NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Garis Keturunan dan Tahta Baru

Enam bulan berlalu sejak lonceng pernikahan privat di kapel batu Uluwatu mengikat takdirku dan Raymond secara sah di hadapan hukum dan Tuhan. Kehidupan sosialita Jakarta yang dahulu dipenuhi intrik dan spekulasi liar perlahan membisu, menerima kenyataan mutlak bahwa dinasti Perkasa Group kini berada di bawah cengkeraman ganda yang tak tertembus: Raymond Perkasa sebagai predator puncak bisnis tambang dan aku, Clarissa Perkasa, sebagai jenderal di balik kemudi investasi strategis.

Mansion utama Perkasa Group yang dahulu dipenuhi ornamen kemewahan norak pilihan Ibu telah kureset total. Dinding-dindingnya kini dilapisi marmer abu-abu Italia bernuansa minimalis modern, dipadukan dengan lukisan-lukisan kontemporer bernilai tinggi. Tidak ada lagi jejak Siska di setiap sudut rumah ini.

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca raksasa di ruang makan utama. Aku duduk di ujung meja kayu jati berukir elegan, mengenakan gaun blazer sutra berwarna krem yang melingkupi lekuk tubuhku. Di jari manisku, cincin pernikahan platina murni dan cincin berlian canary yellow 10 karat berkilau dalam harmoni yang sempurna.

Di seberang meja, Raymond sedang menyesap kopi hitam tanpa gulanya seraya membaca laporan arus kas konsolidasi Perkasa Nusantara Investama dari iPad-nya. Pria 35 tahun itu tampak begitu karismatik dengan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung hingga ke siku, mengekspos jam tangan mewah dan urat-urat menonjol di pergelangan tangannya yang kokoh.

"Hasil ekspansi lapangan tambang di Halmahera melampaui target kuartal pertama hingga tiga puluh persen, Clarissa," suara bass Raymond memecah kesunyian ruang makan, suaranya yang tenang dan sarat dominasi selalu berhasil menggetarkan dadaku.

Aku menyunggingkan senyuman tipis, menyesap teh chamomile-ku perlahan. "Aku sudah menduga. Keputusan kita memindahkan seluruh likuiditas Project Serpent ke holding company baru lima bulan lalu adalah langkah pembunuh yang tepat."

Raymond meletakkan iPad-nya di meja, mengalihkan pandangan mata hazel-nya yang pekat lurus ke arahku. Sebuah senyuman dingin yang teramat tampan terukir di sudut bibirnya.

"Kamu selalu menjadi analis terbaikku, Nyonya Perkasa," ujar Raymond rendah. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga berhenti tepat di belakang kursiku.

Tangannya yang besar dan hangat meletakkan cengkeraman lembut namun penuh kepemilikan di bahuku, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangat bercampur aroma kayu cendana menyapu leherku. Bibirnya menyentuh halus kulit di balik telingaku, mengirimkan desir gelombang panas yang membakar seluruh syaraf kesadaranku.

"Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku sejak minggu lalu," bisik Raymond parau di dekat telingaku.

Aku memutar sedikit kepalaku, menatap garis rahang tegasnya yang memukau. "Apa itu?"

"Kamu belum menyentuh laporan dari klinik kesehatan pribadi kita di Menteng," sahut Raymond datar, namun iris mata hazel-nya menyala dengan pendar yang tak biasa sebuah campuran antara antisipasi dingin dan kehangatan yang sangat pekat.

Jemariku yang memegang cangkir teh mendadak membeku.

Tiga hari lalu, aku menjalani pemeriksaan medis rutin tahunan yang diwajibkan oleh dewan direksi Perkasa Group. Namun, ada satu tes tambahan yang kuminta secara privat pada dokter keluarga tanpa sepengetahuan siapa pun bahkan Pak Herman.

"Kamu menyuruh dokter pribadi memeriksa rekam medis pribadiku, Raymond?" tanyaku dengan nada menantang yang jernih, menyunggingkan senyuman tipis.

Raymond terkekeh rendah suara bariton yang sarat akan dominasi pekat. Tangannya mengusap perlahan sepanjang lengan gaun blazer-ku, bergerak turun hingga tangannya bertengger santai namun posesif tepat di atas perut ratasku.

"Aku adalah pemilik kekaisaran ini, Clarissa... dan aku berhak tahu kapan penerus tahta Perkasa Group mulai bernapas di dalam tubuh ratuku," bisik Raymond tepat di depan bibirku.

Jantungku berdegup kencang bagaikan dihantam gelombang laut Seminyak.

Aku menegakkan posisiku, meraih tas tangan kulit milikku di samping kursi, lalu meletakkan sebuah amplop putih bersampul segel medis privat tepat di dada bidang Raymond.

