NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAGIHAN DI ATAS MEJA

Nadine Kirana punya waktu tujuh hari untuk mengumpulkan uang yang tidak sanggup dia kumpulkan, bahkan jika seluruh tabungannya dikosongkan malam ini.

Di atas meja, tagihan rumah sakit ibunya tergeletak dengan angka yang terus dia hitung ulang, seolah jumlahnya akan berubah jika dia cukup lama menatapnya.

Empat juta delapan ratus ribu rupiah.

Nadine menekan tombol kalkulator di ponselnya. Sekali. Dua kali. Lalu sekali lagi, meskipun hasilnya tetap sama.

Tabungannya hanya satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Bahkan jika dia menyerahkan semuanya, masih ada kekurangan yang tidak bisa ditutup dengan uang hasil bekerja di tempat fotokopi sepulang sekolah. Apalagi dalam waktu tujuh hari.

Dia melipat tagihan itu ketika mendengar langkah ibunya mendekat.

"Nad, kamu belum tidur?"

Nadine buru-buru membalik kertas tersebut, lalu meraih gelas teh di hadapannya. Teh itu sudah dingin sejak satu jam lalu.

"Sebentar lagi, Bu. Aku lagi ngerjain tugas."

Ratih memandang buku tulis yang terbuka di depan putrinya. Hanya ada dua baris tulisan di sana, sementara sisanya masih kosong.

"Kamu akhir-akhir ini selalu tidur malam."

"Nanggung, Bu. Tinggal sedikit lagi."

Ibunya tidak langsung menjawab. Perempuan itu duduk perlahan di kursi seberang, lalu memperhatikan wajah Nadine yang berusaha terlihat biasa saja.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah."

"Kamu bohong."

Nadine terdiam.

Ratih menghela napas pendek. "Di dapur masih ada nasi. Ibu bisa—"

"Nggak usah, Bu. Biar aku aja."

Nadine segera berdiri, mengambil gelas kosong, lalu berjalan ke dapur sebelum ibunya sempat menyelesaikan kalimat. Dia tahu Ratih tidak boleh terlalu lelah. Dokter sudah berkali-kali mengingatkan bahwa kondisi jantung ibunya membutuhkan perawatan teratur.

Dan justru karena itulah Nadine tidak sanggup mengatakan bahwa uang mereka hampir habis.

Ayahnya sudah lama meninggal. Sejak saat itu, Ratih menjadi satu-satunya keluarga yang dia miliki. Perempuan itu membesarkannya dengan segala keterbatasan, memastikan Nadine tetap sekolah, tetap punya buku pelajaran, dan tetap berani bermimpi meskipun keadaan tidak selalu memberi mereka alasan untuk berharap.

Sekarang, Nadine ingin melakukan hal yang sama.

Dia ingin menjaga ibunya.

Masalahnya, dia tidak tahu bagaimana caranya.

"Nad."

Suara Ratih membuatnya berhenti di ambang dapur.

"Kalau memang ada yang kamu pikirkan, cerita sama Ibu."

Nadine menggenggam gelas di tangannya.

Dia ingin menceritakan semuanya. Tentang tagihan yang jatuh tempo, tentang uang tabungan yang tidak seberapa, juga tentang ketakutannya jika suatu hari harus memilih antara kebutuhan ibunya dan masa depannya sendiri.

Namun, melihat wajah Ratih yang sudah cukup lelah, semua kata itu kembali tertahan.

"Nggak ada apa-apa, Bu. Aku cuma kepikiran ujian."

Ratih menatapnya beberapa detik, seolah tahu putrinya menyembunyikan sesuatu. Namun, perempuan itu tidak memaksa.

"Jangan sampai kamu lupa punya masa depan sendiri hanya karena terlalu sibuk mengurus Ibu."

Kalimat itu membuat dada Nadine terasa sesak.

Dia mengangguk kecil, kemudian kembali ke kamar sebelum ibunya melihat perubahan wajahnya.

