NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Surya tersenyum licik melihat reaksi kebingungan dan kepanikan dari semua orang di dalam ruangan peresmian tersebut.

"Ini adalah Batu Kutukan Hitam dari tambang terdalam di luar negeri yang harganya mencapai lima puluh miliar rupiah di pasar gelap."

"Di dalam batu ini terdapat inti giok darah hitam yang sangat langka, namun kulit luarnya mengandung racun gas alam yang sangat mematikan jika salah dipotong," jelas Surya menakut-nakuti massa.

Surya melangkah mendekati panggung dan menunjuk lurus ke arah wajah Gibran dengan jari telunjuknya yang kotor.

"Ketua Asosiasi menantangmu memotong batu ini malam ini juga di depan semua tamu undanganmu tanpa bantuan alat berat Tuan Gibran."

"Jika kau menolak atau salah memotong hingga batunya hancur, perusahaanmu ini akan dibekukan izin usahanya besok pagi juga oleh pihak pusat!" ancam Surya secara mutlak dan sewenang-wenang.

Aurel mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih menahan amarah yang rasanya mau meledakkan kepalanya.

"Kalian tidak berhak membekukan izin perusahaan kami yang sah! Ini adalah monopoli pasar kotor yang menyalahi hukum perundang-undangan!" bantah Aurel dengan suara lantang.

Surya hanya mendengus geli dan mengeluarkan selembar dokumen resmi berstempel negara dari dalam saku jas putihnya.

"Di dunia giok ini, Asosiasi Nasional adalah hukum itu sendiri Nona Aurel, kalian tidak punya pilihan lain selain menerima tantangan maut ini."

Gibran menghela napas pelan lalu berjalan turun dari atas panggung dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya dengan sangat elegan.

Tap tap tap.

Ia berhenti tepat satu meter di depan Batu Kutukan Hitam tersebut dan menatapnya dengan tatapan kosong tanpa emosi. Suara mekanis sistem langsung berdengung nyaring di dalam kepalanya menganalisis jebakan mematikan yang dibawa oleh utusan ini.

[Peringatan bahaya tingkat tinggi. Mendeteksi kantung gas metana beracun di bawah lapisan luar batu sebelah kiri.]

[Kualitas inti batu: Batu kapur busuk tanpa energi giok sama sekali. Nilai taksiran dasar: Nol rupiah.]

Gibran harus menggigit bagian dalam bibirnya agar tidak tertawa meledak melihat kebodohan level nasional yang disajikan tepat di depan matanya.

Batu ini sengaja dirancang bukan untuk diuji kemampuannya, melainkan sebagai bom waktu gas beracun untuk membunuh semua pejabat penting di ruangan ini jika dipotong sembarangan.

"Asosiasi Nasional rupanya sangat miskin sampai harus mengirimkan batu kapur busuk berisi gas tinja kemari untuk mencari sensasi," ejek Gibran dengan suara berat yang menghina.

Wajah Surya langsung menegang kaku seperti disuntik botox mendengar rahasia batunya terbongkar dalam waktu kurang dari dua detik saja.

"Jaga mulut kotormu pemuda kampung! Potong batunya sekarang juga jika kau memang punya nyali dan tidak takut mati!" bentak Surya mencoba menutupi kepanikannya yang memuncak.

Gibran sama sekali tidak memanggil teknisi pemotong maupun meminta mesin berlian untuk membelah batu raksasa tersebut.

Ia justru memundurkan kaki kanannya dan mengambil kuda-kuda tendangan yang sangat mematikan.

[Titik buta kantung gas berada di sudut kiri bawah batu. Titik hancur material paling rapuh berada di pusat rongga atas.]

Wush.

Gibran mendaratkan tendangan tumitnya dengan kekuatan penuh layaknya hantaman godam raksasa tepat mengenai titik pusat rongga batu kapur tersebut.

Brak krek.

Suara retakan keras menggema memekakkan telinga saat batu seukuran lemari es itu langsung hancur berkeping-keping di atas karpet merah lobi.

Asap tipis berbau busuk langsung menyebar ke udara membuat beberapa tamu undangan menutup hidung mereka karena mual.

"A-apa yang kau lakukan orang gila! Kau baru saja menghancurkan batu lima puluh miliar milik Asosiasi Nasional berkeping-keping!" teriak Surya panik mundur ketakutan melihat kebrutalan itu.

Gibran melangkah maju menembus sisa debu batu kapur yang beterbangan itu dan mencengkeram leher Surya dengan tangan kanannya.

Sret.

Tubuh pria klimis itu terangkat ke udara dengan kaki yang menendang-nendang panik mencari pijakan di lantai marmer.

"Batu kapur busuk berisi kentut ini bahkan tidak pantas dijadikan pembersih sol sepatuku Surya," desis Gibran dengan mata sedingin es di kutub utara.

"Katakan pada Ketua Asosiasi tuamu itu, aku Gibran Dirgantara menolak tunduk pada anjing-anjing kotor yang bersembunyi di ibu kota negara."

Gibran mendekatkan wajahnya ke telinga Surya yang sudah memucat seperti mayat hidup. "Bulan depan aku akan datang sendiri ke markas besarnya dan menghancurkan kursi kebesarannya menjadi debu persis seperti batu sampah ini," ancam Gibran menyuntikkan teror murni.

Brak.

Gibran melemparkan tubuh Surya dengan sangat kasar hingga pria itu menabrak enam anak buahnya yang sedang berdiri ketakutan di dekat pintu masuk.

"Kapten Codet, usir anjing-anjing kurap ini dari pestaku dan bersihkan karpet merahku dari kotoran batu ini sekarang juga," perintah Gibran sambil kembali berjalan santai naik ke atas panggung.

Ratusan tamu undangan yang tadinya panik ketakutan kini langsung bertepuk tangan dengan sangat meriah dan penuh histeria.

Prok prok prok.

Mereka baru saja melihat dengan mata kepala sendiri seorang pemuda dari daerah menampar wajah institusi paling berkuasa di negara ini tanpa ragu sedikit pun.

Aurel menatap Gibran dengan dada naik turun menahan gairah dan kebanggaan yang rasanya ingin meledak keluar dari dalam hatinya malam itu.

Surya merangkak bangun dengan wajah berlumuran darah akibat benturan keras di lantai lobi tadi. "Kau akan menyesali kesombonganmu ini Gibran, Asosiasi Nasional akan memblokir semua jalur ekspor giokmu besok pagi!" ancam Surya dengan suara sengau sambil berlari terbirit-birit keluar gedung.

Gibran mengambil segelas sampanye mahal dari nampan pelayan yang lewat dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. "Mari kita bersulang untuk awal peperangan tingkat nasional yang baru hadirin sekalian, malam ini kita berpesta sampai pagi menertawakan mereka!" teriak Gibran merayakan kemenangannya.

Ting.

Suara dentingan gelas kristal bergema nyaring menandakan bahwa Raja Giok ini sama sekali tidak gentar menghadapi dewa mana pun yang berani turun menantangnya ke bumi.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!