WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-25
Martin membuka pintu mobil dengan tangan kanannya, lalu memasukkan Ayu dengan paksa.
"Diam!" Sentak Martin saat melihat pergerakan Ayu yang akan keluar lagi. Tatapan nya melotot sehingga membuat Ayu ciut.
Ayu mendudukkan dirinya mencari posisi nyaman dengan wajah ditekuk.
Setelah pintu di tutup, lantas Martin ikut masuk dan duduk di samping Ayu. Ayu mengalihkan pandangannya ke arah luar karena kesal dengan sifat pemaksa Martin.
"Kita bicara di Mansion." Ujar Martin sembari menyalahkan stater seraya melirik pada Ayu yang masih mengalihkan pandangannya.
Ayu diam tidak menjawab, saat ini ia hanya ingin cepat sampai di Mansion dan masuk langsung ke kamarnya. Ia sedang tidak ingin berdekatan dengan Daddy-nya.
Martin ikut terdiam, ia memaklumi sikap diamnya Ayu karena Ayu pasti sangat marah padanya.
Martin pun menginjak pedal gas lalu melajukan mobilnya membelah jalanan untuk menuju ke Komplek elite tempat Mansion nya berada.
Karena kondisi lalu lintas yang cukup lengang, akhirnya mobil pun sampai dan langsung memasuki halaman Mansion tersebut setelah penjaga keamanan membukakan pintu gerbang setinggi 4 meter itu.
Setelah mobil terhenti, lantas Ayu buru-buru turun untuk segera menghindari Martin, ia ingin segera masuk ke kamar dan menguncinya.
Namun niat hanya tinggal niat, Martin keburu menyusul dan langsung mengangkatnya lagi ke atas pundaknya.
"Aaaaa!!" Pekik Ayu terkejut. Ia menggoyang-goyangkan kakinya agar Martin menurunkannya.
"Turunin Dad! Malu diliatin Nenek sama Bibi-bibi! Daaaaad!" Ayu terus memberontak di atas pundak Martin.
Sedangkan Martin tidak peduli dengan teriakan Ayu, tubuhnya yang kuat tentu saja tidak akan kalah dengan goyangan tubuh kecil tersebut.
Haduuuh kenapa otakku jadi traveling gini....
Tring!
Ahaa! Boleh juga nih ambil kesempatan! Lagian Ayu bukan anak aku hehehe.. Batin Martin tersenyum mesum.
Pikiran mesum Martin akhirnya meronta-ronta, dengan gerakan cepat la menampar bo-kong Ayu lagi seperti beberapa saat lalu, namun untuk kali ini dilakukan dengan sedikit lembut, kesannya seperti menyentuh.
Ayu terhenyak, lagi? Daddy-nya menyentuh bo-kong nya lagi? Dan kenapa tangannya masih menempel di sana?!
"Daadyyy!! Jangan pegang bo-kong Ayu!" Sentak Ayu sembari berusaha menjauhkan tangan Daddy-nya dengan susah payah.
Martin terkikik sunyi, entah kenapa ia menjadi candu menyentuh bo-kong sintal itu. Ia baru ngeh kalau ternyata Ayu memiliki body yang berisi di bagian tertentu.
Astaga! Si cemong kenapa berdiri lagi?! Kenapa aku bisa lupa lagi kalo si cemong sensitif..
Martin menyentuh burungnya yang terbangun dengan tangan kanannya.
Tidur ya.. Jangan sekarang, papa mau bicara dulu sama Ayu..
Walaupun tidak tidur seutuhnya, tapi Martin sedikit tenang karena si cemong melemas juga.
"Daad! Lepasin ih itu tangannya! Dosa loh Pegang-pegang anak sendiri!" Pekikan Ayu menyadarkan Martin dari pikiran kotornya. Seketika emosinya terpancing saat mendengar ucapan Ayu yang terus menganggap dirinya sebagai Daddy-nya.
"Daddy mau masuk berita tentang seorang ayah yang melecehkan anak-
" Kamu bukan anak saya!" Potong Martin kelepasan, sebab ia sudah merasa muak karena Ayu selalu menganggap ia sebagai Daddy-nya.
Sunyi..
Ayu terdiam mencerna ucapan Martin. Dan Martin pun tercekat dengan ucapannya sendiri.
Dengan segera Martin membawa Ayu masuk ke kamarnya. Ayu sendiri belum sadar jika sekarang ia sudah terduduk di sofa.
Martin melihat ekspresi Ayu yang terlihat kosong dengan mata berkaca-kaca. Jujur ia sangat merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, kenyatannya sudah terucap. Mungkin sudah saatnya Ayu tahu semuanya.
Martin duduk di samping Ayu, namun Ayu langsung menggeser menjauhinya.
"Dengarkan aku-
" Enggak! Daddy pasti bohong!"potong Ayu berteriak dengan tatapan lurus ke bawah.
Akhirnya air mata Ayu pun menetes dengan derasnya.
Martin menggeleng pelan, tangan kanannya mencoba meraih tangan Ayu, namun dengan cepat Ayu menepis nya.
"Jangan sentuh Ayu! Hiks..Huaaaa Daddy bohong!" Tangis Ayu pecah. Ia benar-benar tidak percaya dengan penuturan Martin.
Karena sulit diajak bicara, Martin dengan cepat langsung meraih tengkuk Ayu dan mencumbu nya dengan paksa. Saat-saat inilah yang diinginkan Martin selama ini pada Ayu.
Sejak pertama kali Ayu menciumnya dulu, Martin menjadi kecanduan dan ingin melakukannya lagi. Namun saat itu ia sadar, Ayu masih anak kecil yang belum saatnya melakukan hal-hal seperti itu. Dan sekarang, sudah tidak jadi masalah jika ia melakukan hal tersebut pada Ayu, sebab usia Ayu sudah pas untuk melakukan hal-hal dewasa.
"Mmffttt.." Ayu mendorong kedua bahu Martin karena kehabisan oksigen. Martin pun melepaskannya sembari menatap Ayu sayu.
PLAK!
Ayu menampar pipi kiri Martin dengan keras, sehingga sedikit meninggalkan bekas merah. Sedangkan Martin hanya diam menerima tamparan tersebut, baginya rasa tamparan tersebut tak lebih seperti di gigit nyamuk.
"Gilaa! Daddy benar-benar sudah gila! Minggir! Ayu mau keluaar!" Ayu mengamuk seraya berdiri, saat akan melangkah pergi, tiba-tiba Martin menarik pinggangnya sehingga ia terjatuh tepat di pangkuan Martin.
Saat berdekatan dengan Ayu hasratnya selalu terpancing, dan sekarang ia mencumbu Ayu bahkan memangku Ayu membuat bir-ahi-nya benar-benar ingin tersalurkan.
Tahan Martin... Tahan..
"Dengarkan aku dulu, aku akan jelaskan semu-
"Gak mau! Daddy pasti bohong! Lepas Dad Ayu mau ke kamar Ayu!"Pekik Ayu lagi mengamuk.
Martin tidak mengindahkan permintaan Ayu, ia memeluk erat tubuh Ayu agar Ayu berhenti dari pemberontakan nya.
Dan akhirnya benar juga, Ayu kini terdiam, mungkin tenaganya sudah terkuras karena terlalu lama menangis. Hanya tinggal sesenggukan nya saja yang masih terdengar.
"Sudah?" Tanya Martin, namun ayu tetap masih diam.
"Sekarang dengarkan penjelasan aku ya.." Ucap Martin lagi, Ayu masih tetap diam, dan Martin anggap itu sebagai jawaban iya dari Ayu.
Martin mulai menceritakan semuanya tak peduli Ayu mendengarnya atau tidak. Mulai dari Rissa yang mengalami sakit parah, lalu meninggal dan menitipkan Ayu padanya, ia yang merawat Ayu tanpa menuliskan Ayu sebagai anaknya dalam Kartu Keluarga. Martin juga jujur bahwa sebenarnya ia tidak pernah menganggap Ayu sebagai putrinya, ia hanya menganggap Ayu sebagai anak yang dititipkan oleh sahabatnya. Martin ingin Ayu mengetahui semuanya tanpa ditutup-tutupi lagi.
Ayu terisak lagi dalam diamnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Martin. Ayu pun belum bisa menerima bahwa ia bukan anak dari seorang pria yang selama ini mengasuhnya.
"Lepas!" Ucap Ayu tiba-tiba sembari memaksa kedua tangan Martin agar dilepaskan dari pinggangnya.
"Enggak!" Tolak Martin tegas.
"Lepas! Saya mau pergi! Saya tidak pantas tinggal disini!"
"Enggak! Rumah ini rumah kamu! Rumah kita! Dan selamanya kamu akan disini?" Kekeh Martin semakin mengeratkan pelukannya.
Ayu menggeleng histeris, ia benar-benar merasa tidak pantas tinggal di rumah ini lagi. Berarti selama ini ia hanya menjadi beban orang lain.
"Tolong lepasin saya Tuan, saya gak mau merepotkan Tuan lagi.." Pinta Ayu dengan suara melemah, berharap Martin mau melepaskannya.
Martin diam tidak menjawab, ia tidak suka Ayu memanggil dengan sebutan seperti itu, ia harus segera memikirkan cara supaya Ayu tidak pergi dari Mansion ini, walaupun banyak penjaga tapi tetap saja ia khawatir Ayu kabur darinya.
Sekalipun aku tidak akan membiarkan Ayu pergi, Ayu sudah menjadi milikku! Dan akan tetap menjadi milikku!
skip..malas gw baca😪