Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dungeon Rank F
Ding...
[Dungeon Rank F]
[Rekomendasi Level:10-15]
Kilauan cahaya menyinari mata mereka setelah memasuki Dungeon, tidak lama kilauan cahaya itu hilang, mereka mendapati di sekeliling mereka hanya terdapat pohon pohon yang menutupi pandangan, dan hewan-hewan kecil yang aneh namun tidak berbahaya.
“Karena sudah disini aku harus memanggilnya.” Pikir Akira.
Ding...
[Summon Tier 1 Familiar Shuko:Aktif]
TRAK!
PRANG!
Udara kosong di depannya pecah dan keluar Shuko dari pecahan itu terbang ke pundak Akira.
“Cip... Cip…”
Akira mengelus kepalanya sambil berbicara pelan hingga suarannya tak terdengar yang lain, tidak lama Shuko langsung terbang ke langit setelah mendengar perintah Akira.
Semua orang melihat Akira memanggil familiar, terutama Amane yang sedang berada di belakang Akira melihatnya memanggil familiar membuatnya sangat penasaran, matanya berbinar dengan wajah berseri-seri karena melihat apa yang dilakukan Akira.
“Skill apa itu?! Bagaimana anda mendapatkan mendapatkannya?!” tanya Amane.
Akira tak tau harus jawab apa jadi ia menjawab seadanya.
“Memangnya itu penting?”
“Ah maaf, aku kegirangan karena penasaran…” Ucap Amane sambil menggaruk kepalanya.
“Tidak Masalah,” jawab Akira.
Disisi lain di bagian belakang, Kisaragi menutup matanya sambil memegang gagang pedangnya dia bergumam kecil,
“Padahal cuman skill ampas.”
Takamasa mendengar gumam kecil Kisaragi tapi dia hanya melihatnya saja tanpa bicara satu kata pun.
Lumina pun mendengar gumam kecil Kisaragi yang membuatnya kesal, namun dia menahan kesalnya dengan mengepalkan tangannya dengan erat sambil melihat ke arah Kisaragi.
Diselah itu suara Akira terdengar membuat semua perhatian terfokus padanya.
“Karena masih banyak waktu, kita semua tunggu disini, sampai Familiar yang kupanggil kembali.”
"Kurasa santai dikit tidak masalah, karena nanti mereka akan melihat sesuatu yang mungkin tidak ada di Dungeon Rank F." Pikirnya
Walau Takamasa terlihat tidak peduli dia mengikuti apa yang dikatakan Akira, begitu juga Amane dan Lumina, namun Kisaragi berbeda, dia malah mendatangi Akira setelah mendengar ucapannya.
“Oii.” Ucap Kisaragi dengan mata sinis, kepala diangkat sedikit ke atas, menatap mata Akira.
"Eh, kenapa dia terlihat tidak senang, apa ada masalah ya, coba kutanya." Pikir Akira.
“Apa?” Ucap Akira dengan datar.
“Apa kau bercanda? Mentang mentang kau pembimbing kami, bukan berarti kau bisa seenaknya.” Ucap Kisaragi dengan marah.
"Pantas saja dia terlihat marah, tapi, sebagai pembimbing aku harus tegas." Pikir Akira.
“Kenapa? Tidak suka?.”
Kisaragi berdecik, dengan cepat ia langsung memegang gagang pedangnya kemudian menghunuskannya dengan cepat memotong angin dijalurnya dan berhenti tepat di leher Akira.
Akira hanya menatap mata Kisaragi dengan muka datar seolah tak terjadi apa apa, namun dibalik mukanya yang datar, sebenarnya ia sendiri terkejut dengan tindakan Kisaragi.
“Eh, apa ini? Apa aku berlebihan?” pikir Akira.
“Jangan kira aku takut padamu, Level dan Rank ku Lebih tinggi, Lalu—"
Kisaragi melihat ke samping kanannya, ia melihat Lumina menatapnya dengan raut wajah mengerikan sambil mengarahkan bilah pedangnya ke lehernya.
"Apa maumu?”
