Diana, seorang gadis bisa yang di anggap seorang Wanita malam oleh seorang pria. Gadis yang bahkan belum lama ini ia kenal. Pria bernama Andra Atmaja Wiguna berfikir jika Diana adalah wanita malam yang bahkan tidak memikirkan perasaan orang tuanya.
Tetapi saat Andra tau yang sebenarnya, pria itu malah menyatakan perasaannya dan melamar Diana untuk menjadi istrinya.
Apa yang akan terjadi?
Apakah Seorang CEO dari perusahaan terkenal bisa setia dan mencintai Diana sepenuh hati. Atau ada sesuatu yang membuatnya ingin menikahi Diana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laksmi 93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apa tujuan mu menikahi Diana
Rafa pulang ke rumahnya pukul 4 sore, tetapi ia tidak melihat istrinya di rumah. Saat di kamar tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Rafa langsung menyuruh orang Yanga da di luar untuk Masuk. beberapa saat kemudian muncullah Ibunya dari balik pintu.
"Ma." Sapa Rafa saat melihat ibunya menghampiri
"Sudah selesai sayang? " tanya Sandra. Wanita itu duduk di tepi ranjang tak jauh dari Rafa duduk
"Sudah, Rafa hanya tinggal bersiap saja. " jawa Rafa. "Oh ya Ma, Diana kemana? " tanya Rafa lagi.
"Bibik Bilang dia pergi dengan Kirana. Mungkin bosan di rumah, soalnya tadi Mama tinggal tidur. " jawab Sandra.
"Oh."
"Boleh Mama tanya sesuatu Rafa. "
"Tanya saja Ma. "
"Apa tujuanmu menikahi Diana? " tanya Sandra.
Sandra bukan tidak sadar dengan perubahan sikap Rafa. Hanya saja Sandra masih yakin jika niat putra nya baik kepada Diana.
Tangan Rafa yang sedang menutup koper terhenti.ekpresi Wajahnya terlihat berubah, tapi secepat mungkin Rafa mengubah raut wajahnya agar ibunya tidak khawatir.
"Rafa belum bisa menjelaskan pada Mama tentang ini. tapi jika sudah waktunya, Rafa akan menceritakan semuanya. Lagi pula Diana juga tidak mencintai Rafa Ma, jadi itu impas. " jawab Rafa
"kamu yakin Diana juga tidak mencintai kamu? Mama hanya tidak ingin ada penyesalan setelah semua nya terjadi."Ucap Sandra
Rafa menghela nafas pelan." Rafa cukup yakin. Biarkan semua berjalan dulu, Rafa hanya tidak ingin memaksakan kehendak Rafa untuk Diana."
"Apa semua ini ada hubungannya dengan Alandra? " tanya Sandra.
Rafa diam, membuat Sandra yakin jika semua ini ada hubungannya dengan wanita itu.
"Mama tidak mau kamu menyakiti Diana seperti ini Rafa. Jika kamu masih mengharapkan Alandra kembali, kenapa harus menikahi Diana yang tidak tahu apapun tentang masalah kamu. "
"Alandra ada di sini Ma, dia ada di kota ini. " ucap Rafa dengan suara lemah putus asa.
"Jadi kamu sudah bertemu dengannya! Astaga Rafa, kenapa kemu jadi seperti ini? apa yang ada di fikirkan kamu sebenarnya. Seharusnya Mama mencegah pernikahan kalian. "
"Ma, alasan Rafa menikahi Diana tidak ada hubungannya dengan Diana. Ada lawan lain yang membuat Rafa harus menikahi Diana dengan cepat. Suatu saat Mama akan tahu alasan Rafa. " ucap Rafa agar Ibunya tidak terlalu memikirkan mereka dan akan membuat kesehatan nya menurun.
"Ma,Rafa harus bersiap." ucap Rafa lagi
"Ya sudah, Mama kembali ke kamar Mama. kalau kamu sudah mau pergi, cari Mama di kamar, ok. "
Rafa mengangguk, setelah Sandra pergi Barulah Rafa mempersiapkan dirinya.
Tak lama kemudian Rafa sudah selesai bersiap. koper yang akan dia bawa juga sudah di bawa ke bawah dan di masukan ke dalam mobil oleh satpam rumah mereka.
saat Rafa akan pergi Diana juga pulang. Ia melihat suaminya sudah akan pergi dan bergegas mendekat.
