Kisah cinta Dokter cantik dan seorang Pengacara tampan yang dingin. Dipersatukan oleh perjodohan. Dipertemukan oleh takdir cinta keduanya.
Akankah mereka berdua pada akhirnya bersenyawa? 💕💕💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RieyruNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Doni yang berada di ruang depan masih setia menatap layar persegi yang ada di depannya.
Doni melirik cewek cantik yang mengikuti Hyorin sedari tadi.
"Dokter Orin, temannya tidak dikenalin nih."
Celetuk Doni saat melihat Hyorin dan Nita yang sedang mengangkat barang.
"Kenalannya nanti saja ya Kak, lagi repot nih."
Sindir Hyorin yang melihat Ayesh dan Doni diam saja tidak membantu sekedar membawakan barang ke dapur.
"Kode ini Yesh, loe nggak peka banget jadi cowok." Doni menatap Ayesh.
"Loe juga Don!"
Hyorin dan Nita sibuk di dapur, sedangkan Ayesh dan Doni tetap setia di ruang depan.
Ayesh nampak sibuk dengan ponselnya, sedangkan Doni asyik dengan acara televisi yang sedang ditontonnya.
Bau harum masakan Hyorin dan Nita sampai ke ruang depan memancing rasa lapar pria yang sedang asyik dengan dunianya masing-masing.
Beberapa saat kemudian Hyorin memanggil mereka berdua untuk sarapan yang sebenarnya sudah kesiangan.
Hyorin menata masakan di atas meja, kemudian mereka duduk di meja makan untuk segera menyantap makanan yang cukup menggugah selera.
Mereka makan dengan hidmat tanpa berbicara apapun.
"Wah ini sih bakalan bikin Ayesh betah di rumah terus." Celetuk Doni tiba-tiba.
"Iyalah...emangnya loe yang suka kelayaban."
"Kelayaban juga sama loe Yesh."
"Sembarangan loe Don."
Hyorin dan Nita hanya terdiam mendengar percakapan kedua pria itu.
"Eh ya Rin, kapan-kapan kita piknik gimana? Kita barbequenan bareng kayaknya asyik ya." Ayesh bertanya kepada Hyorin.
"Iya Mas boleh."
"Dokter Orin temen cantiknya kapan nih dikenalin?"
"Iya Kak, kenalin ini Nita sahabat aku Kak."
Doni langsung menyambut tangan Nita bahkan sebelum Nita mengulurkan tangannya.
"Nita Kak."
Ayesh dan Hyorin hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Doni terhadap Nita, terlihat sekali jika Doni tertarik dengan sahabatnya itu.
"Idih loe Don nggak bisa lihat cewek cantik langsung nyambar saja."
Doni hanya nyengir mendengar pernyataan Ayesh.
"Namanya juga usaha Yesh."
"Usaha terus kapan suksesnya Don?" Ledek Ayesh lagi.
"Sudah sana kalian kembali ke ruang depan, biar kita bersihkan ini." Hyorin menunjuk piring-piring kotor yang ada di atas meja.
Hyorin dan Nita membereskan semua alat masak dan piring-piring bekas makan mereka.
"Mas aku sama Nita pulang dulu ya sudah siang soalnya Mas."
"Nggak pulang nanti sore aja Rin?"
"Kita mau jalan-jalan ke tempat lain Mas." Hyorin berkata sambil nyengir.
"Kita anterin deh." Doni menawarkan diri.
"Tidak usah Kak, aku bawa Motor."
"Dek Nita bagi nomornya dong, Kakak hubungin entar." Doni bertingkah cukup genit kepada Nita.
"Jangan mau Nit, dia sukanya modus." Ayesh mengejek temannya.
"Kasih aja Nit, Kak Doni orangnya baik kok."
Hyorin ikut menimbrung.
Nita kemudian bertukar nomor ponsel dengan Doni. Setelahnya mereka pamit untuk pulang.
****
"Rin kamu hutang penjelasan kepadaku." Ucap Nita begitu mereka sudah di jalan.
"Nanti aku ceritain Nit."
"Trus Dokter Indra gimana Rin?"
"Dia akan baik-baik saja Nit, aku tidak mau mengecewakan Ayah."
"Jadi maksud kamu, kalian di jodohkan?"
Hyorin hanya mengangguk dan terus berjalan menuju rumah Nita.
Setelah perjalanan sekitar Lima Belas menit, mereka sampai di rumah Nita. Hyorin langsung berpamitan kepada Nita tanpa mampir terlebih dahulu.
"Aku langsung pulang saja ya Nit, salam buat Ayah dan Ibu kamu ya."
"Beneran nih nggak masuk dulu Rin?"
"Iya Nit kapan-kapan aku main lagi ya. Kalau Kak Doni macam-macam bilang sama aku Nit, biar aku laporkan ke Mas Ayesh."
"Ok siap Rin."
Hyorin melambaikan tangan dan berlalu pergi dari rumah Nita.
Hyorin sampai di rumah tepat jam Dua siang, di depan pintu dia disambut oleh Silvia yang sedang bersama teman-temannya yang sudah rapi mau pergi.
"Ini nih girls cewek murahan perebut calon suami orang." Sarkas Silvia.
"Apa maksud kamu Silvia!"
"Oh cewek model gini jadi saingan kamu Sil, nggak level banget sih." Teman Silvia ikut mengejek Hyorin.
