NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 MAMA YANG TAKUT DIGANTIKAN

Kaluna menatap salinan tanda tangan di layar sampai matanya terasa panas. Bentuk huruf V yang sedikit miring, disusul garis panjang di ujung nama—ia mengenalinya. Itu bukan kemiripan kebetulan. Veyra memang menandatangani bukti penerimaan paket tersebut.

“Aku ke rumahnya sekarang,” kata Kaluna.

Salindri langsung menggeleng. “Jangan datang dengan emosi seperti ini.”

“Aku cuma mau bertanya.”

“Kamu mau menuduhnya.”

“Namanya ada di dokumen pembukaan rekening yang menghancurkan hidupku.”

“Namanya ada di lembar penerimaan paket,” Salindri membetulkan. “Itu belum membuktikan dia tahu isi paketnya.”

Kaluna menatap pengacaranya. “Setiap ada bukti di depan mata, kamu selalu punya alasan supaya aku tidak langsung memercayainya.”

“Karena bukti harus dibaca sesuai isinya. Tidak lebih, tidak kurang.”

Naren masih memeriksa dokumen pengiriman di laptop.

“Alamat penerimanya kantor Asteria Corporate Services,” katanya. “Bukan rumah Veyra. Bukan juga kantor Mahardika.”

“Lalu kenapa dia ada di sana?”

“Itu yang harus kita tanyakan.”

Kaluna meraih tasnya. “Aku akan tanya sekarang.”

“Kita sudah punya janji dengannya besok,” ujar Salindri.

“Aku tidak mau memberinya waktu menyiapkan jawaban.”

Naren menutup laptop. “Kalau kau datang sekarang lalu langsung menuduh, dia bisa menolak bicara. Atau lebih buruk, dia memberi tahu orang lain bahwa kita sedang menelusuri rekening itu.”

“Dia mungkin sudah tahu.”

“Mungkin,” kata Naren. “Tapi kita belum tahu pasti.”

Kaluna berjalan ke dekat jendela. Di luar, kendaraan merayap di bawah cahaya lampu kota.

Veyra menerima paket itu. Beberapa hari kemudian, Kaluna diduga mengirim pesan agar Veyra menjaga Elara. Setelah itu, rekening menerima dana dan mobil Kaluna jatuh ke sungai. Urutannya terasa terlalu pas untuk disebut kebetulan.

“Aku akan datang sendiri,” katanya.

Salindri berdiri. “Kaluna.”

“Aku tidak akan berteriak. Aku juga tidak akan menyebut rekening itu di depan Elara.”

Naren mengambil salinan dokumen pengiriman dan menyerahkannya.

“Tunjukkan ini setelah dia menjelaskan kenapa kau datang. Jangan sebut Asteria lebih dulu.”

“Kamu mau menguji ingatannya.”

“Aku mau melihat apakah jawabannya muncul sebelum dia tahu semua yang kita pegang.”

Kaluna memasukkan dokumen itu ke dalam tas. Ia tidak bisa berjanji akan sepenuhnya tenang. Setidaknya, ia akan mendengarkan sampai Veyra selesai bicara.

Rumah Mahardika sudah mulai gelap ketika Kaluna tiba. Petugas keamanan di gerbang sempat ragu membiarkannya masuk karena namanya tidak ada dalam jadwal kunjungan. Setelah menelepon ke dalam, barulah pagar dibuka.

Veyra menunggu di ruang depan. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan.

“Aku sudah menduga kamu akan datang malam ini,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kamu memang tidak pernah suka menunggu.”

Kaluna menutup pintu di belakangnya. “Elara di mana?”

“Sudah tidur.”

“Arsen?”

“Masih di kantor.”

“Bagus. Kita bisa bicara.”

Veyra mempersilakannya duduk. Kaluna tetap berdiri.

“Katamu ada pesan dariku sebelum kecelakaan.”

“Ada.”

“Perlihatkan.”

Pandangan Veyra turun ke tas yang dibawa Kaluna. “Kamu datang cuma untuk pesan itu?”

Kaluna tidak menjawab. Veyra menghela napas, lalu mengambil sebuah telepon lama dari laci meja. Kartu di dalamnya sudah tidak aktif, tetapi perangkat itu masih bisa menyala setelah disambungkan ke pengisi daya.

“Aku simpan karena banyak foto Elara di sini,” katanya.

“Buka pesannya.”

“Baterainya baru diisi.”

Mereka menunggu layar menyala. Sebelum Veyra sempat membuka aplikasi pesan, Kaluna bertanya,

“Empat hari sebelum kecelakaanku, kamu pernah datang ke Asteria Corporate Services?”

Jari Veyra berhenti di atas layar. Gerakannya kecil, tetapi cukup jelas.

“Asteria?”

“Kamu kenal nama itu.”

Veyra diam sebentar. “Aku pernah ke kantornya.”

“Untuk apa?”

“Urusan perusahaan.”

“Kamu bukan pegawai Mahardika Medika waktu itu.”

“Aku membantu Arsen dan keluarganya di beberapa acara yayasan.”

“Acara yayasan tidak ada hubungannya dengan perusahaan yang membuka rekening luar negeri.”

Wajah Veyra mengeras. “Rekening apa?”

Kaluna mengeluarkan salinan bukti pengiriman, lalu meletakkannya di atas meja. Veyra membaca namanya sendiri di lembar penerimaan. Ekspresinya berubah perlahan. Seperti orang yang baru mengingat kejadian lama.

“Kamu menandatangani paket ini,” kata Kaluna.

Veyra duduk. “Aku ingat paketnya.”

“Apa isinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Tentu.”

“Aku tidak membukanya.”

“Paket itu atas nama Revan. Kenapa kamu yang menerima?”

Veyra kembali melihat tanggalnya. “Waktu itu aku diminta mengambil dokumen.”

“Oleh siapa?”

“Revan.”

Kaluna tidak melepaskan pandangan dari wajahnya.

“Revan menyuruhmu ke Asteria?”

“Iya.”

“Kenapa dia meminta bantuanmu?”

“Katanya dia sedang ikut rapat lain. Aku kebetulan ada di daerah yang sama.”

“Kebetulan?”

Veyra mengangkat wajah. “Tidak semua yang kulakukan tiga tahun lalu ada hubungannya dengan rencana mengambil hidupmu.”

“Aku belum bilang begitu.”

“Dari caramu melihatku, aku tahu.”

Kaluna akhirnya duduk di kursi seberang. “Jelaskan dari awal.”

Veyra memegang lembar pengiriman dengan kedua tangan.

“Revan menelepon. Dia bilang ada paket perusahaan yang harus diambil sebelum kantor tutup. Kurirnya terlambat dan orang Asteria tidak mau meninggalkan paket tanpa tanda tangan.”

“Kenapa bukan pegawai Mahardika yang mengambil?”

“Aku tidak tahu. Aku cuma diminta menunggu sebentar, lalu menyerahkannya kepada Revan.”

“Di mana?”

“Di rumah ini.”

“Revan datang ke sini?”

“Tidak. Seseorang dari kantor yang mengambil.”

“Siapa?”

Veyra berusaha mengingat. “Seorang pengemudi atau staf. Aku tidak kenal.”

“Kamu menyerahkan dokumen perusahaan kepada orang asing?”

“Dia tahu nama Revan dan menunjukkan pesan.”

“Pesan dari siapa?”

“Nomor Revan.”

“Masih ada?”

“Aku tidak tahu.”

Kaluna melirik telepon lama di meja. “Cari.”

Veyra membuka daftar pesan. Percakapan tiga tahun lalu masih tersimpan, meski sebagian tidak lengkap karena aplikasi pernah dipindahkan ke perangkat lain. Ia menemukan nama Revan.

Isinya hanya beberapa pesan tentang pengambilan paket. Revan mencantumkan alamat Asteria dan meminta Veyra menandatangani atas namanya karena staf kantor akan pulang. Pesan berikutnya menyebut seseorang bernama Bayu akan datang ke rumah untuk mengambil paket itu.

“Siapa Bayu?” tanya Kaluna.

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tidak pernah bertanya?”

“Waktu itu aku tidak punya alasan untuk curiga.”

“Paket itu dipakai untuk membuka rekening atas namaku.”

Veyra menatapnya. “Apa?”

“Rekening Singapura yang sekarang dipakai untuk menuduhku menggelapkan dana.”

Telepon lama di tangannya nyaris terlepas.

“Aku tidak tahu.”

“Kamu menerima dokumennya.”

“Aku menerima amplop tertutup.”

“Dan tidak pernah bilang apa-apa kepadaku.”

“Kenapa aku harus memberitahumu tentang paket milik Revan?”

“Karena namaku ada di dalamnya.”

“Aku tidak melihat isinya!”

Suara Veyra naik. Ia segera menoleh ke arah tangga. Lantai atas tetap sunyi. Ketika kembali bicara, nadanya lebih rendah.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Kaluna memperhatikan wajahnya. Ketakutannya nyata. Kaluna hanya belum tahu apakah Veyra takut karena bersalah atau karena baru sadar dirinya pernah dimanfaatkan.

“Arsen tahu kamu mengambil paket itu?”

“Sepertinya tidak.”

“Bramasta?”

Tubuh Veyra menegang saat nama itu disebut.

“Aku tidak pernah bicara langsung dengannya soal paket.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku memang tidak tahu siapa yang meminta Revan mengurusnya.”

