Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Di rumah sakit
Ammar duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah muram. Sejak Davina pamit pulang beberapa jam lalu, dirinya hanya sendirian. Ruangan itu terasa membosankan baginya, seolah waktu berjalan begitu lamban.
Dia meraih ponsel di atas meja kecil, berniat mengusir kejenuhan dengan bermain games. Namun, setelah beberapa kali kalah, akhirnya kehilangan minat. Jarinya beralih membuka aplikasi TikTok, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya.
Pria itu menggulir layar tanpa tujuan. Berbagai video berseliweran hingga sebuah unggahan membuat jarinya berhenti bergerak. Video itu menampilkan suasana pernikahan mewah dengan dekorasi elegan, diiringi keterangan tentang pernikahan seorang pengusaha konstruksi dengan putri pengusaha properti ternama di kota tersebut.
Kening Ammar berkerut. Dia membaca nama pengantin pria yang tertera di layar. "Alfa Rizki Pradana.
"Alfa?" gumamnya, lalu memperbesar gambar yang muncul dalam video tersebut.
Wajah mantan sahabatnya itu terlihat jelas. Alfa berdiri di samping seorang wanita cantik dalam balutan busana pengantin. Keduanya tampak serasi, menyambut para tamu dengan senyum bahagia.
Ammar tertegun, lalu segera membuka kolom komentar, berharap ada informasi lain yang bisa menjelaskan bagaimana Alfa mendapatkan kehidupan semewah itu. Namun, semakin lama membaca, semakin panas hatinya.
Pengusaha muda yang sukses membangun bisnis konstruksi dan kini memiliki toko material sendiri.
Alfa Rizki Pradana adalah bukti bahwa keterpurukan bukan akhir dari segalanya.
Beruntung sekali Ayudia mendapatkan suami seperti dia. Pekerja keras dan sangat berdedikasi.
Ammar mengepalkan tangan. Dia tak menyangka pria yang dahulu mereka hancurkan dalam keadaan tak berdaya justru mampu bangkit dan meraih kesuksesan.
"Bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah kehilangan semuanya?" desisnya.
Dia membuka unggahan lain. Foto-foto Alfa bersama Ayudia memenuhi layar, mulai dari peresmian toko material hingga kunjungan ke proyek pembangunan. Dalam setiap foto, Alfa terlihat percaya diri, seolah tak pernah mengalami kehancuran yang dulu mereka sebabkan.
Sementara itu, dirinya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Ammar menurunkan pandangan ke arah kedua kakinya yang tak bisa digerakkan. Dokter belum dapat memastikan apakah dia akan pulih seperti semula. Bayangan harus menjalani hidup dengan kondisi duduk di kursi roda membuat dadanya kian sesak.
"Brengsek!" makinya sambil melempar ponsel ke atas kasur. "Kenapa dia hidupnya lebih beruntung dan sukses dari pada aku?"
Napasnya memburu, teringat bagaimana dulu dia dan Davina mengambil alih usaha Alfa, meyakini bahwa mereka akan hidup lebih baik tanpa pria itu. Kenyataannya, kekayaan yang mereka nikmati perlahan menjadi sumber masalah, sedangkan Alfa justru membangun usahanya dari awal.
"Dia pasti dibantu keluarga istrinya," gumam Ammar, berusaha mencari alasan yang bisa diterimanya. "Tidak mungkin dia bisa sesukses semudah itu."
Namun, pikirannya kembali tertuju pada foto-foto proyek yang memperlihatkan Alfa bersama para pekerja dan rekan bisnisnya. Tak ada satu pun bukti yang bisa menguatkan tuduhannya.
Ammar meraih ponselnya kembali, lalu menatap foto pernikahan itu dengan rahang mengeras.
"Dulu kau bahkan tak punya apa-apa, Alfa. Sekarang kau bisa menikahi anak pengusaha kaya dan hidup bahagia, sementara aku begini?"
Dia memukul kasur dengan kepalan tangan yang sangat kuat, lalu meringis ketika gerakan itu membuat tubuhnya terasa nyeri.
"Seharusnya aku yang berada di posisi itu, bukan dia!" teriaknya keras, tak peduli jika suaranya terdengar hingga lorong rumah sakit.
Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk setelah mendengar Ammar berteriak. Ia segera menghampiri ranjang dan berusaha menenangkan pasien yang tampak dikuasai emosi.
“Pak Ammar, mohon tenang. Bapak tidak boleh terlalu banyak bergerak. Kondisi Bapak masih sangat riskan,” ujar perawat itu.
