Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usianya. Tapi kenyataan berkata lain, terpisah jarak dan waktu membuat kisah cintanya kandas di tengah jalan.
Seiring waktu berjalan, Mega mulai menata hatinya kembali dan berdamai dengan masa lalunya. Lima tahun berlalu, Mega pulang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang dokter. Bukan lagi remaja tanggung yang manja dan cengeng seperti ucapan seseorang padanya dulu.
Pertemuannya kembali dengan Fajar Anugrah, seorang Insinyur Pertanian, pemilik banyak lahan dan perkebunan di desanya mulai mengusik hatinya. Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk memajukan desanya, dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada tawa, ada benci, ada cinta di balik cerita luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Berpamitan
Mega tersenyum puas setelah berhasil menyelesaikan semua urusannya di kota. Selama tiga hari penuh ia mengurus semua masalah yang berkaitan dengan pekerjaan lamanya dan kini ia telah benar-benar resign dari sana.
Setelah berpamitan dengan sesama rekan kerjanya yang lain, Mega menggunakan waktunya yang tersisa untuk berkeliling melihat-lihat seputar rumah sakit.
Sesekali ia berpapasan dengan para pasien yang dibawa keluar dari ruang operasi, diiringi suara tangisan keluarga pasien di belakangnya yang histeris saat mengetahui anggota keluarganya yang sakit tidak berhasil di selamatkan jiwanya. Suatu pemandangan yang kerap dilihatnya terjadi saat ia masih bekerja di rumah sakit ini.
Saat melewati ruang anak, samar didengarnya suara tangisan anak kecil dari salah satu kamar pasien. Mega berjalan mendekat dan menghentikan langkahnya sejenak, tersenyum melihat seorang ibu muda sedang berusaha menenangkan anaknya yang menangis saat dokter dengan dibantu seorang perawat hendak menyuntikkan jarum infus di tangannya.
Mega yang mengenali dokter yang menangani pasien anak kecil itu, perlahan memasuki ruangan tersebut.
“Dokter,” sapanya pada rekannya itu. “Sudah selesai?” tanyanya kemudian.
“Belum,” jawab dokter Wahyu sambil menoleh sekilas pada Mega.
“Sakit apa?” tanya Mega.
“DBD,” jawab Wahyu singkat. “Gimana, sudah beres urusannya. Aku lihat pak Heru ada di kantornya tadi pagi,” tanya Wahyu setengah berbisik sambil memberi kode pada Mega untuk membantunya.
Mega tersenyum maklum, lalu menganggukkan kepalanya pada ibu si anak dan bergerak mendekat.
“Halo ganteng, jagoannya mama kok nangis. Senyum dong,” Mega mengusap pipi mungil anak lelaki yang kini duduk bersandar di dada ibunya itu.
“Nama jagoan mama, Axel tante.” Ibu Axel balas tersenyum. “Axel nggak nangis kok tante, Axel pinter. Tadi Cuma kaget aja.”
“Coba lihat tante bawa apa?” Mega mengeluarkan permen lolypop berbentuk kartun dari dalam tas ranselnya, lalu memberikannya pada Axel.
Awalnya Axel tidak mau menerimanya, justru malah menepis tangan Mega. Ia kembali menangis dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan ibunya.
“Lucu banget tante permennya, gambar dora emon lagi. Tante tau saja, itu kartun kesayangan Axel tante. Pasti enak, tapi kalau Axel nggak mau biar buat mama aja ya. Boleh ya, tante.” Ibu Axel berusaha membujuk dan menghentikan tangis anaknya.
Axel lalu berpaling dan menatap Mega. Perlahan Axel mengulurkan tangannya yang bebas dan mengambil permen dari tangan Mega. Seketika itu juga tangisnya berhenti bersamaan dengan selang infus di tangan Axel selesai dipasang.
“Cepat pulih ya, sayang.” Mega tersenyum lega lalu mengusap rambut kepala Axel.
“Terima kasih tante,” jawab ibu Axel.
“Makasih, Ga.” Wahyu lalu mengajak Mega keluar ruangan Axel setelah terlebih dahulu berpamitan pada Axel dan ibunya.