Di dalam kamar, Nadine membuka buku catatan yang biasa dia gunakan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran. Tulisan tangannya memenuhi hampir seluruh halaman. Uang transportasi, makan siang, kebutuhan sekolah, dan sedikit tabungan dari upahnya bekerja di tempat fotokopi.

Dia sudah mengurangi hampir semua pengeluaran yang bisa dipangkas.

Tidak ada lagi jajan sepulang sekolah. Tidak ada lagi membeli buku baru jika masih bisa meminjam. Bahkan sepatu sekolahnya yang mulai mengelupas sudah beberapa kali dia rekatkan sendiri.

Tetap saja, jumlahnya tidak cukup.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Raka masuk ke grup kelas.

Raka: Nad, formulir beasiswa yang kemarin sudah kamu lengkapi? Besok batas pengumpulan berkas tambahan.

Nadine memandangi pesan itu cukup lama.

Beasiswa.

Satu kata yang selama ini menjadi pegangan untuk mewujudkan cita-citanya kuliah di luar kota. Dia ingin mengambil jurusan Gizi di universitas negeri. Dia ingin punya pekerjaan yang layak, penghasilan tetap, dan kemampuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membayar kebutuhan kesehatan mereka.

Dia sudah merencanakan semuanya sejak kelas sepuluh.

Namun, akhir-akhir ini, setiap kali memikirkan masa depan, dia selalu merasa bersalah.

Bagaimana mungkin dia sibuk memikirkan universitas di kota lain ketika ibunya bahkan membutuhkan biaya perawatan untuk minggu depan?

Jempolnya bergerak mengetik balasan.

Nadine: Sudah hampir. Besok aku kumpulkan.

Dia mengirim pesan itu sebelum sempat berubah pikiran.

Setidaknya, satu hal tidak boleh berhenti.

Pagi berikutnya, Nadine berangkat sekolah dengan mata yang sedikit sembap karena kurang tidur. Dia berusaha mengikuti pelajaran seperti biasa, mencatat penjelasan guru, dan menjawab pertanyaan ketika namanya dipanggil.

Namun, angka-angka di buku pelajaran terasa bercampur dengan angka pada tagihan rumah sakit.

Empat juta delapan ratus ribu.

Tujuh hari.

Tiga juta empat ratus lima puluh ribu yang belum dia miliki.

"Nadine."

Dia tersentak ketika seseorang menyentuh ujung mejanya.

Raka berdiri di samping bangkunya sambil membawa map biru.

"Kamu dengar aku ngomong dari tadi nggak?"

Nadine berkedip. "Apa?"

Raka menggeleng kecil. "Formulir beasiswamu. Kalau ada dokumen yang belum lengkap, bilang. Aku bisa bantu periksa."

"Makasih. Nanti aku cek lagi."

"Kamu kelihatan capek."

"Aku memang kurang tidur."

Raka tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya meletakkan selembar kertas berisi daftar dokumen yang diperlukan di atas meja Nadine.

"Jangan sampai kesempatan ini kelewat, ya."

Nadine tersenyum tipis. "Nggak akan."

Dia sungguh berharap bisa menepati janji itu.

Bel pulang berbunyi satu jam kemudian. Nadine merapikan buku, mengganti sepatu, lalu berjalan menuju tempat fotokopi tempatnya bekerja. Langit mendung menggantung di atas jalanan, tetapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan hujan.

Pak Udin sudah menunggunya di toko kecil di deretan ruko dekat jalan utama.

"Nad, tolong susun kertas di rak belakang, ya. Setelah itu bantu jaga mesin fotokopi."

"Baik, Pak."

Rutinitas itu biasanya membuat pikirannya lebih tenang. Ada sesuatu yang menenangkan dari pekerjaan sederhana: menyusun kertas, menghitung lembar fotokopi, menerima pembayaran, lalu mencatat setiap rupiah dengan teliti.

Setidaknya, di tempat ini, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Sampai sebuah mobil hitam berhenti di depan ruko.