"Permisi aku mau masuk!" Hyorin hendak masuk namun dihalangi.
"Kamu itu sebaiknya pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali!" Suara Silvia meninggi.
"Ini rumah Ayahku, kamu tidak punya hak untuk melarangku masuk ke rumah Ayahku sendiri."
"Apa kamu bilang Dokter Orin? Dokter Pribadi yang keganjenan, perebut milik orang lain!"
Silvia menjambak rambut Hyorin dan menampar gadis itu.
"Dasar wanita tidak tahu malu!" Silvia mendorong tubuh Hyorin hingga tersungkur.
Silvia nampak kesetanan. Sikapnya begitu angkuh dan memanfaatkan kondisi rumah yang sepi tanpa adanya Ayah Hyorin.
Hyorin meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang terasa panas. Darah segar tampak mengalir di sudut bibirnya.
Hyorin memang tidak melakukan perlawanan apapun, dia tidak mau semakin memperkeruh keadaan.
"Ayo bangun wanita murahan! Lawan aku, apa hanya segitu kemampuan kamu hahh..!!!" Silvia berjongkok hendak menjambak dan menampar Hyorin lagi.
"Hentikan!" Suara bass seorang Laki-laki membuat Silvia mengurungkan niatnya, Silvia paham betul suara milik siapa itu.
"Jangan kamu sakiti dia!" Sambung Laki-laki itu.
"Kak Ayesh...." Silvia dibuat salah tingkah sebab apa yang dia lakukan kepergok oleh Laki-laki yang dia sangat inginkan.
Teman-teman Silvia justru terpukau dengan ketampanan Ayesh dan kewibawan yang terpancar dari Ayesh. Mereka saling sikut dengan tatapan mata yang tidak lepas dari wajah Ayesh.
"Kak Ayesh ini tidak seperti yang kamu lihat, dia yang memulai jadinya aku emosi." Kilah Silvia membela dirinya.
"Lalu dengan kamu mengeroyok Orin itu sebuah hal yang bisa dimaafkan begitu saja?"
"Kalian sudah berbuat kriminal dengan menganiaya orang lain. Kalian bisa aku pidanakan!" Sambung Ayesh sedikit mengancam.
"Tolong maafkan aku Kak." Mohon Silvia.
Ayesh tidak lagi menggubris ucapan Silvia.
Ayesh mengangkat tubuh Hyorin dan membawa tubuh gadis itu masuk ke dalam Mobilnya. Kemudian pergi meninggalkan Silvia dan teman-temannya.
Silvia dibuat semakin kesal, melihat Ayesh yang lebih memperhatikan Hyorin dibandingkan dirinya.
"Eh Sil jadinya ini siapa sih yang sebenarnya perebut? Kamu atau saudara tirimu itu?"
"Iya nih, bahkan Laki-laki itu lebih memilih saudara tiri kamu dibandingkan kamu Sil."
Teman-teman Silvia terus membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Silvia jengah, sebab memang benar adanya dari awal Ayesh bahkan tidak pernah tertarik kepada dirinya.
"Kalian ini sebenarnya teman-temanku apa bukan sih, cukup ya aku nggak mau dengar lagi. Kalau kalian tetap cerewet kita tidak usah pergi saja. Acara benja-belanja gratis batal!" Ancam Silvia sambil melangkahkan kaki hendak kembali memasuki rumah. Silvia merasa jengah dengan pertanyaan dari teman-temannya yang terkesan menyudutkannya.
"Jangan batal dong Sil, kita minta maaf deh." Ucap teman Silvia.
"Iya Sil kita minta maaf ya." Ucap teman Silvia yang lain.
"Ok girls, lain kali kaya gini lagi tidak akan aku maafkan!" Silvia memperingatkan.
****
Ayesh membawa Hyorin ke Apartemennya.
Ayesh merasa ikut prihatin dengan kondisi Hyorin yang tampak acak-acakan saat ini.
Gadis itu sepanjang perjalanan hanya terdiam.
"Rin bagian mana yang sakit biar aku bersihkan dulu." Ayesh sudah siap dengan kotak P3Knya.
"Biar aku bersihkan sendiri Mas, aku tidak apa-apa."
"Bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa sedangkan kamu terluka seperti ini." Ayesh begitu mengkhawatirkan Hyorin.
"Mas aku hanya ingin sendiri dulu, bisakah kamu meninggalkanku sejenak."
"Baiklah Rin, aku bersihkan lukamu dulu. Setelah itu masuklah ke kamarku jika memang kamu ingin sendiri."
Ayesh dengan telaten membersihkan luka di bibir Hyorin dan mengobatinya. Dia memandang gadisnya dengan sendu, bahkan dia ikut merasakan apa yang Hyorin rasakan.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuknya justru menjadi tempat yang paling membuatnya terancam.
Luka hatinya tentu lebih menganga dibandingkan luka pada fisiknya.
Pandangan mereka saling bertemu, Hyorin menatap Ayesh lekat.
"Terimakasih sudah menolongku Mas." Ucap Hyorin lirih sambil memegang pipi sebelah kanan Ayesh.
Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan faforit ya kak. 😉😉😉
Terimakasih Kakak-kakak yang terus mendukung Aithor. Big thanks ya Kak 💕💕💕
tetap semangat thorr
klau jovvanka menyakiti Orin?