NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Untuk yang Tercinta

Malam gelap telah mengambil alih langit Desa Veria, memamerkan taburan bintang dan pendar keperakan cahaya rembulan sebagai satu-satunya panorama.

Di bawahnya, cahaya kekuningan dari lentera-lentera yang tergantung di depan rumah gubuk warga berkedip pelan, memberikan sentuhan kehangatan di tengah embusan angin malam yang mulai menggigit kulit.

Cate, si sulung kesayangan Joe dan Bellinda, tiba di halaman rumahnya dengan langkah gontai. Tangannya baru saja terangkat, ujung jemarinya hampir menyentuh kenop pintu kayu, namun gerakannya terhenti.

Pandangannya tertuju pada pojok kanan teras—tempat ayahnya biasa meletakkan perlengkapan berburunya.

Kosong. Rak kayu itu belum terisi, dan sepatu bot kotor milik Joe tak terlihat di sana. Ayahnya belum kembali dari hutan, padahal malam sudah semakin larut.

Udara dingin tiba-tiba terasa mencekik lehernya. Ia memutar tubuh, menatap siluet bukit hutan yang menjulang gelap dari kejauhan.

"Ayah...," gumamnya lirih, suaranya parau dan bergetar.

Di bawah temaram cahaya langit, air mata gadis itu luruh, menetes dalam diam membasahi permukaan tanah kering di halaman rumahnya.

Sementara itu, di dalam rumah yang sempit, cahaya lentera damar yang menari-nari di atas meja menerangi wajah Bellinda dan Takahiro. Menu makan malam sederhana—beberapa potong singkong rebus—sudah tersaji rapi, dibiarkan mendingin.

Kaki Bellinda tak bisa diam, mengetuk-ngetuk lantai beton dengan ritme tak beraturan. Ia hafal betul jadwal kerja Cate. Tak mungkin putrinya itu tertahan di peternakan milik Bee sampai selarut ini.

Bellinda bangkit kasar dan melangkah terburu-buru ke arah pintu depan. Namun, baru setengah jalan menyeberangi ruangan, sebuah suara serak dan parau menghentikan langkahnya.

"Bibi, kenapa paman itu belum pulang?"

Itu suara Takahiro. Pemuda berambut putih itu duduk sedikit membungkuk, sebelah tangannya menekan perut yang dibalut perban, menahan kombinasi rasa ngilu dan lapar.

Langkah Bellinda membeku di samping pilar kayu. Bukan hanya Cate yang belum menampakkan batang hidungnya, suaminya pun belum kembali.

"Kamu benar," tuturnya kaku tanpa menoleh ke arah Takahiro. "Kenapa Joe masih belum pulang juga?"

"Apa ada sesuatu yang terjadi—"

'Tidak! Jangan ucapkan itu!' batin Bellinda meronta. Ia berputar cepat.

Tangan kanannya menghempas ke udara, memotong ucapan pemuda asing itu.

"Tidak mungkin!" timpalnya cepat, nadanya naik satu oktaf. "Joe itu pemburu profesional di desa ini, tidak mungkin hal buruk terjadi padanya."

Tubuh Takahiro tersentak. Pandangannya langsung menunduk pada sepotong singkong rebus di meja, lalu ia buru-buru meraih cangkir kayu berisi air hangat yang sudah dicampur serbuk obat.

"Maaf," ucap Takahiro dengan nada bergetar. Ia menelan airnya susah payah, lalu mengusap sisa basah di bibir atasnya menggunakan punggung tangan.

Bellinda tertegun. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Bellinda melanjutkan langkahnya menuju pintu depan. Namun, ketika jaraknya tinggal beberapa langkah lagi, daun pintu itu berderit dan terbuka seperempat bagian. Embusan angin malam menerobos masuk, membuat api di dalam lentera damar meronta sejenak sebelum kembali tenang.

Dari balik celah pintu, Bellinda dan Takahiro bisa melihat siluet seseorang. Ketika sosok itu melangkah masuk ke ruang keluarga, cahaya lentera langsung menerangi rambut merah pendeknya. Ia berdiri di sana, mendekap sebuah bingkisan kotak berukuran besar di depan dadanya.