“Aku pasti merasa kehilangan banget kalau Kamu pergi dari rumah sakit ini, Ga.” Wahyu berkata sambil mengulurkan tangannya pada Mega.
“Mas Wahyu masih bisa menghubungiku lewat telpon,” ucap Mega sambil menjabat erat tangan Wahyu, berpamitan untuk yang terakhir kalinya.
“Semoga sukses di tempat kerja yang baru, salam buat kedua orang tuamu di sana.”
Wahyu melambaikan tangannya melepas kepergian Mega, sahabat yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
Mega membalas lambaian tangan Wahyu, menarik napas dan menghembuskannya perlahan lalu kembali melangkahkan kakinya melewati jalan sepanjang koridor rumah sakit.
Terbayang wajah-wajah warga desanya yang berobat di puskesmas, bagaimana antusiasnya mereka semua saat mendapatkan penyuluhan dan layanan kesehatan darinya.
Mengingat semua itu, membuat Mega semakin yakin dengan keputusan yang telah diambilnya. Dengan langkah pasti ia berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi.
Secepatnya Mega pulang menuju rumah bude Rini tempatnya menginap selama berada di kota ini dan segera mempersiapkan segala keperluannya yang tertinggal untuk dibawanya pulang ke desa esok hari.
Ya, ia lebih dibutuhkan di desanya. Dan Mega sudah memantapkan hatinya, bekerja dan mengabdikan dirinya untuk membantu kesehatan warga di desanya.
☆☆☆☆☆☆☆
Hari masih pagi sekali ketika Mega telah menyelesaikan sarapannya dan harus kembali berpamitan pada bude Rini di rumahnya. Ya, selama hampir seminggu berada di kota besar, Mega memilih untuk menemui bude Rini dan menginap di sana. Rumah besar yang menyimpan banyak kenangan untuknya, tempatnya bernaung selama jauh dari kedua orang tuanya.
“Sedikit cemilan buatmu di perjalanan,” ucap bude Rini menyerahkan sekantung plastik berisi makanan ringan ke tangan Mega.
“Dan ini oleh-oleh buat orang tuamu di sana, panganan khas kota ini. Ada juga makanan kesukaan mamamu yang sengaja Bude masak dan sudah Bude kemas dalam wadah khusus, jadi bisa awet berjam-jam selama dalam perjalanan,” imbuh bude Rini lagi lalu menyerahkan dus sedang yang tertutup rapat pada Mega.
“Bude, makasih.” Seketika Mega memeluk bude Rini erat, terharu dengan perhatiannya selama ini padanya. “Maafkan Mega juga Bude, kalau selama ini Mega selalu saja merepotkan Bude.”
Bude Rini mengusap sayang rambut Mega, “Kamu tidak pernah merepotkan Bude, justru kehadiranmu adalah anugerah buat Bude. Terima kasih juga sudah bersedia menemani hari-hari Bude di rumah ini.”
“Mega pamit ya, Bude. Jaga diri Bude baik-baik di sini, jangan terlalu capek. Bude harus banyak istirahat, biar asisten Bude saja yang mengerjakannya. Biar Bude mengarahkan saja apa-apa saja yang harus dikerjakan,” ucap Mega mengingatkan, ia mencium punggung tangan bude Rini dan kembali memeluknya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah bude Rini untuk yang ke sekian kalinya.
Setelah membeli tiket bis dan memasukkan barang bawaannya dalam bagasi, Mega segera masuk ke dalam bis dan duduk sambil membuka galerry ponselnya. Melihat-lihat foto terakhir bersama rekan-rekannya yang diambil saat Mega berada di rumah sakit kemarin.
Suara derum mesin bis yang bergerak, tidak lantas membuat Mega menghentikan jari-jarinya menggeser layar ponsel miliknya. Hanya ketika seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya dan langsung menaruh tas ransel yang menindih kakinya, membuat Mega menolehkan wajahnya.
Bibirnya terbuka hendak melayangkan protes pada orang tersebut, tapi seketika mendadak bungkam saat melihat wajah itu dari dekat.
“Kamu!”
🌹🌹🌹