Karena kemurkaan sang ayah, Khanza harus menjadi dokter relawan di daerah perbatasan. Tapi bukan Khanza namanya kalau tidak mengacau, apalagi dia dikelilingi tentara-tentara tampan dan seksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellestinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
-Khanza-
Gue mengetuk-ngetuk kaca mobil yang sudah siap melaju itu.
"Mau dibawa kemana kesayangan gue?" galak gue tepat di depan muka Satriya.
Lelaki berawakan kekar itupun membuka pintu mobil dan berjalan keluar, "Lo ngadu apa sama bokap lo?"
Ups, apa jangan-jangan dia juga kena batunya?
"Gue nggak ngadu apa-apa" jawab gue bohong.
"Halah. Gara-gara lo gue disuruh bokap lo keliling kota nyariin obat yang lo maksud itu"
"Jadi lo nggak ikhlas? Ya udah kalau nggak ikhlas nggak usah pergi."
"Eh, ya nggak bisa dong. Gimana gue nanti laporan ke bokap lo? Bokap lo kan galak"
"Ya diem aja, nggak usah dikasih tau. Udah mending sekarang lo balik ke barak trus kelonan sama bebeb lo. Biar gue yang nemenin Kendra keliling kota nyari obat. Gue enak, lo juga enak. Nah, win-win solution kan?"
"Beneran nih?"
"Bener elah, udah sana masuk"
"Jangan laporan bokap lo ya"
"Beres deh pokonya. Udah sana buruan."
Asek, bapak Komandan sudah berhasil diamankan. Sekarang saatnya berkencan dengan bebeb ganteng.
"Yuk jalan" ucap gue seraya mengencangkan sabuk pengaman.
"Loh, Satriya?"
"Katanya kebelet tadi. Jadi gue yang gantiin nemenin lo"
"Kebelet apaan?"
"Kebelet kawin.. hehe"
Langsung aja mulut gue dijepit sama jarinya pak tentara, "Nih mulut bisa dikontrol sedikit nggak sih."
Bodo. Gue nggak denger apa yang lo bilang. Gue lagi terbang karena jari lo ada di mulut gue. Ini baru jari ya, belum yang lain.
"Mulutnya difilter dong" lanjutnya setelah melepas jepitan jarinya dibibir gue.
"Nggak bisa pak. Minta dihukum ini mulut. Bapak mau kasih pelajaran sama mulut saya?" gue tantangin sekalian si bapak.
"Saya nggak punya bahan ajar buat mulut kamu" eh, mulai berani mancing dia.
"Gimana kalau saya saja yang ngajarin. Saya jadi gurunya, bapak jadi muridnya. Biar kayak Jejepangan yang suka bapak tonton itu"
"Hush, ngomong apaan sih. Udah yuk berangkat."
Tanpa banyak basa basi, Kendra menyalakan gas dan mengendarai mobil menuju ke kota.
"Lo nggak bawa bodyguard?"
"Kan ada bapak yang bisa memberikan keamanan dan kehangatan"
"Nggak dimarahin sama bokap lo pergi-pergi tanpa bodyguard?"
"Ya jangan sampe Papa tau lah. Gitu aja repot"
"Lo bandel banget ya. Nggak kebayang jadi bokap lo."
"Nggak usah bayangin jadi bokap gue. Bayangin aja jadi pacar gue. Atau bayangin aja gue sama elo jadi guru-murid yang lagi praktek Jejepangan. He..he"
"Udah gue bilang kan, filter nih mulut" saking gemesnya, si bapak monyongin bibir gue lagi. "Papa lo tuh kasih bodygurad ada tujuannya. Dia khawatir sama keselamatan lo. Jadi jangan lo anggap remeh trus main ngelayap gitu aja tanpa ada yang jagain."
Gue mendesah kesal, "Gue bosen. Apa-apa nggak dibolehin. Saking overprotective-nya, Papa harus dapet laporan tiap jam gue lagi ngapain, sama siapa, di mana. Gue nggak punya kakak maupun adik, saudara gue rumahnya jauh-jauh, Papa juga sibuk kerja. Kesepian banget gue kalau di rumah. Mana Papa nggak pernah ngijinin gue keluar rumah kecuali sekolah."
"Semua orang tua di dunia itu sayang sama anaknya. Mungkin itu bentuk sayang Papa lo. Dia nggak bisa selalu ada buat jagain lo, makanya dia kirim orang untuk selalu memastikan keselamatan lo"
😆😆😆
g sabar baca selanjutnya