Nadine tidak terlalu memperhatikannya pada awalnya. Mobil mewah bukan pemandangan yang benar-benar asing di kawasan itu. Namun, ketika pintu mobil terbuka dan seorang cowok berseragam sekolah turun, tangannya berhenti di atas tumpukan kertas.

Axel Pratama.

Ketua kelompok Orbit dari SMA Garuda.

Nama itu cukup sering terdengar di sekolah, biasanya diikuti bisikan, gosip, atau cerita tentang masalah yang melibatkan dirinya. Axel dikenal sebagai siswa yang sulit diatur, terlalu percaya diri, dan tidak pernah terlihat takut menghadapi siapa pun.

Dia juga berasal dari keluarga yang, menurut rumor, bisa membeli apa pun yang mereka inginkan.

Nadine tidak pernah tertarik ikut membicarakannya.

Dia hanya tahu satu hal: orang seperti Axel biasanya hidup di dunia yang sangat berbeda dari dunianya.

Axel membuka pintu toko dan masuk tanpa terburu-buru. Seragamnya masih rapi, tetapi dasinya sudah dilonggarkan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum berhenti tepat pada Nadine.

"Lo Nadine Kirana?"

Nadine mengerutkan kening. "Iya. Ada yang bisa dibantu?"

Axel tidak langsung menjawab. Dia melirik Pak Udin yang sedang bekerja di bagian belakang, kemudian kembali menatap Nadine.

"Gue mau ngomong sama lo."

"Kalau mau fotokopi, antre dulu."

Salah satu sudut bibir Axel terangkat tipis.

"Lo selalu jawab orang kayak gitu?"

"Kalau orangnya datang ke tempat kerja gue tanpa bilang mau apa, iya."

Untuk sesaat, Axel tampak seperti hendak membalas. Namun, dia justru memasukkan satu tangan ke saku celana dan menarik napas pendek.

"Gue nggak datang buat fotokopi."

"Terus?"

"Gue punya tawaran."

Nadine meletakkan kertas yang sedang disusunnya. "Tawaran apa?"

Axel melangkah mendekat, tetapi berhenti dengan jarak yang cukup aman di antara mereka. Tidak ada senyum ramah di wajahnya. Tatapannya serius, seolah dia sudah memikirkan percakapan ini jauh sebelum datang ke sana.

"Jadi pacar gue."

Nadine menatapnya tanpa berkedip.

Selama beberapa detik, suara mesin fotokopi di belakang mereka menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Lalu Nadine tertawa pendek, bukan karena tawaran itu lucu, melainkan karena dia benar-benar tidak tahu harus menanggapinya dengan cara apa.

"Maaf, gue salah dengar."

"Nggak. Lo dengar dengan benar."

"Lo bahkan nggak kenal gue."

"Justru itu alasan gue datang langsung."

Nadine menggeleng. "Kalau ini lelucon, gue lagi kerja. Cari orang lain buat diajak bercanda."

"Gue serius."

"Kenapa gue?"

Axel terdiam sesaat.

Pertanyaan itu tampaknya tidak mengejutkannya, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang berubah. Seolah-olah jawaban sebenarnya jauh lebih panjang daripada yang bersedia dia katakan sekarang.

"Karena gue butuh seseorang yang bisa dipercaya buat menjalani hubungan pura-pura."

Nadine nyaris mengira dirinya salah mendengar untuk kedua kalinya.

"Hubungan pura-pura?"

"Tiga bulan."

"Lo pikir pacaran itu pekerjaan paruh waktu?"

"Anggap aja begitu."

"Dan kenapa harus gue?"

Kali ini, Axel tidak segera menjawab. Dia mengamati Nadine, sementara gadis itu berusaha mencari tanda bahwa semua ini hanyalah cara buruk untuk mengerjainya.

Tidak ada.

Axel mengeluarkan sebuah amplop tipis dari saku tasnya, lalu meletakkannya di meja.

"Gue tahu lo mungkin bakal nolak. Baca dulu isinya sebelum mutusin."

Nadine tidak menyentuh amplop itu.

