NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Cahaya matahari menembus celah tirai dan jatuh tepat di wajah Yu Tian. Ia membuka mata perlahan, dan untuk beberapa tarikan napas ia hanya menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba tipis.

Lukanya terasa lebih ringan daripada semalam, dan Qi di dantiannya sudah terisi hampir penuh berkat pil-pil dari kantong para tetua. Ia duduk, menyisir rambut dengan jari, lalu menyambar pedang putih dari meja dan menyelipkannya ke sabuk sebelum membuka pintu.

Di ruang makan di lantai bawah, aroma bubur jahe dan telur asin menyambutnya. Seorang gadis kecil dengan kepang dua, putri Paman Dong, meletakkan semangkuk bubur panas di depannya tanpa mengangkat wajah, lalu pergi dengan langkah cepat. Yu Tian menyendok bubur itu pelan-pelan sambil menatap sungai di luar jendela.

'Setelah ini ke mana? Selatan terlalu dekat dengan sekte. Utara berpegunungan dan jarang orang. Atau mengikuti sungai ke timur sampai ia bertemu kota yang lebih besar.' Ia menghabiskan buburnya, meninggalkan beberapa keping tembaga di meja, dan keluar ke jalan.

Pasar pagi sudah ramai. Pedagang-pedagang berteriak menawarkan sayur dan ikan, dan bau amis sungai bercampur wangi kue yang baru diangkat dari kukusan. Di tiang dekat gerbang pasar, kerumunan kecil berdesakan di depan selembar kertas yang tertempel dengan paku.

Yu Tian mendekat dengan tangan di dalam lengan jubah, dan dari balik bahu seorang lelaki bertubuh tambun ia membaca tulisan merah yang besar.



"Satu juta inti!" bisik seorang perempuan di sampingnya dengan mata membesar. "Dengan uang sebanyak itu satu keluarga bisa hidup sepuluh turunan."

"Iblis dari Awan Azure," sahut yang lain. "Katanya ia memenggal tiga tetua sekaligus di tepi sungai."

Yu Tian memiringkan kepala dan memperhatikan lukisan itu lama.

'Hidungku tidak bengkok. Seniman yang menggambar ini tidak pernah melihatku dari dekat.' Sudut bibirnya naik tipis, tetapi senyum itu cepat menghilang. 'Jadi sudah dimulai, dan secepat ini.'

Ia berbalik pelan, membiarkan kerumunan menelannya, dan berjalan menjauh dengan langkah yang tidak tergesa.

Di sudut pasar yang lebih sepi, seorang penjual topi sedang menggelar dagangan di atas tikar. Yu Tian berhenti di depannya, mengambil sebuah caping kerucut dari anyaman bambu yang lebar, dan memutarnya di tangan. Ia membayar dua puluh keping tembaga tanpa menawar, lalu membeli setelan putih sederhana di toko sebelah dan sehelai syal putih panjang yang bisa ia lilitkan sampai menutupi separuh wajah. Ia berganti pakaian di balik tumpukan karung di belakang toko, menurunkan caping sampai bayangannya jatuh ke atas mata, dan menarik syal sampai ke hidung.

Pantulan di genangan air menunjukkan seorang pengelana putih tanpa wajah yang jelas. 'Cukup untuk membuat orang ragu sesaat. Itu sudah banyak.'

Ia kembali ke Penginapan Bambu Hijau dengan langkah santai. Paman Dong berdiri di balik meja kayu, dan senyum yang kemarin merekah lebar kini tampak kaku. Kedua tangannya tersembunyi di bawah meja, dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, tidak sekali pun bertemu dengan mata Yu Tian di bawah caping. Ketika Yu Tian lewat, lelaki itu bergumam dengan suara kecil sekali.

"Selamat pagi, Tuan Muda." Putrinya tidak terlihat di mana pun, dan pintu dapur di belakang tertutup rapat.

'Dia sudah melihat pengumuman itu.' Yu Tian tidak memperlambat langkah. Ia naik ke loteng belakang, menutup pintu kamar, dan dalam beberapa gerakan cepat menyambar kantong penyimpanan, pedang putih, dan pedang bersegel dari meja. Ia mengikatnya di punggung dan pinggang, lalu membuka pintu.