“Keluar...! Aku tidak butuh nasihatmu!” bentak Ammar.
Perawat tersebut sempat terhenyak, tetapi akhirnya memilih meninggalkan ruangan setelah memastikan kondisi pasien tidak membutuhkan penanganan segera.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, Davina masuk membawa sekantong makanan. Ia mengerutkan kening ketika melihat wajah suaminya yang tampak menyimpan kemarahan.
“Ada apa, Mas? Kenapa wajahmu terlihat tegang?" tanyanya sambil meletakkan makanan di meja.
Ammar tidak menjawab, tetapi justru menyodorkan ponselnya kepada Davina, memperlihatkan foto pernikahan Alfa yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Davina mengamati layar itu sekilas lalu mengembalikan ponsel tersebut. “Aku sudah melihat berita pernikahan mereka.”
Ammar menatap istrinya dengan sorot mata menyelidik. “Jadi, kamu sudah tahu kalau Alfa sekarang sukses?”
“Sudah,” jawab Davina, ia menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang.
“Setelah melihat semua ini, kamu pasti menyesal sudah meninggalkannya, kan? Dulu kamu memilihku karena menganggap aku lebih baik darinya. Sekarang, bagaimana?” tanya Ammar, lantas tertawa hambar.
Davina langsung menoleh. “Kamu ini bicara apa sih, Mas?”
“Jangan pura-pura tidak mengerti!” sergah Ammar. “Alfa sekarang punya usaha sendiri, menikahi anak pengusaha kaya, dan hidup bahagia. Sementara aku terbaring di sini tanpa tahu apakah kakiku bisa pulih!”
Suaranya meninggi pada kalimat terakhir. Dia menatap kedua kakinya, dengan rahang mengeras hingga otot-ototnya menonjol, lalu memalingkan wajah karena tak sanggup menerima kenyataan tersebut.
Davina mengembuskan napas panjang. “Jadi, kamu pikir aku menyesal karena Alfa lebih sukses daripada kita?”
“Memangnya bukan begitu?” Ammar balik bertanya.
“Atau jangan-jangan, kamu sekarang berpikir ingin kembali kepadanya setelah tahu kehidupannya jauh lebih baik.”
Davina terbelalak mendengar tuduhan itu. “Mas, Alfa sudah menikah! Untuk apa aku kembali kepadanya?”
“Karena sekarang dia punya segalanya!” jawab Ammar ketus. “Atau mungkin, sejak awal memang kamu masih menyimpan perasaan kepadanya?”
“Jangan asal menuduh!” Davina membalas dengan nada tinggi. “Aku mencari tahu tentang Alfa hanya karena ingin tahu bagaimana dia bisa bangkit setelah kehilangan semua hartanya. Itu saja!”
Ammar menatap istrinya dengan sorot mata penuh kecurigaan. “Lalu, setelah melihat kesuksesannya sekarang, apa kamu akan meninggalkanku?”
Davina menggeleng tak percaya. “Aku baru saja datang, tetapi kamu malah menuduhku macam-macam. Aku ini istrimu, Mas. Kenapa kamu justru berpikir aku akan meninggalkanmu?”
Ammar menunduk. Pertanyaan itu membuatnya kehilangan kata-kata. Dirinya sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi masa depan dengan kondisi kaki yang belum tentu pulih. Usahanya pun sedang terancam, sedangkan Alfa justru semakin berjaya.
Seketika kepercayaan dirinya runtuh, merasa posisinya di hadapan Davina tidak lagi sekuat dahulu.
“Kondisiku sekarang seperti ini, kala kamu menyesal dan ingin kembali padanya, aku....,” ucapnya pelan.
Davina menatap suaminya dengan raut kecewa. “Aku sudah memilihmu, Mas. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Andai pun aku menyesal, apa kamu pikir Alfa akan mau menerimaku kembali?"
Setelah berkata demikian, Davina bangkit dan mengambil makanan yang dibawanya. Ia bermaksud membantu Ammar makan, tetapi suasana telanjur memburuk.
Ammar hanya diam. Tatapannya kembali tertuju pada ponsel yang menampilkan foto pernikahan Alfa. Di tengah ketidakpastian hidupnya sendiri, kesuksesan mantan sahabatnya itu menjadi bayang-bayang yang sulit disingkirkan. Kini, bukan hanya masa depannya yang membuat Ammar takut, melainkan juga kemungkinan bahwa suatu hari nanti Davina akan membandingkannya dengan pria yang pernah mereka khianati.