Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 (Ketakutan Yang Tersembunyi)
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari
Perhatikan tulisan tercetak miring adalah mimpi, khyalan atau isi hati!
.
.
.
Uap teh hangat mengepul kepermukaan. Ketiga manusia bersisian tak satupun membuka suara. Membiarkan denting jam terdengar jelas bersama dengan deru napas yang membaur. Suasana yang tercipta terasa begitu mencengkam. Bibir bawah merah merekah basah di gigit perlahan. Usapan pada punggung tangan lembut membawa iris terang yang meredup bertatapan dengan iris hijau milik gadis cantik berambut emas itu.
"Bagaimana jika kau berterus-terang terlebih dahulu?" Rebecca memberikan usul dengan hati-hati.
"Akan terjadi kehancuran jika itu di ketahui, Re!" kini Leo ikut ambil suara.
Aurora melirik sahabat cantik nya yang masih mengusap punggung telapak tangannya dengan lembut. Jujur mungkin akan membuat nya lega. Namun di sisi lain efek yang akan tercipta akan sangat menakutkan. Baik dari pihak dalam maupun luar. Ini bukan rahasia yang kecil! Rahasia besar yang benar-benar akan membuat siapa saja tersenyum pongah pada almarhum kakaknya. Dan Aurora tak mau kakaknya mendapatkan hinaan besar atas apa yang terjadi.
"Ya, aku tau. Namun setidaknya jujur lebih baik agar saat kebenaran mencuat ke permukaan tidak akan menyiksanya," jelas Rebecca dengan pemikiran dewasa.
"Di sini, bukan satu rahasia yang sengaja di sembunyikan. Tapi ada dua arah mata pedang yang di permainan. Jika salah dalam arah, bisa jadi semua orang yang berada di sini tersakiti, Re!" tutur Leo dengan nada pelan,"Terutama Sora. Bayangkan perasaan anak itu Re! Meskipun ia terlihat begitu kalem dan begitu dewasa. Ia masih anak-anak yang tak pantas mendapatkan penghinaan atas masalah orang dewasa," lanjut Leo memperingkatkan. Jika di sini ada anak di bawah umur yang juga ikut terserat akan masalah besar.
Rebecca bungkam. Gadis ini melupakan jika Sora Dirgantara akan tersakiti dan merasa di khianati oleh orang tuanya. Bahkan orang dewasa saja tidak akan sanggup menerima masalah ini. Apalagi anak itu masih berusia enam tahun lebih. Roy Amanah mendatangi Nyonya muda Dirgantara itu dengan selembar surat kusam. Aurora tak tau dari mana Roy mendapatkan syarat tes DNA antara dirinya dan anak itu. Meski Aurora mengetahui kebenaran tentang semuanya. Wanita ini memilih bungkam bukan lantaran takut akan rasa sakit yang nanti ia terima. Namun penghinaan pada almarhum kakak berserta gadis kecil tak bersalah itulah yang membuat ia merasa ketakutan setengah mati.
"Aku harus bagaimana?" tanya Aurora melirih.
Rebecca mendesah kasar. Sedangkan Leo, pria itu memilih duduk dari sofa. Ia tak suka melihat wanita menangis. Jika nada yang terhempas sudah serendah itu. Maka sudah pasti, ada bulir bening yang akan memperlihatkan dirinya. Leo melangkah menuju balkon hotel. Ia dan Rebecca sudah keluar dari kediaman Jendral besar itu. Karena merasa tak enak hati, setelah perkataan gilanya pada sang Jendral. Dari pada menimbulkan kecurigaan dan juga kecemburuan pada sang Jenderal. Leo dan Rebecca memilih menyewa hotel dengan dua kamar saja. Untuk beberapa hari, sebelum kembali ke Amerika.
****
Manik mata milik Aurora mengedar liar. Rumah besar yang sudah sangat lama tak pernah ia injak lagi. Terlihat begitu indah dengan sinar-sinar gemerlap. Ada rasa meragu hanya untuk membuka pintu kayu itu. Seakan rasanya begitu berat. Gelak tawa keras membuat jantung nya berdegup kencang. Tangannya meraih ganggang pintu, sebelum mendorong pintu kayu besar hingga terbuka lebar.
Ke dua matanya memanas. Melihat sosok yang sudah sangat lama tak pernah lagi ia lihat. Wanita cantik bermata rubah itu menggelitik pinggang ke dua gadis remaja. Gelak tawa dari ketiganya mengalun keras.
"Suda—ah! Ma!!"
Itu adalah suaranya. Ani , berhenti melakukan kegiatan menggelitik. Nana Wijaya terlihat bersandar di pundak kanan sang Ibu. Sedangkan Aurora bersandar pada pundak sebelah kiri Ani. Ke tiga nya mengatur napas yang masih memburu karena kegiatan yang mereka bertiga lakukan.
"Mama!" Seru Aurora melangkah lebar. Namun langkah itu terhenti kala melihat lelaki di depan sana memeluk leher sang Ibu dari belakang. Mengecup puncak kepala Ani. Perlakuan manis dari Rian Wijaya membuat ke dua putrinya mengerang jijik. Sedangkan sang pelaku malah tertawa renyah.
Ah! Ayahnya begitu—dulu. Sangat hangat dan juga penuh kasih sayang.
