Saat suamimu merundungmu dan mengataimu hanya karena fisikmu yang berukuran XXL, bagaimanakah perasaanmu?
Kanaya Salsabilla, Penulis Novel Digital yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya merundungnya, melakukan kekerasan verbal, hingga bermain api dengan mantan terindahnya di depan matanya.
Darren Jaya Wardhana, Direktur Pemasaran Jaya Corp yang merupakan pria mapan dan gagal move on dari cinta masa lalunya itu, justru memperlakukan Kanaya sebagai istrinya dengan buruk.
Di satu sisi, ada Bisma Adi Pradana, seorang Dokter yang membantu Kanaya dan terus memotivasi gadis itu untuk mengubah penampilannya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan selain hidup seatap dengan suami yang terang-terangan terjebak dengan mantan terindanya." Kanaya Salsabilla.
"Aku menolakmu. Menikahi Kalkun Jelek sepertimu, justru membuatku mendapatkan kutukan." Darren Jaya Wardhana.
"Teruslah berusaha, karena pintu selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah." Bisma Adi Pr
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darren dan Keluarganya
Di tempat yang berbeda, Darren sedang diminta oleh Papa dan Mamanya untuk menghadapnya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh kedua orang tua Darren, tetapi Darren sudah menerka pasti Papa dan Mamanya ingin menceramahinya dan memintanya untuk bisa memperlakukan Kanaya dengan baik.
Menjelang sore, sebelum jam kerja Jaya Corp usai, Darren tampak duduk di kursi kebesarannya dan juga berpikir bagaimana seharusnya dia memperlakukan Kanaya. Hatinya yang terdalam tidak bisa menerima Kanaya sebagai istrinya, tetapi di satu sisi ada keluarganya yang terus memintanya untuk bisa memperlakukannya dengan baik.
Ketika jam kerja telah usai, Darren segera mengendarai mobilnya dan menuju kediaman orang tuanya yang berjarak tidak terlalu jauh dari Jaya Corp.
“Sore Pa … Ma ….” sapa Darren begitu telah sampai ke kediaman orang tua, pria itu menyapa Papa dan Mamanya.
“Sore Darren, kamu dari perusahaan langsung ke sini?” tanya Papa Jaya kepada putranya itu.
Darren menganggukkan kepalanya. “Benar Pa … dari perusahaan, aku langsung ke sini. Ada apa?” tanya Darren secara langsung.
Nampak pasangan paruh baya Papa Jaya dan Mama Sasmita saling pandang. Mereka seolah berbicara dengan matanya sebelum berbicara dengan anaknya.
Mama Sasmita pun berdehem, “Begini Darren … bagaimana kehidupan rumah tanggamu bersama Kanaya?” tanya Mama Sasmita mencoba membuka obrolan.
Darren memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Pria itu menghembuskan napasnya yang seolah terasa begitu berat. “Kehidupan rumah tangga seperti apa yang Mama harapkan? Jika memang berharap kehidupan rumah tanggaku dengan dia akan seperti kehidupan Papa dan Mama itu tidak akan mungkin. Kami tidak saling mencintai. Darren juga tidak akan pernah mencintai dia.”
Kali ini giliran Mama Sasmita yang menghembuskan napasnya secara kasar. “Jangan begitu Darren … beri dirimu sendiri waktu untuk bisa menerima dan mencintai Kanaya. Dia gadis yang baik, Darr.” ucap Mama Sasmita yang meminta putranya untuk mengambil waktu dan menerima Kanaya dengan tulus.
Dengan cepat Darren menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa Ma … lagipula, Mama tahu siapa wanita yang selama ini Darren cintai. Darren hanya mencintai Sandra, Ma. Tidak mungkin hati ini mencintai wanita yang lain. Aku justru ingin menikahi Sandra, Ma ….” ucap pria itu secara to the point tanpa berbelit-belit.
“Jaga ucapan kamu, Darren. Belum satu bulan, kamu menikahi Kanaya. Kamu tidak membahagiakannya dan sekarang kamu justru berniat untuk menikah kembali. Dalam sejarah keluarga kita tidak ada yang melakukan poligami, Darren.” ucap Papa Jaya dengan tegas.
Berbicara masalah ketegasan memang Papa Jaya selalu tegas, beliau adalah sosok Papa dan pemimpin dalam rumah tangga yang tegas. Terlebih saat mendapati sesuatu hal yang tidak benar. Papa Jaya akan mengarahkan dengan ketegasannya tersebut.
“Pa, apa Papa mau jika anak Papa ini tidak bahagia? Kebahagiaanku hanya bersama Sandra, Pa … bukan bersama gadis itu.” ucap Darren yang juga seakan meladeni Papanya untuk berdebat.
Perkataan Darren seperti gemuruh petir bagi Papa Jaya dan Mama Sasmita, anak yang mereka besarkan dengan tangan mereka sendiri, di hadapan mereka berdua meminta untuk menikahi Sandra. Jika Darren bersikeras menjalankan poligami, dia akan menjadi satu-satunya orang dari keluarga Jaya yang melakukan poligami. Sementara Papa Jaya dan Mama Sasmita tentu akan menolaknya.
“Coba kamu pikirkan bagaimana perasaan Kanaya, Darren. Lagipula untuk apa kamu ingin menikah lagi?” tanya Mama Sasmita yang bertanya apa motif anaknya ingin kembali menikah.
“Karena Darren tidak mencintai istri Darren, wanita yang Darren cintai hanya Sandra.” ucapnya kekeh mempertahankan perasaannya bahwa dia mencintai Sandra.
Mungkin Darren adalah contoh dari seorang figur yang mencintai seorang wanita dengan begitu buta. Tidak memastikan apa pun motif dari wanita tersebut, setelah semua yang terjadi faktanya Darren tetap tidak bisa move on dari Sandra.
“Cinta bisa bertumbuh dengan seiring berjalannya waktu, Darren. Lagipula, Kanaya adalah gadis yang baik.” lagi tambah Mama Sasmita yang mengutarakan penilaian bahwa Kanaya adalah gadis yang baik.
Darren justru tersenyum miring mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mamanya. “Di hadapan Darren, dia justru gadis yang buruk. Mana ada istri yang berani melawan suaminya.” cibir Darren saat itu.
“Karena suaminya tidak memperlakukannya dengan baik, Darren. Jika kamu memperlakukan Kanaya dengan baik, Mama yakin sebagai seorang wanita, sebagai seorang Ibu, Kanaya juga akan menghormatimu dan memperlakukanmu dengan sangat baik. Lagipula, dalam pernikahan tidak hanya ada rasa cinta, tetapi juga rasa hormat. Menghormati pasangan satu sama lain.” nasihat Mama Sasmita kali ini kepada Darren.
Bukan bermaksud membela Kanaya, menantunya. Akan tetapi, Mama Sasmita ingin memberikan nasihat bahwa dalam pernikahan juga membutuhkan rasa hormat, menghormati satu sama lain sebagai seorang pribadi dengan keunikan dan karakteristiknya masing-masing.
“Dan, coba jangan melihat fisiknya … jika Kanaya mau, dia bisa berubah Darren. Terima dia dan hargai dia sebagai wanita dengan segala kekurangan dan kelebihannya.” lagi Mama Sasmita meminta Darren untuk menghargai dan menerima Kanaya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Darren justru tersenyum. “Wanita akan lebih cantik dan menarik jika dia tidak sebesar itu, Ma.”
Begitu selesai mengucapkan satu kalimat itu, ternyata adiknya Darren yang bernama Gisell baru saja turun dari kamarnya dan dia mendengar apa yang diucapkan oleh Kakaknya itu.
“Kak, jadi Kakak juga menganggap adik Kakak ini tidak cantik dan menarik dong, karena aku juga memiliki badan sebesar Kakak Kanaya.” ucap Gisell secara langsung.
Darren tidak menyangka bahwa ucapannya akan menyinggung adiknya. Pria itu menghembuskan napasnya secara kasar dan mengacak rambutnya.
“Bukan begitu maksudnya, Gisell.” ucap Darren perlahan.
“Sayangnya Kakak baru saja mengatakan itu dan aku sendiri mendengarnya. Sekalipun Kakak tidak mengatakan itu buatku, tetapi aku yang mendengarkannya pun merasa sakit Kak.” ucap Gisell dengan tegas.
Darren segera menggelengkan kepalanya. “Jangan dimasukkan ke hati, kan Kakak tidak mengatakan itu buat kamu. Kenapa kamu sewot sih Sell?”
“Wanita itu makhluk sensitif, Kak … terlebih berurusan dengan penampilan. Kakak boleh tidak mencintai Kak Kanaya, tetapi jangan selalu mencibir penampilannya. Itu tidak benar, Kak. Hargai dia dan perlakukan dia sebagai seorang wanita. Juga menurutku, Kak Kanaya itu baik Kak. Dia satu-satunya orang yang tulus padaku. Tidak mempermasalahkan penampilanku yang seperti ini. Tidak mudah menjadi orang bertubuh XXL Kak, dan Kakak harusnya tahu bagaimana menderitanya kami karena berat tubuh kami.” ucap Gisell yang tiba-tiba juga menjadi sensitif karena ucapan Darren.
Seolah tidak terima dengan ucapan Gisell, Darren pun berusaha membela dirinya. “Kakak kan tidak mengatakan itu ke kamu, lagipula kenapa kamu sewot. Itu bukan buat kamu, Sell ….” ucap Darren yang menegaskan bahwa perkataannya adalah bukan untuk adiknya.
Sayangnya semua sudah terlambat, karena Gisell pun merasa tersakiti dengan perkataan yang diucapkan Kakaknya itu.
tubruk aja itu laki laki..hingga terjungkal
terimakasih thor atas ilmunya aku yg hanya tinggal baca novel dngan gratis , kadang suka ngeluh kalau nunggu lama up