya malas, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi terkejut sedikit pun. Sungguh, rasanya hari ini memang sial bertemu lagi dengan laki-laki yang bikin pusing itu.

“Gue kerja di sini. Lagian kafe ini milik umum, nggak ada yang nguntit siapa-siapa. Mending sebutin aja pesanan lo kalau mau makan, atau pindah ke tempat lain saja kalau ribut,” jawabnya dingin dan tegas.

1
Rafi Hafizh
hati hati Laila🫣
Rafi Hafizh
vampir kali jun🤣
Ananda Anggit
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!