"Apa ke dua tuan putri ku juga ingin di kecup sayang?" Tanya Rian melepaskan belitan tangan nya di leher sang istri. Sebelum memutari sofa, menerkam Aurora yang memberontak kala kecupan di layangkan oleh sang Ayah.
Aurora tersenyum di sela air mata yang mengalir. Jujur, di balik relung hatinya Aurora sungguh merindu. Merindukan kehangatan seperti itu. Merindukan kehangatan dan cinta kasih ke dua orang tuanya.
Pupil mata Aurora melebar. Kala tiba-tiba saja rumah yang ia masuki berbuah menjadi tempat lain.
"Aurora!"
Suara lembut memanggil nya. Kepala Aurora menoleh kebelakang. Menatap sang pemilik nada.
"Kakak Nana!" Balas Aurora berlari. Memeluk wanita cantik berbagai darah dengan nya.
Nana Wijaya menyambut sang adik. Merentang kan tanyanya pada Aurora. Membawa tubuh langsing itu masuk ke dalam pelukannya. Rindu yang membucah hilang begitu saja. Tidak ada yang melepaskan pelukan yang begitu erat. Air mata mengalir semakin deras.
"Sayang!" panggilan membuat kelopak mata basah terbuka perlahan. Pelukan erat mengendur kala aroma permen karet tercium jelas.
"Ka—kak?" tanya Aurora seakan tidak yakin jika pria yang kini melepas kan pelukannya dengan lembut adalah suaminya.
Dahi Aurora mengerut kala iris matanya sudah dapat melihat jelas sosok yang kini tidur di samping nya. Dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Senyum yang di tampilkan di sungguh menenangkan.
"Kenapa menangis?" Bara mengusap bekas air mata yang terlihat jelas.
Aurora bangkit dari posisi tidurnya dengan perlahan. Duduk di samping Bara. Pria Dirgantara itu melakukan hal yang sama. Duduk di samping Aurora mengusap pipi chubby sang istri dengan lembut.
"Kau mimpi buruk lagi?" Ujarnya kini merangkul tubuh Aurora. Membawa tubuh langsing sang istri masuk ke dalam pelukannya. Telapak tangan besar nya mengusap pelan punggung belakang Aurora.
"Kenapa kakak berada di rumah?" tanya Aurora terdengar samar di rungu Bara.
"Aku merasa gelisah. Karena tidak tidur di samping mu," ujar Bara membawa garis senyum terangkat tinggi.
Bug!
Satu pukulan manja di dada bidang nya membawa tawa pelan. Bara Dirgantara semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.
"Sudah bisa menggombal ya, Jenderal Dirgantara!" cibir Aurora.
"Tidak sayang. Aku tidak menggombal, ini adalah sebuah fakta yang tak bisa aku sembunyikan," balasnya tanpa ragu.
Garis bibir tinggi berubah menjadi tawa geli. Yang menular, pria Dirgantara itu ikut terbawa. Meski sebenarnya perkataan yang di paparkan olehnya cukup menggelitik hati. Bara yang dulu—sekali, jikalau mendengar perkataan semanis itu dari teman-teman nya pada wanita lain akan merasa mau muntah. Saking tak sukanya. Dulu ia berpikir, teman-teman begitu berlebihan dan begitu bodoh. Sebelum benar-benar merasakan hal seperti itu. Ternyata kata-kata yang begitu menjijikkan itu benar-benar fakta yang tak bisa di tepis.
Ia merasa kesulitan tidur jika tanpa sang istri di samping nya. Bahkan beberapa kali, Kevin mengerang kesal di atas tempat tidurnya. Hanya karena ranjang di atas berdecit terus menerus. Pertanda jika sang pemilik tubuh tengah gelisah. Beralasan jika ia tak bisa tidur sendiri. Bara mengganggu tidur Kevin. Namun yang terjadi bukan nya tidur. Bara malah membuat pria imut itu ikut tak bisa tidur. Hingga Kevin mengusir Bara tengah malam dari kamarnya. Hingga Jenderal tinggi itu memiliki pulang ke rumah kediaman nya.
"Ck!" decak Aurora sebelum kembali melayangkan pukulan manja.
***
"Kamu harus ikut!" desak Bara dengan wajah datar khas milik nya.
Aurora cemberut. Menyebalkan! Satu kata yang terlintas di otaknya.
"Kalau aku ikut. Maka Sora tidak akan ada yang mengurusnya," bantah Aurora. Mengingatkan jika tuan putri tidak akan ada yang mengurus jika dirinya ikut Bara ke Ukraina.
"Hanya sebulan saja." Desak Bara berdiri dari duduknya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai bak anak kecil yang ingin di belikan mainan.
Aurora menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Sedangkan di ambang pintu Sora berdiri dengan ekspresi lucu. Melihat tingkah kekanak-kanakan sang papa.
Tawa Susi, Ibu dari Jenderal tinggi itu pecah sudah. Hilang sudah! Wibawa Jenderal tinggi itu. Baik di depan sang Ibu, sang putri bahkan Baby sister Sora juga tak tahan. Aurora sebisa mungkin menahan tawanya. Bukan lantaran wajah cenggo Bara yang begitu mengenaskan. Seakan tengah Ketahun basah mencuri sesuatu. Sungguh sangat lucu!!!
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi