Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemotretan Pertama
Pagi itu, Coffee Aroma Waktu tampak lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa meja telah digeser untuk memberi ruang bagi tim Hannah. Peralatan pemotretan tertata rapi di salah satu sudut ruangan, sementara cahaya matahari yang menembus jendela kaca menjadi pencahayaan alami yang ingin dimanfaatkan Hannah.
“Far, coba geser reflektornya sedikit ke kanan,” ujar Hannah sambil memeriksa posisi kamera.
Farah segera mengikuti arahannya.
“Begini, Kak?”
Hannah mengamati pantulan cahaya pada layar kamera, lalu mengangguk. “Iya, pas. Insyaallah, kita bisa mulai.”
Faz yang sejak tadi duduk di dekat jendela bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya sebelum menghampiri Hannah.
“Jadi, saya harus berdiri di mana?”
Hannah menunjuk kursi di dekat jendela.
“Untuk foto pertama, saya ingin mengambil konsep candid. Anda bisa duduk di sana, lalu berpura-pura sedang membaca buku atau menikmati kopi. Tidak perlu terlalu banyak berpose. Saya ingin hasilnya terlihat alami.”
Faz tersenyum tipis.
“Baik. Saya serahkan semuanya kepada fotografer.”
Hannah membalas senyum itu dengan anggukan kecil. Ia mulai mengatur komposisi gambar, memastikan posisi Faz, arah cahaya, dan latar belakang sudah sesuai dengan konsep yang disusunnya.
Untuk pertama kalinya, ia mendapat kesempatan bekerja bersama Faz. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
“Bagaimana, Hannah? Sudah siap?” tanya Rozin yang baru saja selesai memeriksa perlengkapan.
“Sebentar lagi,” jawab Hannah tanpa mengalihkan pandangan dari kamera.
Namun, sebelum ia sempat menekan tombol rana, suara perempuan terdengar dari arah pintu masuk.
“Faz?”
Faz menoleh.
Seketika, ekspresinya berubah. Ada keterkejutan yang jelas terlihat di wajahnya, meskipun hanya berlangsung sesaat.
“Alya? Kamu kok ke sini?”
Hannah yang masih sibuk memeriksa pengaturan kamera tidak langsung mengangkat wajah. Ia hanya menangkap perubahan nada suara Faz.
“Aku menghubungimu tadi, tapi kamu tidak membalas. Tadi Tante bilang kamu ada pemotretan di Coffee Aroma Waktu. Kebetulan aku ada urusan di dekat sini, sekalian mampir.”
Perempuan itu melangkah mendekat dengan senyum ramah. Rambut panjangnya terurai, dan cara ia berbicara kepada Faz menunjukkan keakraban yang tak mungkin terjalin dalam waktu singkat.
Faz membalas senyumnya.
“Oh, iya. Maaf, ponselku dari tadi kusimpan. Kenalkan, ini tim yang membantu pemotretanku.”
Ia kemudian menoleh kepada Hannah.
“Hannah, ini Alya.”
Perlahan, Hannah mengangkat wajah.
Dan pada detik itulah, dunia seolah berhenti berputar.
Tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang sangat dikenalnya. Mata yang pernah menyaksikannya tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Mata yang menyimpan potongan-potongan kisah dari masa lalu yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Jantung Hannah berdegup semakin cepat.
Alya.
Dari sekian banyak orang yang mungkin datang ke tempat ini, mengapa harus dia?
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap. Senyum di wajah Alya masih terjaga, tetapi sorot matanya perlahan berubah. Seolah-olah ia sedang berusaha mencocokkan wajah di hadapannya dengan seseorang yang pernah dikenalnya.
Lalu, Alya mengulurkan tangan sedikit sebagai sapaan.
“Hai, aku Alya.”
Hannah berusaha mengendalikan dirinya.
“Hannah,” jawabnya singkat.
Alya mengamati perempuan bercadar di hadapannya. Tatapannya bergerak dari mata Hannah ke pakaian yang dikenakannya, seakan mencari sesuatu yang bisa membantunya mengingat.
“Maaf, ya. Tapi kamu mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal.”
Napas Hannah seolah tertahan.
Kalimat sederhana itu terasa seperti ketukan keras pada pintu masa lalu yang telah susah payah ia tutup.
Ia memaksa dirinya tetap tenang. Meski wajahnya tertutup cadar, kegugupan itu tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Sorot matanya sempat berubah sebelum ia kembali menunduk.
“Mungkin memang ada seseorang yang mirip denganku,” jawabnya pelan.
Alya terdiam sejenak.
“Bisa jadi.”
Namun, senyum tipis yang muncul di bibirnya justru membuat Hannah semakin gelisah. Apakah Alya benar-benar belum mengenalinya, atau perempuan itu hanya sedang berpura-pura tidak tahu?
Hannah tidak berani mencari jawabannya.
Di sisi lain, Faz memperhatikan percakapan singkat tersebut. Ia menangkap sesuatu yang terasa ganjil dari sikap keduanya. Terutama Hannah, yang sejak tadi tampak berusaha keras mengendalikan diri.
Namun, sebelum ia sempat bertanya, Alya lebih dahulu menoleh kepadanya.
“Nanti kita bicara, ya, Faz. Ada yang ingin kutanyakan.”
Faz mengangguk kecil. “Iya. Nanti.”
Alya kemudian memilih duduk di salah satu meja yang tak jauh dari lokasi pemotretan. Sebelum kembali ke tempatnya, Faz menghampirinya sebentar untuk menanyakan apakah ia ingin memesan sesuatu.
Hannah memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali memeriksa kameranya.
Setidaknya, ia harus terlihat profesional.
Ia sudah berjuang begitu keras untuk sampai di titik ini. Ia ingin bekerja, membuktikan kemampuannya, dan menjalani hidup tanpa terus-menerus dihantui oleh kesalahan masa lalu.
Ia tidak ingin kembali menjadi perempuan yang sama seperti dulu.
Namun, kehadiran Alya membuat semua pertahanan yang dibangunnya terasa rapuh.
Mengapa harus hari ini?
Mengapa harus di tempat ini?
Dan yang paling membuatnya gelisah, bagaimana jika Alya benar-benar mengenalinya?
“Hannah?”
Suara Faz menyadarkannya.
Ia segera mengangkat wajah. Faz sudah kembali berdiri di hadapannya, menatapnya dengan raut khawatir.
“Kamu baik-baik saja?”
Hannah mengangguk cepat.
“Iya. Maaf, tadi saya sedikit kehilangan fokus.”
Faz tidak langsung menjawab. Tatapannya tertahan pada mata Hannah, seolah berusaha menemukan sesuatu di balik kegugupan yang tak mampu disembunyikan perempuan itu.
“Kamu yakin?”
“Insyaallah. Kita bisa mulai sekarang.”
Faz mengamatinya sesaat, tetapi akhirnya memilih tidak mendesak.
“Baiklah. Kalau begitu, kita mulai lagi.”
Ia kembali duduk di dekat jendela, mengambil buku yang telah disiapkan sebagai properti pemotretan.
Hannah mengangkat kameranya.
Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.
Ia berusaha mengembalikan pikirannya pada pekerjaan. Mengatur fokus, memeriksa pencahayaan, lalu mengarahkan Faz untuk sedikit memiringkan wajah ke arah jendela.
Klik.
Satu foto berhasil diambil.
Klik.
Foto kedua menyusul.
Namun, tepat ketika Hannah hendak mengambil gambar berikutnya, ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Awalnya, ia berniat mengabaikannya. Akan tetapi, getaran itu kembali terdengar, disusul sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak tersimpan dalam kontaknya.
Hannah melirik layar sekilas.
Lalu tubuhnya mendadak kaku.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
Aku tahu siapa kamu sebenarnya.
Jari-jari Hannah mencengkeram kamera.
Ia membaca pesan itu sekali lagi, berharap dirinya salah memahami maksudnya.
Siapa yang mengirim pesan tersebut?
Alya?
Atau seseorang dari masa lalu yang selama ini ia kira tak akan pernah menemukannya lagi?
“Hannah, kenapa berhenti?” tanya Faz dari dekat jendela.
Hannah segera mematikan layar ponselnya.
“Tidak apa-apa,” jawabnya terbata. “Sebentar, saya hanya perlu memeriksa sesuatu.”
Hannah mulai tidak fokus. Dia melihat ke arah Alya. Alya tersenyum menyeringai.
Kamera di tangan Hannah nyaris terlepas.
Sementara itu, dari dekat jendela, Faz memperhatikan Hannah yang terus menoleh ke arah Alya. Ia melihat dengan jelas bagaimana mata Hannah berubah ketakutan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal perempuan bercadar itu, Faz merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.
Sesuatu yang mungkin jauh lebih besar daripada sekadar masa lalu yang ingin dilupakan.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