⚠️Mature Content (Harap bijak memilih bacaan)
Bryan Adams (24th) & Patricia Robert (26th).
Sebuah kesalahan dimasa lalu yang tak pernah mereka sesali terjadi.
Ternyata tidak mampu, membuat Pat tetap bertahan dengannya. Pada akhirnya takdir membawa Patricia hidup bersama pria lain pilihan dari Diana, ibunya.
Namun lagi-lagi takdir mempertemukan Bryan dan Patricia, meski dengan status yang berbeda. Akankah cinta itu tumbuh lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A 24
Hari ini langit tampak gelap, dan mungkin sebentar lagi akan hujan. Namun orang yang sedang dinantikan wanita cantik itu tak kunjung datang, bahkan menjawab panggilannya saja tidak.
Patricia akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri ke makam ayahnya, tanpa Kornelius yang telah berjanji untuk menemaninya.
“Seharusnya aku tidak perlu terlalu berharap agar tidak sekecewa ini.” Pikir Pat.
....
“Ayah. Ini aku, Pat...Maaf aku sedikit terlambat mengunjungimu hari ini. Tapi kau tenang saja aku membawa kan mu ini... ” Pat meletakan seikat mawar untuk mempermanis pekarangan makam ayahnya.
“Aku baik-baik saja sekarang. Maaf aku belum bisa membawa Kornelius ke sini untuk mengunjungimu... Seperti kau disana, aku dan ibu juga baik-baik saja disini. Meskipun ibu masih sama seperti dulu, ibu yang menyebalkan dan sangat keras kepala. Tapi begitulah ibu...” Ucap Pat. Ia berucap dengan senyum dari sudut bibirnya, namun dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
Hiks... Hiks... Hiks...
“Maaf, kau pasti tahu aku membohongimu kan ayah ! Kau tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan aku tidak tahu alasan apa yang membuatku menangis sekarang. Jika kau ada disini, aku yakin, kau tidak akan membiarkan ini terjadi... Tapi jika ini terjadi, mungkin ini takdir ku.”
Hiks... Hiks... Hiks...
Pat menangis sejadi-jadinya, seakan ia baru saja kehilangan ayahnya beberapa menit yang lalu.
“Ayah... Apa yang harus ku lakukan? Aku bahkan tidak memiliki tempat untuk mengadu. Ibu... Suamiku... teman-temanku... Tidak ada satupun yang memihak padaku. Hanya ada satu orang yang benar-benar mempedulikan ku, tapi aku tidak mengijinkannya melakukan itu ! Karena bukan dia yang harus melakukan itu... Tapi dia terus saja melakukannya. Seharusnya dia membenciku. Ya aku lebih suka di membenciku sekarang... Tapi lagi-lagi dia tidak melakukan itu. Aku harus bagaimana ayah?.” Patricia menumpahkan semua kesedihannya di tempat itu. Meskipun dia tidak akan menemukan jawaban apapun disana.
“Ibu...Dia selalu seperti itu. Aku bahkan tidak tahu cara menghadapinya. Ibu bilang sangat mencintaiku, dia bilang ini semua untuk kebahagiaanku. Entahlah... Aku tidak mengerti kebahagiaan seperti apa yang ku dapat dari semua ini. Jika saja aku bisa berlari, jika saja aku pergi dan mengabaikannya... Tapi aku tidak bisa, dia tetap ibuku.... Ibu yang mengandungku selama 9 bulan, ibu yang melahirkan ku, ibu yang merawat ku hingga aku menjadi Patricia yang sekarang... Aku tidak bisa membencinya, tapi aku marah... Karena aku harus mengorbankan sesuatu yang benar-benar Berarti dalam hidupku.”
Hening...
“Aku juga belajar untuk mencintai Kornelius, aku belajar untuk menjadi istri yang baik. Aku belajar cara memaafkannya. Aku belajar banyak menghadapi orang itu. Tapi aku benar-benar tidak mengenalnya sama sekali. Aku bisa bisa merasakan, bahwa dia mencintaiku, tapi dia mencintaiku dengan cara yang lain. Cara yang tidak lazim... Entahlah, aku tidak ingin membencinya untuk itu.” Ucap Pat.