Kaluna mengambil kembali salinan dokumen.

“Namamu ada pada paket yang menjadi bagian dari fitnah terhadapku. Kamu juga menyimpan pesan yang katanya menunjukkan aku hendak pergi.”

“Aku tidak menyusun semua itu.”

“Tapi kamu percaya.”

Pandangan Veyra jatuh ke telepon lama. “Iya.”

“Kenapa?”

“Karena saat itu semuanya terasa masuk akal.”

“Tiket Singapura?”

“Aku belum tahu soal tiket sebelum kecelakaan.”

“Rekening?”

“Tidak.”

“Lalu apa?”

Veyra menatap Kaluna cukup lama. “Kamu berubah.”

Kaluna mengerutkan kening.

“Beberapa minggu sebelum kecelakaan, kamu sering pulang malam. Kamu jarang bicara dengan Arsen. Beberapa kali kamu juga menitipkan Elara kepadaku tanpa menjelaskan pergi ke mana.”

“Aku sedang memeriksa masalah perusahaan.”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tidak pernah bertanya?”

“Aku bertanya. Kamu bilang aku tidak perlu ikut campur.”

Kaluna tidak ingat percakapan itu. Meski begitu, jawaban Veyra terdengar seperti dirinya. Saat menyelidiki sesuatu yang sensitif, ia memang bisa menutup diri.

Veyra melanjutkan, “Lalu pesan itu masuk. Setelah itu mobilmu jatuh ke sungai. Tiket ditemukan, berita penggelapan menyebar, dan semua orang bilang kamu sudah menyiapkan pelarian.”

“Lalu kamu percaya begitu saja?”

“Awalnya tidak.”

“Tapi akhirnya iya.”

“Aku harus percaya apa waktu itu?” Suara Veyra mulai bergetar. “Tubuhmu tidak ditemukan. Arsen hampir tidak tidur. Elara setiap malam bertanya kapan Mamanya pulang. Semua bukti bilang kamu pergi atau meninggal. Aku cuma berusaha menjaga mereka tetap hidup.”

Dada Kaluna mengencang. “Mereka?”

“Arsen dan Elara.”

Nama Arsen disebut lebih dulu. Kaluna menangkapnya, tetapi tidak berniat mengubah pembicaraan itu menjadi perebutan lelaki yang sudah tidak ia inginkan.

“Kapan kamu mulai mencintai Arsen?”

Veyra tidak menjawab.

“Setelah aku dinyatakan mati atau sebelumnya?”

Wajah Veyra memucat. “Aku tidak pernah menyentuhnya ketika kamu masih ada.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu.”

“Berarti sebelum kecelakaan.”

Veyra menunduk. “Aku tidak pernah berniat mengambilnya.”

“Perasaan memang tidak selalu menunggu izin.”

“Aku tidak meminta perasaan itu.”

“Tapi kamu menerimanya setelah aku mati.”

“Dua tahun setelahnya.”

Kaluna tidak tahu apakah angka dua tahun seharusnya membuatnya merasa lebih baik.

“Kalau Elara?” tanyanya.

Veyra langsung mengangkat wajah. “Elara bukan sesuatu yang kuambil.”

“Dia memanggilmu Mama.”

“Karena aku ada ketika dia menangis setiap malam.”

“Aku tidak ada karena seseorang mencoba membunuhku.”

“Aku tahu sekarang.”

“Tapi kamu takut aku kembali mengambilnya.”

Veyra diam. Ketakutan yang selama ini disembunyikannya akhirnya tampak jelas. Bukan Arsen yang paling ia takutkan hilang. Yang benar-benar membuatnya goyah adalah kemungkinan Elara berhenti membutuhkannya.

“Dia memintaku datang tanpa diawasi,” kata Kaluna.

“Aku dengar.”

“Kamu berdiri di dekat pintu.”

“Aku tidak sengaja mendengar.”

“Bukan soal sengaja atau tidak. Elara merasa harus berhati-hati kalau kamu ada.”

Jari-jari Veyra mencengkeram telepon lama itu.

“Aku membesarkannya selama tiga tahun.”

“Aku tidak menyangkal.”

“Kalau pengadilan memberimu hak asuh, apa yang terjadi padaku?”

“Aku belum tahu.”

“Kamu akan membiarkan aku bertemu dengannya?”

Kaluna terdiam. Baru kali itu Veyra berada di posisi yang selama ini ia rasakan—menunggu orang lain menentukan apakah ia boleh menemui anak yang dicintainya.

“Aku tidak akan menjauhkan Elara darimu hanya untuk menghukummu,” kata Kaluna. “Tapi aku juga tidak akan terus menjadi tamu.”

Veyra mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh.

