Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah mengobrol dengan pak Mahmud, dan Bu susan. Alya kini tak takut lagi dengan mantan preman itu, bahkan saat jam makan mereka makan bersama.
"berarti bang, sekarang kalian jadi kuli panggul." tanya Alya.
"ia Bu bos, Alhamdulillah walau pendapatan gak sebesar dulu. Tapi hati kami tentram, kami juga gak perlu takut kalok ada orang yang tiba tiba nyerang"
"bener kata Jamal Bu bos, selain karung beras. Kami juga sudah mulai bisa mengangkat derajat keluarga"
"syukurlah kalau begitu, memang harus memanfaatkan kekuatan ya bang. apalagi otot otot Abang gede gede, sayang banget kalok gak di sia siain."
"oh ia bang, gimana sama kak arus. Walau kak arus juga punya otot gede, tapi kan gak Segede punya Abang Abang. Apa gak ada yang ngerundung dia" lanjut Alya.
"kalo itu tenang Bu bos, mana ada yang berani sama bang arus. dia hampir gak takut apapun, bang arus cuma takut sama satu hal"
"takut sama satu hal, apa itu bang..."penasaran Alya.
Seketika arus langsung melotot ke arah beberapa mantan preman itu.
"dia takut sama istrinya kalau udah marah" jawab salah satu mantan preman yang langsung berlari.
Arus hendak mengejar, namun saat mendengar panggilan dari sang istri dia langsung berhenti.
Waktu menoleh, arus langsung terdiam melihat Alya sudah melotot ke arahnya.
Arus terus bercerita dengan mantan preman itu, setelah itu ia membantu para lansia.
Dan akhirnya bermain dengan anak anak, tak terasa hari sudah menjelang sore.
Arus sudah menghampiri sang istri.
"ayo pulang" ajak arus dengan lembut.
"udah mau pulang, apa gak nginep 1 hari lagi."
"kalo mau main besok aja, nanti mama sama papa khawatir".
Alya tak punya pilihan lagi, bagaimanapun jika dirinya tak pulang.
Pasti kedua orang tua dan mertuanya akan khawatir, dan ujung ujungnya yang di salahkan tetaplah arus.
Setelah berpamitan, motor mereka melaju.
Membelah sejuknya angin sore.
"kak, tenyata para mantan preman itu gak seserem yang ku bayangkan" ungkap Alya dengan tangan masih melingkar di pinggang arus.
"begitulah... kita tak bisa menilai dari satu tatapan dan pendengaran saja. Lebah memang akan menyengat orang yang mendekatinya, tetapi itu bukan karena dia jahat. Ada lebah yang hanya sedang melindungi sarang dan keluarga kecil mereka. Sebaliknya, kupu-kupu begitu indah di pandang, tetapi di antaranya ada yang membawa racun yang tertutup keindahannya."
Alya semakin mengeratkan pelukan, merasakan kehangatan dalam dekapannya.
"kak, kapan kita mau ke panti lagi."
"kamu suka di sana..."
Alya sepontan mengangguk, walau tau arus tak akan bisa melihat anggukannya.
"aku suka panti, walau mereka adalah orang orang yang pernah di buang. Tapi mereka masih memiliki senyuman tulus, mereka juga tak memilih apa yang di dapat. Apapun mereka syukuri."
"kalok begitu, kapan kapan jika ada waktu kita ke sana lagi."
saat sampai di rumah, Anhar dan Lia sudah ada di depan rumah.
"ada apa kak." tanya Alya bingung.
Pasalnya kedua orang itu terlihat mondar-mandir sedari tadi.
"akhirnya kamu pulang ly, ayok masuk." ajak Lia.
"memang ada apa kak...?"
"udah masuk aja, dulu.."
arus mengikuti langkah sang istri dari belakang, saat sampai di dalam. Terlihat kedua orang tua Alya sudah duduk di ruang tamu.
Tentu Alya dan gurun langsung menyalami kedua tangan orang itu.
"ma, pa... Ada apa kesini." tanya Alya yang sedikit menegang melihat raut wajah orang tuanya.
