NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - Sweet Chaos

Ayah dan Ibu masih terkejut dengan kenyataan bahwa Liam adalah CEO Adinata Food.

Ayah menatapku.

"Elle... kamu pacaran sama CEO perusahaan besar? Bagaimana bisa?" tanya Ayah.

Aku menghela napas.

Sepertinya aku harus sedikit mengarang cerita tentang aku dan Liam. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang kesepakatan kami.

"Sebenarnya, kami dulu satu sekolah waktu SMA. Terus beberapa waktu lalu kami ketemu lagi, saling suka, lalu akhirnya memutuskan untuk pacaran," ucapku.

Ibu menatap Liam.

"Kamu satu SMA dengan Elle? Berarti kamu orang sini?" tanya Ibu.

"Oh, bukan, Tante. Mama saya memang orang sini, tapi saya lahir di Jakarta. Lalu, waktu Mama saya meninggal, saya tinggal di sini bersama Nenek karena Papa saya sibuk bekerja dan tidak bisa mengurus saya sepenuhnya," ucap Liam.

"Mama kamu sudah meninggal?" tanya Ibu dengan wajah terkejut.

"Iya, Tante. Waktu saya masih SMP."

Hening.

"Ya ampun... pasti itu berat sekali untuk kamu," ucap Ibu.

"Iya, dulu memang berat. Tapi sekarang sudah tidak," jawab Liam.

"Karena kamu pacarnya Elle, kamu bisa anggap Tante sebagai ibu kamu sendiri."

Hah?

Bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu?

"Dan tidak usah panggil Tante. Panggil Ibu saja," tambah Ibu.

Eh?

"Baik... Bu," ucap Liam.

Ibu tersenyum.

"Kamu CEO Adinata Food, kamu anaknya pendiri Adinata Food atau karena kamu bisa dipercaya lalu jadi CEO di sana?" tanya Ayah.

"Saya anak pendiri Adinata Food," jawab Liam.

"Ah, kamu pewaris. Jadi kamu tinggal duduk manis menerima jabatan begitu, ya? Tanpa perlu bekerja keras dari bawah."

"Ayah..." tegurku dan Ibu hampir bersamaan.

Liam tersenyum.

"Saya memang pewaris dari Papa saya. Tapi bukan berarti saya langsung menjabat sebagai CEO. Dulu, setelah saya lulus kuliah dan masuk Adinata Food, saya ditempatkan di bagian Marketing. Saya menjadi karyawan biasa yang mendapat gaji bulanan sebesar UMR," ucap Liam.

Eh?

Ternyata perjalanan Liam dulu seperti itu.

"Ah, seperti itu..." Ayah mengangguk. "Kamu kan CEO, kaya, tampan, kenapa kamu malah mau dengan anak saya yang dari keluarga biasa ini?"

"Karena saya nyaman dengan Elle," jawab Liam.

Aku langsung menoleh ke arah Liam.

"Dan saya tidak peduli dengan status seseorang. Mau dia berasal dari keluarga mana pun, kalau dia membuat saya nyaman dan membuat saya ingin selalu bersamanya, saya akan memilihnya," tambah Liam.

Manis sekali kata-katanya.

Andai saja Ayah tahu apa yang sudah Liam lakukan kepadaku dua belas tahun lalu.

"Ya ampun... Ibu tidak menyangka kamu seperti ini. Ibu kira anak orang kaya akan memilih orang yang setara," ucap Ibu.

"Memang ada orang kaya yang seperti itu, tapi bukan saya," jawab Liam.

Ibu tersenyum.

"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu? Papa kamu... apakah beliau setuju dengan kalian?" tanya Ayah.

"Setuju, Om. Kami berdua sudah menemui Papa saya beberapa waktu lalu," jawab Liam.

Ayah mengangguk.

"Lalu kenapa kamu jauh-jauh datang ke sini?" tanya Ayah.

"Selain ingin memperkenalkan diri... saya juga ingin meminta izin kepada Tante dan Om untuk menikahi Elle," ucap Liam.

"Menikah?" Ibu menatapku. "Elle?"

"Ayah... Ibu... kami berencana untuk menikah kalau Ayah dan Ibu merestui kami," ucapku.

Ayah menatapku.

"Elle... apa... kamu hamil?" tanya Ayah.

Kami semua terkejut mendengar ucapan Ayah.

"Nggak, Yah. Nggak," jawabku cepat.

"Lalu kenapa tiba-tiba mau menikah? Waktu kamu bilang punya pacar setelah bertemu Beni, Ayah merasa aneh. Kenapa tiba-tiba kamu punya pacar? Padahal selama ini kamu nggak pernah punya pacar."