"Aku pulang."

Bellinda berlari kecil menerjang putrinya.

"Cate!"

Melihat ibunya datang, Cate dengan cekatan memutar posisi. Ia meletakkan bingkisan berat dari Bee itu ke atas kursi terdekat, tepat pada waktunya untuk menyambut pelukan sang ibu.

Bellinda mendekapnya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher putrinya. Bahu wanita paruh baya itu bergetar saat air matanya tumpah membasahi punggung baju Cate.

"I-ibu... Ibu kenapa, kok tiba-tiba kayak gini?"

Tangan Cate mengambang ragu sebelum akhirnya membalas pelukan. Dari sudut matanya, ia melirik punggung ibunya dengan kening berkerut.

Lidah Bellinda kelu. Butuh waktu sampai isaknya mereda dan ia perlahan melonggarkan dekapannya. Ia buru-buru menyeka ujung matanya yang basah.

"Ayah ke mana, kok dia belum—"

Ucapan Cate terhenti mendadak. Tatapannya tak sengaja melewati bahu Bellinda dan tertuju pada lincak di sudut ruangan.

Di sana, duduk sesosok pemuda asing berambut putih, sekujur tubuhnya dililit perban. Pria itu tengah mengunyah singkong rebus dengan pipi menggembung dan tatapan polos.

Sebelum ia sempat memproses siapa pemuda itu, embusan angin malam kembali membawa sesuatu dari arah pintu yang masih terbuka.

Sebuah bayangan tinggi besar menutupi cahaya rembulan, disusul suara bariton serak yang sangat ia kenali.

"Aku pulang."

Cate membeku. Bellinda menatap lurus melewati bahu putrinya. Di ambang pintu, berdirilah Joe.

Pria itu tampak berantakan. Pakaiannya kotor oleh tanah dan darah mengering, langkahnya gontai, dan napasnya tersengal parah. Namun, di balik punggungnya yang turun naik, terdapat tumpukan hasil buruan yang dibuntal erat.

"Sayang... kamu tidak apa-apa?" tanya Bellinda, bersiap melangkah maju.

"Jangan hiraukan aku. Aku tidak apa-apa," jawab Joe lirih.

Melihat istrinya hendak menghampiri, Joe mengangkat telapak tangannya ke udara.

Setelah memastikan pergerakan istrinya terhenti, pandangan Joe beralih menatap punggung putrinya yang masih berdiri membelakanginya. Joe menjatuhkan buntalan buruannya ke lantai beton hingga menimbulkan bunyi 'bruk' yang tumpul.

"Cate. Ayah tahu kamu masih marah, tapi tolong lihat Ayah dulu sebentar."

Bukannya berbalik, Cate masih mematung di posisinya, menatap Takahiro yang asyik menelan gigitan singkong rebus di sudut ruangan.

"Ayah ada sesuatu yang spesial buat kamu," lanjut Joe pelan.

Jari-jari Joe yang gemetar mulai melepaskan simpul tali besar yang mengait di bahunya. Tangan kanannya mencengkeram kaki hewan buruan utamanya hari ini, dan menarik sosok besar itu ke depan.

Frasa 'Ada sesuatu yang spesial' menembus lamunan Cate. Perhatiannya perlahan terlepas dari pemuda di sudut ruangan. Ia menatap wajah ibunya, mencari petunjuk.

Bellinda membalas tatapan itu, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.

Cate memutar tubuhnya lambat-lambat menghadap pintu. Dan tepat ketika pandangannya jatuh pada objek yang tergeletak di kaki ayahnya, napas Cate tercekat.

Di sana, di bawah sisa cahaya lentera, teronggok seekor rusa hutan utuh yang segar. Sebuah kemewahan yang sudah ia dambakan sejak lama, yang selalu ia sebut dalam doa-doa kecilnya.

Kedua tangan Cate membekap mulutnya. Mata merah delimanya membulat sempurna. Air mata kembali menjebol pelupuknya.

Dengan isakan yang pecah, Cate menghambur ke depan, memeluk erat tubuh ayahnya yang kotor dan berbau keringat hutan. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Joe, menangis sejadi-jadinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!