"ly, kita pulang" ungkap sang ayah.
"pulang ..? Kenapa...? Bukannya ini juga rumah ly ly" tolak Alya.
"ly, kamu tau kan situasi."
ayah Alya mengalihkan pandangan ke arah dewangga, bagaimanapun dewangga adalah ayah dari arus.
namun dewangga hanya mengangguk.
"kamu tau kan berita di desa, satu desa membicarakan suamimu. Apa lagi tempo hari suamimu memukul Bagas di yayasan, kini pihak Bagas ingin menempuh jalur hukum. jadi tempat terbaik untukmu sekarang di rumah."
"enggak pa... Ly ly juga tau kak arus sudah di fitnah, sekarang ly ly udah menikah. Tanggung jawab sekarang ada di tangan kak arus"
Lia yang ada di samping Alya mengelus tangan adiknya itu.
melihat tatapan keluarga yang tak percaya, akhirnya Alya mengeluarkan ponsel. Ia menunjukkan video yang sudah di kirim oleh pak Mahmud.
"ini... Bukannya ini orang yang di foto..." terkejut mereka.
Alya sepontan mengangguk...
"kejadiannya udah 3 tahun, dia pak Mahmud. Tadi Alya berbicara langsung sama orangnya, foto yang di grub memang gak salah. Cuma yang ngirim gak ngasih keterangan kejadian, dia sengaja ngebuat asumsi liar. Padahal di foto bukan kak arus yang memukuli pak Mahmud, malahan kak arus yang nolong pak Mahmud. Kalok pas di puncak, kak arus babak belur gara gara nolong bapak tukang bakso yang di keroyok, soal perg. Kak arus pergi memenuhi janji kepada bapak penjual bakso" ungkap Alya sedikit menggebu.
"syukurlah kalok gitu, tapi kenapa gak kamu sebar ke grup aja kalok kamu punya ini".
arus yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulutnya.
"untuk ini biarkan saja asumsi liar, aku sedang mencari pelaku. Dengan asumsi publik masih liar, itu akan memudahkan ku menemukan pelaku"
seisi rumah kini menatap arus.
"lalu bagaimana dengan pemukulan Bagas.." tanya dewangga.
"dia sudah menjelekkan Alya, bahkan itu termasuk merendahkan. Kalau mereka mau melaporkan aku juga bisa melapor balik dengan bukti yang ku punya."
"percayalah padaku kali ini saja"
arus bahkan sampai berlutut...
"biarkan Alya tetap di sini" lanjut arus.
Melihat ini Alya ikut berlutut...
"benar kata kak arus, aku mendukung suamiku seratus persen, jadi biarkan aku terus di sisinya."
seisi rumah tak ada yang menjawab, namun Juan langsung berdiri.
Dengan langkah pincang, ia membantu arus lalu baru putrinya untuk berdiri.
"ly, maafkan ayah... Ayah akan mempercayai kalian, tapi tolong jangan seperti kemarin sampai tak mau makan dan tidur."
Juan langsung memeluk putri semata wayangnya itu.
Air mata keduanya menetes, tangisan pecah dalam pelukan.
Setelah puas menangis, Juan melepaskan dekapannya dan beralih menatap arus.
"maafkan papa jika sudah menyakiti, dan ikut memfitnahmu"
arus mengangguk....
"tak ada yang salah, itu memang asumsi liar. Setiap orang pasti akan mengira demikian.".
Juan menepuk pundak menantunya itu..
"papa akan serahkan semuanya kepadamu, tapi tolong jaga Alya. Dia anak satu satunya, dari kecil kami selalu memanjakannya sebagai seorang ratu."
arus mengangguk....
akhirnya mereka kembali ke kamar, sedangkan keluarga Alya pamit pulang dengan hati sedikit lega.
"tu kan pa... Apa mama bilang, coba jangan langsung berfikir negatif dengan putramu. Walau begitu arus masih anak kita." omel Juita.
dewangga hanya mengangguk, dia pun tau kesalahannya.