“Jika kau macam macam, aku tidak akan segan.” Ucap Lumina dengan mata tajam yang kosong menatap Kisaragi dibarengi dengan niat mengerikan yang keluar dari dirinya hingga ketegangan terjadi diantara mereka bertiga.
Takamasa tidak peduli dan hanya melihat mereka, sedangkan Amane yang melihat mereka bertiga takut dan kebingungan, ia pun langsung maju mencoba menghentikan Kisaragi.
“Ki-Kisaragi kita tidak boleh bertengkar, kan dia pembimbing kita, jadi pasti dia punya rencana kan, jadi tenang ya?” Ucap Amane dengan panik dan gagap melihat ke arah Kisaragi.
Kisaragi yang mendengar perkataan Amane masih menatap mata Akira dan tidak lama langsung memejamkan matanya sambil menyarungi pedangnya kembali, kemudian dia kembali ke belakang, bersandar di salah satu pohon.
Lumina menatap sebentar ke arah Kisaragi, kemudian dia kembali menyarungkan pedangnya.
“Ma-maaf ya, dia memang suka seperti itu.” Ucap Amane.
“Bukan masalah.” Jawab Akira.
“Hah… Bakal ribet nih.” Pikir Akira.
30 menit berlalu...
Mereka berempat menunggu mengikuti perintah Akira walau lama, ada yang duduk, berdiri, dan bersandar di pohon.
Tidak lama kepakan sayap burung terdengar, Akira yang sedang berdiri mengangkat lengan kanannya lalu Shuko mendarat di lengannya.
“Terimakasih.” Ucap Akira dengan pelan sambil mengelus Shuko.
“Cip… Cip...” Perlahan Shuko menghilang seperti partikel cahaya.
“Kita berangkat.” Ucap Akira.
Mendengar perkataan Akira yang lain pun langsung mengikutinya.
20 menit kemudian...
Mereka berlima tiba di jalan buntu, tertutup batu yang merupakan gunung tinggi.
“Apa jalan keluarnya ada disini?” Tanya Takamasa.
“Yang kita datangi bukan jalan keluar,” jawab Akira.
“Maksudnya?” tanya Takamasa.
“Ikuti saja,” ucap Akira sambil berjalan ke batu yang menghalangi jalannya.
Begitu bersentuhan dengan batu didepannya ia tidak tertabrak justru melewatinya seperti menembus, membuat yang lain terkejut, dan hanya memperhatikan saja dengan bingung.
Akira yang sudah menembus batu kembali keluar.
“Apa yang kalian lakukan? Cepat masuk.”
Mereka semua pun masuk satu persatu kemudian di dalam dinding batu itu mereka melihat lorong panjang yang disinari oleh api dari obor-obor yang menempel di dinding.
Mereka berjalan mengikuti lorong yang panjang itu hingga sampai di sebuah pintu besar yang bertinggi sekitar 5 meter.
DRRTTT...
Pintu terbuka sendiri mengeluarkan suara derit yang keras, seperti tau ada pengunjung yang datang.
Akira pun masuk disusul dengan yang lain, saat masuk mereka melihat ruangan yang aneh, ruangan itu berbentuk lingkaran besar, lantai dan dindingnya terdapat gambar-gambar bermotif aneh, dan jauh di hadapan mereka ada pintu yang sama besarnya dengan pintu masuk.
BRAAKKK!!
Hantaman pintu yang begitu keras terdengar di belakang mereka, membuat jalan masuk dan keluar mereka satu-satunya tertutup rapat.
“A-apa ini?” Ucap Amane sambil memeluk tongkatnya dia berkeringat dingin ketakutan.
“Bersiaplah, sesuatu yang berbahaya akan muncul.” Ucap Akira.
Ding...
Tiba-tiba muncul Panel sistem di depan mereka semua.
[5 Pahlawan Telah Menemukan Ruang Harta Sang Raja Sihir]
[Kalahkan Sang Penjaga dan kalian akan mendapatkan hadiah yang setimpal]
“Sang Penjaga?” Gumam Kisaragi.
TRAKK!
PRANGG!
Retakan Portal setinggi 5 sekitar 5 meter muncul di hadapan mereka, membuat mereka waspada.
BUM!
Suara hentakan keras terdengar bersamaan dengan terlihatnya kaki batu yang keluar dari portal.
BUM! BUM!
Monster keluar dari portal menunjukan wujudnya yang setinggi sekitar 5 meter dengan tubuh yang terbuat dari batu.
Ding...
[Bos Monster: Rock Golem
Umur:???
Level:63
Tingkat Bahaya:C
STR:100
DEF:100
DEX:21
INT:13
Skill: (Berhasil Menembus Batasan Otoritas)
[Perkuat Tubuh]
[Tinju gempa]
[Kebal Fisik]]
“Sepertinya dia cocok untuk bahan eksperimen.” Pikir Akira.
WUSSHHH...
Dari belakang Akira, Kisaragi langsung melesat cepat ke arah Monster itu, mengincar kepalanya.
Akira yang melihatnya ingin menghentikannya namun sudah terlambat.
DAK!
“Hah?”
Pedang Kisaragi terhenti tak menembus kulit batu monster yang keras.
Monster itu sadar dan langsung menyerang balik, Kisaragi yang masih berada di udara tak bisa menghindar, dan hanya bisa menatap tangan monster itu perlahan mendekatinya.
[Skill Change Position:Aktif]
Tanpa sadar, tiba tiba Kisaragi sudah berdiri di lantai di dekat pintu masuk.
Disisi lain ternyata Takamasa menggunakan Skillnya yang dapat bertukar tempat di jarak terntentu dengan seseorang, Alhasil Takamasa yang sedang berada di udara mencoba menahan tinju dari monster itu dengan tamengnya.
DUGH!
"Aghh!!"
Walau sudah ditahan, tinju itu membuatnya terpental jauh menabrak tembok, hingga keluar darah dari mulutnya.
Disisi lain, dari samping belakang Akira terasa hawa panas kuat, berasal dari Amane yang sedang memegang tongkat sihirnya dengan kedua tangan sambil mempersiapkan sihirnya.
Diatasnya terlihat satu tombak api sepanjang 2 meter.
“Fire Lance.” Amane menembakan sihirnya ke arah dada monster itu.
KRAK!
“Ti-tidak mungkin.” Matanya menatap Monster itu dengan ketakutan setelah serangannya tak berdampak banyak dan hanya meninggalkan retakan kecil pada monster dihadapannya.
Kisaragi yang melihat serangan sihir Amane tidak mempan merasa sudah tak ada harapan lagi, karena dia tau betul sihir Amane cukup kuat.
Kisaragi pun kehilangan harapan, tatapan matanya menjadi kosong dan hanya melihat kematian menanti di depannya.
Kisaragi merasa kejadian ini karena seseorang, kemudian dia langsung menatap ke arah Akira yang sedang terdiam dengan mata tertutup, namun ketenangan Akira membuatnya kebingungan.
"A-apa yang dia lakukan?"
Disisi lain Monster itu perlahan berjalan ke arah Akira yang sedang memejamkan matanya.
[Skill Synthesis:Aktif]
[Water Ball + Wind Blade]
[Spell Freeze berhasil dibuat]
“Berbeda dengan Fireball kurasa aku perlu mengeluarkannya dari bawah kaki.” Perlahan lantai di bawah kakinya membeku luas.
Kisaragi yang melihatnya dari belakang terkejut.
"A-apa itu?"
Akira membuka matanya kembali menatap ke arah Monster di hadapannya.
“Freeze.”
SRRHHH!
KRAAKK!
Pembekuan yang terjadi di bawahnya langsung menjalar cepat ke depan dan mengurung Monster dihadapannya dengan es.
“Fuhhh…” Akira bernafas kedinginan setelah menggunakan Spellnya.
“Ba-bagaimana bisa…” Ucap Kisaragi dengan mata membulat menatap Monster yang dibekukan oleh Akira dengan terkejut sekaligus tak percaya.
Sedangkan Akira hanya berdiri diam menatap Monster dihadapannya sambil berpikir.
"Skill ini seperti senjata makan tuan, dingin sekali.”
Walau mecoba menahannya dengan tetap berdiri diam, Akira masih terlihat menggigil kedinginan.
“Brrr…”