NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lilis Tak Fokus Latihan 12.

Kebohongan Lilis di kantin siang itu menyisakan atmosfer aneh yang menggantung di udara sekolah sempai saat ini.

Tidak ada baku hantam antara Azril dan Dafa. Gosip yang awalnya panas perlahan mendingin karena Lilis telah memotong sumbunya sendiri. Namun bagi Lilis, konsekuensi terbesar bukan pada pandangan orang lain, melainkan pada dadanya sendiri yang mendadak terasa kosong. Ada rasa bersalah yang konstan setiap kali dia berpapasan dengan Azril di koridor, dan ada kecanggungan baru yang tak kasatmata setiap kali netranya tidak sengaja bertabrakan dengan Dafa.

Untuk membunuh semua isi kepala yang berisik itu, Lilis menumpahkan seluruh energinya pada latihan cheerleader.

Sore itu, aula olahraga sekolah terasa pengap meski semua jendela besar sudah dibuka.

Bunyi derit sepatu yang bergesekan dengan lantai parket berpadu dengan ketukan musik upbeat dari pelantang suara portabel.

Lilis memimpin di barisan depan. Sebagai flyer utama, fokusnya harus penuh. Dia tidak boleh memikirkan bagaimana Azril tersenyum canggung saat menolak diajak makan siang bersama tadi, atau bagaimana Dafa kemarin sengaja memalingkan muka saat mereka berpapasan di depan ruang guru.

"Oke, satu kali lagi dari formasi piramida! Habis ini kita bubar!" seru Lilis, sang kapten sambil bertepuk tangan memberikan instruksi.

Lilis menarik napas dalam-dalam, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Dia mengambil posisi. Ketika musik kembali berputar, tubuhnya bergerak otomatis. Hitungan satu sampai empat adalah transisi, hitungan kelima dia harus melompat, bertumpu pada telapak tangan dua base-nya, dan mengunci tubuh di udara.

Semua berjalan lancar sampai pada proses dismount—saat Lilis harus turun dan mendarat.

Pikirannya mendadak terdistraksi oleh bayangan cowok berjersei basket nomor tujuh yang baru saja melintas di luar jendela aula.

Fokus Lilis buyar dalam sepersekian detik. Keseimbangannya goyah di udara. Saat tubuhnya meluncur turun, posisinya terlalu condong ke kanan.

Prak!

"Aw!" Lilis memekik spontan saat kaki kanannya menyentuh lantai dengan sudut yang salah. Pergelangan kakinya menekuk ke dalam, menahan beban seluruh tubuhnya secara paksa. Dia langsung ambruk ke lantai parket, mencengkeram kakinya dengan wajah yang mendadak pias menahan nyeri.

Musik langsung dimatikan seketika. Suasana aula berubah panik.

"Lilis! Lo nggak apa-apa?" Feli langsung berlari mendekat, diikuti anggota tim yang lain yang langsung mengerumuninya.

"Kaki... kaki gue," bisik Lilis, giginya rapat menahan rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari pergelangan kaki hingga ke betis.

Berdenyut kencang, panas, dan langsung membengkak dalam hitungan menit.

Anak-anak cheers segera mengambil tindakan. Seseorang berlari mengambil es batu dari ruang UKS, sementara yang lain membantu Lilis bergeser ke tepi lapangan, bersandar pada dinding aula yang dingin. Setelah dibalut dengan kain kompres es, rasa sakitnya sedikit mereda menjadi denyutan tumpul yang konstan, tapi Lilis tahu dia tidak akan bisa berjalan normal sore ini.

Jam dinding aula sudah menunjukkan pukul lima sore lewat ketika latihan akhirnya resmi dibubarkan. Satu per satu anggota tim pamit pulang setelah memastikan kondisi Lilis aman.

"Lis, beneran nggak mau gue tungguin sampai jemputan lo dateng?" tanya Vanya, wajahnya tampak cemas sambil menggendong tas olahraganya.

Lilis memaksakan senyum tipis, berusaha meyakinkan sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Van. Supir gue udah di jalan kok, bentar lagi nyampe depan gerbang. Daripada lu kemalaman, duluan aja. Gue bisa jalan pelan-pelan nanti."