Dua pemuda berjubah biru dengan sulaman awan putih sudah berdiri di ambang. Salah satunya baru mengangkat pedang setengah hunus, dan matanya melebar tepat ketika wajah di balik caping itu terlihat. "Itu dia! Yu Ti..."

Pedang putih keluar dari sarungnya sebelum ia selesai berseru. Satu tebasan menyilang dari bahu kanan ke pinggul kiri, dan pemuda itu terbelah menjadi dua bagian yang jatuh ke lantai papan dengan bunyi basah. Darah menyembur ke dinding dan ke wajah rekannya, yang menjerit dan terhuyung mundur sampai punggungnya menabrak pagar.

Yu Tian menendang dinding kayu di seberang pintu dengan telapak kaki yang dilapisi Qi, dan papan-papan itu meledak keluar ke arah sungai. Ia melompat ke atas bilah pedang yang sudah ia lemparkan ke udara, dan angin menyambar wajahnya ketika ia melesat naik meninggalkan penginapan.

Dari bawah terdengar jeritan orang-orang dan lonceng peringatan yang dipukul panik. Ia menoleh sekilas. Puluhan pedang terbang sudah naik dari seluruh penjuru kota, murid-murid berjubah biru dan abu-abu membentuk garis-garis panjang yang bertemu di langit di belakangnya.

Mereka mengejarnya dengan teriakan keras, dan jarak di antara mereka menyusut setiap kali ia berbelok.

'Terlalu banyak. Kalau aku terus terbang, mereka akan mengepungku di atas sini. Tapi aku belum bisa melayang tanpa pedang ini, dan pedang ini juga satu-satunya senjata yang cukup baik untuk bertarung.'

Ia memilih sebuah lembah sempit berbatu di depan, lalu tiba-tiba melepaskan pijakannya. Tubuhnya jatuh dengan bilah putih di tangan, melesat turun menuju dasar lembah dengan angin yang meraung di telinganya. Tawa terdengar dari atas.

"Dia kehabisan Qi!"

"Si iblis itu jatuh sendiri! Kita tidak perlu repot!"

"Ayo, jangan beri dia kesempatan!"

Puluhan murid menukik bergerombol, pedang mereka terhunus dan mata mereka berkilat dengan nafsu pada satu juta inti.

Yu Tian menatap mereka dari bawah sambil terus jatuh. Wajahnya tenang, dan caping yang tertiup angin sudah lama terlepas, memperlihatkan senyum tipis di bibirnya. Ia memegang gagang pedang dengan kedua tangan, memadatkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam bilah, dan petir putih kebiruan mulai merayap di sepanjang baja.

"Tebasan Langit Petir."

Ia mengayunkan pedang ke atas dalam satu lengkung. Sebuah kilatan membelah udara dan menghantam murid terdepan tepat di dada, dan dari tubuh yang terbelah itu dua kilatan baru melompat keluar, masing-masing menancap pada murid lain, membelahnya, lalu memecah lagi menjadi kilatan-kilatan yang melesat ke segala arah.

Duar!

Duar!

Duar!

Tebasan petir saling menyambung dan memotong, melompat dari satu pedang ke pedang berikutnya, dari satu leher ke leher berikutnya. Tawa berubah menjadi jeritan yang terputus di tengah, dan dalam beberapa tarikan napas langit di atas lembah dipenuhi hujan merah dan potongan jubah. Pedang-pedang yang kehilangan penunggangnya berputar jatuh, berdenting di bebatuan.

Yu Tian menjejakkan telapak kaki pada bilah pedangnya tepat sebelum menyentuh tanah. Tubuhnya terangkat, dan ia terengah dengan Qi yang tinggal secuil di dantiannya. Ia tidak melihat ke belakang.

Mayat-mayat berjatuhan di dasar lembah satu demi satu dengan bunyi tumpul, dan hanya angin yang berdesau di antara tebing. Ia meluruskan punggung dan melesat menjauh, sementara darah di ujung pedangnya menetes ke bumi.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!