NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Normal

BAB 24

Kembali Normal

"Aaarrrghh!"

Dinda berteriak sambil membenamkan wajahnya pada bantal. Bagaimana pun menikah muda bukanlah keinginan apalagi cita-citanya. Tidak pernah sekalipun pikiran menikah muda hadir di benaknya selama ini.

"Habis sudah masa muda gue! Nggak bisa! Gue harus buat syarat ke Bang Daffa. Gue mau menikmati masa muda gue, pokoknya!"

Begitu lah Dinda bertekad dan ingin menikmati masa mudanya meski kelak sudah menikah dengan Daffa. Membayangkan dirinya tidak lagi memiliki kebebasan, tentu Dinda merasa hari kedepannya akan menjadi lebih berat untuk di jalani.

Namun berbeda dengan Dinda, Daffa yang sedang berbaring dengan balutan selimut Hello Kitty sedang berdenyut kepalanya. Ia membayangkan adegan 21+ yang akan segera tayang namun tidak bisa ia laksanakan dengan tubuh yang masih bertukar. Tentu rasanya pasti aneh membayangkan miliknya sendiri bertempur masuk ke tubuhnya meski ia sedang barada di tubuh dinda.

Daffa bergidik. Seketika ia merasa mual lalu berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Wajahnya memucat setelah muntah. Namun saat dirinya bercermin dengan menampilkan wajah Dinda, perlahan rasa mual itu mereda. Jantungnya pun berdetak normal kembali.

***

Burung berkicau seperti biasanya menyambut pagi yang cukup cerah dan segar di minggu yang meliburkan semua kegiatan pembelajaran kecuali mereka yang memiliki aktifitas di luar bidang itu.

Daffa menggeliat di bawah selimutnya. Tubuhnya terasa kaku tidak seperti biasanya. Dengan mata yang masih terpejam ia dapat menyadari kalau apa yang ia rasakan itu akibat dari tubuh yang kurang berolahraga.

Perasaan gue rajin lari pagi. Batin Daffa dengan mata masih terpejam.

Lalu perlahan Daffa membuka matanya. Ruangan yang sangat famliar dan tidak asing itu menyambut pemandangan matanya saat pertama kali dibuka.

Nyawa Daffa berkumpul secara paksa dan langsung bangun terduduk dan membuka selimut yang membungkusi dirinya. Kaki jenjang berbulu tipis-tipis membuatnya membelalakan mata. Di tambah lagi ia melihat tangan yang cukup kekar layaknya tangan anak laki-laki dibanding perempuan. Daffa pun segera melompat dan melihat penampilan dirinya di cermin..

"Gue udah balik ke tubuh gue!"

Daffa terlalu kaget sampai memegang wajahnya dengan kedua tangannya. Seketika ia teringat Dinda dan langsung meraih handphonenya untuk menghubungi gadis itu.

Dinda yang masih menutupi dirinya dengan selimut pun mengerjap pelan ketika mendengar dering handphonenya merusak mimpinya kala itu. Ia meraih benda pipih yang berada di atas bantal di samping dirinya, lalu tanpa melihat siapa yang menelpon, ia geser tombol dan meletakkan di telinganya dengan mata terpejam.

"Cil...!"

"Halo..." suara khas bangun tidur.

Seketika mata Dinda terbuka lebar ketika mendengar suara yang tak asing dengan panggilan yang tak asing pula. Ia segera melihat siapa yang menelpon, kemudian ia pun mulai menelisik ruangan yang berbeda dari beberapa bulan yang lalu.

"Cil! Lu dengar gue? Kita tertukar lagi balik ke tubuh asal!"

Mata Dinda yang masih memastikan apa yang sedang ia lihat membuatnya tidak begitu mendengarkan ucapan Daffa.

"Cil, lu dengar gue kan?"

Dinda masih tertegun mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.

"Cil...! Masih hidup kan?"

Setelah memastikan apa yang ia lihat adalah nyata setelah mencubit pahanya yang terasa sakit, baru lah Dinda sadar kalau ia kembali ke tubuh asalnya.

"Bang, kita balik asal!"

"Iya, itu dari tadi yang gue bilang!"

"Alhamdulillah.....!"

Suara Dinda terdengar bergetar mengucapkan rasa syukurnya. Walau Daffa tidak melihatnya, mata Dinda mengembun penuh haru atas apa yang terjadi hari ini. Sekian lama menunggu dengan keluh kesah serta kepanikan dan stres di setiap saatnya, akhirnya Dinda bisa kembali ke tubuh aslinya.

"Ayo, kita ketemu Cil!"

"Kenapa Bang?!"

"Ada yang perlu kita bahas."

Mendengar ucapan Daffa, Dinda jadi teringat akan tekatnya untuk membuat syarat ketika ia menikah dengan Daffa nantinya.

"Ya udah. Aku mandi dulu."

Telepon pun berakhir. Baik Dinda maupun Daffa sama-sama memasuki kamar mandi dan bersiap untuk bertemu.

"Loh, kok buru-buru gitu? Mau kemana Daff?" Tanya Mayang melihat Daffa turun tangga dengan tergesa-gesa.

Namun Daffa tidak menjawab, dan mengabaikan pertanyaan ibunya.

Mayang tertegun melihat sikap anaknya. Ia merasa Daffa yang cuek dan cool sudah kembali seperti dulu lagi. Rasanya Mayang sedikit menyesali perubahan sikap anaknya yang kembali seperti dulu itu. Padahal ia sudah sangat senang akhir-akhir ini Daffa begitu ramah dan rajin, serta penurut.

Daffa meninggalkan ibunya yang masih terdiam disana. Ia pun ke rumah Dinda dan minta ijin kepada calon Ibu mertuanya untuk mengajak calon istrinya pergi ke suatu tempat.

"Jangan pulang sampe malam loh, Daffa."

"Iya tante. Daffa cuma mau ngajak Dinda sarapan nasi uduk, di tempat yang sering Daffa datangi."

"Oh, ya sudah kalau begitu."

"Ijin bawa Dinda ya, Tante. Assalamualaikum..."

"Iya, Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."

"Yok, Cil!"

Daffa memakaikan helm di kepala Dinda. Kemudian ia pun naik ke motor gedenya yang nyaris sebulan tidak melindaskan bannya di atas hitamnya aspal.

Beberapa lama menunggu, Daffa menoleh pada Dinda yang belum naik juga.

"Kok nggak naik Cil?"

"Gimana mau naik, tinggi banget. Susah bang."

"Pegangan lah..." Ujar Daffa.

Dinda hanya diam di tempat dan tampak ragu untuk mengikuti saran Daffa. Daffa yang melihat sikap ragu Dinda pun akhirnya sedikit menghela napas.

"Malu? Atau nggak enakan? Toh bentar lagi kita nikah Cil. Yok, keburu siang...,nasi uduknya habis entar."

Perlahan Dinda mulai mendekat. Dengan perasaan yang masih ragu, ia memegang pundak Daffa dan berusaha naik ke atas motor gede itu.

"Pegangan Cil, jatoh ntar."

Bibir Dinda mengerucut, namun pada akhirnya ia pun memegang bahu Daffa dengan ke dua tangannya.

"Salah Cil, bukan di situ. Disini harusnya."

Daffa meraih kedua tangan Dinda dan meletakkannya di pinggang. Lalu menarik sedikit ke depan hingga mirip dengan orang yang memeluk dari belakang.

Dinda bersungut dalam hatinya. Sedangkan Daffa tersenyum dalam hatinya.

Kesempatan dalam kesempitan ya lu, Bang! Batin Dinda menggerutu.

"Dah siap kan, Cil. Kita jalan."

Dan wush....!

