Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Fitness belum buka Sofia, masih tiga jam lagi."
Nismara terperanjat ketika suara Katy terdengar tanpa terlihat sosoknya.
"Aku ada janji sama Wei jam setengah satu, Kat." jawab Nismara sambil celingukkan, karena belum melihat laki-laki gemulai yang baru saja menyapanya.
"Oh iya?"
Nismara terperanjat lagi, ketika Katy muncul dari pintu kaca. Pintu yang waktu itu ingin Nismara masuki.
"Iya. Boleh kan aku tunggu Wei di cafe lantai tiga?" tanya Nismara.
"Aduh, anak kemarin sore udah menjelajah mahkota rupanya. Siapa yang mengenalkan kamu ke Wei?" suara Katy terdengar jauh lebih ramah daripada saat pertama kali mereka bertemu. Seulas senyum genit pun terbit di bibir Katy.
" Tina yang putih langsing, yang..,...."
"Yayaya, hanya ada satu Tina di sini." tukas Katy motong ucapan Nismara, tawanya meledak 2 detik kemudian.
Nismara ikut tertawa. Jantung nya kembali normal. "Kalau gitu, aku pergi dulu ya, Kat!"
"Okey good luck! Kalau udah banyak duit jangan lupa sama Katy."
"Oh, tentu dong." Nismara menuju lift dan terperanjak ketika pintu lift terbuka.
"Masuk!" Maryono gegas menarik tangan Nismara. Tubuh yang tak seberapa jika dibanding dengan tenaga Maryono sudah jelas kalah. Mau tidak mau membuat badan Nismara terlempar ke dalam lift.
Nismara melenguh. "Di hindari di kos malah ketemu di sini. Tapi aku nggak boleh terlihat takut, aku harus meniru sikap Ella dan Tina." read-nya dalam hati.
Tangan Nismara menekan angka dua, dia urungkan ke lantai tiga. seperti nya lantai dua lebih privasi dan tidak boleh dimasuki sembarang orang daripada lantai tiga. . mungkin di lantai dua nanti Nismara bisa lepas dari si kampret ini.
"Kita ke cafe." kata Maryono sambil memencet angka tiga.
"Aku ada janji sama Wei "
"Alasan itu lagi." dengus Maryono. "Kamu pikir aku bodoh? Bisa Diki bule dengan alasan yang sama? Kemarin kutunggu kamu di sini sampai Wei pulang kamu nggak muncul."
Nismara membuang muka, berpura-pura tidak mendengar. "Emang enak gue kerjain." kata Nismara dalam hati.
"Jadi Jangan coba- cob....."
Lift terbuka, tanda mereka telah sampai di lantai dua. Maryono segera memegang tangan Nismara. Laki-laki itu tidak ingin kecolongan lagi. Sayang nya keberuntungan masih berpihak pada Nismara.
"Wei!" teriak Nismara. Gadis cantik itu melihat sosok Wei berjalan di kejauhan.
Wei menoleh dan melihat jam tangannya sendiri. Nismara berhasil lepas dan segera melangkah keluar lift dengan cepat ketika Maryono mengendurkan pegangannya.
"Lima menit lagi ya." kata Wei sambil melintas.
"Tuh, dengar nggak? Aku Nggak bohong kan?" Nismara melirik Maryono dan merasa menang.
"Okey, aku mau bicara sama kamu. Masih ada 5 menit kan?" sahut Maryono.
Nismara membuang muka malas sekali untuk melihat seringai mesum yang muncul di bibir laki-laki itu.
"Gini aja deh Sof. Aku minta sepuluh juta aja, dan tambahan lima juta."
Nismara melotot.
"Lima juta karena kamu sudah mempermainkan aku semalam. Deal ini atau kesepakatan awal?"
Nismara berpikir cepat. Apakah orang sialan ini di kemudian hari akan memeras dirinya lagi atau tidak? Akan tetapi jauh lebih baik jika dia hanya minta uang.
Tiba-tiba Maryono tertawa. "Kenapa mikir? Jangan-jangan kamu kepengen gituan sama aku ya? Pengen coba ototku ternyata."
Nismara mendengus. "Mana nomor rekening?"
Maryono mengeluarkan telepon genggamnya, tak lama kemudian dia menyebut sederet angka. Nismara mencatat langsung dalam kolom m-banking nya.
"Nah gitu dong." Maryono berbinar membaca angka saldo di rekeningnya.
"Sofia!"
Bersamaan dengan perginya Maryono, Wei memanggil Nismara dari arah kantornya. Tanpa harus dipanggil dua kali, Nismara mendekat.
"Masuklah!"
Nismara melangkah maju. Sebuah ruangan berbentuk bujur sangkar yang lumayan luas dengan banyak lampu sorot di sana-sini.
Wei menunjuk sofa di tengah ruangan. Nismara paham, dia pun melangkah lagi.
"Letakkan tasmu dulu." perintah Wei.
"Oh iya."
Wei menyalakan beberapa lampu hingga ruangan tambah terang terutama pada bagian sofa, di mana sekarang Nismara duduk.
"Berdirilah, Sofia! Dan lepas pakaian mu!"
Nismara tertegun. "Apa tadi Wei bilang? Buka baju?" kakak perempuan cantik berambut sebahu itu dalam hati. Nismara mengambil nafas, kenapa harus terkejut? Bukan kah kemarin Tina sudah menunjukkan contoh fotonya?
"Aku tahu kamu dengar, Sof!" suara Wei sedikit melengking dan meninggalkan kesan gema di ruangan luas ini. "Kalau mau melamun nggak di sini! nggak ada yang maksa kamu di sini, keluar kalau kamu nggak mau!"
"I- iya." Dengan badan yang rasanya semua bergetar, Nismara membuka kaosnya, lalu mulai menurunkan celananya.
"Heh, aku bilang baju! Kaos mu!" Wei berteriak lagi.
"Kaos aja?" Nismara sedikit berseru takut-takut. Takut kalau salah lagi dalam memahami instruksi yang Wei berikan.
Wajah Wei menyipit sebal tapi tetap mengangguk. "Iya, gitu aja."
Sebentuk senyum Nismara mengembang. Kelegaan menguar. Sejenak tadi ia menyangka Wei meminta dia melucuti semua pakaiannya. Ternyata hanya membuka kaos, penutup gunung indahnya masih bertengger siaga. Dan yang pasti dia masih memakai celana panjang.
"Okey, kaosnya kamu lempar saja ke belakang, Sof! Coba kamu puasa begini." Wei berkacak pinggang, kedua kakinya yang terlihat lurus kecil mengangkang setengah meter.
Nismara melakukannya dengan malu-malu.
"Tengokkan kepalamu ke kiri. Ya begitu, tahan!"
"Jangan meringis!"
"Jangan senyum!"
Wei terus memberi instruksi dan mengambil foto.
"Capek?" Serunya. Nada suara Wei menjadi lebih ramah. Nismara meringis, masih takut kalau jawaban yang nanti dia berikan menjadi salah.
"Kemarilah!"
Nismara menurut, Dia mendekati Wei
"Hadap sana!"
Nismara memutar badan memunggungi Wei, tangan Wei bergerak di punggung Nismara, berjalan cepat dan sret...... membuka penutup d4d4 Nismara.
"Rileks....." bisik Wei. Dengan kedua tangannya Wei membawa Nismara berbalik. Kini mereka berhadapan. Wei tersenyum. Senyum yang sulit diartikan, tetapi sama sekali tidak ada kesan mesum atau nakal. Namun hal itu tetap membuat Nismara menunduk.
"Sofia lihat aku!" Kata Wei. Kemudian memegang dagu Nismara dengan telunjuknya, dan Gadis itu menurut. Perlahan Wei mengurai kain berwarna ungu muda yang menutup tubuh atas Nismara. Wei menggeleng saat tangan Nismara spontan bergerak untuk menutup daging indahnya, dan lagi-lagi Nismara hanya bisa patuh.
"Perfect!" Mata Wei berbinar laksana menemukan emas batangan sekarung. " Kamu sempurna sayang."
Nismara tersenyum canggung. Kini dia hanya memakai celana empat per delapan saja di hadapan lelaki yang baru kenal kemarin.
"Aku mau kamu dengarkan instruksiku oke?"
Nismara mengangguk
"Jawab aku!".
"Okey."
Wei mengacungkan sempurnanya di hadapan wajah Nismara.
"Dengarkan intruksi aku oke?" Wei mengulang perintahnya.
"Okey."
"Mundur. Geser kiri. Mundur. Taruh tanganmu di kedua pinggangmu, yak oke, begitu."
Wei terus memberi instruksi sampai Nismara tidak sadar bahwa dia sudah kembali di depan sofa, tempat tadi dia diambil fotonya. Sekarang pun Nismara masih larut dalam gaya-gaya yang diarahkan Wei
"Sip, cukup!" Wei berteriak girang.
Nismara terhenyak. Baru menyadari bahwa dirinya ternyata sudah melakukan sesi foto polos setengah badan. Berapa lihai lelaki kurus itu telah menuntun dirinya.
"Penasaran lihat hasilnya nggak?"
Nismara mengangguk, tanpa diberi komando Dia mendekati Wei kembali. Sudah tidak ada sungkan lagi pada Wei
"Kita lihat di laptop aja biar lebih jelas ya!" Wei berkata sambil mengulurkan br4 ungu muda pada si empunya. Nismara menerima dan bergerak memakainya.
Setelah mengutak-atik laptopnya sebentar, Wei memperlihatkan hasil-hasil foto itu pada Nismara. Gadis cantik yang kini bernama Sofia itu membelalak, segaris senyum terbit seputan di bibirnya.
"Gimana menurutmu?" Wei menoleh pada Nismara.
Nismara tersenyum menggigit bibirnya malu-malu. "Entah lah."
"Bagus? Suka?"
Nismara mengangguk.
"Minumlah dulu." Wei menunjuk kulkas di pojokan ruangan. "Setelah itu kita lanjutkan."
Nismara pun patuh
Tak sampai lima menit, laki-laki itu meminta Nismara melanjutkan sesi fotonya. Seperti biasa, Wei begitu halus dalam memberi perintah sehingga Nismara kini sudah percaya diri melakukan berbagai pose dengan menggunakan bikini seksi.
teka teki nya dapat. suka banget.