"Bacalah sendiri, Tuan Perkasa," ujar pelan dengan tatapan mata yang tak kalah intens.

Raymond menerima amplop tersebut, membukanya dengan gerakan jari-jarinya yang mantap. Manik mata hazel-nya menyapu baris-baris kalimat dalam surat hasil laboratorium tersebut. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku mengenal pria ini sejak ia menghancurkan musuh-musuhnya hingga memenangkan perang bursa saham aku melihat binar terkejut yang luar biasa merayap di wajah tegas sang taipan.

Di sana, tercantum hasil konfirmasi medis positif: usia kehamilan empat minggu.

Keheningan di ruang makan terasa begitu sakral. Raymond perlahan meletakkan surat itu di meja. Pria yang biasa tak tersentuh emosi itu menatapku dengan tatapan yang mendalam—sebuah pendar obsesi, rasa bangga, dan cinta mutlak yang tak terukur.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Raymond berlutut di satu kakinya di samping kursiku. Pria paling berkuasa di ibu kota itu menundukkan kepalanya, menempelkan telapak tangannya yang hangat di perutku, dan menyapukan bibirnya di sana melalui kain gaun sutraku.

"Garis keturunan baru..." bisik Raymond parau, suaranya bergetar rendah di udara pagi. "Anak kita akan lahir sebagai pemilik tunggal dari seluruh kekayaan dan puing-puing kejayaan yang kita rebut."

Aku menyusupkan jemari tanganku ke rambut hitam Raymond yang tebal, meremasnya lembut. "Anak ini tidak akan pernah merasakan masa lalu yang kelam, Raymond. Dia akan tumbuh di atas puncak tahta yang sudah kita bersihkan dari serigala-serigala itu."

Raymond mendongak, menatapku dengan mata hazel-nya yang menyala pekat. Ia berdiri, menarik tubuhku ke dalam bopongan tangannya yang kokoh, dan mengunci bibirku dalam sebuah ciuman yang sarat akan kemenangan dan masa depan yang tak tergoyahkan.

Sore hari, sebuah mobil sedan hitam bernomor polisi biasa berhenti di depan sebuah rumah minimalis bernuansa sunyi di kawasan Jakarta Selatan.

Aku melangkah keluar dari mobil, dibimbing oleh Pak Herman yang memegang payung hitam untuk menghalau gerimis tipis yang membasahi jalanan. Hari ini, aku sengaja datang tanpa didampingi Raymond. Ada satu benang merah masa lalu yang harus kututup secara sempurna sebelum aku melangkah penuh ke dalam fase hidup baruku sebagai seorang ibu.

Pintu pagar besi rumah itu berderit saat Pak Herman membukanya. Rumah itu bersih, namun terasa dingin dan hampa. Tunjangan bulanan dari Raymond memang cukup untuk memastikan penghuninya tak kekurangan makanan atau tempat tinggal, tetapi kemewahan pesta, perhiasan puluhan miliar, dan pengawal pribadi telah sirna selamanya.

Di teras samping rumah, terduduk seorang wanita di atas kursi goyang kayu.

Siska Ibu kandungku.

Penampilannya sangat jauh berbeda dari wanita anggun yang dahulu memamerkan kalung The Tear of Serpent di galeri lelang. Rambutnya yang dahulu tertata rapi kini beruban tipis dan dibiarkan terikat asal. Wajahnya yang biasa dipoles kosmetik mahal kini dipenuhi garis-garis kerutan penuaan dan ketakutan yang mendalam. Matanya yang sembap menatap kosong ke arah kebun kecil di depannya.

Langkah kaki hak tinggi sepatuku yang berdenting mantap di atas lantai semen teras membuat Ibu tersentak kaget. Wanita itu memutar kepalanya secara refleks.

Saat manik matanya menangkap sosokku—yang berdiri tegak dengan gaun blazer merah marun, cincin berlian canary yellow, dan aura penguasa yang memancar kuat napas Ibu tercekat di tenggorokan.

"Cla... Clarissa?" suara Ibu keluar bergetar, parau, dan sarat akan ketakutan yang membuat tubuhnya gemetaran di atas kursi goyang.

Aku berhenti dua langkah di hadapannya. Pak Herman berdiri menjauh di dekat pagar, memberikanku ruang privat.

"Apa kabarmu, Ibu?" suaraku meluncur begitu tenang, jernih, bagaikan es yang membeku di tengah malam.

Ibu memegang erat pegangan kursi goyangnya, matanya bergerak liar memandangi penampilanku yang begitu kontras dengan keadaannya yang menyedihkan. Air mata kebingungan dan kejatuhan perlahan menetes melintasi pipinya yang tirus.

"Untuk apa kamu datang ke sini?!" jerit Ibu pelan dengan nada histeris yang tertahan, suara tangisnya pecah. "Kamu sudah merebut Raymond! Kamu sudah merebut rumahku, statusku, dan membuangku di sini! Apa lagi yang mau kamu ambil dariku, Clarissa?!"

Aku menatap wanita yang dahulu tega meninggalkan Ayah dalam kemelaratan dan penderitaan demi pria kaya itu. Rasa amarah dan dendam yang selama bertahun-tahun membakar dadaku kini tak menyisa sedikit pun—tergantikan oleh rasa kasihan yang dingin dan kebebasan mutlak.

"Aku tidak datang untuk mengambil apa-apa lagi, Ibu," ujarku halus seraya membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi penyesalan. "Aku datang untuk memberitahumu bahwa permainan kita telah resmi usai."

Ibu tertegun, tangisnya terhenti sejenak dalam kebingungan.

Aku menyentuh perut ratasku dengan telapak tangan kiriku, memamerkan cincin berlian canary yellow yang berkilat tajam di bawah pendar redup sore hari.

"Di dalam sini... ada penerus sah Perkasa Group," kataku tegas, kalimat demi kalimat keluar dengan penekanan yang tak tergoyahkan. "Anakku dan Raymond. Pria yang dahulu Ibu kejar demi hartanya... kini bertekuk lutut menjadi suami dan ayah dari anakku."

Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam dada Ibu. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, menangis terisak-isak dengan tubuh gemetar hebat di atas kursi. Hukuman terberat baginya bukanlah kemiskinan materi, melainkan kenyataan bahwa anak perempuan yang dicampakkannya kini duduk di singgasana yang selalu diimpikannya, memegang hati pria yang tak pernah bisa ia miliki seutuhnya.

"Hiduplah dengan baik di rumah ini, Ibu," bisikku pelan di dekat telinganya. "Nikmati tunjangan yang kami berikan. Dan ingatlah setiap hari... bahwa kemenangan ini lahir dari keserakahan yang Ibu tanam sendiri."

Aku menegakkan tubuhku kembali, memutar langkah tanpa menunggu balasan sepatah kata pun darinya. Langkah hak tinggiku terdengar begitu ringan dan penuh kemenangan saat aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju mobil yang sudah menunggu.

Di belakangku, suara tangis histeris Ibu terdengar makin samar, tenggelam oleh suara gerimis yang menyapu Jakarta.

Malam harinya, di master suite penthouse Perkasa Tower.

Jakarta di luar kaca membentang bagaikan hamparan lautan permata yang tak bertepi. Angin malam berembus halus di celah balkon yang agak terbuka.

Aku berdiri di depan dinding kaca, mengenakan gaun malam sutra berwarna putih bersih. Raymond melangkah mendekatiku dari balik pintu kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi hitam yang terbuka di bagian dadanya, mengekspos otot-otot bidangnya yang tegap.

Pria itu merengkuh tubuhku dari belakang, menyusupkan kedua lengannya di pinggangku dan menempelkan dada hangatnya di punggungku. Tangannya yang besar bergerak turun, merengkuh lembut perutku yang masih rata.

"Bagaimana kunjunganmu sore tadi?" bisik Raymond rendah di leherku.

"Semuanya sudah selesai, Raymond," balasku pelan, menyandarkan kepalaku di dadanya yang berdetak kuat. "Masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas kita."

Raymond menyunggingkan senyuman dominan di kulit leherku. Pria itu memutar tubuhku perlahan hingga kami saling berhadapan. Manik mata hazel-nya berkilat di bawah pendar remang lampu tidur, menampilkan sosok taipan yang telah menemukan takdir dan perlindungannya.

"Maka malam ini... kita menyambut masa depan kita sendiri," kata Raymond parau, jemari tangannya merengkuh daguku, membimbing bibir kami menyatu kembali dalam sebuah penyatuan yang paling dalam, hangat, dan sarat akan janji abadi.

Di atas puncak ibu kota, di tengah riuh skandal yang telah berubah menjadi kejayaan mutlak, dinasti baru telah lahir. Papan catur dendam telah ditutup selamanya, dan di atas tahta kekuasaan yang tak tergoyahkan itu... aku dan Raymond berdiri bersama sebagai penguasa abadi yang tak akan pernah bisa diruntuhkan.

1
D_wiwied
alur cerita dan bbrp tokohnya hampir sama dg yg di cinta terlarang saudara tiri ya kak, jd ky baca cerita yg diulang lg hanya beda judulnya saja
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!