Yora ini adalah gadis yang manja dan keras kepala dia sangat dicintai oleh Orang Tuanya, tetapi kenyataan yang sangat pahit harus di terima oleh Yora disaat Orang Tuanya akan bercerai karena Papanya mencintai Wanita lain.
Untuk membalaskan rasa sakit hatinya, Yora akan menghancurkan kebahagian Papanya dan Wanita murahan itu. Dengan membuat Rendy menjadi budak cintanya dia akan melakukan segala cara hanya untuk membuay Yora bahagia.
Apakah Yora akan berhasil membalaskan rasa sakit hatinya? atau akankah malah gagal membalaskan rasa sakit hatinya?
Yuk.. baca dan ikuti bagaimana Yora membalaskan rasa sakit yang ada dihatinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ≋25≋
Mereka bertiga telah sampai pada korean restaurant favorite Yora. Duduk dilantai 2 dekat jendela besar restaurant, dengan pemandangan kendaraan yang berlalu lalang diluar sana. Yora enggan duduk disamping Papanya, ia lebih memilih duduk disamping Rendy dan Alan duduk didepan Rendy.
" Kalian mau pesan apa? " tanya Alan sambil menatap menu yang ia tidak pahami tulisannya.
" Aku pesan bulgogi dan jus jeruk, " sahut Yora tanpa melihat menu yang tersedia.
" Aku samakan saja dengan Yora, Om ." timpal Rendy.
Alan memanggil pelayan restaurant.
" 3 porsi bulgogi, dan jus jeruk 3. " ucap Alan.
Pelayan yang sudah mencatat pesanan yang mereka inginkan, segera berjalan pergi menuju ke dapur.
" Meniru saja pesanannya. " sindir Yora.
" Kami laki-laki kurang paham makanan yang seperti ini, sayang. " balas Alan dengan senyum lembut yang tercetak diwajahnya.
Alan sebenarnya ingin bertanya tentang kebenaran gosip yang beredar, tapi ia sangat takut kepada Yora. Entah kenapa hari ini Yora sangat jutek dan garang pada dirinya. Yora mengetahui Papanya melirik dirinya dan Rendy secara bergantian.
" Apa?! " bentak Yora yang membuat Rendy dan Alan menatapnya dengan bingung.
" Papa, ngapain ngeliatin kami mulu, " sinis Yora sambil membantu pelayan meletakan daging mentah dimejanya.
Alan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa bingung akan sikap Yora yang marah-marah mulu dari tadi.
" Papa dengar kalian sudah berpacaran ya? " tanya Alan dengan tangan yang membalik daging-daging diatas panganggan.
" Kalo iya kenapa, Papa enggak suka sama hubungan kami? " tanya Yora sambil memasukan daging yang sudah matang ke mulutnya.
" Tentu saja enggak. Papa sangat senang kamu menjalin hubungan sama Rendy, dia pria sangat baik, " ujar Alan menatap Rendy yang sedang asik makan.
" Tapi aku enggak senang, Papa menjalin hubungan terlarang dengan wanita bodoh itu dan wanita itu sangat tidak baik. " timpal Yora sambil terkekeh yang membuat Alan bergedik ngeri.
Setelah mengisi perut, mereka bertiga pun keluar dari restauran menuju tempat parkir mobil. Alan berjalan dari arah belakang, dengan mata yang menatap pasangan muda yang baru menjalin hubungan tersebut. Yora memutarkan tubuhnya tiba-tiba, yang membuat Alan berhenti dengan kening berkerut bingung akan sikap dan tingkah Putri satu-satunya.
" Papa jangan ikut sama kami, naik mobil yang lain saja sana! " usir Yora yang membuat Alan terkejut akan perkatan Putrinya.
" Bukannya kalian akan ke perusahan juga, kenapa Papa tidak boleh ikut. Lagian inikan mobil Papa, " ujar Alan menatap Yora.
