WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Di sambungan telpon seseorang.
“[Lastri, apakah benar anakmu meninggal? Bukankah kemarin dia sehat-sehat saja?]” Darto yang berbicara di seberang telpon membuat Lastri pusing.
“[Putraku meninggal di universitas terkutuk itu! Aku akan membalas semua orang yang menyebabkan putraku meninggal,]” kata Lastri dengan wajah memerah.
“[Kau tau, Lastri. Anak nya Herman juga meninggal di tempat itu, ku rasa ini semua bukan ulah manusia. Tapi ulah arwah Cempaka yang kita tanamkan dengan cara tidak kayak di tempat itu.]” jelas Darto.
“[Besok lusa, aku akan datang ke sana. Aku ingin menjemput putriku, dan jika memang Cempaka ingin membalaskan dendam. Aku siap menerimanya, asalkan anak dan istriku tidak di sentuh olehnya.]” Darto membuat Lastri semakin pusing di buatnya.
“[Aku juga akan ikut ke tempat itu, aku ingin membunuh arwah itu untuk kedua kalinya jika memang benar setan itu yang telah menghabisi anakku!]”
“[Sebaiknya kau bertobat, Lastri. Aku sudah lelah di kejar-kejar dosa seperti ini. Aku ingin hidup tenang barang hanya satu jam saja,]”
“[Halah, persetan sama tobat! Aku tau, kamu bilang bertobat karena kamu itu penakut. Kalau kamu takut, sembunyi aja di ketek istrimu yang tukang ibadah itu!]” cetus Lastri, membuat Darto mematikan sambungan telpon itu.
“Malah di matiin!” gerutu Lastri.
“Tapi, apa benar yang sudah membunuh anakku dan anaknya Herman adalah arwah perempuan jal*ng itu?” Lastri bertanya-tanya sendiri.
“Aku harus cari orang pintar, aku akan meminta jimat penangkal setan. Aku belum mau mati, aku masih mau menikmati kehidupan dunia.”
Jika ia sendiri ingin menikmati indahnya kehidupan dunia. Kenapa ia tega membunuh orang lain?
.
.
.
“CEMPAKA!” geram Radit. “Sana pergi, tolong jangan ganggu aku terus, aku juga pengen tenang.”
“Aku gak ganggu, aku cuman pengen nemenin kamu,” kata Cempaka dengan suara datar seperti biasa.
“Kamu temenin Ibra, Toni atau Farhan kek. Kenapa harus aku? Udah sana pergi!” usir Radit. Tapi lagi-lagi, Cempaka hanya menggeleng.
“Kamu kenapa ngikutin aku? Terus kenapa bukan orang lain?” Radit tampak sangat frustasi menghadapi Cempaka yang tidak ingin jauh darinya itu.
“Karena kamu persis seperti Harun saat muda!”
Deg! Jantung Radit serasa berhenti berdetak. Ternyata yang di katakan Ibra benar, jangan-jangan Cempaka menginginkannya sebagai ganti papanya.
Radit segera mundur dari hadapan Cempaka, ia menjadi begitu takut. “Radit..” panggil Cempaka.
“Jangan dekat-dekat, Sana pergi! Aku belum mau mati!” Radit terus merangkak mundur dari duduknya. Ia tidak ingin Cempaka mendekatinya lagi.
Radit memejamkan matanya sembari membaca doa di dalam hati. Ia benar-benar takut saat itu, ia pun kembali berteriak saat kakinya di sentuh.
“Pergi, pergi sana! Tolong jangan ganggu aku lagi!” teriak Radit dengan kencang di koridor samping kampus.
“Hey! Kamu kenapa?” seseorang dengan suara lembut, menyentuh lutut Radit.
“Ke-ke-kemana dia?” tanya Radit tergagap.
“Dia siapa?” tanya orang itu, yang ternyata adalah sosok manis Diandini. “Dari tadi, gak ada orang disini?” tampak, Diandini celingak celinguk mencari keberadaan orang lain.
“Bu-bu-bukan siapa-siapa, oiya kamu anak ruangan nomor lima, ya?” tanya Radit sembari bangkit dari lantai tempatnya duduk.
“Iya, kenalin aku Diandini!” Diandini menyodorkan telapak tangannya yang tertutup oleh tangan bajunya yang panjang.
“Aku Radit, anak ruangan tiga,” kata Radit.
Melihat Radit yang dekat dengan Diandini, membuat Arwah Cempaka tidak suka. Ingin menghabisi Diandini, tapi ia tidak bisa. Seakan-akan, tubuh Diandini di lapisi oleh sinar berwarna putih.
“Aku harus segera menghabisi anak itu, aku tidak akan membiarkan Darto hidup dengan tenang!”
.
.
.
“Pa, bagaimana ini?”
“Papa gak tau, ma. Bukankah mama lulusan pesantren?”
“Meskipun mama lulusan pesantren, tapi mama tidak tau harus mengatasi arwah penasaran seperti Cempaka ini. Yang mama tau, hanya berdoa meminta perlindungan pada tuhan,” kata Mama Retno.
“Sepertinya, kita harus mencari tau. Apa penyebabnya menjadi arwah gentayangan seperti itu! Jika kita sudah mengetahui sebabnya, mungkin kita semua bisa menghentikannya untuk menghabisi orang-orang yang tidak bersalah, termasuk menjauhi Radit.” Papa Harun sudah bertekad untuk ikut mengusut kematian Cempaka.
Ia pun segera menghubungi Radit, bila malam nanti, mereka semua harus berkumpul di koridor kampus Garuda itu.
“[Radit, nanti sore. Kamu dan teman-temanmu, tunggu papa dan juga mama di parkiran kampus itu.]”
“[Tapi kenapa, pa?]” tanya Radit dengan heran.
“[Tunggu saja, nanti kalian juga akan tau,]” kata Papa Harun.
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu