Putri Wening adalah seorang gadis yang lemah lembut. Dia tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya. Suatu hari Wening mendapati ayah angkatnya bersikap tidak wajar. Saat dia tau sikap ayahnya yang tidak baik, lantas dia pun ketakutan. Hingga dia langsung mencari sahabatnya untuk mencari jalan keluar.
Ayu Pratama teman Wening memberi saran agar dia menikah dan pindah dari rumah. Wening setuju, atas usulan Ayu dia membuat janji dengan seseorang yang diatur Ayu.
Tapi setelah bertemu orangnya, Wening kaget ternyata orang yang dipilih oleh Ayu adalah Paman Ayu, Max Pratama.
CEO terkaya dikota Jakarta.
Apakah mereka akan menikah dan hidup bahagia?
Apakah Wenning akan berhasil pergi dari rumah? Dan mendapatkan Suami yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon мυмυ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Max
Setelah Wening tertidur lelap. Max keluar ruangan, lalu dia menelepon Rama sang assisten. "Rama. Bawa Anton ke kantorku sekarang! Lalu dia pun memutuskan telepon nya. Dan pergi menemui Anto.
Sementara dikantor, Rama setelah menjawab telepon Tuan nya langsung bergerak. "Baik Pak Pratama. Saya akan lakukan."ucapnya setelah menerima perintah dari Max.
Beberapa saat kemudian, Rama pergi ke ruangan Anton berada. Tanpa basa basi dia langsung mengatakan maksud kedatangan nya. "Pak Anton, pak Pratama memanggilmu ke kantornya." ucap Rama.
Anton yang mendengar itu hanya diam saja dan merasa sombong. Dia berlaga seperti bos, dengan angkuh dia berkata. "Kamu bilang Pak Pratama mencari saya? Hahaha dia cari aku? Dia mau minta maaf kan? Baik, kebetulan aku juga mau mencari dia.ucapnya dengan sombong."
Rama yang mendengar omong kosong Anton hanya mengerutkan dahinya. "Apa dia salah minum obat?percaya diri sekali ckckck batin Rama. Lalu Rama dengan santai menjawab perkataan Anton."
"Pak Anton, pak Pratama kami kenapa harus meminta maaf padamu?tanya Rama. "Memang nya kenapa kalau dia Pak Pratama? Dia tidur dengan anakku diam-diam. Harus nya dia meminta maaf sama mertuanya, bukannya begitu?jawab Anton."
"Ayo cepat antar aku kesana, lalu diapun bangkit dari kursi nya. Sambil merapikan baju jas nya, Anton berjalan menuju ruangan Max. Rama yang melihat itu hanya bingung, dan berbicara dihatinya.
"Suruh pak Pratama meminta maaf? Mimpi saja di neraka mendengarkan kata minta maaf. Berani beraninya sentuh orang yang dilindungi Pak Pratama. Hari ini, kamu masuk jalan yang salah. Belum tau bisa keluar baik-baik apa tidak."
Setelah membatin selesai. Rama langsung menyusul Anton. Dia sangat menantikan kejadian menyenangkan hari ini. Yang tidak akan dilupakan oleh Anton.
Beberapa saat kemudian Anton sampai diruangan Max. Max sudah berada diruangan tersebut. Entah pake jalur apa dia cepat sampai ke kantor.
Anton masuk keruangan tersebut dengan angkuh, sementara Rama mengikuti dari belakang. Lalu dia menutup pintu tersebut dan ikutan masuk ke dalam.
Anton berlagak sok berkuasa. Tanpa dipersilahkan dia langsung duduk disopa, setelah puas melihat sekeliling ruangan tersebut. Sambil duduk dan melipat kedua kakinya ke atas dia berkata.
"Wow Pak Pratama. Eh, panggil kamu Max saja. Kita bicara terus terang saja." Max yang mendengar itu hanya melirik tajam ke arah Anton. Tanpa berbalik menghadapnya. Lalu Anton pun melanjutkan perkataan nya.
"Kamu diam-diam, menikah dan tidur dengan putriku. Harusnya kamu beri aku. Lebih tepatnya mertuamu ini, sebuah penjelasan kan?ucap Anton.
Sebelum menjawab Max mengatur nafasnya dulu. Lalu dia berkata sesuatu tanpa membalikan badan nya. "Sebuah penjelasan."ucapnya sambil pelan-pelan melepas jam tangan nya. Lalu menaruhnya dimeja.
Rama yang melihat itu, langsung mengerti keadaan. Dia lalu menarik tirai jendela ruangan. Agar siapapun diluar tidak bisa melihat apa yang terjadi.
Anton yang kaget akan situasi itu langsung tersadar, ada yang tidak beres. Dia langsung bangkit dari duduknya. Dia merasa panik dan berkata. "Max, eh Pak Pratama."ucapnya dia panik. Max yang mendengar namanya dipanggil langsung melihat ke arah Anton.