Tik...
Tik...
Tik...
Hujan mulai turun perlahan, langit yang gelap semakin menjadi gelap. Tapi Pat masih enggan meninggalkan tempat itu. Dia masih ingin Disana untuk waktu yang lama entah sampai kapan. Mungkin sampai ia merasa lebih baik.
“Ayah. Apa aku bisa bersama mu saja disana?.” Pinta Pat. Memeluk nisan ayahnya.
....
“Kau menangis seperti ini? Apa kau pikir dia akan tenang disana!.” Ucap Suara bariton itu. Mendengarkannya saja Patricia sudah tahu siapa dia, meskipun ia masih membelakangi orang itu.
“Anak kesayangannya sedang menangis tersedu-seduh disini ! Apa kau pikir dia tidak akan sedih?. ” Tanyanya lagi.
Namun Pat hanya diam, dia tidak ingin menjawab satupun ucapan pria itu.
“Menceritakan kemalangan mu disini. Bukankah itu sangat sia-sia? Kau sendiri tahu ini hanya sebuah makam...Kau pikir siapa yang akan mendengarkan mu disini? Jangan bodoh! Kau pikir orang itu akan bangun lagi setelah kau menceritakan semua padanya?.”
“Kenapa kau datang ke sini?.” Tanya Pat.
“Kenapa aku harus datang ke sini? Karena jika aku tidak datang, seorang wanita BODOH akan tetap berada disini, menyiksa dirinya sendiri, di saat hujan membasahi tubuhnya. BUKANNYA MENEPI DIA MALAH TERUS MENGIJINKAN HUJAN MEMBASAHI !.” Ujar Bryan dengan nada tinggi.
“Pergilah. Ini makam ayahku.” Usir Pat.
“Jangan bodoh. Yang kehilangan ayah bukan hanya kau saja. Aku juga sama sepertimu. Tapi aku tidak pernah melakukan hal seperti ini, karena aku tahu ini tidak memiliki arti apapun.”
“Bryan... Saat seorang anak perempuan kehilangan ayah mereka, itu adalah hal terburuk yang tidak pernah terpikirkan oleh kami. Kau tahu kenapa? Karena satu-satunya cinta yang paling besar dan paling tulus di dunia ini, hanya cinta ayah kepada putrinya. Dan itu tidak bisa terbantahkan oleh apapun.” Ucap Patricia, dengan suara seraknya.
“Berdiri Pat...” Bryan memaksa Pat untuk berdiri. Karena hujan semakin deras sekarang.
“Aku masih mau disini.” Pat terus memeluk nisan ayahnya.
“Kita bisa ke sini lagi besok atau nanti setelah hujan berhenti.” Paksa Bryan.
“Tidak mau !.”
“PAT!!!.” Seru Bryan.
Tapi wanita itu tetap tidak bergeming. Tapi melihat cuaca yang semakin buruk, Bryan tidak bisa tinggal diam saja. Ia menarik paksa Pat, meskipun sangat sulit tapi ini demi wanita itu juga.
“Kita harus pergi dari tempat ini. ”
“Tidak mau... ” Tolak Pat
“Harus!!!. ” Jawab Bryan, mengangkat tubuh Patricia di atas bahunya.
“Bryan kau jahat! Turunkan aku..”
“Kau yang jahat. Kau jahat pada dirimu sendiri... ” Ucap Bryan. Ia terus menahan Pat, meskipun dengan menahan pukulannya bertubi-tubi yang diberikan Patricia padanya.
Baru saja Bryan ingin menurunkan tubuh wanita itu, Pat mendadak kehilangan kesadarannya. Setelah melakukan banyak perlawanan, ditambah dengan air hujan yang membasahi tubuh mereka.
“Kau lihat, Bagaimana jika aku tidak di sini Pat? Apa yang akan terjadi padamu.” Ucap Bryan, kemudian membawa Pat secepatnya meninggalkan tempat itu.
Bersambung...
salam cinta online juga buat kak othor🤗😘