Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Binar di Balik Bayang
Angin sepoi-sepoi berhembus menyejukkan area gazebo kayu di depan perpustakaan pusat kampus. Suasana siang itu relatif tenang, menyisakan gemericik air mancur kecil yang mengalir di taman tengah. Bayu Anggara dan Dimas duduk berhadapan di bangku kayu, membuka laptop tua milik Bayu untuk meninjau kembali ringkasan materi praktikum. Di pergelangan tangan kiri Bayu, jam tangan pintar paduan titanium hitam berpendar redup, menyamarkan teknologi mahadasyat yang berada di dalamnya.
"Bayu! Dimas!" suara jernih seorang mahasiswi memecah keheningan gazebo.
Melisa melangkah cepat mendekati mereka. Mahasiswi berprestasi dari jurusan Teknik Informatika yang terkenal cerdas dan berparas anggun itu tampil rapi dengan kemeja pastel dan rambut terikat netral. Di tangannya, sebuah tablet digital berlayar lebar menampilkan cuplikan berita yang sedang ramai diperbincangkan.
"Eh, Melisa! Sini duduk, Mel," sapa Dimas ramah seraya menggeser tas ranselnya dari atas bangku. "Kelihatan buru-buru banget, ada apa?"
Melisa duduk di samping meja kayu, meletakkan tabletnya di tengah-tengah mereka. Layar tablet tersebut memutar ulang rekaman video amatir aksi zirah baja hitam yang melayang menyelamatkan para korban di Gedung Graha Kirana.
"Kalian berdua sudah nonton video analisis terbaru soal aksi Ksatria Baja ini?" tanya Melisa dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.
Bayu membetulkan letak kacamata tebalnya, menatap layar tablet dengan raut wajah yang tenang. "Aku sudah melihat beritanya di TV kantin tadi pagi, Melisa. Suasananya ramai sekali."
"Ini bukan sekadar berita heboh biasa, Bayu!" seru Melisa antusias, suaranya naik satu nada karena rasa takjub yang tak mampu disembunyikannya. "Aku baru saja selesai menganalisis rekaman video amatir ini di laboratorium pengolahan citra digital selama dua jam penuh bersama tim riset."
Dimas mencondongkan badannya, menyilangkan tangan di atas meja. "Wah, serius lu sampai bawa video itu ke lab riset, Mel? Terus hasilnya bagaimana?"
"Awalnya banyak orang di forum kampus bilang video ini cuma rekayasa grafik komputer atau trik efek visual studio film," urai Melisa mendetail, jemarinya menggeser layar tablet memperlihatkan pemetaan spektrogram warna. "Tapi setelah kami bedah per bingkai menggunakan pemindai polarisasi cahaya dan analisis kerapatan piksel, hasilnya seratus persen asli! Tidak ada manipulasi citra sama sekali. Rekaman pembiasan udara di sekitar bodi zirahnya membuktikan adanya manipulasi medan fisik nyata!"
Bayu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku kayu, menatap Melisa dengan minat akademis. "Dari sudut pandang teknis, apa yang membuatmu sangat tertarik dengan zirah itu, Melisa?"
"Semuanya, Bayu! Struktur pembentukan zirahnya benar-benar genius!" jawab Melisa tanpa ragu. "Perhatikan oleh kalian Itu bukan sekadar baju besi biasa yang kaku, tapi matriks sel nano terkompresi yang terhubung langsung dengan impuls saraf biologis penggunanya. Orang yang menciptakan teknologi ini pastilah seorang genius tingkat mutlak yang melompati peradaban kita setidaknya lima puluh tahun ke depan!"
Ponsel di saku kemeja Bayu bergetar sangat halus. Melalui earphone mikro di telinga kirinya, suara sintesis Jarvis terdengar berbisik jernih.
"Analisis teknis Melisa memiliki tingkat akurasi delapan puluh sembilan koma empat persen terhadap spesifikasi zirah Anda, Bayu," lapor Jarvis. "Indikator frekuensi suara dan pemindaian termal wajah Melisa menunjukkan tingkat kagum dan rasa hormat yang sangat murni."
Bayu mengulas senyum yang amat tipis, menyahut pelan dalam hati tanpa bersuara.
"Tapi Mel," potong Dimas seraya melirik Bayu sekilas, "...tadi di berita kepolisian bilang zirah itu ilegal karena beroperasi tanpa izin dan pakai teknologi militer tak terdaftar. Lu tidak takut kalau sosok berzirah itu sebenarnya berbahaya?"
Melisa mengerutkan dahi tipis, menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku sama sekali tidak setuju dengan narasi kepolisian di berita itu, Dim! Itu pemikiran yang sangat birokratis dan sempit."
"Kenapa begitu, Mel?" pancing Dimas antusias.
"Coba kalian pikirkan," kata Melisa mendetail, tatapan matanya begitu hidup dan penuh keyakinan. "Gedung itu terbakar hebat, tangga pemadam tidak sampai ke lantai delapan, dan delapan orang di dalam sana sudah pasrah akan mati kehabisan asap. Lalu sosok Ksatria Baja ini datang menembus api, melindungi mereka dengan medan gravitasi, dan membawa mereka turun tanpa ada satu pun korban yang terluka. Apakah tindakan setulus itu layak disebut ancaman keamanan hanya karena dia tidak punya surat izin?"
Bayu mendengarkan setiap patah kata Melisa dengan penuh perhatian. Rasa hangat menyusup pelan di dadanya mendengar ada orang lain yang memahami niat tulus di balik aksinya.
"Melisa," panggil Bayu dengan suara lembut dan teratur. "Bagaimana menurutmu tentang keputusan penciptanya untuk tetap menyembunyikan identitasnya dari publik?"