"Itu karena aku belum siap cerita ke Ayah dan Ibu. Eh, malah aku disuruh kenalan sama Beni," ucapku.

"Terus sekarang sudah siap?" tanya Ayah.

Aku mengangguk.

"Kenapa sudah siap? Jangan-jangan karena terpaksa. Karena kamu sudah hamil, jadi dengan terpaksa kamu bawa dia ke sini," ucap Ayah.

"Ayah! Kenapa Ayah ngomong kayak gitu sih? Aku ini anak Ayah, lho. Kenapa Ayah nggak percaya sama anak sendiri?" protesku.

"Soalnya ini terlalu mendadak. Dan selama ini kamu nggak pernah punya pacar. Ya, Ayah jadi mikir begitu. Siapa tahu kalian melakukan kesalahan lalu kamu hamil," ujar Ayah.

"Nggak, Yah. Kami nggak kayak gitu. Dan aku nggak akan biarin laki-laki mana pun nyentuh aku sebelum menikah. Tapi tentu aja laki-laki itu harus orang yang aku cintai dan mencintaiku," ucapku.

"Begitu, ya? Oke. Kalau kamu nggak hamil, coba kamu buktikan ke Ayah."

"Buktikan gimana?" tanyaku.

"Tes pakai test pack," jawab Ayah.

Hah?

Aku dan Liam saling berpandangan.

"Ayah... tapi di sini nggak ada test pack. Ibu sudah nggak punya lagi," ucap Ibu.

"Ya beli. Biar Liam yang beli," ucap Ayah.

Aku dan Liam langsung menatap Ayah.

"Ayah... masa tamu yang beli?" ucap Ibu.

"Kalau memang Elle hamil, berarti itu tanggung jawab dia," jawab Ayah.

"Ayah, aku nggak hamil. Nggak perlu tes segala," ucapku.

"Eh? Apa kamu benar-benar hamil dan sekarang kamu takut ketahuan?" ujar Ayah.

"Nggak!" jawabku cepat.

"Kalau nggak, berarti kamu harus membuktikannya."

Aku menghela napas.

Ayah menatap Liam.

"Kamu bisa pakai motor?" tanya Ayah.

"Bisa, Om," jawab Liam.

Ayah berdiri lalu mengambil kunci motor dan helm.

"Kamu pakai motor yang di luar itu. Lalu belikan test pack. Apoteknya dari sini lurus ke barat, sekitar sepuluh menit," ucap Ayah.

"Baik, Om," jawab Liam lalu berdiri.

Aku ikut berdiri.

"Aku ikut."

"Nggak. Kamu di sini aja," ucap Ayah tegas.

Aku menghela napas.

Liam akhirnya mengambil kunci motor dan helm.

"Belinya jangan cuma satu, ya," ucap Ayah.

"Baik, Om," jawab Liam.

Lalu Liam keluar rumah.

Tak lama kemudian, Liam pergi meninggalkan rumah dengan motor Ayah.

"Ayah... aku nggak hamil, lho, Yah," ucapku.

"Ayah belum percaya kalau belum ada buktinya."

Aku mendecakkan lidah.

"Ayah... masa Ayah nggak percaya sama anak kita?" tanya Ibu.

"Soalnya terlalu mendadak, Bu. Memangnya Ibu nggak merasakan hal yang sama dengan Ayah?" tanya Ayah.

Ibu terdiam.

Setelah itu, kami menunggu Liam dalam diam.

Tak lama kemudian, Liam kembali.

"Ini, Om," ucap Liam sambil menyerahkan sebuah kantong plastik kepada Ayah.

Ayah menerimanya lalu memberikannya kepadaku.

"Sana cek," ucap Ayah.

Aku mengangguk malas.

"Ibu temenin," ucap Ibu.

Aku dan Ibu pun pergi ke belakang menuju kamar mandi.

"Elle... caranya itu..." ucap Ibu.

"Aku tahu, Bu. Meskipun aku belum pernah pakai, tapi aku tahu cara pakainya," jawabku.

"Oh... baiklah."

Aku pun masuk ke kamar mandi.

Kuambil test pack dari dalam kantong plastik. Ternyata di dalamnya ada tiga test pack.

Aku langsung menghela napas.

Mengapa Liam membeli sebanyak ini?

Setelah itu, aku menggunakan ketiga test pack tersebut.

Aku menunggu hasilnya.

Beberapa saat kemudian, hasil test pack itu muncul.

