NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: DERMAGA BADAI

Kobaran api dari Jembatan Seratus Lentera memantul samar di atas riak air Dermaga Timur Kota Fengling. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit malam, menyamarkan jeritan Pasukan Bayangan yang terhempas oleh tebasan Pedang Zhaoyang.

Di dermaga kayu yang sepi, perahu pengangkut barang tua bergoyang pelan dihantam ombak kanal. Lian Yue berdiri di tepi dermaga, jemari tangannya mencengkeram erat tiang kayu berlumut. Mata peraknya tak pernah lepas menatap ke arah pusat kota yang masih bergemuruh oleh ledakan qi spiritual. Setiap getaran udara yang merambat dari kejauhan terasa seperti jarum yang menancap di dadanya melalui ikatan bekas luka bulan sabit.

"Kita harus segera melepas tali kapal ini, Lian Yue!" seru Qing Luo seraya menarik rantai besi perahu. Siluman ular hijau itu mengawasi kegelapan malam dengan mata zamrud yang tegang. "Bila Tetua Mu membawa sisa pasukan pelindung kota ke sini, perahu ini tidak akan sempat berlayar!"

"Tidak!" Lian Yue menyentakkan tangannya, menolak naik ke atas geladak. Air mata berkilat di sudut matanya yang bening. "Aku tidak akan melangkah satu inci pun dari dermaga ini sebelum Shen Rui kembali!"

"Lian Yue, dengarkan aku!" bentak Qing Luo dengan nada frustrasi yang bercampur cemas. "Dia adalah pemburu tingkat tinggi Tianjian! Dia tahu cara bertahan hidup! Tapi kau... jika kau tertangkap di tempat ini, seluruh pengorbanannya malam ini akan sia-sia!"

"Jika dia gugur di sana," bisik Lian Yue dengan suara bergetar namun sarat keteguhan, "apa gunanya aku hidup meneruskan takdir seribu tahun ini seorang diri?"

Qing Luo tertegun, bibirnya terkatup rapat tanpa sanggup membantah.

Tepat saat itu, angin dingin mendadak bertiup keras dari arah kanal utama. Permukaan air bergelombang tinggi, memecah bayangan lentera yang tersisa. Dari balik gulungan asap yang merayap di atas air, sebuah sosok melompat ringan menembus kegelapan dan mendarat di atas papan kayu dermaga.

Tap.

Shen Rui berdiri tegap. Jubah hitamnya bersimbah darah—bercampur antara darah prajurit Tianjian dan goresan luka dari energi tebasan Tetua Mu. Pria itu sedikit terengah, namun tangan kanannya masih menggenggam Pedang Zhaoyang yang mendesis pelan, menguarkan sisa-sisa pendar perunggu dan perak yang pekat.

"Shen Rui!" jerit Lian Yue.

Tanpa mempedulikan cipratan darah di jubah sang pemburu, Lian Yue berhamburan maju dan merengkuh tubuh tegap Shen Rui rapat-rapat. Rasa hangat dari dada pria itu dan denyutan cepat bekas luka bulan sabitnya menyapu seluruh ketakutan yang meremas batin Lian Yue sepanjang pelarian tadi.

Shen Rui melonggarkan genggaman pedangnya, melingkarkan lengan kirinya di pinggang Lian Yue dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang perempuan. Kehangatan napas Lian Yue mengikis kelelahan dan rasa perih dari luka-luka di tubuhnya.

"Aku sudah berjanji menyusulmu," bisik Shen Rui rendah di samping telinga Lian Yue.

Qing Luo menghembuskan napas lega yang panjang, meski raut wajahnya kembali mengeras saat melihat pendar cahaya suar mantra merah membumbung tinggi dari pusat kota—tanda bahwa Pasukan Bayangan sedang melakukan konsolidasi untuk mengejar mereka ke arah perairan.

"Reuni manisnya bisa dilanjutkan nanti!" potong Qing Luo seraya memotong tali jangkar perahu dengan kuku beracunnya. "Tetua Mu belum tewas! Kereta gantung mereka akan menyusuri jalur perairan ini dalam hitungan menit!"

Shen Rui melepaskan pelukannya pelan, lalu membimbing Lian Yue naik ke atas geladak perahu kayu. Ia menyabetkan pedangnya ke arah tiang layar, melepaskan gulungan kain layar utama yang langsung tertiup oleh angin malam.

Perahu kayu tua itu perlahan bergerak meninggalkan Dermaga Timur, meluncur cepat menembus muara kanal menuju Lautan Karang Selatan.

Dari atas geladak yang bergoyang, Shen Rui dan Lian Yue berdiri berdampingan di buritan kapal. Mereka menyaksikan Kota Fengling yang perlahan mengecil di kejauhan—sebuah kota yang kini menjadi saksi bisu pecahnya hubungan Shen Rui dengan perguruannya, serta awal perjalanan mereka sebagai pengembara tanpa tanah air di bawah lautan bintang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!