azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh empat
"Terima kasih Mas Yo"
Azalea hendak turun dari mobil pria itu, tapi Yohan menahannya, pria itu mencekal tangan Azalea.
"Aku ingin mengenalkanmu pada orangtuaku Za, aku ingin hubungan kita ini, ke tahap yang lebih serius"
Azalea memutar tubuhnya, menegakkan duduknya yang setengah turun. Kepalanya miring sebelah dengan mata memicing heran.
"Mas hubungan kita baru hitungan hari loh, buru-buru amat!"
"Hhhhhh" desah nafas Yohan terdengar berat, kepalanya melengos nggak kuat ditatap Azalea sedemikian rupa. Mana mata Azalea mengerjab indah lagi, gimana Yohan nggak jengah.
"Aku merasa kalau hatimu tak ada di hubungan kita ini, Za"
Yohan kembali melengos, wajah Azalea tepat berada di depan wajahnya, membuat jantungnya berdebar kencang.
"Kenapa Mas Yo ngomong kek gitu?"
Yohan menggeleng, namun sorot mata pria itu menelisik terlalu dalam, membuat Azalea sedikit gugup.
"Kamu menyukai Kian, kan Za?"
"Ti..tidak mas, ak—"
Yohan tertawa miris, dengusan nafasnya terdengar kasar.
"Kamu gugup Za, kamu ragu menjawab pertanyaanku"
Yohan menarik nafasnya dalam-dalam, entah mengapa perasaannya nggak enak. Walau Azalea telah menerima cintanya, namun Yohan merasa ada sesuatu yang menghalangi dirinya dari gadis itu.
Yohan bukanlah bocah kemarin sore, sejujurnya ia tahu kalau Azalea tidak mencintainya. Entah apa alasan gadis itu menerima cintanya, namun Yohan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan Azalea dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
"Kamu menyukai Kian kan?"
"Mas yo" bisik Azalea memanggil lirih, tak mampu menjawab, hanya menatap mata biru itu yang menatapnya penuh rasa.
"Aku benar-benar menyukaimu Za, Aku belum pernah seperti ini pada wanita manapun"
"Hhhhhhhh" Azalea malah menghela nafasnya sedikit berat.
Pengakuan Yohan tidak membuatnya senang sedikitpun, malah hatinya merasakan seakan beban puluhan ton menghimpit sesak dadanya.
Mata indah Azalea menelisik mata biru itu, yang masih menatapnya penuh rasa.
"Aku nggak tahu mau ngomong apa mas" ujarnya bingung, Azalea memalingkan wajahnya yang sendu, menatap keluar jendela.
"Kalau Mas Yohan merasa hubungan kita tak layak dilanjutkan aku ikhlas ma–"
"Apa maksudmu?" sergah Yohan mengagetkan Azalea, gadis itu tersentak.
"Aku tidak akan melepaskan kamu Za, aku akan pastikan kamu menjadi milikku"
Azalea menatap lekat pria setengah bule itu, berbagai perasaan campur aduk di dalam dadanya, namun rasa iba yang sangat mendominasi perasaannya saat ini.
Matanya masih menatap pria itu, entah apa yang ada di benaknya, namun sorot matanya membuat seorang Yohan merasa tersinggung.
Yohan tak ingin dikasihani, apalagi oleh seorang wanita yang ia suka. Yohan memang tidak pernah memakai hati saat berhubungan dengan wanita manapun di masa lalunya, namun entah mengapa, saat ini ia benar-benar takut.
Yohan takut mengakui kalau hanya dirinya yang mencintai sendirian, Yohan takut mengakui jika Azalea, hati wanita itu berada di pria lain.
"Mas Yo" panggil Azalea lembut, menyentuh lengan Yohan yang sedikit tersentak.
"Aku akan minta Mas Kian untuk segera menceraikan aku, bersabar denganku yah mas"
Yohan menatap lekat, mencari kejujuran di mata Azalea. Dan yap dia menemukan kejujuran di mata itu, walau ia tidak menemukan cinta di sana.
"Aku takut Za.." bisik Yohan lirih, nyaris tak terdengar. Sangat aneh melihat pria itu seperti tidak memiliki kepercayaan diri.
"Aku merasa, kamu jauh dari jangkauanku, aku takut kehilangan kamu"
"Mas Yo.."
Azalea meremas lembut jemari pria itu, Yohan mendongak, menatap lekat bola mata yang berpendar indah menatapnya.
Yohan menghela nafasnya berat, sejujurnya ia tahu jika dirinya benar-benar jatuh cinta pada Azalea. Dan ternyata seindah dan sesakit ini rasanya.
"Zaa.." panggil Yohan lirih, pria itu menghadapkan tubuhnya ke arah Azalea, tiba-tiba kedua tangannya merengkuh pundak Azalea.
"Boleh aku menciummu?"
Azalea terkesiap, ia hendak menolak, namun tatapan penuh harap dari Yohan sangat sulit untuk diabaikan. Tak tega rasanya Azalea menolak yohan yang menatapnya dengan penuh permohonan itu.