" Mobil ini milik keluarga Florence, bukan milik Papa aja dan satu lagi kita tidak mau ke perusahaan, " sahut Yora dengan tangan yang bersidekap di dadanya.
" Tapikan Rendy harus bekerja, Yora. " kata Rendy dengan tampang kasihan yang ia tunjukan.
" Itu perusahaan Papa!, ya Papa lah yang harus ngerjain berkas itu, Jangan main sama wanita murahan itu mulu, urusin tuh perusahaan Florence. Jika perusahaan Florence bangkrut karena Papa bermain dengan wanita mulu, aku dan leluhur Florence akan mengutuk dirimu! " ujar Yora dengan nada sinis.
Alan hanya pasrah mengikuti keinginan Putrinya tersebut, jika dia tidak mengikutinya takut Yora akan marah lagi. la tidak mau itu terjadi, karena baru baikan masa bertengkar lagi.
" Dan satu lagi, jangan suruh Rendy mengerjakan tugas Papa. Dia bukan babu yang bisa Papa suruh seenaknya. sedangkan Papa menikmati waktu untuk berkencan dengan wanita menjijikan itu, " peringat Yora melangkah pergi menuju mobil.
Rendy sebenarnya tidak tega melihat Om Alan yang di sinis in oleh Putrinya sendiri, tapi ia hanya diam saja biar Om Alan mengerti kesalahannya kepada Keluarga Florence. Rendy segera bergegas mengikuti Yora yang sudah berada didalam mobil.
Alan diam ditempat, dengan sorot mata yang melihat Yora dan Rendy pergi menggunakan Mobil yang kata Yora milik keluarga Florence. Alan segera menghubungi seketarisnya, untuk menjemput dirinya yang ditinggal sendiri oleh Putrinya dan Rendy.
Didalam mobil, Yora sedang asik bermain dengan gadget pintarnya, Rendy melirik Yora yang sangat fokus memainkan handphone miliknya.
" Kenapa kamu bersikap seperti itu tadi? " tanya Rendy memecahkan kesunyian diantara mereka.
" Apa, " ujar Yora tanpa mengalihkan matanya dari gadgetnya.
" Kenapa sikap kamu begitu sama papamu sendiri? " tanya Rendy sambil mengendarai mobil.
" Biarin aja. Kesal aku liat muka pria tua itu, bawaanya inget sama wanita yang tidak tau diri itu. Rasanya aku ingin mencakar habis muka wanita yang sok cantik itu. Dan kamu Rendy jangan mau disuruh ngerjain berkas, yang seharusnya Papa yang mengerjakannya. Pria tua itu harus ada kerjaan biar lupa sama wanita murahan itu. " ucap Yora yanf penuh ketegasan dan dibalas anggukan kepala oleh Rendy.
" Kita sebenarnya mau kemana? " tanya Rendy melirik Yora sekilas.
Yora memasukan alamat ke GPS mobil, menuju tempat yang akan ia datangi. Rendy yang mengerti segera mengarahkan laju mobilnya, menuju tempat yang Yora masukan alamatnya di GPS. Yora yang melihat Rendy sudah mengerti apa yang la ingin sampaikan, kembali bermain dengan handphone miliknya.
Mira Ibu Retha, membantu mengurus cafe. la sedang membersihkan meja dan bangku-bangku, para karyawan sedang membuat dessert dan membuat kopi pesanan pelanggan. Saat membersihkan meja yang habis digunakan pelanggan, ia melihat dari jendela seperti mobil yang suka Yora gunakan mulai mendekat kearah cafe miliknya.
Mira sangat yakin itu Alan yang mengendarai mobilnya menuju kemari, dengan segera berlari keruangan untuk mengambil handphone untuk menelepon Putrinya, kalo Alan tidak seperti yang ia duga, buktinya ia kemari pasti ingin menemui Retha untuk meminta maaf akan sikapnya.
lanjutt