"Ya udah, hati-hati ya. Jangan dipaksa jalan kalau sakit banget. Besok lo absen latihan dulu," pesan Vanya sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Lilis sendirian di aula yang kini terasa sangat luas dan sunyi.

Kebohongan kecil. Lilis tidak memesan jemputan. Dia tahu ibunya sedang sibuk di butik dan ayahnya masih rapat di luar kota. Rencana awalnya adalah pulang naik angkutan umum, rencana yang sekarang terdengar mustahil dengan kondisi satu kaki yang lumpuh sebelah.

Lilis menghela napas panjang. Dia menatap pergelangan kakinya yang dibalut kain.

Rasa nyeri itu kembali menggigit saat es batu di dalamnya mulai mencair. Dipicu oleh rasa lelah fisik dan beban mental dari kejadian beberapa hari ini, setitik air mata akhirnya lolos dari sudut matanya. Lilis benci merasa lemah, dan dia lebih benci lagi terjebak dalam situasi tidak berdaya seperti ini.

Menggunakan sisa tenaga dan dinding sebagai tumpuan, Lilis mencoba berdiri. Dia merintih pelan saat kaki kanannya menyentuh lantai. Tertatih-tatih, dia menyeret langkahnya keluar dari aula. Targetnya sederhana, koridor luar dekat lapangan basket, tempat yang setidaknya memiliki bangku panjang berteduh dan lebih dekat aksesnya ke gerbang sekolah.

Setiap langkah terasa seperti siksaan.

Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya. Ketika akhirnya dia berhasil mencapai bangku panjang di pinggir lapangan basket luar, Lilis langsung menjatuhkan diri.

Dia menyandarkan kepalanya ke tiang besi bangku, napasnya terengah-engah, memejamkan mata rapat-rapat untuk menghalau rasa sakit.

Sekolah sudah sepi.

Angin sore bertiup agak kencang, menerbangkan beberapa lembar daun kering di atas lapangan semen yang kosong. Atau setidaknya, itu yang Lilis pikirkan.

Dug... Dug... Dug...

Suara pantulan bola yang ritmis memecah keheningan.

Lilis membuka matanya perlahan. Di ujung lapangan yang remang oleh cahaya matahari yang mulai tenggelam, seorang cowok sedang melakukan dribble sendirian.

Dia mengenakan kaus latihan hitam yang basah oleh keringat, celana pendek basket, dan sepatu yang tampak usang di bagian ujungnya.

Dafa.

Cowok itu melakukan gerakan memutar yang halus, melompat, dan melepaskan bola dari tangannya.

Swish.

Bola masuk sempurna tanpa menyentuh ring. Dafa berjalan santai mengambil bola yang membal memantul, lalu berbalik untuk melakukan lay-up lagi.

Namun, gerakannya terhenti di tengah jalan. Tatapannya tidak sengaja menangkap siluet seorang gadis yang duduk meringkuk di bangku penonton pinggir lapangan.

Jarak mereka sekitar lima puluh meter, tapi intensitas tatapan Dafa membuat Lilis merasa seolah cowok itu berdiri tepat di depannya.

Lilis reflek membetulkan posisi duduknya, berusaha menyembunyikan kaki kanannya yang membengkak di balik tas sekolahnya yang diletakkan di lantai.

Dia tidak sudi terlihat menyedihkan, terutama di depan Dafa.

Dafa tidak langsung berjalan mendekat. Dia berdiri diam di tengah lapangan, memeluk bola basket di pinggang kirinya, menatap Lilis dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Remang senja membuat bayangan cowok itu memanjang di atas semen lapangan.

Ada jeda beberapa detik yang terasa begitu lama dan mengintimidasi, seolah keduanya sedang menimbang-nimbang siapa yang harus memutus dinding pembatas di antara mereka terlebih dahulu.

Hingga akhirnya, Dafa menjatuhkan bola basketnya ke tanah.

Bola itu menggelinding tak tentu arah, sementara sang pemilik mulai melangkah, memangkas jarak di antara mereka berdua di bawah langit sore yang perlahan meredup.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!