"Apa maksudmu ini hah? Aku ini Ayahnya Wening."ucap Anton. Saat Max sudah melihat ke arahnya. Tak basa basi Max langsung memukul muka Anton. "Buk, pukulan keras mengenai muka Anton. Dan dia langsung terjatuh ke lantai."
"Kamu bilang Ayahnya?ucap Max. Lalu dia mengambil asbak dimeja nya. Lalu dia menarik dasi Anton agar bangun dari lantai. Hidung nya sudah mengeluarkan darah. Tanpa belas kasian Max langsung menariknya.
"Pak Pratama."ucap Anton. Tak peduli apapun, Max langsung berkata. "Orang yang tak pernah aku sentuh sama sekali pun! Kau berani mempunyai niat jahat kepadanya? Istriku yang polos dan baik tidak akan berbuat apapun kepadamu. Tapi aku, tidak sama. Aku hanya ingin kau mati. Lalu Max memukul kepala Anton dengan asbak tersebut."
"Prak! Bunyi asbak beradu dengan kepala Anton. Pecahan kacanya langsung berhamburan. Dan Anton langsung terkapar dilantai. Tapi tidak langsung mati. Rama yang melihat itu hanya diam, dan bergidik ngeri melihat sikap Tuan nya.
Suara hantaman tersebut terdengar sampai diluar ruangan. Para karyawan langsung berhamburan melihat asal suara tersebut. Terdengar suara Anton yang mengerang dan meminta ampun kepada Max.
"Pak Pratama, ampuni saya! Saya tidak akan berani lagi "ucapnya. Para karyawan yang mendengar itu langsung ribut dan bertanya tanya.
"Ada apa ini?apa yang terjadi."ucap Silvi. Ana yang ikut sambil menggandeng tangannya juga merasa bingung. Dia hanya menggelengkan kepala nya pertanda tidak tahu.
Sementara di ruangan Max setelah melakukan hal tersebut. Dan melihat Anton terkapar dilantai. Mencoba tenang, dia melepas kacamata nya. Dan membersihkan sesuatu yang menempel dengan menggunakan sapu tangan nya.
Lalu dia berkata dengan santai. "Seret dia keluar! Jangan biarkan saya melihat dia lagi." Ucapnya kepada Rama. Rama yang mendengar itu langsung menepuk tangannya. Dua orang bodyguard masuk lalu membawa Anton keluar.
Anton diseret keluar ruangan. Keadaanya tidak baik baik saja. Tapi masih sedikit sadar. Saat dia dibawa keluar, diluar ruangan para karyawan sudah bersiap dengan kamera hape mereka masing-masing.
Mereka langsung memotret keadaan Anton. Ana yang semangat langsung mengambil video bukan lagi foto. Dengan asyik mem video dia berkata. "Ya ampun! Itu kan Pak Anton? Apa yang terjadi?ucapnya."
Silvi yang juga sibuk memotret hanya menjawab. "Katanya dia dipecat Pak Pratama. Lalu dipukul seperti ini."ucapnya. Ana langsung menimpali. "Berani melawan Pak Pratama, sepertinya tidak bisa tinggal dikota ini lagi."ucapnya.
Silvi malahan sibuk membagikan video dan foto tersebut ke grup kantor. Dia hanya mengangguk tanda membenarkan omongan ana.
Sementara dirumah sakit, Wening sudah bangun dari tidurnya. Dia melihat gosip yang ada digrup kantor. Ada seseorang yang membagikan sebuah foto dan video. Dengan tulisan. "Pak Anton diseret keluar dari kantor, dan wajahnya babak belur."
Wening yang melihat itu langsung berkata, itu perbuatan Tuan Pratama? Lalu dia membenarkan duduknya. Dia langsung menelepon Ayu. Dan bertanya soal sesuatu. Saat tersambung Wening langsung bertanya.
"Ayu, Tuan Pratama ... Dia?belum sempat selesai Ayu sudah memotongnya. "Wening ... itu ... dengarkan aku dulu. Paman Muda yang memaksaku berbicara." Aku tidak bisa tahan lagi. Jadi ... soal ayah tirimu ... ku katakan semuanya.
Wening maafkan aku? Tapi kamu sudah banyak menderita. Harusnya Paman Muda membelamu." ucap Ayu diseberang sana.
Wening hanya terdiam. Saat ingin menjawab, Wening melihat arah pintu. Max datang tiba-tiba. Entah bagaimana dia sudah ada dirumah sakit lagi. Tanpa menjawab omongan Ayu, Wening langsung mematikan telepon Ayu.
Lalu dia pun langsung berlari ke arah Max. Tanpa memperdulikan semuanya. Dia mecabut selang infusnya. Lalu berlari memeluk Max tanpa memakai alas kaki apapun.
cowonya bucin parah ini 🤭🤭🤭
karena ibunya sudah bikin dia kecewa