[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kembalinya Sang Dewi dan Gerbang Pendragon
"Tindakan gagalnya sihirku itu hanyalah sebuah anomali konyol, Gadis Bodoh. Aku sendiri yang akan mencari tahu apa penyebab ilmiahnya nanti," desis Jonas setajam silet.
"Tetapi untuk saat ini, bergegas angkat sepasang kaki kecil manusiamu itu dari dimensi suci ini sebelum para tetua agung Elf mengendus pekatnya aroma keberadaan darah kotormu di tanah Alfheim."
Tanpa menunggu untaian kalimat balasan lagi dari mulut sang gadis, sepasang sayap hitam raksasa kembali mencuat membelah punggung Jonas, mengepak kuat melesatkan tubuh tegapnya kembali terbang tinggi menuju ke tengah jantung langit Alfheim dan menghilang di balik gumpalan awan dalam sekejap mata.
Elisa hanya mendengus sinis, memprotes keangkuhan tabiat pria itu dalam keheningan batinnya. Menyadari waktu dan situasi supranatural di sekitar Altar Perak kian tidak aman bagi keselamatan fisik manusianya, ia buru-buru melangkahkan kakinya, berjalan masuk menembus riak gerbang dimensi transparan di hadapannya.
Zzzuttt!
Tubuh mungil manusia Elisa mendadak menguap, hilang lenyap begitu saja dari atas permukaan Altar Perak, terlempar melintasi ruang dan waktu kembali menuju ke dunia manusia fana, tepat mengarah ke kompleks panti asuhan baru milik klan Pendragon.
****
"Elisa!"
Sebuah teriakan lantang yang sarat akan gelombang kepanikan yang teramat hebat seketika memecah kesunyian area altar kuno tersebut.
Cedric Valerius baru saja berhasil melompat turun dari atas dahan pohon cemara tertinggi, namun pergerakan fisiknya telah terlambat satu detik. Riak gerbang dimensi transparan di atas altar telah tertutup rapat sepenuhnya tanpa menyisakan celah.
Pria berambut pirang keemasan itu hanya bisa diam mematung di tempatnya berdiri, menatap kosong ke arah titik koordinat hilangnya wujud Elisa. Cedric perlahan-lahan mengalihkan sepasang manik mata hijau zamrudnya mendongak menatap langit bebas, memandangi siluet sayap hitam Jonas Salvatore yang posisinya kini telah mengecil di balik cakrawala langit Alfheim.
Ia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna, menahan letupan energi yang membakar dadanya.
Khusus untuk kali ini, kau bisa lolos dari hukumanku murni karena kondisi keselamatannya terjaga. Tetapi jika ada waktu lain kali kau berani menyentuhnya kembali... aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan lehermu, Jonas Salvatore," desis Cedric dengan nada suara bariton yang bergetar hebat menahan amarah Elf-nya yang meledak.
Cedric menarik napas sedalam mungkin berulang kali demi menenangkan gejolak energi alam di dalam inti jiwanya. Ia sadar ia tidak memiliki pilihan langkah logis lain saat ini. Ia tidak mungkin memaksakan diri mengejar Jonas masuk ke wilayah istana hanya untuk memicu perang darah antar-ras Immortal, dan ia juga tidak bisa menyusul Elisa ke kompleks panti asuhan baru klan Pendragon saat ini.
Cedric sangat paham bahwa insting Elisa teramat pekat; jika ia tiba-tiba memunculkan wujud fisiknya di panti baru dan menemui sang gadis fana saat ini, Elisa dipastikan akan langsung menaruh rasa curiga yang besar mengapa bos restoran pinggiran kota fana sepertinya bisa mengetahui lokasi properti rahasia milik faksi besar Pendragon.
Dengan langkah kaki yang terasa berat namun senantiasa memancarkan keanggunan, Cedric melangkah mundur menjauhi altar. Bibir tipisnya mulai merapalkan bait mantra kuno, membuka gerbang dimensi pribadinya sendiri menggunakan sihir Elf alam, lalu melangkahkan tubuh tegapnya masuk ke dalam riak sihir untuk kembali menuju ke rumah pribadinya di Kota Luminara.
Sementara itu, tepat di atas dahan pohon purba tertinggi di tengah kegelapan hutan Alfheim, Kylie—sang entitas kuno The Chronos-Wraith—menghentikan putaran goresan pena bertinta peraknya di atas kertas.
Bayangan ilusi jam pasir raksasa yang tertanam di dalam dimensi benak terdalam Elisa baru saja menyelesaikan satu putaran krusialnya yang sakral. Buku takdir The Endless Ledger ditutup rapat dengan sebuah bunyi ketukan halus yang seketika memotong kesunyian getaran aura kosmis di udara.
Siklus ke-40 kini telah resmi terkunci sepenuhnya. Sang Dewi kuno telah kembali menginjakkan kakinya di atas wilayah di mana garis takdir jiwanya terikat erat, dan waktu hitungan mundur bagi kesadaran manusianya untuk melupakan total faksi Keluarga Salvatore telah resmi dimulai oleh kutukan abadi yang bersemayam di dalam kepalanya.
****
Sementara itu, di dimensi dunia manusia fana, tepatnya di area perbatasan pusat Kota Luminara.