Motor gede itu melaju di jalan. Benar saja, jika Dinda tidak berpegangan, sudah bisa di pastikan keseimbangannya mungkin goyah dan bisa menyebabkan jatuh.

Angin segar pagi itu menerpa wajah Dinda dan melambai-lambaikan rambutnya yang panjang lewati bahu. Ada sensasi yang menggelitik ketika ia duduk di atas motor yang melaju bukan pada standar yang biasa ia kendarai.

"Asik kan?"

Dinda tidak menanggapi ucapan Daffa dan hanya asik memandangi jalan serta bangunan-bangunan yang terlintas ketika mereka melewatinya. Namun bagi Daffa, selama Dinda tidak komplen itu artinya Dinda menyukai dalam diamnya.

Daffa tersenyum dalam hatinya. Laju kendaraan semakin dibuat-buat hingga Dinda semakin mengeratkan pelukannya. Sayangnya hal itu hanya berjalan 17 menit saja. Karena lajunya moge yang di kendarai Daffa membuat mereka lebih cepat sampai ke tujuan.

Dinda turun setelah Daffa memarkirkan kendaraannya. Mereka pun mengambil tempat di pojokan dengan suasana terbuka dan hanya di tutupi payung di atasnya.

Warung gerobak nasi uduk itu ternyata cukup ramai di gemari. Jika telat sedikit saja, Daffa dan Dinda mungkin tidak akan kebagian tempat untuk duduk disana.

"Cuma ada nasi uduk aja Bang?"

"Iya Cil. Cobain dulu, yakin lu bakal ketagihan."

Tidak lama pesanan mereka datang. Tanpa menunggu mereka menikmati sarapan pagi mereka.

"Bang, sebenarnya apa yang terjadi sama kita ya Bang? Tapi aku senang kita sudah balik normal lagi."

"Gue juga nggak tahu Cil. Tapi dengan begini urusan kita jadi lebih mudahkan?"

"Iya sih Bang. Dan andai saja pernikahan kita bisa di batalkan." Gumam Dinda di kalimat akhirnya yang masih bisa di dengar oleh Daffa.

Tiba-tiba saja, Daffa merasa tidak senang mendengar ucapan Dinda.

Kok jadi gelisah gini. Batin Daffa.

"Cil, lihat gue."

Dinda mengangkat wajahnya yang tadi menunduk menatapi makannya. Sesaat mereka saling pandang dalam diam.

"Gimana, Cil?"

"Apanya, Bang?"

"Apa lu nggak ngerasain apa-apa sama gue?"

Daffa terus menatap intens pada Dinda. Ia memperhatikan wajah Dinda yang tadinya biasa saja lama kelamaan mulai memerah lalu mengalihkan perhatiannya ke lain.

Bisa-bisanya si Bocil berpikiran mesum, pasti lu ingat sesuatu yang bebas di lihat sebelumnya kan, Cil?

Daffa terkekeh dalam diam. Lalu perlahan tangannya meraih tangan Dinda.

"Kita nggak mungkin batalin rencana menikah Cil. Gue nggak mau munafik, gue udah lihat semua bagian tubuh lu yang lu tutup rapat. Apa lu bisa, berhubungan dengan lelaki lain setelah ini? Kalau gue nggak bisa. Ibarat kata, rasanya gue udah di perkaos habis-habisan."

Dinda dengan cepat menarik tangannya dan menatap Daffa dengan raut wajah kesal.

"Siapa yang memperkosa elu, Bang?!"

"Kan ibarat kata Cil. Kalau lu berat jalani pernikahan nanti, anggap aja kita lagi pacaran. Dan untuk sekarang, lu mau nggak kalau jadi pacar gue?"

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
yg Bayarin km dap
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
meluk meluk segala, tau tau ada rasa eakkk wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
tiwi otw patah hati
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
udh deh kalian jadian aja
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
dih dr dulu juga dibully luh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!