Melisa menatap Bayu lurus-lurus, mengukir senyuman hangat yang penuh rasa hormat. "Menurutku, keputusan untuk tetap anonim itulah yang membuat dia jauh lebih luar biasa daripada teknologinya sendiri, Bayu."
"Maksudmu?" tanya Bayu mendalam.
"Di zaman sekarang, hampir semua orang berlomba-lomba mencari panggung, pamer kekayaan, atau haus pujian di media sosial," tutur Melisa dengan nada bicara yang begitu dalam dan reflektif. "Bayangkan, pemilik zirah itu memegang teknologi yang kalau dijual ke korporasi asing harganya bisa triliunan rupiah. Dia bisa saja menjadi manusia paling terkenal dan terkaya di dunia dalam sekejap. Tapi apa yang dia lakukan? Dia memilih menyembunyikan namanya, memakai kemampuannya diam-diam di tengah malam demi menyelamatkan orang asing, lalu menghilang begitu saja di balik kegelapan tanpa minta balasan atau pengakuan satu kata pun."
Dimas tersenyum lebar, bersedekap dada sambil manggut-manggut. "Setuju banget sama lu, Mel. Itu namanya pahlawan sejati, kan?"
"Bukan cuma pahlawan, Dim," tambah Melisa dengan binar mata yang penuh kekaguman. "Dia punya jiwa kemanusiaan yang sangat murni. Pencipta teknologi itu pastilah seseorang yang sangat rendah hati, tenang, dan memiliki empati yang luar biasa besar terhadap penderitaan sesama. Aku benar-benar berharap suatu hari nanti bisa bertemu langsung dengan orang hebat di balik zirah itu, atau setidaknya belajar dari cara berpikirnya."
Dimas hampir saja tertawa geli membayangkan reaksi Melisa jika mengetahui bahwa sang pencipta hebat itu sedang duduk di depannya mengenakan kemeja lusuh dan kacamata tebal. Namun, Dimas berhasil menahan diri dan tetap menjaga ekspresi wajahnya.
"Kalau lu beneran ketemu sama dia nanti, apa kalimat pertama yang mau lu sampaikan, Mel?" goda Dimas santai.
Melisa tertawa kecil, sedikit merona di pipinya. "Aku cuma mau bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah membuktikan bahwa teknologi paling canggih di dunia pun akan menjadi sangat indah kalau berada di tangan orang yang tepat dan berhati tulus."
Bayu memandang Melisa, merasakan dorongan apresiasi yang mendalam dari dalam jiwanya. "Kata-katamu sangat berarti, Melisa. Aku yakin, jika pencipta zirah itu mendengar apa yang kamu katakan hari ini, dia pasti akan merasa sangat bersyukur bahwa usahanya dipahami dengan begitu indah."
Melisa melirik jam tangan feminin di pergelangan tangannya, lalu tersenyum canggung seraya merapikan tabletnya. "Wah, maaf ya Bayu, Dimas! Aku malah keasyikan curhat soal Ksatria Baja. Sepuluh menit lagi aku ada janji konsultasi draf riset dengan Pak Bambang di gedung dekanat."
"Tidak apa-apa, Mel. Obrolanmu sangat menarik," sahut Bayu tulus.
"Sukses konsultasinya ya, Mel!" tambah Dimas seraya melambaikan tangan.
"Terima kasih ya, Bayu, Dimas! Sampai ketemu di kelas praktikum besok!" puji Melisa seraya berdiri dan melangkah cepat meninggalkan area gazebo dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.
Sepeninggal Melisa, suasana gazebo kembali sunyi. Dimas langsung mencondongkan badannya ke depan meja, menepuk bahu Bayu dengan wajah heboh berbisik.
"Bay! Lu denger sendiri kan tadi?!" goda Dimas dengan mata membelalak gembira. "Melisa, mahasiswi paling pinter dan paling susah didekati di fakultas kita, bener-bener kagum setengah mati sama lu! Dia puji kepribadian lu, kejeniusan lu, sampai empati lu setinggi langit!"
Bayu menghembuskan napas perlahan, menyentuh jam tangan titaniumnya seraya membetulkan letak kacamatanya. Senyum tenang mengukir di bibirnya.
"Kagum pada Ksatria Baja, Dim, bukan pada Bayu Anggara," koreksi Bayu santai namun berwibawa.
"Ya kan Ksatria Baja itu lu, Bay!" kekeh Dimas geli. "Tapi jujur, Bay, denger kata-kata Melisa tadi bikin gue makin bangga bisa jadi sahabat lu. Kata-katanya bener banget. Lu punya kekuatan sebesar ini, tapi lu tetep Bayu yang rendah hati."
"Konfirmasi respon emosional," sela Jarvis melalui earphone. "Pernyataan Melisa memberikan dampak positif pada stabilitas mental Anda, Bayu. Indeks kepuasan tujuan kemanusiaan meningkat secara signifikan."
"Terima kasih, Jarvis," bisik Bayu pelan. Ia menatap Dimas dengan binar mata yang jernih dan kokoh. "Kata-kata Melisa tadi justru jadi pengingat buat kita berdua, Dim. Bahwa apa pun yang terjadi nanti, niat dasar kita tidak boleh berganti. Teknologi ini ada untuk melindungi mereka yang membutuhkan, bukan untuk menyombongkan diri."
Dimas mengangguk mantap dengan rasa hormat yang membuncah. "Siap, Bos Bayu! Gue bakal selalu jaga rahasia ini dan dukung lu seratus persen!"
Di bawah naungan rindangnya pohon taman kampus yang tenang, Bayu Anggara merasakan kedamaian dan kepastian yang semakin mengakar di dadanya. Kekaguman tulus dari Melisa menjadi bukti hangat bahwa perjalanannya sebagai pelindung rahasia berada di jalur yang benar.