Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bella menarik Fardhan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, dia tersenyum samar saat mendengar suara bantingan pintu dari luar, menandakan jika Keyla sudah pergi.
"Ular itu sudah pergi. Syukurlah." batin Bella lega.
"Dia sudah pergi, mau sampai kapan kau memegangi tanganku?" ucap Fardhan, membuat Bella tersadar dan langsung melepaskan tautan tangannya dari lengan lelaki itu.
"Ma-maaf."
"Aku tahu kau sengaja melakukan ini untuk memanas-manasi Keyla, pasti Ibu kan yang suruh?"
Bella tercengang. "Haaa? Dari mana kau tahu?"
Fardhan tertawa. "Aku tahu Ibu sedang pura-pura sakit agar kau nggak jadi pergi, dia tak ingin memberikan Keyla kesempatan untuk dekat denganku."
"Kau juga tahu itu?"
"Tentu. Aku tahu Ibu nggak punya riwayat sakit jantung dan dia juga terlihat baik-baik saja. Tapi aku nggak ingin membuat kalian kecewa karena gagal bersandiwara. Jadi aku ikuti saja."
"Tapi kenapa tadi kau meminta aku dan wanita itu berhenti karena takut mengganggu Ibu? Seolah-olah kau percaya Ibu memang sedang sakit."
"Tentu saja agar kalian berhenti berkelahi." jawab Fardhan.
Bella tertunduk malu, dia merasa seperti maling yang tertangkap basah. "Aku minta maaf."
"Nggak apa! Akting mu bagus, tapi aku berharap ajakan barusan bukan cuma sandiwara." bisik Fardhan, dia sengaja menggoda Bella.
Bella sontak mengangkat kepalanya dan menatap Fardhan dengan bola mata yang nyaris keluar.
"Aku hanya bercanda tadi, jadi lupakan saja!" Bella berbalik dan hendak keluar dari kamar tapi Fardhan sontak memeluknya dari belakang.
"Kau mau melarikan diri ya?" bisik Fardhan di telinga Bella sehingga membuat wanita itu merinding.
"Lepaskan tangan kotor mu dariku! Kau baru saja memeluk wanita itu!" Bella memberontak di dalam pelukan Fardhan.
"Dia yang memelukku, bukan aku yang memeluknya." protes Fardhan.
"Sama aja! Cepat lepaskan aku!!!" teriak Bella.
"Tidak akan! Kau duluan yang mulai menggodaku, aku nggak akan melepaskan mu." Fardhan semakin mengeratkan pelukannya dan menyeret Bella ke ranjang lalu menjatuhkan diri di atas kasur.
Bella yang panik semakin memberontak, berusaha melepaskan diri dari Fardhan dan akhirnya berhasil. Dia bergegas lari menuju pintu keluar, tapi Fardhan mengejarnya.
Belum sempat Bella membuka pintu, Fardhan langsung menangkapnya lagi dan memepetkan wanita itu ke dinding lalu mengung kungnya.
"Kau mau lari kemana?" tanya Fardhan sambil menatap lekat wajah Bella dengan jarak yang sangat dekat, membuat Bella risih dan gugup.
"Berhenti memandangi ku!"
"Bukankah kau ingin aku memandang mu? Aku sedang lakukan seperti yang kau mau." balas Fardhan.
"Aku nggak butuh! Sudah lepaskan!" Bella berusaha memberontak dengan wajah yang merah padam.
Fardhan menahan tawa melihat wajah gugup Bella, dan semakin getol menggoda istrinya itu.
"Kau cemburu kan?" goda Fardhan.
"Jangan kepedean! Siapa juga yang cemburu."
"Ya, tentu sa ...."
Fardhan tak sempat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dia melepaskan Kungkungan nya dari Bella dan bergegas mengambil ponselnya di dalam saku celana.
Dan kesempatan ini dimanfaatkan Bella untuk kabur dan segera keluar dari kamar. Fardhan tak lagi mengejar wanita itu, dia hanya tertawa puas karena berhasil menggodanya lalu menjawab telepon.
"Halo, ada apa?"
"Dhan .... Mamaku ...."
"Kenapa dengan Mamamu?" tanya Fardhan panik.
"Mama meninggal."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun."
***
Karina sedang membaca di ruang keluarga, tiba-tiba seorang pria datang dan mengagetkannya.
"Hai, bawel!"
"Mas Raka?" Karina membulatkan mata. "Kapan datang?"
"Barusan aja. Kamu sih baca bukunya serius banget, sampai nggak tahu aku datang." ujar lelaki bernama Raka itu.
"Iya, ni, Mas. Aku ada ujian besok, jadi harus belajar." jawab Karina.
"Bagus! Belajar yang rajin, ya." Raka mengusap pucuk kepala Karina. "Oh iya, Bella mana? Kok nggak kelihatan?"
Raka celingukan mencari sosok Bella, biasanya wanita itu pasti menyambut kedatangannya dengan riang.
"Oh iya, Mas Raka belum tahu ya kalau Bella sudah menikah?"
"Apa? Menikah?"
Karina mengangguk."Iya, baru juga tiga hari yang lalu."
"Menikah dengan siapa?" tanya Raka heboh.
"Dengan anaknya sahabat Ayah." jawab Karina santai.
"Bagaimana bisa? Kenapa nggak ada yang memberitahuku?"
Raka tak habis pikir, bagaimana bisa dia tak tahu jika teman kecilnya itu sudah menikah?
Hati Raka mendadak hancur dan luluh lantak, dia tak pernah menyangka jika kedatangannya disambut kabar menyakitkan ini.
"Pernikahannya sedikit mendadak dan hanya digelar sederhana saja, cuma dihadiri keluarga dan kerabat." sahut Karina, dia masih belum menyadari kegalauan Raka.
"Mendadak? Apa Bella ...?" Raka menatap penuh selidik.
"Ya nggaklah, Mas. Bella gantiin aku untuk menikah dengan anak sahabat Ayah itu."
Raka menautkan kedua alisnya. "Kok bisa?"
Karina pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Raka, rahangnya sontak mengeras mendengar cerita Karina itu.
"Tapi Mas Raka jangan bilang ke siapapun ya? Yang tahu masalah ini cuma keluarga kami saja."
Raka bergeming, dia tak bisa berpikir jernih. Hanya emosi dan amarah yang menyelimuti dirinya. Kenyataan yang dia dapatkan terlalu mendadak, hatinya benar-benar belum siap untuk menerima.
"Kenapa harus seperti ini? Apa kalian nggak berpikir, mungkin saja suaminya itu orang jahat. Kalian kan nggak mengenalnya dengan baik." ujar Raka tak terima.
"Kata Ayah, sahabatnya itu keluarga baik-baik dan Ayah yakin suami Bella juga pasti baik." balas Karina.
"Belum tentu orang tuanya baik, anaknya juga baik. Zaman dan pergaulan sudah berbeda, bisa saja anaknya nggak sebaik orang tuanya." sungut Raka penuh emosi dan berlalu pergi begitu saja.
Karina tercengang melihat ekspresi meledak-ledak Raka, dia bingung kenapa temannya itu terlihat sangat marah?
Selama lima belas tahun berteman, baru kali ini dia melihat Raka marah tanpa sebab yang jelas.
"Mas Raka kenapa, sih? Masa hanya karena nggak dikabarin aja, marahnya segitu banget? Aneh deh!"
Sementara itu Raka langsung menghubungi Bella, dia benar-benar ingin bicara dengan wanita itu.
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah