Menjalin hubungan dengan orang yang sangat dicintai selama beberapa tahun, tidak menjamin bahwa namamu yang akan dia sebut dalam janji suci dan bersanding bersamanya di pelaminan.
Seperti yang dirasakan oleh Laura Clarissa, gadis yang awalnya berharap segera dilamar oleh sang kekasih, malah yang terjadi adalah sebaliknya, kekasihnya itu memberi sebuah cincin, bukan sebagai lamaran akan tetapi hanya karena ingin dikenang, sebab kekasihnya itu akan menikahi orang lain.
Namun ditengah rasa sakit hati yang ia pikul seorang diri, ada sahabat yang diam-diam menyukainya, akan tetapi Laura sama sekali tak pernah menyadari perasaan sahabatnya itu
Di lain sisi, dia juga bertemu orang yang mengaku teman masa kecilnya, orang yang mengaku ingin mempersunting dirinya.
Kisah asmara seperti apa selanjutnya? dimanakah Laura akan memantapkan hatinya? tidak bisa move on dari mantan? menyadari perasaan sahabatnya? atau jatuh cinta kepada teman masa kecilnya?
Penasaran? ikuti kisahnya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Toko Perhiasan
Saat langkah yang ia dengar sudah menjauh, barulah Laura membuka matanya, melihat punggung Reyhan dari belakang, ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Ia memegang kepala, mengingat kembali bagaimana Reyhan mengacak rambutnya, senyum yang tadinya begitu samar-samar namun sekarang merekah begitu saja.
"Ehhem... Kayaknya ada yang baper nih!" goda Maira baru saja keluar dari kamar.
Laura kembali salah tingkah, "Si-siapa yang baper? Kamu salah lihat kali! Kakak tadi hanya merasa rambut kakak agak lepek!" Jawabnya sedikit gugup.
"Alllah... Aku tidak percaya! Jelas-jelas aku melihat kakak dengan mata kepalaku sendiri senyam-senyum lihat kak Reyhan pergi!" timpal Maira
Matanya berkeliling berfikir keras mencari alasan agar adiknya itu tak lagi memberi pertanyaan yang membuatnya terpancing.
"Ahh kamu hanya salah lihat! Ohh iya Kamu harus jujur sama kakak! Kalian membicarakan siapa tadi?"
"Hah! Pertanyaan ini lagi? Aduh kakak... Gini nih kalau kakak terlalu Ge'er, Aku sudah memberitahu kakak sebelumnya kalau kak Reyhan membicarakan masa sekolahnya!" Jelas Maira namun kakaknya itu masih terlihat ragu.
"Kamu serius?"
"Iya... Serius kakak!"
"Kalau begitu Ya sudah, kakak mau mandi terus siap-siap!"
"Kakak mau kemana?" tanya Maira.
"Ada deh! Kamu tidak perlu tau!" Laura berbalik badan melomoat-lompat seperti anak kecil masuk kekamarnya.
"Jangan bilang kalau kakak mau cari pacar ya? Sudah tidak bisa menahan diri karena jomblo selama beberapa hari kak? Ya udah kalau begitu kakak tinggal terima kak Reyhan aja! Kak Reyhan sempurna loh kak! Ganteng, kaya, perhatian, ramah...."
"Diam!!!" Seketika perkataan Maira terhenti saat Laura menutup kasar pintu kamarnya.
Didalam kamar, Laura melangkah sambil berfikir, "Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak punya baju yang cantik untuk ku pakai, kalau aku pakai baju yang terlihat kusuh nanti Vanno malu!" gumamnya.
Dert.... Dert... Dert...
Ponselnya kembali berdering, panggilan masuk yang ternyata dari Vanno, Laura seketika meraih ponselnya, "Halo Van! Ada apa?"
"Aku ada didepan rumahmu!" Sahut Vanno dalam telfon
"Apa! Tapi ini masih belum jam 7 Van! Kenapa kamu datang secepat ini? Aku bahkan belum mandi!" Pekik Laura.
"Kalau begitu aku akan menunggumu disini, kamu bisa mandi dulu!" Vanno mengakhiri panggilannya secara sepihak membuat Laura penuh dengan tanda tanya, "Sebenarnya ada apa? Apa acara ini sangat penting sampai-sampai Vanno secepat ini datang menjemputku? Ahh jangan berfikirkan itu lagi Ra! Sebaiknya kamu mandi saja!" ucap Laura berkata pada diri sendiri
Tak ingin berlama-lama membuat Vanno menunggu, ia bergegas berlari ke dalam kamar mandi, membawa handuk.
***
Setelah selesai, Ia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, berjalan seperti pinguin kearah lemari, mengeluarkan semua isi lemarinya itu keatas ranjang.
"Ahh... Baju apa yang harus ku pakai?" ia bingung saat semua jenis pakaian sudah berada didepan matanya.
"Ini.... Atau ini?" kedua tangannya sibuk memilah, menyesuaikan dengan tubuhnya, kemudian melempar kesembarang tempat saat merasa tak cocok.
"Ahh ini saja!" Pilihannya jatuh pada gaun selutut berwarna putih, begitu simple tapi terlihat sempurna terbalut ditubuhnya.
Rambutnya di biarkan tergerai lurus kedepan, namun Laura masih terlihat anggun, wajah kecilnya membuat dia semakin terlihat imut.
Diberi foundation tipis pada wajahnya, lipstick yang tidak terlalu mencolok menghiasi bibirnya.
"Maira kakak pergi sekarang yah!" teriaknya pamit didepan kamar Maira.
"Jangan sampai punya pacar ya kak! Aku tidak akan setuju loh, kasihan kalau kak Reyhan cintanya bertepuk sebelah tangan!" balas Maira yang juga berteriak didalam kamar.
"Yak!!! Kamu jangan bicara sembarangan! Awas nanti kakak gunting tuh bibir kamu" gerutu Laura pada adiknya.
Maira malah tertawa renyah,"Ha ha ha... Terserah aku lah kak!"
"Kakak pergi dulu! Jaga rumah!" Sahut singkat Laura lalu berjalan keluar menuju mobil Vanno.
Dari kejauhan, dia melihat mobil Vanno dengan kaca mobil yang di turunkan, menyandarkan kepalanya disetir mobil, membuat Laura mengerutkan dahi menatap sosok sahabatnya itu.
"Van!!!" panggilnya berjalan mendekat.
Sontak dia tersadar, menoleh ke laura untuk sesaat ia begitu terpukau melihat dari ujung kaki sampai kepala.
"Van! Ada apa?" Laura masih belum paham, dengan tatapan Vanno.
"Apa bajuku tidak bagus? Atau menurutmu Make upku terlalu tebal? Tapi aku tidak merasa ini menor kok!" Lanjutnya merasa kurang percaya diri apalagi ditatap oleh Vanno.
"Ahh... Mana mungkin! Kamu luar biasa cantik Ra!" puji Vanno sembari tersenyum tulus.
"Ayo masuk! Kita harus ke suatu tempat dulu, baru ke acara yang akan kita datangi!" Laura menangguk, masuk ke dalam mobil.
Vanno sesekali melempar senyum ke Laura akan tetapi dia malah menganggap sahabatnya itu bertingkah aneh, "Van! Kamu salah minum obat ya? Kenapa senyam-senyum kayak gitu?" selidiknya mengerutkan sebelah mata.
"Ya ampun... Aku senyum semanis ini sama kamu tapi malah di anggap salah minum obat? Sebelumnya kamu itu punya IQ berapa Ra! Sampai-sampai tidak tau membedakan mana senyum tulus atau yang bukan! Kamu yang selalu cerdas dikampus tapi kenapa kamu sangat lemah menilai ekspresi wajah orang!!!" umpat Vanno dalam hati
"Tapi kalau aku senyum kayak gini! Pasti Kamu suka kan?" gombalnya.
"Apa-apaan, kamu malah kayak orang aneh!" ledeknya membalas.
"Humph... Sekali-kali kamu harus memuji ketampananku ini Ra! Aku ini sahabat kamu loh.. .masa iya orang lain yang klepek-klepek tapi kamu yang selalu ada disamping aku tidak merasakan itu?" Tukas Vanno.
Laura berdecih menatap sahabatnya itu yang tengah menyetir membagi 2 titik fokusnya, "Orang lain sama aku itu beda Van! Aku mungkin sudah sering melihatmu jadi kesannya sudah jadi biasa sedangkan mereka melihatmu masih ada kata luar biasanya! Intinya begini jika kita memiliki suatu barang yang awalnya sangat diidam-idamkan tapi lama-kelamaan karena barang itu sudah sering dilihat bahkan tiap hari, pasti ujung-ujungnya udah bosankan nah gitu!" jelas Laura.
"Ohh jadi maksud kamu! Aku pernah kamu idam-idamkan, begitu?" Pungkas Vanno mengintimidasi.
"Bukan itu maksud aku! Kenapa kamu malah menyimpulkan itu saja?"
"Sudah-sudah... Kalau begitu hentikan saja! Aku puas mendengar jawabanmu heheh!"
"Terserah lah.... Ohh iya memangnya kita mau datang ke acara apa? Terus sekarang kamu bilng harus kesuatu tempat memang mau kemana?" Laura berhasil mengalihkan pembicaraan sebelum Vanno benar-benar membuatnya terpojok.
"Kamu tenang saja! Aku tidak akan membawamu ke tengah hutan! Jadi kamu duduk saja dan biarkan aku fokus menyetir biar cepat sampai ketempat tujuan!" Jawab Vanno.
Laura benar-benar menurut ia tak lagi membuka pembahasan baru hingga keduanya sampai di depan toko perhisan terkenal di daerah tersebut.
"Turunlah... " titah Vanno tersenyum semringah.
"Ini... Ini bukannya toko perhiasan Van? Kita mau apa datang kesini? Jangan bilang tempat yang kamu maksud itu toko ini?"
"Hm... Kamu benar! Aku memang berniat datang kesini untuk membeli sesuatu, jadi turunlah temani aku masuk kedalam!" Ujar Vanno ia lebih dulu turun dari mobil lalu berlari untuk membukakan pintu untuk Laura.
sukses
semangat
mksh
sukses
semangat
mksh
keren