Bruk!
Tubuh mungil Elisa mendadak meluncur keluar dari ujung tabung perosotan anak-anak dan mendarat dengan posisi terduduk kaku di atas hamparan pasir halus taman kota fana.
Kepala manusianya mendadak didera oleh sebaris rasa denyutan nyeri yang luar biasa tajam selama satu detik—sebuah efek samping mistis yang bekerja menghapus paksa seluruh memori ingatan jangka pendeknya perihal eksistensi Altar Perak, kepakan sayap bulu hitam raksasa, hingga wajah-wajah spesifik dari makhluk Demon dan Vampir Salvatore yang membawanya terbang tadi. Memori itu kini lenyap, menyisakan ruang kosong yang hampa di kepalanya.
"Astaga... demi Tuhan, aku benar-benar tidak percaya tubuhku bisa salah terlempar dan mendarat dengan posisi konyol di tempat seperti ini," gumam Elisa sembari memegangi pelipis kepalanya yang masih menyisakan pening.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk membersihkan sisa butiran pasir taman yang menempel di permukaan pakaian gaun hijaunya.
Namun, begitu sepasang mata cokelat gelapnya celingukan menatap ke arah depan jalan raya, seluruh pergerakan langkah kakinya langsung terkunci mati seketika.
Tepat di hadapannya saat ini, menjulang kokoh sebuah kompleks bangunan gedung raksasa super mewah yang desain arsitektur gotik modernnya menyerupai kompleks apartemen kelas atas milik kaum miliarder di pusat Kota Luminara fana.
Di bagian permukaan fasad depan dinding gedung marmer hitam tersebut, terpampang nyata sebuah logo megah berwujud ukiran sepasang sayap perak ikonik dengan untaian tulisan berlapis emas: Panti Asuhan Yayasan Pendragon.
Elisa ternganga lebar, sepasang matanya tidak berkedip. Kalimat penjelasan Evelyn beberapa jam lalu perihal "fasilitas panti asuhan mewah kelas satu dengan jaminan masa depan" mendadak terlintas kembali di dalam rongga otaknya.
Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa wujud arsitektur asli dari tempat perlindungan baru keluarganya akan se-ekstrem dan semegah ini.
"Kurasa... bangunan megah ini jauh lebih mirip menyerupai kompleks hotel bintang lima atau apartemen elite kaum bangsawan kota daripada sebuah panti asuhan tempat penampungan anak terlantar," gumam Elisa takjub dengan nada suara yang bergetar, sepasang matanya berbinar menatap kemewahan properti Pendragon tersebut.
"Ternyata... keluarga besar klan Pendragon benar-benar memiliki kekayaan finansial yang luar biasa masif, melampaui batas logika manusia miskin sepertiku."
Di tengah kekaguman batinnya, Elisa sama sekali tidak menyadari bahwa puluhan pasang mata manusia fana—anak-anak, para orang tua, dan pengunjung yang sedang asyik bermain di sekitar area taman kota—saat ini serentak menghentikan total seluruh aktivitas mereka.
Semua pasang mata di taman tersebut mendadak berputar serempak, terkunci lekat menatap ke arah penampilan fisik Elisa dengan pancaran pandangan mata yang heran, bingung, sekaligus syok berat.
Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian publik? Penampilan fisik Elisa saat ini benar-benar tampak hancur dan tidak keruan sama sekali.
Gaun hijau daun tanpa lengan pemberian Cedric yang tadinya melekat indah dan elegan, kini telah robek, terkoyak mengenaskan di beberapa bagian bawah ujung kainnya akibat sempat tersangkut duri tajam tanaman liar di hutan purba Alfheim sebelumnya.
Kedua kaki mungil manusianya yang polos tanpa menggunakan alas kaki apa pun tampak dipenuhi oleh luka lecet memerah dan jejak guratan duri yang perih menyengat. Bahkan, helaian rambut cokelat panjang bergelombangnya yang tebal kini tampak acak-acakan berantakan ke segala arah—jauh lebih mirip menyerupai sarang burung daripada mahkota estetika seorang gadis cantik.
Begitu kesadaran manusianya menangkap bahwa atmosfer di sekeliling taman mendadak senyap dan semua orang fana sedang menjadikannya sebagai objek tontonan asing yang aneh, seluruh permukaan wajah Elisa seketika memerah padam karena dirundung rasa malu yang teramat sangat.
Ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba mati-matian menyembunyikan wajah rupawannya di balik sisa-sisa helaian rambut cokelatnya yang berantakan.
Tanpa memedulikan lagi rasa perih menyengat di sepanjang kulit kaki telanjang manusianya atau bisik-bisik gunjingan dari orang-orang di sekitar taman, Elisa memantapkan langkahnya, berjalan lurus ke arah depan dengan ritme langkah yang teramat cepat.
Ia berpura-pura buta tidak melihat siapa pun di sekitarnya, memusatkan seluruh sisa fokus pikirannya untuk bisa segera mencapai pintu masuk gerbang utama Pendragon demi menyelamatkan sisa harga diri manusianya yang sudah runtuh total ke titik nadir paling bawah.
"Mohon maaf, apakah Anda adalah... Nona Elisa Morpheana?"