"Mas sudah mau pergi? kenapa tidak menelpon. " Tanya Diana.
"Mas tidak ingin mengganggu mu. " jawab Rafa
"Ehh, tidak seperti itu Mas. Maaf Diana tidak mengabari Mas kalau Diana pergi sama Kirana. " ucap Diana. Dia sangat malu karena tidak memperdulikan Rafa yang akan pergi ke luar kota.
"Tidak apa-apa. Mas pergi dulu, tolong jaga Mama dan Kanaya. " ucap Rafa.
Diana mengangguk lalu meraih tangan Rafa untuk di cium punggung tangannya. Rafa yang baru pertama kali Ada yang melakukan itu hanya tersenyum. terlebih lagi yang melakukannya itu istri yang tidak pernah ia cintai.
Setelah Mobil Rafa keluar dari halaman rumah Diana langsung masuk ke dalam. Ia tidak melihat Kanaya ataupun Ibu mertuanya di ruang tamu, jadi Diana memutuskan untuk langsung pergi ke kamar untuk mandi.
____
Diana termenung di balkon kamarnya, entah apa yang Ada di fikirkan nya saat ini. Tapi yang jelas Diana sedang memikirkan suaminya. sejak Rafa pergi empat jam yang lalu, pria itu tidak mengabari sama sekali. Diana tahu mungkin Rafa tidak memiliki nomor ponselnya, tapi bukankah dia bisa memintanya dari Kanaya.
Diana tidak tahu kenapa dirinya seperti ini, padahal dia tahu jika Rafa tidak akan melakukan hal itu. Rafa terlalu sibuk untuk menyempatkan waktu memikirkan istri yang mungkin tidak Rafa inginkan.
suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Diana bergegas untuk membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang.
"Di, lo lagi istirahat ya? " tanya Kanaya
"Ehh, gak kok. Gue tadi lagi Ada di balkon." jawab Diana.
"Eh,Masuk yuk. " ajak Diana
Kanaya masuk ke dalam kamar, mereka kini duduk di balkon agar lebih menikmati kebersamaan.
"Muka kusut gitu, kenapa? Lagi Ada masalah? " tanya Diana.
"Gue denger abang pergi ke luar kota ya? padahal kan dia tahu gue sama Mama mau pergi ke Singapura. Dia malah ninggalin lo sendiri di rumah. " jawab Kanaya.
"muka Lo kusut cuma karena itu? " tanya Diana
"Ya iyalah, baru juga nikah udah di tinggal-tinggal gitu. harusnya kan sekarang kalian lagi menikmati kebersamaan, mesra-mesraan gitu. " ucap Kanaya cepat.
Diana tertawa geli mendengar ucapan Sahabatnya yang kini menjadi adik iparnya itu. Diana tidak habis fikir Kanaya bisa memikirkan dirinya sampai sejauh itu.
"Kok lo malah ketawa sih! gak Ada yang lucu tau! " ucap Kanaya dengan nada kesal.
Diana menghentikan tawa nya lalu menggeser tubuhnya agar bisa bertatapan dengan Kanaya.
"Gini ya Nay. Yang pertama, gue udah biasa sendiri. Yang ke dua, waktu gue sama Kakak lo itu masih panjang. dan yang ke tiga, kalau mikirin gue terus lo gak akan fokus sama kesehatan Mama. Bel lagi lo harus mikirin kuliah lo kan. Jadi gue mau lo fokus ke Mama aja. gue gak punya masalah sama kakak lo, jadi gak usah lo khawatirin. " ucap Diana.
Kanaya mengerucut kan bibirnya. "Lo yakin? " tanya Kanaya.
"Yakin Sayang. " jawab Diana.
"Kapan Lo sama Mama berangkat. "
"Lusa. Besok gue harus bawa Mama ke rumah sakit untuk pemeriksaan terakhir sebelum pergi. " jawab Kanaya.
"Yaudah, kalau gitu lo istirahat gih. udah malem juga. jangan sampai lo sakit, kasian Mama."
Kanaya mengangguk, ia lantas pamit ke kamarnya. Diana menatap punggung Kanaya yang kini menghilang dari balik pintu. Diana termenung di tempatnya saat ia kembali sendiri.
.
.
Lanjut thor