Hardi, seorang ayah tunggal yang tidak lagi percaya akan cinta. Dia bertekad untuk merawat putri semata wayangnya yang masih berusia 3 tahun.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga putri nya tersebut dia yakin dia tidak akan membutuhkan pendamping untuk dirinya bahkan dia sangat khawatir akan kasih sayangnya yang nanti bisa terbagi. Akankah Hardi tetap dengan prinsipnya? Ataukah dia akan goyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Achdia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kambuh
Pagi ini Sarah ingin melakukan kegiatan ringan karena memang hari ini hari minggu, dia menyiram bunga di taman belakang. Dia sangat senang melihat banyak bunga disana, padahal disini tidak ada nyonya rumah sebelum sarah datang. Tapi begitu banyak bunga yang di tanam indah di sini.
Sarah hendak melangkahkan kakinya hendak berpindah dari tempat berdirinya namun tiba-tiba kakinya terpeleset dan hilang keseimbangan. Sarah hampir saja terjatuh untung saja Hardi segera menangkapnya hingga Sarah selamat.
"Hah... Lepaskan pak" Sarah menepis tangan Hardi di pinggangnya, tubuhnya bergetar dan wajahnya mulai pucat.
"Kau ini kenapa? sudah aku tolong malah marah" Hardi Pun kesal dengan perlakuan Sarah.
Begitu Hardi menatap Sarah, ia melihat tubuh Sarah diam terpaku dengan bergetar dan wajah yang memucat seperti cemas atau ketakutan.
"Kau kenapa?" tanya Hardi coba mendekati Sarah.
"Ja...jangan mendekat, aku ti..tidak apa-apa" tolak Sarah melangkah mundur ketika Hardi mendekatinya.
"Sebenarnya ada apa? kau terlihat takut terhadapku. Tubuhmu bergetar dan wajahmu pucat. Sekarang dahimu juga mulai berkeringat" ucap Hardi jadi khawatir melihat Sarah.
"Ti...tidak pak, aku baik-baik saja" Sarah pun pergi setengah berlari meninggalkan Hardi.
Hardi yang masih berdiri terdiam memandangi Sarah yang berlalu menjauh. Dia merasa respon Sarah sangat berlebihan, dia hanya mencoba menolongnya bukan untuk membunuhnya.
"Setelah aku pegang, dia seperti takut padaku, atau mungkin kejadian dulu begitu membuatnya trauma. Aku harus segera memanggil dokter, aku merasa khawatir melihatnya" batin Hardi.
Tak Hardi ketahui, Lia dan bi Lilis melihat kejadian tersebut. Mereka pun merasa aneh dengan kedua majikannya itu. Jika tak boleh menyentuh terus selama ini mereka menikah untuk apa, pantas saja dari awal pernikahan mereka sudah merasa janggal dengan kejadian-kejadian yang tak semestinya dilakukan pasangan menikah.
Sarah duduk di tempat tidur meringkuk memeluk kakinya, pikirannya membayangkan kembali kejadian yang dilakukan Hardi padanya waktu itu. Matanya mulai memerah mengeluarkan airmata, bibir dan tubuh yang bergetar merasa ketakutan.
"Jangan... jangan... aku mohon... lepaskan" gumam Sarah yang bertingkah aneh.
Rasa traumanya kembali ia rasakan, trauma yang begitu dalam. Membuatnya tak bisa mengendalikan rasa takutnya terhadap Hardi yang sekarang telah menjadi suaminya.
Hardi mengikuti Sarah hingga ke dalam kamar, ia melihat Sarah yang seperti penuh rasa takut. Tubuhnya masih bergetar, keringat pun mulai membasahi tubuhnya. Kadang ia mendengar Sarah bergumam tak jelas seperti memaki, marah dan tiba-tiba menangis.
Karena begitu khawatir melihat keadaan istrinya, Hardi memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Sarah. Tak berapa lama dokter pun mulai memeriksa keadaan Sarah yang memang sekarang sudah berbaring tenang dan tubuhnya sudah tidak bergetar lagi setelah di suntik obat penenang. Dokter pun menjelaskan hipotesisnya kepada Hardi di luar kamar.
"Begini pak, bu Sarah tidak menderita penyakit apapun, semuanya normal tak ada yang perlu di khawatirkan dari Fisiknya. Tapi dia sedikit terganggung dari mentalnya, maksud saya mungkin ada suatu kejadian yang sangat mengguncang jiwanya hingga menimbulkan rasa trauma yang mendalam. Mungkin ada kejadian seperti itu!, dilihat dari responnya terhadap pak Hardi, mungkin itu trauma yang bersangkutan dengan anda. Maaf atas kelancangan saya" jelas dokter panjang lebar.
Hardi pun mengingatnya kembali, apa benar jika kejadian itu sungguh membuat Sarah jadi seperti ini. Rasa bersalah Hardi pun kembali menghantuinya.
"Saya hanya akan meresepkan vitamin dan obat antidepresi saja, semoga ibu cepat sembuh. Dan saya sarankan untuk memanggil psikiater untuk lebih membantu pemulihan pasca trauma bu Sarah" dokter memberikan resep obatnya lalu pamit untuk pulang.
Hardi menatap lekat ke arah Sarah yang sekarang sedang tertidur lelap setelah dokter menyuntikannya obat penenang, ia menggenggam tangan kanan Sarah dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku sarah, aku tak bermaksud menyakitimu hingga kau jadi seperi ini. Ternyata kau lebih menderita dari yang aku bayangkan. Aku janji akan menyembuhkanmu dari traumamu selama ini, mulai hari ini aku akan mencoba baik terhadap mu" batin Hardi merasa bersalah.
Bersambung*......
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
black care perhatian lgi, sabar sarah sabar bntar lgi bucin akut kynya