“Aku takut dia tidak membutuhkanku lagi.”

“Elara bisa sayang pada kita berdua.”

“Mudah bagimu bilang begitu. Kamu ibu kandungnya.”

“Dan selama tiga tahun aku tidak punya apa-apa selain ingatan yang bahkan belum utuh.”

Veyra menunduk. Ketegangan di antara mereka belum hilang. Beberapa detik itu, mereka tidak lagi terlihat seperti dua perempuan yang berebut tempat. Mereka hanya dua perempuan yang sama-sama takut kehilangan Elara.

Kaluna melirik telepon di tangan Veyra.

“Sekarang buka pesannya.”

Veyra mengusap wajah, lalu membuka percakapan lama atas nama Kaluna. Sebuah pesan terkirim tiga hari sebelum kecelakaan, pukul sebelas lewat empat puluh tujuh malam.

Telepon itu diserahkan kepada Kaluna.

Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Elara sendirian. Jaga dia seperti anakmu sendiri. Jangan cari aku.

Di bawahnya ada balasan Veyra.

Kak, kamu bicara apa? Kamu di mana?

Tidak ada jawaban setelah itu.

Kaluna memeriksa waktunya. Menurut agenda perusahaan, malam tersebut ia seharusnya masih berada dalam perjalanan pulang dari pemeriksaan gudang.

“Kamu meneleponku setelah menerima pesan?”

“Berkali-kali. Nomormu tidak aktif.”

“Kamu bilang kepada Arsen?”

“Besok paginya.”

“Apa katanya?”

“Dia bilang mungkin kamu sedang marah dan butuh waktu.”

Kaluna memotret layar beserta seluruh percakapan.

“Telepon ini harus diperiksa.”

Veyra segera menariknya kembali. “Di dalamnya ada foto-foto Elara.”

“Datanya bisa disalin.”

“Aku tidak mau menyerahkannya begitu saja.”

“Pesan ini dipakai untuk membuatmu percaya aku hendak pergi.”

“Atau memang kamu yang mengirimnya.”

Kaluna menatap Veyra. Ketakutan di wajah perempuan itu kembali berubah menjadi sikap bertahan.

“Kamu masih percaya aku meninggalkan Elara?”

“Aku tidak tahu harus percaya apa.”

“Aku berdiri di depanmu setelah tiga tahun berusaha mengingat siapa diriku.”

“Dan kamu sendiri bilang tidak mengingat semuanya.”

Rahang Kaluna mengeras. Ucapan itu menyakitkan karena benar. Selama ingatannya belum utuh, setiap penyangkalannya selalu menyisakan celah. Meski begitu, ada satu hal yang ia yakini.

“Aku tidak akan meminta orang lain menjaga Elara, lalu menyuruh mereka jangan mencariku.”

“Kamu tidak bisa memastikan.”

“Aku bisa memastikan telepon ini harus diperiksa.”

Veyra memandang layar sekali lagi. Akhirnya ia meletakkan perangkat itu di atas meja.

“Ambil besok pagi. Aku mau memindahkan foto-foto Elara lebih dulu.”

“Jangan hapus apa pun.”

“Aku tidak akan menghapus.”

Kaluna berdiri. Sebelum pergi, ia menoleh kepada Veyra.

“Pertemuan berikutnya, aku ingin bersama Elara tanpa kamu berdiri di depan pintu.”

Veyra tampak hendak menolak. Setelah beberapa saat, ia mengangguk.

“Satu jam.”

“Dua jam.”

“Satu setengah.”

Kaluna hampir tersenyum. Untuk pertama kalinya, mereka berdebat seperti dua orang tua yang sedang mengatur jadwal, bukan dua musuh.

“Dua jam,” katanya. “Kamu boleh tetap di rumah, tapi jangan mengawasi dari pintu.”

Veyra menatapnya lama. “Baik.”

Kaluna berjalan keluar. Begitu duduk di dalam mobil, ia mengirim foto pesan itu kepada Naren dan Salindri.

Balasan Naren datang lebih dulu.

Jangan anggap waktu pada layar sebagai bukti waktu pengiriman asli. Kita perlu data cadangan akun dan catatan operator.

Kaluna memandang rumah Mahardika dari balik jendela. Mungkin Veyra memang hanya menerima paket itu tanpa tahu isinya. Mungkin juga ia benar-benar percaya pada pesan perpisahan tersebut. Seseorang jelas telah menggunakan akses, rasa takut, dan perasaan Veyra agar kebohongan mereka terlihat masuk akal.

Telepon Kaluna bergetar lagi.

Ada hal lain, tulis Naren. Pada pukul 23.47 malam itu, nomor utamamu sudah tercatat tidak aktif selama hampir lima jam.

Kaluna membaca pesan tersebut sekali, lalu sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!