"Gue nggak tertarik."

"Lo bahkan belum tahu apa yang gue tawarkan."

"Dan lo belum tahu apa yang gue butuhkan."

Kalimat itu membuat Axel terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke toko, ekspresinya kehilangan sedikit ketenangan. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa percakapan ini tidak akan berjalan semudah yang dia rencanakan.

Lalu ponsel Nadine bergetar di atas meja.

Sebuah pesan dari rumah sakit muncul di layar, mengingatkannya tentang pembayaran perawatan ibunya yang harus diselesaikan dalam tujuh hari.

Nadine segera membalik ponselnya.

Namun, gerakan itu terlambat.

Tatapan Axel sempat jatuh ke layar sebelum kembali ke wajahnya. Dia tidak bertanya tentang pesan tersebut, tidak pula mencoba menghiburnya. Dia hanya mendorong amplop itu sedikit lebih dekat.

"Pertimbangkan dulu."

Nadine menatap amplop itu, kemudian menatap Axel lagi.

"Gue nggak bisa dibeli."

"Gue nggak bilang lo bisa dibeli."

"Tapi lo datang membawa tawaran yang bahkan belum gue pahami."

"Karena gue tahu lo nggak akan mendengarkan kalau gue langsung menjelaskan semuanya."

Jawaban itu membuat Nadine semakin curiga.

Axel merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik sesuatu dengan cepat.

"Nomor gue ada di dalam amplop. Kalau lo berubah pikiran, hubungi gue."

"Dan kalau gue nggak menghubungi lo?"

Axel berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi.

"Berarti gue harus menerima penolakan lo."

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi Nadine tidak yakin cowok seperti Axel terbiasa menerima kata tidak.

"Kenapa gue?" tanyanya sekali lagi.

Axel menatapnya selama beberapa detik.

"Kita pernah ketemu sebelumnya, Nadine. Lo aja yang mungkin nggak ingat."

Sebelum Nadine sempat meminta penjelasan, Axel sudah keluar dari toko dan masuk ke mobil hitamnya.

Mobil itu melaju meninggalkan deretan ruko, menyisakan suara kendaraan lain dan amplop yang masih tergeletak di meja.

Nadine berdiri tanpa bergerak.

Dia tidak tahu apa yang lebih aneh: tawaran menjadi pacar pura-pura dari cowok paling sulit didekati di sekolahnya, atau kenyataan bahwa Axel mengatakan mereka pernah bertemu sebelumnya.

Dia menatap amplop itu cukup lama sebelum akhirnya membukanya.

Di dalamnya ada selembar kertas berisi beberapa baris singkat.

Durasi: 90 hari.

Peran: Pacar Axel Pratama di hadapan pihak-pihak tertentu.

Imbalan: Pembayaran biaya yang telah disepakati.

Di bagian bawah, ada satu kalimat yang membuat napas Nadine tertahan.

Rincian lengkap akan dibicarakan setelah kedua pihak menyatakan bersedia.

Nadine membaca kalimat itu berulang kali.

Dia seharusnya meremas kertas tersebut, membuangnya ke tempat sampah, lalu kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.

Itulah pilihan yang paling masuk akal.

Namun, ketika matanya kembali tertuju pada notifikasi rumah sakit di ponsel, dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa waktu terus berjalan, sementara tabungannya tidak bertambah cukup cepat.

Nadine memasukkan kertas itu kembali ke amplop.

Dia belum menerima tawaran Axel.

Belum.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak tagihan itu tiba, sebuah kemungkinan muncul di hadapannya—kemungkinan yang mungkin bisa menyelamatkan keadaan, sekaligus menyeretnya ke masalah yang sama sekali tidak dia pahami.

Dan Nadine belum tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya dalam beberapa hari ke depan bukan hanya akan mengubah hubungan mereka.

Keputusan itu juga akan menguji seberapa jauh dia bisa mempertahankan dirinya sendiri ketika seseorang mulai menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang tidak ingin dilepaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!