Perlahan kepala Azalea mengangguk, ia memejamkan matanya. Azalea menutup rapat bibirnya, namun hatinya tiba-tiba berdebar sendu, Yohan hanya mengecup keningnya lembut dan penuh cinta, kemudian merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan.
"Aku mencintaimu, sayang" bisiknya lembut, seketika mata Azalea terbuka lebar, kembali rasa haru dan iba menyergapnya tanpa ampun, Azalea membalas pelukan itu hangat.
Tanpa mereka sadari, seorang pria berdiri tak jauh dari sana, dengan tangan mengepal hingga buku-buku tangannya memutih. Suara gemeletuk gerahamnya terdengar beradu.
Ingin rasanya ia melabrak keduanya, namun saat Azalea hendak turun, ia menyembunyikan tubuhnya di balik pintu pagar yang menghalangi.
"Hati-hati mas Yo!"
Masih terdengar jelas di telinganya ucapan Azalea melepas Yohan pergi, Kiano masih berdiri di balik pintu pagar.
Dia sadar saat ini dirinya bagai seorang pecundang yang pengecut, namun rasa amarah dan ketidak sukaan melihat adegan tadi masih menguasai hatinya.
"Mas Kian"
Suara lembut itu menyadarkannya, tatapan keheranan Azalea membuatnya tersadar.
"Ngapain mas di situ?"
Kiano, wajah pria itu masih menegang menahan amarah.
"Mas nungguin aku?"
"Kamu dan Yohan ngapain tadi?" tanya Kiano tanpa sadar, keduanya sama-sama terkejut mendengar pertanyaan itu.
Kiano sadar, ia akan terlihat aneh, pertanyaan absurd yang tiba-tiba, bukankah itu menunjukkan kalau dirinya baru saja mengintip Azalea.
"Mas Kian.., ngintip?"
"Tidak.." geleng Kiano cepat, berusaha menepis tatapan curiga dari Azalea.
"Aku mau buang sampah, tapi melihat kalian di dalam mobil tadi, aku nggak mungkin mengganggu"
Azalea mengamati Kiano dari atas ke bawah, tak terlihat Kiano membawa apapun, alisnya mengerut heran. Kiano tahu arti tatapan gadis itu, namun ia tidak perduli, dan tidak berusaha untuk meralatnya, karena saat ini hatinya sedang dilanda cemburu.
"Kamu berciuman dengan Yohan kan, Zaa?, jawab aku!"
Azalea masih menatap Kiano dengan sorot keheranan itu, namun Kiano benar-benar tak perduli lagi.
"Jawab aku Za!" bentak Kiano dengan suara beratnya. Azalea sampai tersentak kaget karenanya.
"Kamu berciuman dengan Yohan kan?"
Azalea merasa bagaikan seorang tertuduh, dengan malas ia memutar tubuhnya, enggan menjawab pertanyaan Kiano yang aneh.
"Zaaa"
Kiano mencekal pergelangan tangan Azalea, menarik keras ke arahnya. Seketika Azalea limbung, ia hampir jatuh, namun Kiano dengan cepat menyambut tubuh oleng Azalea.
Azalea mendongak, posisi mereka terlihat romantis, Azalea bersandar sepenuhnya di tubuh Kiano yang memeluk pinggangnya.
Kiano berdehem lembut, saat Azalea mengurai pelukan mereka, terlihat keduanya salah tingkah. Azalea berdiri dengan menepuki pakaiannya, sementara Kiano hanya berdiri mematung.
"Aku pikir, Mas Kian nggak punya hak untuk tahu apa yang aku lakukan dengan Mas Yohan, kan?"
Kiano terkesima, tak menduga jawaban Azalea yang begitu dingin.
"Bukankah diantara tidak ada hubungan apa-apa yang mengharuskan aku untuk melapor semua hal yang kulakukan padamu kan, Mas?" mata gadis cantik itu menatap lekat, menghunjam ke manik mata keabu-abuan yang membelalak tak percaya itu.
"Bukankah kamu ingin segera menceraikan aku?, kenapa saat ini aku merasa kamu tak ingin kita bercerai"
"Kita memang akan bercerai.." sahut Kiano dengan suara parau, pria itu masih terpengaruh adegan pelukan mereka tadi sepertinya.
"Aku memang cuman suami di atas kertas, tapi saat ini, detik ini, kamu masih istriku Za, apakah menurut kamu, pantaskah kamu bermesraan dengan pria lain, saat statusmu adalah istri orang?"
"hhhhhhh" dengus Azalea kasar, "bukankah kamu yang memaksaku untuk menerima Yohan?"
"Aku nggak pernah memaksamu!" jawab Kiano cepat, pria itu menggeleng tidak terima, "Aku hanya minta kamu, suruh Yohan temui aku"
"Trus sekarang Mas Kian maunya apa?" tanya Azalea kesal, kedua tangannya berada di pinggang.
"Jangan buat aku bingung, Mas!, sebenarnya kamu mau aku gimana?"
Bersambung....
.