Satu garis.

Negatif.

Aku menghela napas lega dan tersenyum puas.

Aku pun keluar dari kamar mandi.

"Sudah?" tanya Ibu.

Aku mengangguk lalu menunjukkan ketiga test pack itu kepada Ibu.

Ibu menghela napas lega.

Lalu kami kembali ke ruang tamu.

Tak!

Kutaruh ketiga test pack itu di atas meja.

"Lihat tuh. Aku nggak hamil," ucapku.

Ayah menatap ketiga test pack itu.

"Ini nggak kamu manipulasi hasilnya, kan?" tanya Ayah.

"Astaga, Ayah..." ucapku frustrasi. "Untuk apa aku manipulasi kayak gitu?"

"Ya, biar Ayah percaya kalau kamu nggak hamil," jawab Ayah.

Aku menghela napas.

"Om, tolong percaya dengan Elle. Percaya dengan kami. Kami ingin menikah karena memang kami ingin menikah, bukan karena kecelakaan," ucap Liam.

Eh?

Sepertinya Liam begitu menyayangi Papanya sehingga dia harus mendapatkan restu dari orang tuaku agar kami bisa segera menikah dan membuat Papanya senang.

"Iya, Yah. Tolong percaya dengan anak kita. Selama ini kan Elle selalu nurut sama Ayah dan nggak pernah aneh-aneh," ucap Ibu.

Ayah menghela napas.

"Ya sudah, Ayah percaya," ucap Ayah.

Aku menghela napas lega.

Liam tersenyum.

"Jadi, apakah Om dan Tante merestui kami menikah?" tanya Liam.

"Kalau Ibu sih terserah Elle saja. Kalau Elle sudah memilih kamu menjadi suaminya, Ibu setuju saja," ucap Ibu.

Kami semua lalu menatap Ayah.

"Saya juga. Kalau memang kalian saling mencintai, saya bisa apa? Saya hanya bisa memberikan restu. Yang penting Elle bahagia," ucap Ayah.

Entah kenapa aku merasa terharu sekaligus bersalah mendengar ucapan Ayah.

Pasalnya, aku dan Liam menikah tidak seperti yang Ayah pikirkan.

"Terima kasih, Om. Terima kasih, Tante," ucap Liam dengan wajah terlihat senang.

Ibu mengangguk.

"Tolong jaga Elle dan jangan sakiti dia," ucap Ayah.

"Baik, Om. Saya janji akan menjaga Elle dan saya tidak akan menyakitinya. Saya akan membahagiakannya," ucap Liam.

Hah?

Sungguh manis sekali ucapannya. Seperti pejabat yang sedang berkampanye.

Lalu Liam menatapku sambil tersenyum.

Aku terpaksa tersenyum.

"Oh iya..." ucap Liam sambil membuka tasnya lalu mengambil paper bag yang berisi teh. "Ini ada sesuatu untuk Om dan Tante. Tapi saya tidak tahu Om dan Tante menyukainya atau tidak. Saya bingung mau membawa apa, jadinya saya memilih membawa ini."

"Apa ini?" tanya Ibu sambil menerima paper bag itu.

Ibu mengeluarkan isinya.

"Eh? Ini kan teh yang biasa kami minum." Ibu menatap Liam. "Liam, ini teh yang biasa kami minum. Teh ini benar-benar enak dan berbeda dari teh yang lain. Iya, kan, Yah?"

Ayah mengangguk.

"Syukurlah kalau Om dan Tante menyukai produk dari perusahaan saya," ucap Liam.

"Terima kasih, ya, Liam. Ibu suka sekali. Biasanya kami beli, eh, sekarang malah dikasih sama pemilik produknya langsung," ucap Ibu.

Liam tersenyum.

Ibu menatapku.

"Elle... kamu pintar cari pacar."

Aku hanya tersenyum.

Andai Ibu tahu bagaimana hubunganku dan Liam yang sebenarnya.

Andai Ayah dan Ibu tahu bahwa semua yang mereka lihat hari ini bukanlah kisah cinta sederhana seperti yang mereka bayangkan. Kami memang akan menikah, tetapi bukan karena kami sudah saling mencintai seperti yang mereka pikirkan.

Pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan. Hanya satu tahun.

Tapi melihat wajah bahagia Ayah dan Ibu setelah memberikan restu, untuk pertama kalinya aku merasa takut dengan satu hal.

Bagaimana kalau pada akhirnya, justru aku yang tidak sanggup menjalani kesepakatan itu sampai satu tahun?

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!